3 Fondasi agar Anak Cerdas, Salah Satunya Pencernaan Sehat

3 Fondasi agar Anak Cerdas, Salah Satunya Pencernaan Sehat
3 Fondasi agar Anak Cerdas, Salah Satunya Pencernaan Sehat

Anak cepat menjawab pertanyaan guru, nilai sekolahnya bagus, atau selalu masuk ranking atas memang bikin orang tua bangga. Tapi pernah nggak sih Parents terpikir, bagaimana dengan anak yang nilainya biasa saja tapi jago mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah? Atau anak yang belum menonjol secara akademis, tapi luwes beradaptasi, jago olahraga, mudah memahami instruksi, dan punya rasa ingin tahu yang besar?

Bicara soal anak cerdas, kita memang masih mudah terpaku pada IQ dan nilai rapor. Padahal perkembangan kognitif anak mencakup kemampuan yang jauh lebih luas, seperti perhatian, memori, penalaran, serta kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan-kemampuan inilah yang ikut mendukung kesiapan anak untuk belajar dan berkembang.

Jadi, kalau ingin mendukung kecerdasan anak, yang diperhatikan nggak cukup hanya berapa banyak stimulasi yang diberikan. Ada nutrisi, kondisi tubuh, kesehatan saluran cerna, lingkungan tempat anak bertumbuh, sampai kesempatan untuk bermain, bereksplorasi, gagal, lalu mencoba lagi.

Pembahasan ini menjadi salah satu topik dalam talkshow Growing Little Minds: The Science Behind Every Child’s Potential yang berlangsung di rangkaian IdeaFest 2026 di Jakarta pada 5 September 2026. Dari diskusi tersebut, ada tiga hal yang bisa Parents perhatikan untuk membantu anak belajar dan mengembangkan kemampuannya.

Anak Pintar Nggak Selalu Kelihatan dari Nilai Rapor

Kalau ditanya apa yang paling diharapkan dari tumbuh kembang anak, jawabannya mungkin nggak jauh-jauh dari tumbuh dengan baik, pintar, dan nggak gampang sakit. Dalam diskusi, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia, juga menyampaikan bahwa tiga hal tersebut banyak muncul sebagai harapan orang tua, terutama yang memiliki anak usia balita hingga usia sekolah.

Dari tiga hal itu, kata “pintar” mungkin yang paling gampang kita ukur dari sesuatu yang kelihatan. Nilai bagus, ranking tinggi, cepat menjawab pertanyaan guru, atau skor IQ sering kali jadi patokannya.

Padahal, dr. Ray mengingatkan bahwa kemampuan anak nggak selalu muncul dalam bentuk nilai akademis. Ada anak yang mungkin nggak selalu masuk 10 besar, tapi sangat luwes saat olahraga, cepat menangkap gerakan baru, atau bisa menemukan arah ketika berada di lingkungan yang belum familiar.

Artinya, kekuatan tiap anak bisa terlihat di tempat yang berbeda-beda. Jadi sebelum buru-buru menilai anak “pintar” atau “kurang pintar” hanya dari rapornya, coba perhatikan juga bagaimana ia berpikir, bergerak, beradaptasi, dan menghadapi situasi sehari-hari.

Kalau kemampuan anak memang seluas itu, cara mendukungnya juga nggak harus selalu lewat kegiatan akademis. Banyak stimulasi justru bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari.

1. Nggak Harus Selalu Les, Aktivitas Sehari-hari Juga Bisa Jadi Stimulasi

Saat mendengar kata stimulasi untuk anak, kadang yang terbayang di pikiran Parents adalah ikut les, worksheet, atau aktivitas edukatif yang sengaja disiapkan. Padahal, menurut dr. Ray, stimulasi anak bisa dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana.

Di usia di bawah 5 tahun, misalnya, sering-sering mengajak anak ngobrol sudah menjadi salah satu bentuk stimulasi. Saat anak makin besar, sekitar usia 5 sampai 12 tahun, pengalaman belajarnya juga bisa makin beragam. Nggak cuma lewat pelajaran, tapi juga dari bermain, bergerak, bertemu orang lain, dan mencoba banyak hal. Jadi keseharian anak nggak harus terus dipenuhi PR atau aktivitas akademis karena waktu bermain pun tetap punya peran.

Ini mungkin cukup melegakan buat Ibu yang kadang lihat ide stimulasi di media sosial lalu langsung merasa, “Wah, kok kayaknya aku nggak pernah bikin beginian buat anak.”

Dalam acara yang sama, Cynthia, content creator yang dikenal lewat akun @janelleandmom, juga nggak merasa stimulasi harus selalu berupa aktivitas khusus yang sengaja dibuat terlihat edukatif. Apalagi sehari-hari ia mengurus rumah tanpa helper. Buatnya, yang lebih realistis justru mengajak Janelle ikut dalam kegiatan yang memang sedang dilakukan di rumah.

Kadang mereka masak bareng. Kalau sedang punya waktu luang, mereka bisa main Lego atau membangun sesuatu bersama. Dari aktivitas sesederhana itu, Janelle belajar mengikuti instruksi, mempertahankan fokus, sekaligus mencari cara ketika sesuatu belum berhasil.

Ada satu kebiasaan Cynthia yang juga menarik. Kalau Janelle bertanya sesuatu, ia berusaha nggak selalu buru-buru kasih jawabannya. “Aku akan bertanya balik. ‘Menurut kamu gimana?’ Kalau misalnya ini nggak bisa, kalau kita pakai cara ini menurut kamu bisa nggak? Jadi selalu pancing mereka untuk kembali berpikir lagi,” tuturnya.

Buat Cynthia, kemampuan seperti ini penting karena anak nantinya bukan cuma butuh nilai akademis yang baik, tapi juga perlu belajar fleksibel, beradaptasi, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah.

2. Anak Boleh Didorong, tapi Orang Tua Harus Tahu Juga Kapan Harus Berhenti

Pernah nggak, anak baru beberapa kali ikut les lalu bilang, “Aku nggak mau lagi”? Saat ini terjadi, orang tua biasanya mulai galau. Mau langsung berhenti takut anak jadi gampang menyerah, tapi kalau diteruskan juga khawatir malah bikin dia makin tertekan.

Cynthia juga masih terus belajar membaca batas tersebut. Ia menyebutnya sebagai perbedaan antara pushing dan pressuring. Buat Cynthia, anak tetap boleh didorong. Tapi yang perlu diperhatikan adalah apakah dorongan itu masih membuat anak merasa ditemani, atau justru berubah jadi tuntutan karena orang tua sudah berharap terlalu banyak.

Ia pernah mengalami dilema itu saat Janelle meminta ikut les catur. Awalnya justru Janelle sendiri yang tertarik, jadi Cynthia dan suami tentu mendukung. Setelah beberapa kali les, ternyata Janelle mulai merasa nggak suka.

Mereka nggak langsung berhenti. Cynthia masih mencoba memberi waktu karena merasa catur punya banyak hal baik yang bisa dipelajari Janelle, mulai dari memecahkan masalah sampai belajar menghadapi menang dan kalah.

Tapi setelah dijalani sekitar tiga sampai empat bulan, Cynthia mulai melihat bahwa ini bukan lagi sekadar rasa nggak nyaman karena sedang belajar sesuatu yang baru. Janelle sudah terlihat stres dan kelelahan. Akhirnya, mereka memilih berhenti dulu. “Harus mencoba dan menemukan fine line between pushing and pressuring. Tahu kapan kita perlu push, tahu kapan kita perlu step back,” ungkap Cynthia.

Dr. Ray juga menilai orang tua tetap boleh memberi tantangan dan punya ekspektasi terhadap anak, selama dibarengi dengan lingkungan yang mendukung potensinya. “Orang tua harus berani push, berani ngasih pressure tanpa merasa bersalah, dan harus punya ekspektasi. Tapi syaratnya, push, pressure, dan ekspektasi itu dibarengi dengan ngasih dia environment yang bagus untuk menstimulasi dan unlock the potential,” jelas dr. Ray.

Pengalaman bersama Janelle membuat Cynthia makin belajar membaca kebutuhan anaknya. Di usianya sekarang, Janelle masih cukup sulit menerima kekalahan. Kalau gagal melakukan sesuatu, rasa kecewanya bisa besar sampai ia nggak mau mencobanya lagi. Cynthia bahkan pernah merasa khawatir dan berkonsultasi dengan psikolog anak mengenai hal tersebut.

Dari situ, Cynthia makin merasa bahwa yang dibutuhkan anak bukan hidup tanpa kegagalan, tapi tempat yang cukup aman untuk menghadapinya. “Anak harus merasa bahwa rumah itu tempat yang paling aman untuk dia bisa menjadi diri dia sendiri. Dia boleh gagal, boleh mencoba lagi. Goal-nya bukannya anak ini tidak pernah gagal, tapi anak ini cukup aman untuk bisa merasa gagal, tapi cukup berani untuk bisa mencoba lagi,” ceritanya.

Cynthia juga punya pengingat untuk dirinya sendiri, yaitu jangan melihat anak sebagai investasi atau proyek yang harus dibuat sempurna. Anak, menurutnya, adalah manusia yang sedang berproses, sama seperti orang tuanya.

Memberi safe space juga bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti. Janelle tetap boleh bilang apa yang ia rasakan, menyampaikan pendapat, atau mengatakan ketika sesuatu terasa berat. Namun keputusan akhirnya tetap berada di tangan Cynthia dan suami sebagai orang tua.

Dukungan seperti ini tentu bukan satu-satunya yang dibutuhkan anak. Untuk bisa terus bermain, bereksplorasi, dan belajar, kondisi tubuhnya juga perlu ikut dijaga. Nah, dari sinilah nutrisi dan kesehatan pencernaan menjadi fondasi berikutnya yang perlu diperhatikan.

3. Jangan Lupakan Nutrisi dan Kesehatan Pencernaan Anak

Selain stimulasi dan lingkungan yang mendukung, anak juga butuh kondisi tubuh yang siap untuk menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk belajar dan bereksplorasi.

Salah satu fondasinya tentu nutrisi. Makanan yang dikonsumsi anak akan lebih dulu melewati sistem pencernaan sebelum nutrisinya bisa dimanfaatkan oleh tubuh.

Dr. Ray menggambarkannya dengan cara yang cukup sederhana. “Nutrisi untuk otak itu memang bisa langsung dimasukkan ke otak? Nggak bisa. Nutrisi untuk metabolisme tubuh, perkembangan jantung, dan organ lain juga nggak bisa langsung dimasukkan ke organ. Cuma bisa lewat sistem pencernaan. Sistem pencernaan itu adalah pintu masuk nutrisi yang kita gunakan seumur hidup,” jelasnya.

Makanya, menjaga pencernaan anak nggak cuma soal memastikan BAB-nya lancar atau perutnya nggak bermasalah. Saluran cerna juga menjadi bagian dari proses tubuh memanfaatkan nutrisi yang anak dapatkan dari makanan.

Yang menarik, saluran cerna dan otak juga saling berkomunikasi melalui hubungan yang dikenal sebagai gut-brain axis. Dr. Ray memberi contoh yang mungkin pernah kita rasakan sendiri. Saat sedang tegang atau stres, perut kadang ikut mulas atau terasa nggak nyaman. Pada anak pun, kondisi tubuh dan kesiapan menerima stimulasi bukan dua hal yang benar-benar terpisah.

Karena itu, menjaga kesehatan pencernaan bukan berarti kalau pencernaannya sehat anak otomatis jadi lebih pintar. Perannya lebih sebagai salah satu fondasi yang membantu tubuh mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dan membuat anak lebih siap menjalani proses belajar, bermain, serta menerima stimulasi.

“Nutrisi yang tepat, kesehatan saluran cerna yang baik, dan stimulasi yang sesuai merupakan bagian dari fondasi yang saling mendukung untuk membantu anak lebih siap belajar, bereksplorasi, dan mengembangkan berbagai kemampuan kognitifnya,” papar dr. Ray.

Kaitan antara nutrisi dan kemampuan belajar anak juga muncul dalam studi Treister-Goltzman dan Peleg yang dipublikasikan di Nutrition Reviews pada 2026. Studi tersebut menemukan adanya hubungan positif antara pola makan dengan kemampuan kognitif dan prestasi akademik pada anak usia sekolah. Jadi temuan ini bukan berarti ada satu makanan tertentu yang bisa bikin anak lebih cerdas, melainkan mengingatkan bahwa apa yang dikonsumsi anak juga menjadi bagian dari fondasi tumbuh kembangnya.

Bakteri Baik di Pencernaan Juga Perlu “Dikasih Makan”

Di dalam saluran cerna ada ekosistem yang juga perlu dijaga. Di sana hidup berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri baik, yang menjadi bagian dari mikrobiota saluran cerna.

Nah, bakteri baik ini juga membutuhkan “makanan” supaya bisa tumbuh dengan baik. Dr. Ray menjelaskan, salah satu yang berperan di sini adalah serat dan prebiotik. Sumber serat bisa kita dapatkan dari makanan sehari-hari seperti sayur dan buah. Pisang, misalnya, menjadi salah satu sumber serat alami yang ia contohkan dalam diskusi.

Masalahnya, praktiknya tentu nggak selalu semudah, “Ya sudah, kasih anak sayur dan buah yang banyak.” Apalagi kalau sedang masuk fase pilih-pilih makanan atau GTM. Ada hari ketika sayur baru dilihat saja sudah disingkirkan dari piring, atau buah yang biasanya disukai tiba-tiba nggak disentuh sama sekali.

Selain serat dari makanan sehari-hari, ada juga jenis serat pangan prebiotik yang dapat dimanfaatkan oleh bakteri baik di saluran cerna. “Asupan nutrisi yang mengandung prebiotik dan serat pangan, seperti FOS, GOS, dan Inulin dapat mendukung kesehatan saluran cerna dan microbial diversity. Kesehatan saluran cerna yang baik membantu mendukung penyerapan nutrisi, sehingga tubuh si Kecil dapat memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung proses belajar dan perkembangannya,” jelas dr. Ray.

Kalau tadi prebiotik diibaratkan sebagai “makanan”, yang memanfaatkannya adalah bakteri baik di saluran cerna. Dr. Ray mencontohkan bifidobakteri saat membahas probiotik, sementara prebiotik menjadi asupan yang membantu mendukung bakteri baik tersebut.

Cara Cynthia Mengenalkan Makanan Tanpa Bikin Janelle Takut

Cynthia punya cara yang cukup santai saat mengenalkan makanan kepada Janelle. Sejak kecil, ia memilih untuk nggak membagi makanan menjadi kategori “makanan baik” dan “makanan buruk”.

Bukan berarti semua makanan dianggap sama. Ia tetap menjelaskan bahwa ada makanan yang kandungan gizinya lebih banyak dan lebih cocok dimakan sehari-hari, sementara ada juga yang cukup dinikmati sesekali. Cynthia mengenalkannya kepada Janelle sebagai everyday food dan sometimes food.

Menurut Cynthia, anak juga nggak perlu dianggap terlalu kecil untuk mengerti. Penjelasannya tinggal disesuaikan dengan bahasa yang sederhana. “Jangan keburu mikir, ‘Ini anak nggak bakal ngerti.’ Coba jelaskan dengan bahasa yang sederhana supaya mereka tahu dan paham bahwa makanan ini gizinya lebih sedikit. Jadi mungkin dia bisa punya pikiran untuk, ‘Oh, aku lebih memilih makan yang ini aja,’” tuturnya.

Untuk makanan sehari-hari Janelle, Cynthia berusaha menyediakan menu yang cukup sederhana dan seimbang. Biasanya ada sumber karbohidrat, protein, serta serat. Kalau hari itu nggak ada sayur, ia memastikan ada buah. Makanan manis pun bukan sesuatu yang otomatis dilarang, selama porsinya nggak berlebihan.

Nutrisi Anak Bisa Dilengkapi Sesuai Kebutuhannya

Untuk anak di atas satu tahun, dr. Ray menekankan bahwa makanan keluarga tetap menjadi sumber nutrisi utama. Karena itu, kebutuhan anak sebisa mungkin tetap dipenuhi dari menu sehari-hari yang beragam.

Kalau asupannya masih perlu dilengkapi, Parents bisa mempertimbangkan makanan atau minuman terfortifikasi yang sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk membantu mendukung kesehatan pencernaan, salah satu kandungan yang bisa diperhatikan adalah prebiotik.

Bebelac misalnya, dilengkapi dengan 3 Serat Penting berupa FOS, GOS, dan Inulin, 2x DHA lebih tinggi dibandingkan produk susu pertumbuhan sejenis dalam kategori yang sama, serta 0 gram sukrosa. Formulasi tersebut ditujukan untuk mendukung tumbuh kembang anak, termasuk membantu menjaga kesehatan saluran cerna sebagai salah satu fondasi kesiapan anak untuk belajar dan berkembang. Susu pertumbuhan dapat menjadi pelengkap nutrisi dan bukan pengganti makanan utama sehari-hari.

Anak nggak harus punya jadwal les yang padat untuk terus belajar dan berkembang. Kadang dari ngobrol, main bareng, ikut kegiatan kita di rumah, sampai mencoba lagi setelah gagal, anak sudah belajar banyak hal. Yang bisa kita lakukan adalah terus menemani sambil tetap memperhatikan kebutuhan tubuh dan nutrisinya.

Follow Ibupedia Instagram