Balita Dibaca 1,430 kali

4 Cara Atasi si Kecil yang Sering Menjambak Rambut Anak Lain

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 23 Januari, 2019 23:01

4 Cara Atasi si Kecil yang Sering Menjambak Rambut Anak Lain

Kebiasaan si kecil menarik rambut anak lain atau dirinya sendiri kerap kali membuat para Ibu merasa cemas. Tapi tenang saja, kebiasaan ini sebenarnya hal biasa dan umum terjadi pada anak kecil yang akan berhenti dengan sendirinya seiring waktu. Namun jika kebiasaan menjambak rambut anak lain benar-benar sudah mengkhawatirkan, maka Ibu harus melakukan pencegahan guna memastikan tidak terjadi masalah yang lebih besar.

Kebiasaan menarik rambut diri sendiri maupun menjambak rambut anak lain bisa menimbulkan gejala dan efek samping yang mengkhawatirkan. Misalnya, kebotakan kadang terjadi ketika bayi menarik rambut terus-menerus di area kepala yang sama. Selain itu, munculnya area kemerahan pada kepala si kecil karena selalu ditarik-tarik. Menarik rambut anak lain maupun diri sendiri juga bisa jadi masalah kompleks ketika efek sampingnya mulai mengganggu perkembangan anak.

 

Penyebab si kecil menarik rambutnya sendiri

Kebanyakan kasus menarik rambut disebabkan oleh stres. Bayi Ibu kemungkinan menarik rambutnya ketika merasa stres, lelah, atau gugup. Menarik rambut merupakan usaha anak untuk mengontrol lingkungannya, bisa juga akibat dari trichotillomania, kondisi psikologis yang menyebabkan anak menarik rambutnya.

 

Mencegah anak menarik rambutnya

Satu cara terbaik untuk menghentikan bayi menarik rambutnya adalah dengan mengalihkan perhatian agar ia tidak melakukannya.

Bila melihat bayi menarik rambutnya, berikan mainan kecil untuk ia mainkan. Memotong rambut anak jadi pendek bisa membuatnya sulit menarik rambut. Ibu bisa juga tawarkan mainan atau benda yang terasa seperti rambut anak, misalnya boneka berbulu yang bisa dipegang dan dimainkan. 

Pada kebanyakan kasus, mendisiplinkan anak agar ia tidak lagi menarik rambut tidak diperlukan. Bayi kecil belum mengerti dan akan berhenti melakukan kebiasaan ini. Jangan tarik rambut anak untuk mendisiplinkannya. Perlahan lepaskan rambut dari tangan bayi dan arahkan perhatiannya tanpa memberikan hukuman.

Pada kasus yang jarang terjadi, kebiasaan menarik rambut anak bisa didiagnosis sebagai trichotillomania. Oleh karena itu, bayi Ibu akan membutuhkan bantuan medis. Terapi bisa digunakan untuk mengevaluasi kenapa bayi terus menarik rambutnya dan anak akan menjalani pengobatan untuk mengatasi gangguan kompulsif obsesif. Temui dokter bila kebiasaan anak menarik rambut terlalu sering tanpa ia sadari. 

 

Mengenal trichotillomania

Trichotillomania adalah kondisi yang membuat seseorang memiliki dorongan untuk menarik rambutnya sendiri. Trichotillomania bisa terjadi pada orang di usia berapapun. Orang dengan trichotillomania menarik rambut dari kulit kepala, alis, atau area pubik.

Beberapa orang dengan kondisi ini menarik rambut dalam jumlah banyak sehingga menyebabkan kebotakan pada kepala. Sebagian lagi menarik rambut helai demi helai, lalu bermain dengan helai rambut yang telah rontok. Sebagian orang dengan trichotillomania memasukkan rambut ke mulut setelah menariknya. Beberapa orang dalam kondisi sadar saat menarik rambutnya sendiri, sementara sebagian orang tanpa sadar melakukannya.

Bagi pengidap trichotillomania, menolak dorongan untuk menarik rambut terasa sangat sulit seperti menolak dorongan untuk menggaruk area tubuh yang sangat gatal. Beberapa orang mengatakan dorongan untuk menarik rambut berawal dari rasa gatal atau kesemutan pada kulit kepala atau kulit tubuh. Menarik rambut menjadi cara untuk mengatasinya. Orang merasakan kepuasan setelah menarik rambutnya.

Beberapa orang dengan trichotillomania merasa malu, frustrasi, atau depresi dengan perilaku ini. Mereka bisa merasa cemas tentang pendapat orang lain akan kebiasaan buruknya ini. Orang dengan trichotillomania biasanya berusaha menyembunyikan perilaku ini dari orang lain, bahkan dari keluarganya, sehingga semakin sulit untuk mendapat bantuan.

Trichotillomania bisa mempengaruhi cara pandang penderita terhadap diri sendiri. Beberapa orang menyadari menarik rambut akan mempengaruhi penampilan. Mereka merasa kurang percaya diri dalam bergaul. Yang lain tidak kuasa mengontrol dorongan untuk menarik rambut dan menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menghentikannya.

 

Penyebab trichotillomania

Tidak diketahui secara pasti kenapa orang mengalami trichotillomania. Stres bisa jadi salah satu penyebabnya. Begitu juga faktor gen. Orang yang mengalami kebiasaan kompulsif bisa lebih mungkin mengalami trichotillomania.

Para ahli menganggap dorongan untuk menarik rambut terjadi karena signal kimia otak yang disebut neurotransmitters tidak berfungsi dengan benar. Ini menciptakan dorongan yang memicu orang menarik rambut. Menarik rambut membuat orang merasa lega atau puas. Semakin lama kondisi ini berlangsung, semakin sulit menolak dorongannya ketika terjadi lagi.

Orang dengan trichotillomania biasanya membutuhkan bantuan medis dan terapi perilaku untuk berhenti. Dengan bantuan yang tepat, orang bisa mengatasi dorongan untuk menarik rambut. Ketika bisa berhenti, rambut biasanya akan tumbuh kembali. Mengatasi dorongan untuk menarik rambut biasanya melibatkan terapi perilaku yang disebut habit substitution, minum obat, atau gabungan dari terapi dan obat.

Karena dorongan untuk menarik rambut sangat kuat, menolak dorongan ini bisa terasa sangat sulit. Orang bisa merasa lebih cemas ketika mulai menolak dorongan untuk menarik rambut. Ahli terapi bisa melatih melewati fase sulit ini dan memberi dukungan serta saran tentang bagaimana mengatasi dorongan untuk menarik rambut.

Kadang obat bisa membantu otak menolak dorongan untuk menarik rambut. Ahli terapi juga bisa membantu orang dengan trichotillomania untuk belajar mengatasi stres serta kebiasaan lain seperti menggigit kuku.

Jika Ibu melihat kebotakan dan kemerahan masif pada rambut anak, atau apabila di kamarnya ditemukan banyak sekali rontokan rambut anak, maka segera diskusikan dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

 

Kebiasaan menarik rambut anak pada usia 1 bulan sampai 2 tahun

Menarik rambut di usia ini biasanya menjadi kebiasaan untuk menenangkan diri. Ini sama seperti menghisap jari. Bayi memasukkan jari ke mulut dan memutar rambutnya atau rambut ibunya dengan tangan yang lain. Anak merasa rileks dan biasanya melakukan kebiasaan ini sebelum tidur atau ketika merasa stres.

 

Kebiasaan menarik rambut anak pada anak usia 2 sampai 5 tahun

Ketika anak menarik rambut sejak bayi, ia menjadi terbiasa melakukannya di usia balita. Di usia sekitar 3 tahun, anak bisa tahu kapan orangtua bereaksi terhadap apa yang ia lakukan. Bila orangtua merasa cemas atau jengkel ketika anak menarik rambut, anak segera tahu bagaimana cara mendapat perhatian orangtua melalui perilaku ini. Menarik rambut digunakan oleh batita selain menendang dan berteriak selama tantrum. Anak yang lebih kecil biasanya memutar-mutar rambut dan anak yang lebih besar mencabuti rambutnya.

 

Bagaimana dengan kebiasaan si kecil menarik rambut anak lain?

Menarik rambut anak lain itu sama halnya dengan menendang, menggigit, mencubit, dan memukul, yakni cara anak mengekspresikan diri dan mencoba mengontrol lingkungannya. Ada sejumlah penyebab perilaku ini, dan penjelasan yang paling sederhana adalah anak menemukan cara untuk memperoleh reaksi dan ingin memperolehnya kembali. Ini seperti menekan tombol lampu atau memukul mainan lalu ada sesuatu yang muncul. Saat si kecil menarik rambut anak lain, ia akan senang melihat Ibu berteriak dan akan mengulanginya lagi. 

Di lain kasus, kebiasaan menarik rambut anak lain dilakukan untuk menyelesaikan sesuatu yang tidak ia sukai. Misalnya saat anak lain mengambil mainannya, si kecil segera menarik rambut anak lain tersebut dan serta merta mainan yang direbut kembali padanya.

Penyebab lain perilaku ini bisa jadi karena anak mengembangkan kemampuan kognitif dan ia menarik rambut anak lain untuk mencoba mengontrol situasi tertentu. Misalnya, si kakak mengambil kuenya dan ia menarik rambut si kakak agar mendapat bagian kue. Lantas Ibu melihat ini dan meminta si kakak berbagi kue dengannya. Hal paling penting di sini adalah si kakak akan berpikir dua kali sebelum mengambil kue adiknya di lain waktu.

Namun jika anak cenderung menarik rambutnya sendiri dan tidak pernah menjambak rambut anak lain, bisa jadi ia merasa kesal atau cemas. Ini juga bisa mengindikasikan gangguan kontrol impulsif. Bila Ibu merasa cemas anak menarik rambutnya sendiri, bicaralah pada dokter.

 

Bagaimana Mengatasi si Kecil yang suka Menjambak Rambut Anak Lain?

1. Tunjukkan kalau usahanya tidak berhasil

Cara penting untuk menekan agresi anak adalah menunjukkan dengan pasti kalau upayanya menarik rambut anak lain tidak berefek apa-apa.

Bila Ibu merespon tarikan rambutnya, perilaku ini berhasil karena siapapun yang ditarik rambutnya akan melakukan apa yang diinginkan anak, dan perilaku ini akan bertambah parah ketika ia tahu kalau menarik rambut anak lain bisa menimbulkan sesuatu. Si kecil belum belajar banyak interaksi sosial, yang ia pahami adalah ketika ia menarik rambut anak lain, maka Ibu merasa kasihan dan mendudukkannya di pangkuan Ibu.

Sebaiknya, tunjukkan kalau usahanya menarik rambut anak lain tidak menghasilkan respon  apapun.  Misalnya, bila anak menarik rambut temannya untuk mendapat sebuah mainan, serahkan mainan ke temannya sambil Ibu menjelaskan ke anak, “Kita tidak boleh menarik rambut anak lain.” Ibu harus bertindak cepat karena teknik ini baru akan berhasil saat berada di momen tersebut.

 

2. Menginterupsi perilaku anak

Ketika melihat si kecil menarik rambut anak lain, perlahan lepaskan rambut dari tangannya, lalu genggam tangannya sambil berkata, “Kita tidak menarik rambut, menarik rambut anak lain akan membuat dia kesakitan.”

Ibu bisa segera melanjutkan ini dengan teknik “chair time-out.” Tetap bersama anak tapi jangan bicara padanya atau berinteraksi dengannya selama time-out. Time-out bisa berlangsung selama satu atau dua menit.

 

3. Membicarakannya

Ketika time-out selesai, bicarakan situasi ini bersama anak. Penting untuk melakukan ini meski bila ia tidak memiliki kemampuan verbal untuk memahami percakapan rinci. Cara ini dilakukan untuk menunjukkan kalau diskusi (bukan menarik rambut anak lain) adalah cara untuk menyelesaikan masalah.

Tanyakan padanya, “Apa yang salah tadi?” dan ikuti dengan, “Kenapa perbuatan Adik itu salah?” Jangan khawatir bila ia menjawab, “Karena Adik harus time-out.” Ini secara perkembangan dianggap normal. Ikuti dengan mengatakan. “Ya, Adik harus menerima time-out kalau menjambak rambut, tapi yang paling penting Ade tidak menarik rambut anak lain lagi karena itu bisa bikin orang kesakitan.”

Jangan berharap si anak bisa langsung mengerti. Anak kecil harus belajar dengan melakukan sesuatu lagi dan lagi hingga menyadari kalau ia tidak boleh melakukannya. Ibu perlu konsisten dan jangan merasa frustrasi.

Setelah kemampuan verbal anak menjadi lebih baik, ajarkan ia memecahkan masalah dengan berbicara tentang solusi alternatif. “Daripada menarik rambut anak lain, apa yang bisa Adik lakukan kalau marah ke teman?” Bantu anak mengungkapkan kata-kata yang ingin ia sampaikan.

 

4. Jangan balas menarik rambut anak!

Jangan pernah menarik rambut anak untuk mengajarkan bagaimana rasanya rambut saat ditarik. Ia menarik rambut karena ia mencoba mengubah sesuatu, untuk menghentikan kakak mengambil mainannya, misalnya. Bila Ibu menarik rambut anak untuk membuat ia berhenti menarik rambut, Ibu mengajarkan padanya kalau menarik rambut adalah cara untuk mengubah perilaku seseorang.

Contohkan perilaku yang Ibu ingin ia tunjukkan, ajarkan kata-kata untuk mengungkapkan kebutuhannya dan menyalurkan rasa marahnya dengan tidak menyakiti orang lain.

 

Ibu, anak kecil biasanya menggigit, mencubit, dan menarik rambut untuk bereksperimen dan mengeksplorasi lingkungannya. Pada bayi, biasanya di usia 6 sampai 12 bulan, menggigit, mencubit, dan menarik rambut membantunya memahami sebab dan akibat.

Misalnya, bayi menggigit Ibu dan lalu ia melihat apa yang akan Ibu lakukan. Bila Ibu tertawa atau menjadikannya sebagai permainan, ia akan mencobanya kembali untuk melihat apakah ia mendapat reaksi yang sama. Bila Ibu marah, ia akan terkesan oleh reaksi ekstrim Ibu dan bisa jadi malah membuatnya ingin mencobanya kembali.

Batita memukul, menggigit, atau mencubit karena merasa marah, kesal, atau sakit. Kadang lebih mudah bagi mereka untuk melakukan ini dibanding menggunakan kata-kata untuk mengatakan apa yang mengganggu mereka.

Beberapa batita memukul, menggigit, menarik rambut anak lain, atau mencubit karena meniru apa yang dilakukan teman sebayanya, atau apa yang dilakukan orang lain terhadapnya.

 

Merespon anak yang gemar menggigit, mencubit, dan menarik rambut anak lain

Wajar bila Ibu merasa malu atau bahkan marah bila anak menyakiti Ibu atau orang lain dengan menarik rambut, tapi bagaimana Ibu bereaksi terhadap perilaku ini bisa mempengaruhi perilaku anak di masa mendatang.

Bila Ibu tetap tenang dan melakukan cara yang konstruktif untuk mengatasi situasi ini, akan membantu anak belajar tentang perilaku yang tepat. Reaksi tenang dari Ibu menjadi langkah awal menciptakan perilaku positif di masa mendatang.

Bagaimana cara Ibu menangani anak yang gemar menggigit, mencubit, atau menarik rambut anak lain juga bergantung pada usia, lho. Di usia bayi, ia belajar tentang sebab akibat. Bila ia memukul, menggigit, atau menarik rambut anak lain atau rambut Ibu, ia mungkin sedang bereksperimen dengan lingkungannya. Bila Ibu mengucapkan respon verbal yang jelas, Ibu dengan jelas memberitahunya kalau Ibu tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Misalnya Ibu bisa katakan, “Tidak boleh.”

Langkah selanjutnya adalah melepaskan genggaman tangannya dari rambut anak lain yang ia tarik dan menurunkannya dari gendongan Ibu. Ketika melakukan ini, Ibu mengalihkan perhatian dari perilaku ini. Bila bayi memukul, menggigit, atau menarik rambut kembali, respon dengan cara yang sama.

Bayi akan mengulangi perilaku yang membuatnya mendapat banyak perhatian. Jadi segera setelah anak menunjukkan perilaku yang positif, berikan pujian, sentuhan lembut, dan banyak perhatian.

Di usia batita, anak menggigit, memukul anak lain, atau menarik rambut mereka. Mengetahui alasan anak melakukan perilaku ini jadi hal yang penting untuk dilakukan. Ini berarti mencari tahu penyebab yang mungkin kenapa anak melakukan perilaku ini dan mencari tahu apakah cara Ibu bereaksi akan membuat perilaku anak bertambah parah.

Misalnya bila anak menarik rambut karena ia tidak bisa menemukan kata-kata untuk menjelaskan perasaannya, berteriak padanya tidak akan membantu. Lebih baik tetap tenang meski Ibu tidak merasa tenang sama sekali. Ini akan mengajarkan anak tentang cara mengatasi frustrasi.

Sering kali anak menjambak rambut anak lain untuk mendapat perhatian Ibu. Jadi menghilangkan perhatian untuk anak mengirimkan pesan yang sangat kuat tentang bagaimana perasaan Ibu. Misalnya, Ibu bisa berpaling atau menjauh darinya.

Bila anak terus menggigit, mencubit, atau menarik rambut anak lain, tunjukkan kalau Ibu masih memegang kontrol. Tetap tenang, beritahu secara singkat bagaimana perilaku ini berdampak pada Ibu dan berikan konsekuensi seperti time-out. Ibu bisa gunakan kata-kata seperti, “Tidak boleh menarik rambut anak lain, bikin sakit, sekarang Adik harus time-out.”

Ibu juga bisa mengajarkan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan seperti, “Adik lagi marah ya.” Ini membantu anak menggunakan kata-katanya sendiri di masa mendatang. Ibu perlu terus melakukan ini beberapa kali agar anak bisa mengerti.

Bila si kecil menarik rambut anak lain, tetap tenang dan cepat minta maaf kepada korban dan orangtuanya. Berikan peringatan kepada si kecil, misalnya dengan mengatakan “Nggak boleh tarik rambut anak lain, lho ya.” Lalu pindahkan ia dari tempat bermain untuk time-out singkat.

 

(Ismawati, Yusrina / Dok. Pixabay)