Balita Dibaca 533 kali

7 Tips Menjauhkan Stress untuk Ibu Single Parent

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 17 Desember, 2018 09:12

7 Tips Menjauhkan Stress untuk Ibu Single Parent

Merasa cemas status Anda sebagai single parent akan berpengaruh pada anak? Memang benar tugas membesarkan anak adalah tugas yang berat, terlebih bagi para single parent. Tapi ada kelebihan dan kekurangan dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, begitu juga dengan menjadi single parent. Apapun kondisi dan penyebabnya, ketika menjadi single parent, Anda harus siap menghadapi kekurangan dan kelebihannya.


Keuntungan Menjadi Single Parent

Anda mungkin berpikir kalau menjadi single parent adalah tugas yang berat, banyak yang harus dilakukan, kekurangan waktu untuk diri sendiri, tak ada waktu bersama teman, dan sulit bertemu dengan orang baru. Tapi sebagai single parent, Anda mendapat pengalaman menguntungkan juga, kok Bun. Berikut ini beberapa keuntungan dari menjadi single parent yang membuat Anda tersenyum:


  1. Leluasa mengatur keuangan

    Sebagai single parent, Anda punya pilihan tentang bagaimana menghabiskan uang untuk anak dan diri sendiri. Anda lebih leluasa merencanakan keuangan dan tahu kapan Anda bisa sedikit boros dan kapan perlu berhemat. Anda juga bisa membantu anak memahami pengaturan keuangan dan mengajarkan mereka cara mengatur uang dengan lebih baik.


  2. Semua keputusan tentang pengasuhan anak ada di tangan Anda

    Sebagai single parent, segala keputusan ada di tangan Anda. Anda akan menyadari pentingnya hal ini karena akan berpengaruh pada anak. Mulai dari sekolah untuk anak, jenis makanan yang ia makan, tempat yang ia kunjungi, serta aturan lain untuk anak, semua berasal dari Anda.


  3. Perhatian yang tak terbagi untuk anak

    Sebagai anak dari single parent, si kecil akan mendapat perhatian penuh dari Anda, begitu juga dari mantan pasangan Anda. Selama anak bersama Anda, cinta dan perhatian yang Anda miliki seluruhnya untuk anak, dan kapanpun anak bersama mantan suami, cinta dan perhatian mantan suami juga untuk anak.


    Sebagai single parent yang belum kembali menikah, Anda juga punya cukup waktu untuk anak. Begitu pula setelah Anda membina hubungan baru, calon pasangan akan memahami pembagian waktu Anda.


  4. Anak jadi sangat bertanggung jawab

    Meski menjadi single parent berarti Anda harus mengurus hampir semua tugas sendirian, ini juga berarti Anda akan mengajarkan anak untuk lebih bertanggung jawab atas setiap tindakannya di usia dini.


    Menjadi single parent berarti Anda membantu anak menjadi team player dan bekerjasama dengannya sebagai team, bukan membuat anak mengandalkan Anda untuk setiap hal kecil. Anak akan belajar pentingnya perencanaan dan mengontrol tindakannya.


    Ketika Anda ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan rumah, seperti membeli furniture baru atau berbelanja kebutuhan harian, kemungkinan Anda akan meminta pendapat anak. Ini tidak hanya membuat anak merasa penting, tapi juga menanamkan rasa tanggung jawab yang berasal dari partisipasinya dalam kerja team dan proses membuat keputusan.


  5. Anda tidak bergantung pada orang lain

    Ketika masih bersama dengan suami, Anda kemungkinan selalu berusaha menyeimbangkan hubungan. Mulai dari bekerja, mengurus rumah, mengawasi belajar anak, hingga menghadiri rapat sekolah, selalu ada hal yang perlu Anda putuskan bersama pasangan. Mungkin sering kali Anda berdebat dengan pasangan ketika merasa Anda yang selalu melakukan kebanyakan tugas atau ketika pasangan mengkritik Anda dalam melakukan sesuatu. Untuk membuat hubungan berjalan baik, Anda berusaha mengalah meski merasa kecewa.


    Sebagai single parent, meski Anda masih harus melakukan banyak hal, Andalah yang jadi bosnya. Anda tidak lagi bergantung pada pasangan untuk membantu melakukan tugas tertentu di rumah atau di luar rumah. Anda akan belajar mengatur waktu dan bisa melakukannya seorang diri.


Kekurangan Menjadi Single Parent

Berikut ini beberapa kekurangan dari peran sebagai single parent yang perlu Anda pertimbangkan dan pikirkan lebih dulu untuk melihat apakah Anda bisa mengatasinya:


  1. Banyak sekali tugas yang harus dikerjakan

    Meski menjadi single parent membuat Anda sebagai pengambil keputusan di rumah, ini juga berarti akan ada banyak sekali hal yang jadi tanggung jawab Anda. Karena kini Anda bertanggung jawab dalam soal keuangan, berarti Anda akan menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, terlebih bila Anda menjalani lebih dari satu pekerjaan. Pergantian kondisi dari income ganda menjadi income tunggal bisa jadi perubahan besar untuk anak dan Anda sendiri.


    Anda kemungkinan berusaha menghindari pengeluaran tambahan, seperti bantuan asisten di rumah. Ini berarti meski Anda bisa menghemat pengeluaran, waktu yang Anda habiskan untuk melakukan banyak hal membuat Anda kelelahan. Dan bila anak masih kecil-kecil, Anda melakukan banyak tugas sendirian karenta tidak bisa mendelegasikannya ke anak.


  2. Sering kehabisan uang

    Sebagai single parent, kemungkinan Anda akan kesulitan mengatur pengeluaran. Demi menjaga kondisi keuangan, single parent kadang mengambil lebih dari satu pekerjaan. Ini tidak hanya menimbulkan stres pikiran dan kesehatan tapi juga bisa menyita waktu sehingga sulit bagi Anda untuk bisa menghabiskan waktu bersama anak.


  3. Merasa kesepian

    Mengakhiri hubungan pernikahan dengan suami mungkin membuat Anda ingin menjalin hubungan baru dengan orang lain, atau tidak sama sekali. Tapi peran sebagai single parent membuat Anda merasa kesepian. Anda akan kesepian sepanjang hari, meski ketika ada anak bersama Anda. Anda tetap membutuhkan orang dewasa lain, meski hanya sekedar untuk bercakap-cakap layaknya orang pada umumnya.


    Karena menjadi pengasuh utama anak, Anda jarang punya waktu atau kesempatan untuk keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain. Tidak bertemu orang lain dan tidak bisa menghabiskan waktu bersama teman juga bisa membuat Anda sangat kesepian.


  4. Mendisiplinkan anak adalah tugas berat

    Buah hati Anda juga akan mengalami kesulitan dengan status barunya sebagai anak dari single parent. Meski Anda berusaha semaksimal mungkin agar mereka nyaman, merasa aman, dan dicintai, akan ada momen dimana anak merasa tersisih, tidak disayang, dan bereaksi membangkang atau agresif. Situasi ini membuat Anda lebih sulit mendisiplinkan anak.


    Anda kesulitan mendisiplinkan anak serta menjalankan aturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Bila anak sering bertemu mantan suami, sedangkan Anda dan mantan suami tidak menetapkan disiplin yang sama, akan muncul konflik yang membuat anak bingung tentang mana yang harus diikuti dan didengar.


    Bunda, tiap anak berbeda, dan cara anak bereaksi terhadap status Anda sebagai single parent mungkin tidak seperti yang Anda bayangkan. Anda perlu menyadari kalau anak menganggap perubahan mendadak ini terasa mengganggu dan membingungkan.


    Ada kemungkinan anak merasa marah, benci, dan kecewa terhadap Anda, bahkan menyalahkan Anda yang dianggap egois. Reaksi awal anak bisa berlangsung lama, dan berubah menjadi masalah perilaku yang serius. Perubahan status Anda adalah perubahan besar yang sulit diterima anak dan kadang cukup sulit untuk membuatnya mengerti.


Menghindari Stres Sebagai Single Parent

Mengasuh dan membesarkan seorang anak ibarat menjelajahi samudera luas, yang penuh dengan badai, gelombang besar, dan kadang matahari tidak bersinar. Menjadi orangtua merupakan hal yang sulit dijalani meski bersama pasangan, dan ketika Anda harus berlayar sendirian tanpa pasangan, tingkat kesulitannya akan semakin meningkat.


Tapi ada banyak single parent di berbagai tempat di dunia yang berhasil dan menikmati proses membesarkan anak mereka seorang diri. Memang menjadi orang tua tunggal bukan berarti Anda bisa lebih mudah mengemudikan kapal “pengasuhan anak” melewati perairan yang tidak bersahabat. Jika Bunda adalah seorang single parent, simak beberapa tips berikut yang akan membantu Anda berhasil dan menikmati posisi sebagai orang tua tunggal bagi si kecil.


  1. Mencari banyak teman

    Menjadi ibu atau ayah yang sendirian di taman bermain yang penuh dengan keluarga dan pasangan saat weekend masih lebih baik, dan waktu akan terasa berlalu lebih cepat dibanding jika Anda hanya berada di dalam rumah setiap hari bersama dengan bayi yang seolah tak henti-hentinya menangis.


    Mencari orang dengan kondisi yang sama dapat memudahkan hidup Anda. Tidak harus sama-sama seorang single parent. Contohnya, ada seorang ibu yang menjadi single parent bercerita, suami sahabatnya sering bekerja hingga larut malam, jadi kedua ibu yang sama-sama memiliki bayi ini memutuskan untuk berkumpul saat makan malam. Memang kadang kedua bayi  tetap rewel dan menangis tapi setidaknya kondisi ini dijalani tidak sendirian.


    Jika Anda kesulitan mencari teman, cobalah bergabung dengan komunitas “single parent.” Kunjungi website, akun facebook, atau jaringan sosial lainnya untuk mencari tahu keberadaan single parent di area Anda. Jika tidak menemukannya, Anda bisa mulai membuat komunitas sendiri.


  2. Merawat diri sendiri

    Merawat diri di awal masa menjadi orang tua bukan sekedar dengan melakukan perawatan tubuh dengan pergi ke salon kecantikan, tapi hal ini lebih kepada memperhatikan kebutuhan mendasar Anda. Kadang apa yang Anda butuhkan begitu mudah diabaikan, terutama jika tidak ada pasangan yang mengingatkan Anda.


    Anda harus memastikan kalau tubuh Anda mendapat asupan makanan yang cukup. Juga perlu perhatikan kualitas dan kuantitas tidur yang Anda peroleh. Punya waktu tidur yang cukup bisa berarti melupakan sejenak semua tugas di rumah. Rumah Anda pasti akan sangat berantakan, tapi Anda harus merelakannya demi kebutuhan Anda yang sangat mendasar ini.


    Jangan lupakan olahraga untuk menjaga kesehatan. Anda bisa melakukannya dengan cara yang sederhana. Daripada menggunakan kendaraan, akan lebih baik Anda menggunakan kereta bayi dan berjalan kaki menuju tempat tujuan yang tidak terlalu jauh.


  3. Membangun komunitas

    Komunitas yang kuat bisa memberi dukungan emosional dan menciptakan rasa memiliki. Ini merupakan hal penting bagi para orang tua tunggal yang seringkali merasa terisolasi. Tapi Anda jangan hanya fokus mencari komunitas single parent. Lebih banyak variasi komunitas Anda, tentu akan semakin baik. Memiliki lingkar sosial yang berbeda-beda menjadi sangat penting.


    Memang sulit untuk membangun sebuah komunitas jika Anda adalah individu yang introvert. Tapi Anda harus memaksa diri untuk masuk ke situasi sosial. Misalnya, bergabunglah dengan orang-orang di tempat ibadah Anda, seperti mengikuti pengajian di masjid atau ikut ibadah ibu-ibu di gereja. Ingat loh Bunda, bertemu banyak orang akan semakin mudah jika Anda banyak berlatih melakukannya. Anda tidak akan menjadi pemalu lagi. Mungkin awalnya Anda sungkan untuk mengatakan pada orang lain bahwa Anda adalah single parent, tapi Anda harus bisa mengatasinya.


  4. Menerima bantuan

    Bagi sebagian orang, hal ini lebih mudah dikatakan daripada dijalani. Kadang Anda merasa tidak perlu berlebihan karena Anda memilih untuk menjadi orang tua tunggal. Tapi perlu diingat bahwa hal ini tidak membuat perubahan fakta bahwa Anda juga membutuhkan bantuan.


    Ada seorang ibu yang juga orangtua tunggal bagi bayi kecilnya bercerita, ia merasa senang sekali ketika orang tuanya berkunjung di minggu-minggu awal kelahiran si kecil, waktu di mana ia sangat kurang waktu tidur. Ia bisa meminta orang tuanya membantu menyelesaikan banyak pekerjaan rumah. Bisa dilihat, ternyata kehadiran si kecil menciptakan komunikasi yang lebih baik dengan orang tuanya. Hubungan orang tua dan Anda bisa menjadi semakin dekat.


  5. Mengantisipasi situasi darurat

    Mungkin ada suatu waktu di tengah malam batita Anda mengalami demam, dan Anda kehabisan persediaan ibuprofen di rumah. Atau Anda sendiri yang sakit, sampai Anda tidak bisa menjaga si kecil. Tanpa orang dewasa lain di rumah, apa yang bisa Anda lakukan?


    Sangatlah penting untuk siap mengantisipasi situasi semacam ini. Cari tahu apakah ada jasa pengasuhan bayi darurat di area Anda. Mungkin pelayanan ini membutuhkan biaya yang mahal, tapi mereka bisa memberikan bantuan dalam waktu yang cepat. Selain itu, buat daftar nama dan nomor telepon teman atau anggota keluarga yang bisa Anda hubungi.  Ada seorang ibu bercerita, suatu hari di jam 4 pagi ia jatuh sakit hingga tak bisa menyusui bayinya. Untungnya, ia mengenal seorang teman yang ia tahu suka jogging di pagi hari. Ia langsung menelepon sang teman dan temannya langsung datang untuk memberi bantuan.


  6. Jauhkan rasa iri

    Kadang ibu yang menjadi orang tua tunggal merasa iri dengan teman-temannya yang memiliki suami yang baik dan mau membantu, laki-laki yang mau bersama mereka. Tapi ini tidak berarti semua akan baik-baik saja ketika Anda memiliki pasangan. Pada kenyataannya semua orang memiliki masalah, termasuk orang yang memiliki pasangan.

    Setelah beberapa tahun Anda akan menyadari bahwa menjadi single parent juga ada keuntungannya, misalnya Anda hanya cukup memikirkan kebutuhan si kecil. Rasa iri yang konstan bisa mengarah pada kebencian dan amarah, yang akhirnya dapat menguras energi Anda. Lebih baik fokus saja pada hal-hal indah dalam hidup Anda yang perlu Anda syukuri, termasuk memiliki teman yang memiliki pasangan.


  7. Kreatif dalam mengasuh anak

    Ingat Bun, Anda harus lebih fokus pada pengasuhan anak dibanding urusan rumah. Anda bisa mempekerjakan pembantu untuk meng-handle pekerjaan rumah. Ide bagus lainnya adalah dengan bertukar giliran menjaga anak dengan keluarga lain. Teman Anda bisa membantu mengawasi bayi Anda ketika Anda berbelanja kebutuhan keseharian. Kemudian Anda mendapat giliran untuk mengawasi bayi ketika teman Anda dan suaminya keluar untuk makan malam bersama. Dengan begitu Anda berdua bisa mendapat jeda sebentar dari pengasuhan anak dan juga memberi selingan bagi bayi Anda.


    Para ibu single parent lain melakukan inovasi yang tidak kalah kreatif. Misalnya, ibu muda yang juga seorang guru, membagi tugasnya dengan guru lain yang juga ibu baru. Ketika guru yang satu sedang bekerja, guru yang lain mengawasi kedua bayi. Hal ini memungkinkan kedua ibu untuk tetap bekerja, tetap mengawasi anak, dan punya lebih banyak waktu bersama anak-anak mereka.

(Ismawati)