Anak Didiagnosis ADHD atau Autisme, Apa Langkah Selanjutnya?
Mendengar anak mendapatkan diagnosis ADHD, autisme, atau gangguan perkembangan lainnya tentu bisa memunculkan berbagai pertanyaan bagi orang tua. Apakah anak harus segera menjalani terapi? Terapi apa yang paling sesuai? Bagaimana kalau diagnosisnya ternyata berbeda dengan pendapat dokter sebelumnya?
Sebagian orang tua mungkin langsung mencari berbagai informasi dan pilihan terapi. Ada pula yang masih membutuhkan waktu untuk memahami dan menerima hasil pemeriksaan anak.
Di tengah proses tersebut, penting bagi orang tua untuk mengetahui bahwa diagnosis merupakan salah satu langkah dalam memahami kondisi anak. Setelah mengetahui diagnosisnya, orang tua juga perlu mengenali kesulitan yang dialami anak agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam talkshow Beyond the Label: Apa Arti Diagnosis di Era Neurodiversitas? pada SPEKIX 2026, Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak, Konsultan Neurologi Anak, sekaligus Founder Klinik Anakku, menjelaskan pentingnya memahami diagnosis secara menyeluruh, termasuk mengenali gangguan fungsi dan menentukan intervensi yang tepat.
Perbedaan Perkembangan Anak, Kapan Perlu Diperiksa?

Setiap anak memiliki karakteristik dan cara berkembang yang berbeda-beda. Ada yang mudah mengikuti pelajaran di sekolah, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami instruksi atau menyelesaikan tugas.
Perbedaan tersebut sering dikaitkan dengan istilah neurodivergent, yaitu istilah sosial yang digunakan untuk menggambarkan individu dengan cara kerja atau perkembangan neurologis yang berbeda dari pola yang dianggap umum.
Namun, Prof. Hardiono mengingatkan bahwa istilah neurodivergent bukanlah diagnosis medis. Perbedaan perilaku atau cara belajar anak juga tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan perkembangan.
Sebagai contoh, anak yang sesekali berjalan-jalan atau berlari di kelas belum tentu memiliki ADHD atau gangguan lainnya.
“Kalau bedanya ini tidak mengganggu kehidupan sosialnya, nggak mengganggu akademisnya, ya nggak apa-apa,” jelas Prof. Hardiono. Lalu, kapan orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan profesional?
Menurut Prof. Hardiono, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah apakah perilaku atau kesulitan yang dialami anak sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, proses belajar, hubungan sosial, komunikasi, atau bahkan keselamatannya.
Kesulitan yang terlihat serupa juga belum tentu memiliki penyebab yang sama. Misalnya, anak dengan ADHD dapat memahami pelajaran, tetapi mengalami kesulitan mengatur aktivitas atau menyelesaikan tugas. Sementara itu, sebagian anak dengan autism spectrum disorder (ASD) mungkin lebih mengalami kesulitan dalam komunikasi dan interaksi sosial.
Ada pula anak dengan gangguan perkembangan bahasa yang kesulitan memahami atau mengekspresikan bahasa, sehingga membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda.
Untuk membedakan kondisi tersebut, dokter perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan memperhatikan riwayat kehamilan, kelahiran, perkembangan anak sejak kecil, serta kesulitan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil pemeriksaan kemudian digunakan untuk membantu menentukan diagnosis dan kebutuhan penanganan anak.
Meski begitu, mengetahui nama diagnosis saja belum cukup. Sebab, dua anak dengan diagnosis yang sama bisa memiliki kemampuan dan kesulitan yang sangat berbeda.
Diagnosis Sama, Kenapa Kebutuhan Terapi Anak Bisa Berbeda?

Salah satu hal penting yang ditekankan Prof. Hardiono adalah perlunya membedakan diagnosis medis dengan gangguan fungsi yang dialami anak.
Diagnosis medis digunakan untuk mengidentifikasi kondisi perkembangan yang dialami anak, seperti ADHD atau ASD. Sementara itu, penilaian gangguan fungsi membantu mengetahui kemampuan atau aktivitas apa saja yang masih menjadi kesulitan bagi anak dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, dua anak yang sama-sama didiagnosis ASD belum tentu membutuhkan jenis intervensi yang identik.
Salah satu anak mungkin lebih membutuhkan dukungan dalam kemampuan komunikasi, sementara anak lainnya mengalami kesulitan dalam mengolah rangsangan sensorik atau melakukan aktivitas secara mandiri. Perbedaan kebutuhan inilah yang perlu diperhatikan sebelum menentukan tujuan dan pendekatan terapi.
Prof. Hardiono menjelaskan bahwa proses penilaian anak idealnya melibatkan kolaborasi antara berbagai tenaga profesional. “Jadi paling bagus sih dikumpulin dokter, terapis, psikolog, sama ngelihat anak,” jelasnya.
Dokter berperan dalam pemeriksaan dan penegakan diagnosis medis. Sementara itu, terapis serta psikolog dapat membantu menilai kemampuan dan kesulitan anak sesuai bidang keahliannya. Melalui penilaian yang menyeluruh, tenaga profesional bersama orang tua dapat menentukan kemampuan apa saja yang perlu dikembangkan dan bentuk dukungan yang sesuai.
Namun, bagi sebagian orang tua, proses menuju tahap tersebut juga memiliki tantangan tersendiri. Terutama ketika hasil pemeriksaan menunjukkan diagnosis yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
Orang Tua Sulit Menerima Diagnosis Anak, Harus Bagaimana?

Menerima kenyataan bahwa anak memiliki gangguan perkembangan memang tidak selalu mudah. Ada orang tua yang merasa sedih, bingung, bahkan sulit mempercayai hasil pemeriksaan yang diberikan dokter.
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta mengangkat persoalan orang tua yang terus berpindah dari satu dokter ke dokter lain karena merasa diagnosis yang diberikan belum sesuai dengan harapannya.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Hardiono menjelaskan bahwa perasaan sedih, kecewa, atau belum bisa menerima diagnosis merupakan respons yang wajar terjadi. Ia juga membagikan pengalamannya menghadapi orang tua yang menangis atau marah setelah mengetahui hasil pemeriksaan anak.
Karena itu, orang tua boleh memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk memahami kondisi anak. Mencari pendapat kedua atau second opinion juga diperbolehkan, terutama jika masih ada keraguan mengenai hasil pemeriksaan maupun rencana penanganannya.
Namun, Prof. Hardiono mengingatkan agar proses mencari kepastian diagnosis tidak berlangsung terlalu lama hingga membuat kebutuhan anak justru terabaikan. “Yang penting kalau udah sedih, udah terima atau enggak, cari jalan keluarnya apa. Nggak boleh didiemin,” ungkapnya.
Peran dokter juga penting dalam membantu keluarga melewati proses ini. Menurut Prof. Hardiono, dokter perlu menunjukkan empati, memberikan kesempatan kepada orang tua untuk menceritakan kekhawatirannya, serta menjelaskan kondisi anak dengan bahasa yang mudah dipahami.
Dengan komunikasi yang baik, orang tua dapat memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi anak, termasuk langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu perkembangannya.
Setelah Mendapat Diagnosis, Apa yang Sebaiknya Diprioritaskan?

Ketika diagnosis sudah diketahui dan kebutuhan anak mulai dipahami, orang tua bersama tenaga profesional dapat menentukan kemampuan apa saja yang perlu menjadi prioritas.
Menurut Prof. Hardiono, beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan meliputi keselamatan, komunikasi, kemandirian, serta kemampuan belajar anak.
Prioritas tersebut dapat berbeda pada setiap anak, bergantung pada kesulitan yang dialami. Misalnya, anak yang belum mampu menyampaikan keinginannya mungkin membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi. Sementara itu, anak yang mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari dapat membutuhkan latihan untuk meningkatkan keterampilan dan kemandiriannya.
Dengan tujuan yang lebih spesifik, intervensi bisa diarahkan pada kemampuan yang benar-benar dibutuhkan anak, bukan semata-mata berdasarkan nama diagnosisnya.
Setelah mengetahui kemampuan yang perlu dikembangkan, barulah orang tua bersama tenaga profesional dapat mempertimbangkan metode terapi yang paling sesuai.
Bagaimana Memilih Terapi yang Tepat untuk Anak Berkebutuhan Khusus?

Saat mulai mencari terapi, orang tua mungkin menemukan berbagai pilihan metode dan pendekatan intervensi. Tidak sedikit pula informasi yang menjanjikan perkembangan pesat atau hasil tertentu dalam waktu singkat.
Prof. Hardiono mengingatkan bahwa pemilihan terapi sebaiknya mempertimbangkan dasar ilmiah, kompetensi tenaga profesional, serta kebutuhan masing-masing anak. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum menentukan pilihan terapi.
1. Pastikan metode terapi memiliki dasar ilmiah
Cari tahu apakah metode yang digunakan sudah memiliki bukti penelitian yang mendukung manfaatnya untuk kondisi atau kesulitan yang dialami anak.
Prof. Hardiono mengingatkan agar orang tua berhati-hati terhadap pendekatan yang belum memiliki bukti ilmiah memadai, terutama jika metode tersebut dipromosikan dengan klaim yang berlebihan.
2. Perhatikan kompetensi tenaga profesional
Orang tua juga perlu mengetahui latar belakang pendidikan, pelatihan, dan kompetensi tenaga profesional yang akan menangani anak.
Pastikan metode terapi yang diberikan memang sesuai dengan bidang keahlian dan kebutuhan anak.
3. Waspadai janji kesembuhan atau hasil instan
Orang tua sebaiknya berhati-hati jika ada pihak yang menjanjikan anak pasti sembuh atau menunjukkan perkembangan dalam waktu sangat singkat.
Menurut Prof. Hardiono, tenaga profesional tidak dapat menjanjikan hasil yang sama untuk setiap anak. Intervensi perlu dilakukan menggunakan metode yang tepat, dengan tujuan perkembangan yang jelas dan evaluasi secara berkala.
4. Pertimbangkan kebutuhan anak dan kondisi keluarga
Pemilihan terapi juga perlu mempertimbangkan kemampuan anak, tujuan yang ingin dicapai, serta kondisi keluarga agar intervensi dapat dijalankan secara konsisten.
Orang tua sebaiknya memahami alasan suatu terapi direkomendasikan, kemampuan apa yang ingin dikembangkan, dan bagaimana perkembangan anak nantinya akan dinilai.
Sebab, terapi yang sesuai perlu memiliki tujuan yang bisa dipantau. Dengan begitu, orang tua dan tenaga profesional dapat mengetahui apakah pendekatan yang digunakan sudah membantu anak atau masih perlu disesuaikan.
Anak Sudah Lama Terapi tetapi Belum Ada Kemajuan, Apa yang Perlu Dievaluasi?

Setelah anak menjalani terapi selama beberapa waktu, orang tua tentu berharap dapat melihat perkembangan, sekecil apa pun kemajuan tersebut. Namun, bagaimana jika anak sudah menjalani terapi selama berbulan-bulan, tetapi kemampuannya masih terlihat stagnan?
Menurut Prof. Hardiono, kondisi tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui apakah diagnosis, tujuan intervensi, dan metode terapi sudah sesuai dengan kebutuhan anak.
Dalam praktiknya, Prof. Hardiono menggunakan periode sekitar tiga bulan untuk menilai apakah anak menunjukkan kemajuan yang bermakna. Periode tersebut merupakan pendekatan evaluasi yang ia gunakan, bukan ketentuan bahwa semua anak harus mencapai target perkembangan yang sama dalam tiga bulan.
Jika kemajuan belum terlihat, ada beberapa kemungkinan yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, apakah kesulitan anak sudah dinilai secara menyeluruh, apakah metode terapinya tepat, atau apakah terdapat kondisi lain yang memengaruhi proses belajarnya.
Prof. Hardiono juga menyoroti pentingnya penilaian kemampuan kognitif anak untuk membantu menentukan target dan pendekatan terapi yang realistis. Penilaian ini tidak selalu harus berupa tes IQ formal, terutama jika usia perkembangan atau kondisi anak belum memungkinkan. Tenaga profesional dapat menentukan bentuk pemeriksaan yang sesuai.
Selain meninjau kembali metode terapi, perkembangan anak juga perlu dilihat dari berbagai lingkungan tempat ia beraktivitas. “Anak maju itu bukan cuma laporan. Satu, terapisnya laporan. Dua, orang tuanya laporan. Tiga, guru sekolah laporan. Empat, dokternya melihat, oh bagus juga, baru,” jelas Prof. Hardiono. Dengan kata lain, kemajuan anak sebaiknya dapat diamati dalam berbagai situasi, seperti ketika mengikuti terapi, beraktivitas di rumah, maupun belajar di sekolah.
Informasi dari orang tua, guru, terapis, dan dokter dapat membantu memberikan gambaran lebih utuh mengenai perkembangan anak serta kebutuhan yang masih perlu didukung. Karena itu, ketika perkembangan anak belum sesuai harapan, orang tua sebaiknya mendiskusikannya kembali dengan tenaga profesional agar tujuan dan pendekatan intervensi dapat dievaluasi bersama.
Memahami Kebutuhan Anak Lebih dari Sekadar Diagnosis

Diagnosis memang membantu tenaga profesional memahami kondisi perkembangan anak. Namun, setiap anak tetap memiliki karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Itulah sebabnya orang tua perlu terus mengamati bagaimana anak belajar, berkomunikasi, merespons lingkungan, serta menunjukkan kebutuhan atau ketidaknyamanannya.
Prof. Hardiono menyampaikan bahwa setiap anak sebenarnya berusaha mengomunikasikan apa yang mereka butuhkan, termasuk ketika belum mampu mengungkapkannya melalui kata-kata. “Setiap anak selalu berusaha memberitahu apa yang dia butuhkan dengan caranya sendiri. Tugas kita mengamati, memperhatikan, dan menafsirkan apa yang dibutuhkan anak, walaupun dia nggak ngomong.”
Bagi Parents yang sedang menjalani proses pemeriksaan atau terapi bersama anak, jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter maupun terapis mengenai tujuan intervensi dan perkembangan yang perlu dipantau. Dengan memahami kondisi anak secara menyeluruh, dukungan yang diberikan dapat lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang ingin dikembangkan.