Balita Dibaca 2,164 kali

Anak Hobi Mengupil

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya
Anak Hobi Mengupil
Meskipun sebagian orang beranggapan bahwa mengupil merupakan kebiasaan yang dilakukan saat merasa gugup, seperti halnya menghisap jari, menggigit kuku, memelintir rambut, atau menggertakkan gigi, ternyata mengupil bukanlah menjadi tanda bahwa anak Anda sedang mengalami kecemasan. Anak-anak biasanya mengupil karena ada sesuatu di dalam hidungnya yang membuatnya merasa tidak nyaman.

 

Anak yang mengalami alergi cenderung suka mengupil. Ini disebabkan oleh aliran lendir yang berat dan menjadi keras yang membuat ia merasa ada benda asing di dalam hidungnya. Lalu ia  mulai memasukkan jari ke dalam hidung untuk mengupil.

 

Kondisi lingkungan tertentu juga bisa membuat anak lebih sering mengupil. Misalnya, ketika sistem pendingin atau pemanas ruangan di rumah Anda membuat saluran hidung si kecil menjadi kering, menciptakan kondisi yang memungkinkan baginya untuk mengupil.

 

Memang ada pendapat yang mengatakan aktifitas mengupil dianggap bisa melegakan stres. Berita baiknya untuk para Bunda, tidak seperti pada menggigit kuku, mengupil adalah kebiasaan yang tidak akan berlanjut hingga anak memasuki usia dewasa.

 

Pada umumnya, anak akan berhenti mengupil dengan sendirinya. Penyebabnya bisa jadi karena mereka menganggap mengupil bukan lagi kegiatan yang menarik untuk dilakukan, atau karena ada anak lain yang mengejek hingga membuat sebagian besar anak ingin berhenti melakukannya.

 

Mengupil tidak bersifat berbahaya kecuali bila disebabkan oleh kuman. Kuman pada jari tangan bisa mengakibatkan terjadinya infeksi kulit ringan di dalam hidung, dan jari yang telah masuk ke hidung bisa menjadi media untuk tersebarnya virus penyebab flu dan pilek. Mengajarkan anak untuk menggunakan sapu tangan atau tisu daripada jari tangan untuk membersihkan hidung bisa menjadi cara termudah untuk mengatasi hal ini.

 

Anda juga bisa mencoba beberapa cara berikut agar buah hati Anda tidak lagi memiliki kebiasaan mengupil:

 

  • Membuat tangannya sibuk. Jika Anda bisa mengidentifikasi kapan dan dimana anak Anda biasanya mengupil, misalnya saat menonton tv atau di dalam mobil, coba tawarkan aktifitas pengganti. Anda bisa berikan bola karet untuk ia pegang, atau boneka jari untuk dimainkan. Mengajarkan ia untuk membuang lendir dari hidung juga bisa membantu. Kadang anak yang gemar mengupil hanya membutuhkan sesuatu untuk dikerjakan oleh tangannya. Perhatikan apakah ia memiliki banyak waktu luang, atau apakah ia sering menghabiskan waktu dalam aktifitas yang pasif. Setelah anak tidak lagi melatih keterampilan motorik halus, ia masih memerlukan kegiatan dengan tangannya. Anak usia sekolah dini menyukai kegiatan seperti membuat kerajinan tangan (dengan lem, manik-manik, bulu, kertas hias, spidol, atau kertas), memecahkan puzzle, membentuk dengan tanah lempung, belajar memasak, dan membangun model atau konstruksi sederhana.
  •  
  • Obati alergi yang ia derita. Anak Anda sedang berada di usia dimana demam yang cukup konstan akan sering dialami. Alergi bisa menyebabkan hidungnya tersumbat. Penyebab alergi yang paling sering pada anak-anak adalah tungau debu rumah, bulu binatang, serbuk, serta jamur.
  •  
  • Tanamkan kebiasaan pada anak untuk selalu mencuci tangan. Memang jarang ada anak yang mau selalu mencuci tangannya, oleh karena itu Anda perlu memberikan penjelasan bahwa mencuci tangan beberapa kali dalam sehari dan menjaga kuku tetap terpotong pendek dapat membuat kotoran tidak tertimbun di dalamnya serta menjaganya terhindar dari sakit.
  •  
  • Jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi. Jika Anda tinggal di iklim yang kering atau penghangat ruangan membuat saluran di hidung anak menjadi mengering, berikan ia banyak cairan di siang hari, atau coba gunakan pelembab udara di kamarnya pada malam hari. Bisa juga Anda gunakan semprot hidung yang berisi larutan garam. Anda bisa memperolehnya di apotek serta toko obat. Atau Anda dapat membuat larutan air garam sendiri dengan takaran seperempat sendok teh garam dilarutkan dalam 8 ounce (236,5 ml) air.
  •  
  • Jangan berikan hukuman. Meski Anda merasa malu dengan kebiasaan si kecil ini, jangan katakan apapun. Anda memang bisa mengingatkan si kecil bahwa mengupil bukan hanya tidak sehat tapi juga tidak sopan, namun reaksi dalam bentuk kemarahan atau hukuman saat ia melakukannya tidak akan banyak bermanfaat. Karena anak Anda mungkin melakukannya tanpa sadar. Jika anak Anda mengupil tanpa menyadarinya lalu ia memutuskan untuk berhenti melakukan kebiasaan ini, menempelkan perban di jarinya agar sulit untuk masuk ke lubang hidung mungkin bisa membantu. Ini akan membuat ia menyadari apa yang ia lakukan. Tapi sebaiknya Anda melakukan ini setelah ia pulang dari sekolah agar ia tidak perlu menjawab pertanyaan yang memalukan dari banyak temannya. Pada batita, memakaikan perban di jarinya mungkin akan lebih terlihat seperti hukuman baginya. Selain itu, memaksa seorang batita untuk berhenti mengupil akan membuatnya semakin bertahan. Semakin ia menyadari Anda memperhatikan perilaku ini, semakin senang ia melakukannya.
  •  
  • Ajarkan cara menggunakan sapu tangan. Anda bisa meminta si kecil untuk selalu membawa sapu tangan atau sediakan bungkus tisu di saku bajunya. Saat berjauhan dari orang di sekitarnya, minta ia untuk sering mengeluarkan lendir dari hidungnya lalu membersihkan lubang hidung dengan sapu tangan. Dengan begitu masalah kuman bisa teratasi dan tidak memalukan saat ia berada di lingkungan dengan banyak orang.
  •  
  • Buat ia terlihat konyol. Katakan pada anak Anda jika memang ia terpaksa harus mengupil dengan jarinya maka ia harus melakukannya saat sendirian. Ceritakan lelucon tentang orang jorok yang suka mengupil di depan umum. Jika ia memahami dan tertawa karena cerita lucu Anda, ia akan lebih mudah untuk mengingat apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di depan orang lain.
  •  
  • Memeriksakan anak Anda ke dokter. Jika buah hati Anda sangat intensif bereksplorasi dengan hidungnya hingga mengeluarkan darah, atau kebiasaan ini menjadi tanda perilaku gugupnya, misalnya ia menghisap jari, mengupil hingga berdarah, dan masih mengalami sulit tidur, Anda perlu menghubungi dokter anak atau ahli terapi. Ini bisa menjadi salah satu tanda kecemasan atau masalah emosi lainnya yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
  •  
Jika Anda telah melakukan semua hal di atas dan ternyata anak Anda masih juga mengupil, hal terakhir yang bisa Anda lakukan adalah tetap menjaga kukunya terpotong pendek lalu abaikan apa yang ia lakukan. Saat batita beranjak besar dan menggunakan kedua tangannya untuk tugas yang lebih kompleks, kemungkinan ia akan berhenti memasukkan jarinya ke lubang hidung.

 

Jika tidak demikian, ia akan melanjutkan mengupil hingga usia masuk TK atau SD. Ia akan berada pada satu titik dimana anak lain berseru, “Ihhh, ia suka ngupil,” dan anak Anda akan sangat termotivasi untuk berhenti. Di saat itulah Anda bisa membantunya mengakhiri kebiasaan ini. Hingga masa itu datang, tetaplah membuat tangannya sibuk berkegiatan dan teruslah berharap ya Bunda.

(Ismawati)