Anak Lahap Makan, Tapi Apakah Nutrisi Anak Sudah Cukup?

Anak Lahap Makan, Tapi Apakah Nutrisi Anak Sudah Cukup?
Anak Lahap Makan, Tapi Apakah Nutrisi Anak Sudah Cukup?

Melihat anak makan dengan lahap sampai piringnya bersih memang rasanya melegakan ya, Parents. Apalagi kalau biasanya perlu perjuangan panjang untuk mengajak anak duduk dan menghabiskan makanannya.

Namun, banyaknya makanan yang masuk ternyata bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan saat bicara soal nutrisi anak. Isi dan komposisi makanan juga penting karena tubuh anak membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung proses tumbuh kembangnya.

Keresahan soal kecukupan nutrisi ini rupanya juga dirasakan Asmirandah. Dalam perayaan SGM ke 72 tahun, Asmirandah bercerita sudah membiasakan putrinya, Chloe, mengonsumsi real food yang bergizi seimbang dan beragam. Meski begitu, ia tetap memikirkan apakah kebutuhan nutrisi anaknya sudah terpenuhi secara menyeluruh.

Lalu, selain memastikan anak mau makan, apa lagi yang sebenarnya perlu Parents perhatikan?

Apa Saja yang Perlu Ada dalam Asupan Harian Anak?

Menurut dr. Ria Yoanita, Sp.A, Dokter Spesialis Anak, jumlah makanan memang perlu diperhatikan, tetapi tidak bisa menjadi satu-satunya patokan. Orang tua juga perlu melihat kualitas serta komposisi zat gizi yang masuk.

“Kalau memberikan makan kepada anak-anak itu nggak cuman jumlahnya doang. Oh jumlahnya banyak, habisnya banyak, satu piring, dua piring gitu sekali makan. Bukan begitunya, tapi penting juga diperhatikan kualitas komposisi dari makanannya itu sendiri,” jelas dr. Ria.

Sederhananya, tubuh anak membutuhkan zat gizi makro dan mikro. Makronutrien yang dijelaskan dr. Ria meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Sementara mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral, termasuk zat besi.

Penjelasan ini sejalan dengan prinsip pola makan sehat dari WHO yang mencakup empat prinsip utama, yaitu cukup, seimbang, tidak berlebihan, dan beragam. Keragaman makanan penting karena setiap jenis pangan membawa kombinasi zat gizi yang berbeda, sehingga tidak cukup hanya mengandalkan satu atau dua jenis makanan yang disukai anak.

Di antara berbagai zat gizi yang dibutuhkan selama masa pertumbuhan, zat besi menjadi salah satu mikronutrien yang perlu diperhatikan. WHO memasukkan zat besi sebagai salah satu mineral esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil untuk mendukung pertumbuhan dan fungsi tubuh yang normal. Kekurangan zat besi juga termasuk masalah mikronutrien yang banyak ditemukan pada anak secara global.

Dalam talkshow, dr. Ria juga menyoroti anemia dan kekurangan zat besi sebagai masalah yang masih perlu mendapat perhatian pada anak. Lalu, kenapa zat besi punya peran penting di masa tumbuh kembang?

Kenapa Zat Besi untuk Anak Perlu Ikut Diperhatikan?

Dalam pemaparannya, dr. Ria menyoroti anemia sebagai salah satu masalah yang masih perlu diperhatikan pada anak. Data Survei Kesehatan Indonesia atau SKI 2023 juga menunjukkan anemia masih ditemukan pada berbagai kelompok usia. Prevalensinya tercatat 23,8 persen pada anak usia 0 sampai 4 tahun, 15,3 persen pada usia 5 sampai 14 tahun, dan 15,5 persen pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun.

Anemia sendiri tidak selalu disebabkan oleh kekurangan zat besi. WHO menjelaskan ada berbagai penyebab anemia, tetapi kekurangan zat besi merupakan penyebab kekurangan nutrisi yang paling umum. Karena itu, kecukupan zat besi menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian selama masa pertumbuhan anak.

Kenapa zat besi begitu penting? Tubuh menggunakan mineral ini untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Zat besi juga dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Ketika cadangan zat besi terus menurun hingga terjadi anemia defisiensi besi, kemampuan darah membawa oksigen pun ikut berkurang.

Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami kekurangan zat besi karena kebutuhan zat besinya meningkat pada masa pertumbuhan yang cepat, terutama dalam lima tahun pertama kehidupan. WHO juga mengaitkan anemia defisiensi besi pada anak dengan gangguan perkembangan kognitif dan performa belajar. Namun, kaitan tersebut tidak berarti setiap anak yang mengalami kekurangan zat besi pasti akan mengalami gangguan perkembangan.

Hal ini pula yang membuat dr. Ria menekankan pentingnya kecukupan nutrisi sejak periode awal kehidupan. Jika kekurangan zat gizi makro maupun mikro terjadi di masa krusial dan tidak segera ditangani, dampaknya bisa memengaruhi tumbuh kembang anak dan pada kondisi tertentu dapat bersifat irreversibel, atau sulit dikembalikan seperti semula.

Namun, bukan berarti Parents perlu langsung khawatir ketika suatu hari anak makan lebih sedikit atau sedang pilih-pilih makanan. Yang lebih penting adalah melihat pola makannya dari waktu ke waktu sekaligus memantau pertumbuhannya secara menyeluruh. Jika ada kekhawatiran mengenai asupan, pertumbuhan, atau kemungkinan kekurangan zat besi, pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter dapat membantu memastikan kondisi anak dengan lebih tepat.

Nah, untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi, makanan apa saja yang bisa dipilih?

Dari Mana Anak Bisa Mendapatkan Zat Besi?

Dalam talkshow, dr. Ria membagi sumber zat besi menjadi dua jenis yang memiliki karakteristik penyerapan berbeda.

1. Zat besi heme dari makanan hewani

Zat besi jenis ini bisa diperoleh dari pangan hewani seperti daging, ikan, unggas, dan hati ayam. Menurut dr. Ria, zat besi heme lebih mudah diserap tubuh dibandingkan jenis non-heme.

2. Zat besi non-heme dari makanan nabati

Sayuran hijau menjadi salah satu contoh sumber zat besi non-heme yang disebutkan dr. Ria. Jenis ini tidak diserap tubuh semudah zat besi heme.

Karena itu dr. Ria menjelaskan sumber zat besi non-heme dapat dikombinasikan dengan sumber vitamin C seperti jeruk atau melon untuk membantu penyerapan zat besi menjadi lebih optimal.

Meski pembahasan zat besi cukup penting, bukan berarti Parents perlu berfokus pada satu zat gizi saja. Karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral tetap perlu hadir secara beragam dan seimbang dalam pola makan anak.

Real Food Sudah Jadi Dasar, Kapan Makanan dan Minuman Fortifikasi Bisa Diberikan Untuk Anak?

Pemenuhan nutrisi tetap dimulai dari makanan sehari-hari. Dr. Ria menekankan real food sebagai sumber utama, termasuk makanan yang mengandung berbagai zat gizi makro dan mikro.

Namun, kenyataannya memastikan seluruh kebutuhan nutrisi anak terpenuhi setiap hari memang tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika asupan makanan sulit masuk, termasuk saat anak sedang mengalami tantangan makan seperti picky eating atau GTM.

Dalam kondisi ketika asupan perlu dilengkapi, dr. Ria menyebut makanan atau minuman yang telah difortifikasi dapat dipertimbangkan. Fortifikasi berarti makanan atau minuman tersebut telah ditambahkan zat gizi tertentu, misalnya zat besi, vitamin C, atau zat gizi lainnya.

Asmirandah juga membagikan pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan nutrisi Chloe. Ia tetap menjadikan makanan bergizi seimbang dan beragam sebagai bagian dari keseharian putrinya, lalu memilih susu fortifikasi sebagai pelengkap.

“Aku memberikan Chloe makanan bergizi, tapi bergizi seimbang dan juga beragam. Yang penting real food. Cuma aku juga sadar betul bahwa apa pun yang aku berikan sama Chloe, mungkin dari makanan itu nggak sepenuhnya nutrisinya tercukupi,” ungkap Asmirandah.

Dalam kesehariannya, Asmirandah memilih SGM Eksplor sebagai susu fortifikasi untuk melengkapi asupan Chloe. Ini merupakan pengalaman pribadi Asmirandah dan tentu kebutuhan setiap anak bisa berbeda.

Namun, fortifikasi juga bukan berarti menggantikan makanan utama. Pilihannya perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya melengkapi pola makan yang sudah beragam dan bergizi seimbang sesuai kebutuhan anak.

Pentingnya Membaca Label Nutrisi Sebelum Membeli Pelengkap Nutrisi Fortifikasi

Bukan hanya isi piring yang perlu diperhatikan, banyaknya pilihan makanan dan minuman di pasaran juga membuat Parents harus lebih jeli sebelum memilih produk untuk anak. Salah satu kebiasaan sederhana yang disarankan dr. Ria adalah membaca informasi pada label nutrisi.

“Kalau zaman sekarang memang orang tua harus kritis ya. Karena banyak banget produk, banyak banget bahan makanan, fortifikasi. Kita mesti cermat, kalau mau membelikan sesuatu untuk anak kita, yang masuk ke dalam badan anak kita, kita pastikan itu benar-benar dibutuhkan nggak, isi dan komposisinya sesuai nggak,” jelasnya.

Apa yang bisa Parents perhatikan saat melihat label nutrisi?

A. Pertama, lihat komposisinya. Jangan hanya berhenti pada tulisan besar yang terlihat di bagian depan kemasan. Perhatikan juga apa saja kandungan yang ada di dalam produk tersebut.

B. Kedua, perhatikan kandungan zat gizinya. Dr. Ria mencontohkan protein dan vitamin sebagai beberapa informasi yang dapat diperhatikan sesuai kebutuhan anak.

C. Ketiga, lihat kontribusinya terhadap kebutuhan gizi harian. Informasi nilai gizi dapat membantu Parents mengetahui seberapa besar kandungan zat gizi dalam satu porsi berkontribusi terhadap kebutuhan harian.

Jadi sebelum memilih, jangan cuma terpaku sama klaim di bagian depan kemasan. Coba cek juga komposisi dan informasi gizinya supaya lebih tahu apa yang benar-benar ada di dalam produk.

Apa Saja yang Ikut Mendukung Tumbuh Kembang Anak Selain Nutrisi?

Pemenuhan nutrisi memang punya peran penting dalam tumbuh kembang anak, tapi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. dr. Ria menyebut ada beberapa aspek lain yang berjalan beriringan, yaitu stimulasi, imunisasi, dan pola asuh.

Stimulasi membantu anak terus belajar lewat interaksi dan pengalaman sehari-hari, sementara imunisasi menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatannya. Pola asuh pun ikut berpengaruh, termasuk cara orang tua mendampingi anak saat makan.

Dalam proses makan, dr. Ria juga mengingatkan pentingnya menerapkan feeding rules atau aturan makan yang sesuai usia. Terutama pada anak di bawah 2 tahun, pilihan makanan tidak sepenuhnya mengikuti apa yang anak mau. Orang tua tetap berperan menentukan makanan apa yang diberikan dan memastikan pilihannya sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak, bukan hanya mengikuti makanan yang sedang disukai anak.

Jadi, nggak ada satu makanan, minuman, atau kebiasaan yang sendirian bisa menentukan tumbuh kembang anak. Yang lebih penting adalah bagaimana berbagai kebutuhan tersebut saling melengkapi dan dilakukan secara konsisten dalam keseharian.

Dan prosesnya tentu nggak selalu sempurna. Kebutuhan anak juga terus berubah seiring bertambahnya usia, sehingga orang tua pun ikut belajar menyesuaikan cara mendampingi mereka dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Asmirandah juga punya pandangan yang sederhana soal ini. Menurutnya, orang tua nggak harus sempurna untuk bisa terus belajar memberikan yang terbaik buat anak.

“Aku percaya nggak ada orang tua yang sempurna, tapi aku yakin setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mungkin kita bisa mulai dulu memberikan nutrisi dengan cara yang sederhana, memberikan makanan bergizi seimbang, membiasakan minum susu, dan juga lebih cermat dalam membaca label nutrisi,” pesannya.

72 Tahun Sarihusada Tumbuh Bersama Keluarga Indonesia

Dalam kilas balik yang disampaikan Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia, perjalanan Sarihusada berakar dari berdirinya NV Saridele di Yogyakarta pada 1954. Ia juga menekankan bahwa kebutuhan gizi anak terus berubah seiring berkembangnya ilmu pangan dan nutrisi.

Semangat untuk terus belajar memahami kebutuhan anak juga terasa dalam perayaan 72 tahun Sarihusada pada 27 Agustus 2026 di Raja Susu PIK 2, Tangerang. Lewat rangkaian kegiatan tersebut, Parents diajak memahami nutrisi anak bukan hanya dari sisi produk, tetapi juga lewat penjelasan tenaga kesehatan dan pengalaman sesama orang tua.

Agung Laksamana, GS Director Danone Indonesia, menjelaskan bahwa perjalanan panjang Sarihusada juga diikuti dengan upaya menyesuaikan inovasi nutrisi dengan kebutuhan keluarga yang terus berkembang. “72 tahun Sarihusada telah menjadi bagian perjalanan penting bagi keluarga di Indonesia, dengan inovasi nutrisi berbasis sains. Dan inilah yang terus akan kami fokuskan dengan Sarihusada ke depan,” ungkap Agung.

SGM juga disebut telah membantu menutrisi lebih dari 75 juta anak Indonesia. Bagi Sarihusada, perjalanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan produk. Rizki Imam Ardhi, Sales Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, menjelaskan bahwa akses nutrisi perlu berjalan beriringan dengan edukasi agar keluarga juga punya bekal informasi yang cukup saat memilih kebutuhan nutrisi anak.

Salah satu upaya tersebut dilakukan lewat kolaborasi dengan Raja Susu. Yohanes David Setiawan, Owner Raja Susu, menyebut pihaknya siap menjadi partner yang memudahkan keluarga mendapatkan akses produk nutrisi. “Kita dari Raja Susu sangat happy diajak berkolaborasi dengan Sarihusada yang ulang tahun ke-72 ini. Kita juga siap untuk menjadi partner bagi moms,” ungkap Yohanes.

Kolaborasi Sarihusada dan Raja Susu pada perayaan tahun ini berlangsung di 17 lokasi. Edukasi dikemas lewat berbagai kegiatan yang lebih dekat dengan keseharian keluarga, mulai dari talkshow bersama dokter dan orang tua, Healthy Shopping Race, aktivitas keluarga, sampai milk toast.

Perjalanan panjang Sarihusada selama 72 tahun juga memperlihatkan satu hal, kebutuhan anak terus berubah seiring zaman. Begitu juga kita sebagai orang tua, yang ikut belajar menyesuaikan pilihan seiring anak tumbuh dan kebutuhannya berkembang.

Follow Ibupedia Instagram