Anemia dan Stunting, Kenapa Masih Terjadi Meski Anak Sudah Dijaga?

Anemia dan Stunting, Kenapa Masih Terjadi Meski Anak Sudah Dijaga?
Anemia dan Stunting, Kenapa Masih Terjadi Meski Anak Sudah Dijaga?

Menjadi ibu di Indonesia bukan perkara sederhana. Di satu sisi, ibu dituntut memastikan anak tumbuh sehat. Di sisi lain, informasi tentang kesehatan anak datang bertubi-tubi, sering kali bertabrakan satu sama lain. Hari ini bicara anemia, besok stunting, lusa kesehatan saluran cerna, lalu disusul isu anak sulit fokus dan gampang sakit.

Yang jarang disadari, semua isu ini tidak berdiri sendiri. Anemia, stunting, kesehatan pencernaan, hingga kemampuan belajar anak sebenarnya saling terhubung dalam satu rantai panjang yang dimulai sejak sangat dini, bahkan sebelum anak lahir.

Inilah yang menjadi benang merah dalam berbagai diskusi kesehatan ibu dan anak, termasuk dalam acara “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” yang diselenggarakan Danone di Jakarta. Forum ini menghadirkan para pakar dari sisi medis, akademisi, bidan, komunitas, hingga pemerintah untuk membedah tantangan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh.

1000 Hari Pertama Kehidupan, Fondasi yang Tidak Bisa Diulang

Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan atau 1000 HPK sering disebut sebagai fondasi utama tumbuh kembang anak. Periode ini dimulai sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Menurut Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, masa ini bukan hanya soal pertumbuhan fisik, tetapi pembentukan kualitas manusia secara utuh. "Kualitas bangsa itu ditentukan sama seberapa hebat keluarga mengasuh anak," ujarnya.

Dalam fase 1000 HPK, tumbuh kembang anak tidak berjalan di satu jalur lurus. Ada beberapa aspek yang saling menguatkan, dan kalau salah satunya tertinggal, dampaknya bisa terasa ke area lain.

A. Perkembangan otak yang optimal

Otak berkembang sangat pesat di awal kehidupan. Kekurangan gizi di fase ini sering kali tidak langsung terlihat, tapi efeknya bisa terasa bertahun-tahun kemudian, terutama pada kemampuan berpikir dan belajar anak.

B. Daya tahan tubuh yang kuat

Anak dengan imunitas lemah akan lebih sering sakit. Ketika tubuh sering jatuh sakit, proses belajar dan eksplorasi anak pun ikut terganggu.

C. Pertumbuhan fisik yang sesuai usia

Berat dan tinggi badan bukan sekadar angka di buku KIA. Keduanya menjadi penanda apakah kebutuhan gizi anak terpenuhi secara konsisten.

D. Perkembangan yang seimbang

Kognitif, motorik, dan sosial emosional saling berkaitan. Ketika satu area tertinggal, area lain sering ikut terdampak.

Dr. Ray juga menekankan bahwa kognitif yang baik tanpa kesehatan tubuh yang optimal akan sia-sia. Anak yang sering sakit berisiko mengalami penurunan performa akademik. Dampaknya memang tidak selalu langsung terlihat hari ini atau besok, tapi perlahan membentuk kualitas hidup anak dalam jangka panjang.

Anak yang mendapatkan nutrisi cukup selama 1000 HPK disebut memiliki peluang lebih besar untuk sembuh dari penyakit serius di masa kanak-kanak, menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, memiliki penghasilan lebih baik saat dewasa, serta membangun keluarga yang lebih sehat.

Semua peluang ini tidak muncul begitu saja. Fondasinya sudah mulai dibangun sejak masa kehamilan, saat kesehatan ibu menjadi penentu awal kualitas tumbuh kembang anak.

Anemia Pada Ibu Hamil, Akar Masalah yang Sering Terlambat Disadari

Di balik kehamilan yang tampak berjalan normal, anemia pada ibu hamil masih sering luput disadari. Data menunjukkan 27,7 persen ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Dr. Ray menjelaskan bahwa anemia pada ibu hamil bukan sekadar kondisi “kurang darah”. Anemia pada ibu hamil tidak berhenti di kondisi ibu saja. Efeknya bisa merembet ke proses persalinan hingga kondisi bayi yang dilahirkan. Dampaknya bukan satu arah, tapi berlapis:

- Risiko perdarahan postpartum meningkat

- Risiko kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah lebih tinggi

- Risiko kematian ibu dan bayi meningkat

Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia, Dr. Ade Jubaedah, S.SiT, MM, MKM, menegaskan besarnya dampak anemia terhadap kesehatan ibu dan anak. "Angka kematian ibu dan bayi itu angkanya di 189 per 100 ribu kelahiran hidup. Kita harus persiapkan calon ibu di masa remaja, calon pengantin, biar nggak anemia," tegasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pencegahan anemia tidak bisa dimulai saat hamil saja. Pencegahan harus dimulai dari hulu, yaitu sejak remaja.

Presiden Indonesian Nutrition Association (INA), Dr. dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK(K), menjelaskan bahwa jenis anemia yang paling sering ditemukan adalah anemia defisiensi besi atau anemia gizi. "Ibu hamil harus sehat, termasuk harus terhindar dari anemia. Yang paling sering ditemukan itu anemia defisiensi besi, makanya dasarnya harus dipersiapkan sejak sebelum hamil," jelasnya.

Penjelasan ini menjawab satu pertanyaan penting yang sering muncul di kalangan ibu, jika zat besi begitu krusial, kenapa masalah kekurangan zat besi masih sering terjadi, bahkan pada keluarga yang merasa sudah makan dengan cukup baik?

Zat Besi, Nutrisi Kecil Dengan Dampak Besar

Masalah zat besi sering membuat ibu bingung. Banyak yang merasa sudah memberikan makanan bergizi, tetapi anak atau ibu tetap mengalami defisiensi. Masalahnya bukan selalu karena ibu kurang usaha, tapi karena cara kerja zat besi memang tidak sesederhana itu.

A. Kebutuhan zat besi anak meningkat drastis

Saat memasuki usia enam bulan, kebutuhan zat besi anak meningkat hingga 36 kali lipat dibanding sebelumnya.

B. Asupan zat besi anak Indonesia masih rendah

Menurut Dr. dr. Dian Novita Chandra, MGizi, lebih dari 60 persen anak Indonesia belum tercukupi asupan zat besinya. Artinya, hanya sekitar 3 dari 10 anak yang mendapatkan zat besi cukup.

C. Zat besi tidak bisa bekerja sendiri

Dr. Luciana menegaskan bahwa zat besi perlu dikonsumsi bersama vitamin C agar penyerapannya optimal. "Zat besi itu harus diikat dengan vitamin C supaya penyerapannya optimal," ujarnya.

Untuk menjawab tantangan ini, pendekatan berbasis riset dibutuhkan agar rekomendasi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi anak Indonesia. INA juga melakukan penelitian yang membandingkan dua kelompok anak, yaitu:

- Kelompok yang hanya mendapatkan edukasi Isi Piringku

- Kelompok yang mendapatkan edukasi dan suplementasi

Hasilnya, kelompok yang mendapatkan susu dengan tambahan zat besi mampu mencukupi kebutuhan zat besi harian lebih baik, mengalami peningkatan tinggi badan hingga 20 persen, serta kadar hemoglobin yang lebih terjaga dibanding kelompok yang hanya mendapat edukasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa ketika pemenuhan zat besi dari makanan harian belum optimal, makanan fortifikasi dapat menjadi alternatif pendukung dalam pola makan seimbang.

Namun, pembahasan tentang zat besi tidak berhenti pada upaya pemenuhannya saja. Kekurangan zat besi yang berujung pada anemia juga membawa dampak nyata pada kehidupan anak sehari-hari, termasuk pada proses belajar dan perkembangan kognitifnya.

Anemia Pada Anak dan Dampaknya Pada Kemampuan Kognitif

Anemia pada anak tidak hanya berdampak pada kondisi fisik. Penelitian screening anemia pada anak usia sekolah di Jakarta menunjukkan kaitan antara anemia dan fungsi kognitif. Dalam studi tersebut ditemukan bahwa:

- 1 dari 5 anak (19,7 persen) memiliki risiko anemia

- 29 persen anak berisiko anemia mengalami gangguan working memory

- Anak dengan short stature memiliki risiko 3 kali lebih besar mengalami working memory rendah

- Nilai rata-rata sekolah lebih rendah pada anak dengan short stature dan risiko anemia

Working memory berperan penting dalam proses belajar, seperti memahami instruksi, mengingat informasi, dan memecahkan masalah. Fakta ini menekankan bahwa kecukupan gizi berperan dalam mendukung kemampuan belajar anak.

Namun, kecukupan gizi tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikonsumsi, tetapi juga oleh seberapa baik tubuh anak mampu menyerapnya. Di sinilah peran saluran cerna menjadi krusial.

Pencernaan yang Sehat, Pintu Masuk Seluruh Nutrisi

Banyak ibu sudah berusaha keras memperbaiki menu anak. Lauk ditambah, sayur dicoba berbagai cara, susu dipilih dengan teliti. Tapi tetap saja, anak gampang sakit, sering diare, atau nutrisinya terasa “nggak naik-naik”.

Di titik ini, ibu sering baru sadar bahwa masalahnya bukan lagi soal apa yang dimakan, tapi bagaimana tubuh anak menyerapnya. Saluran cerna adalah pintu utama masuknya seluruh zat gizi. Semua makanan yang dikonsumsi anak, baik makro maupun mikronutrien, harus melewati sistem pencernaan sebelum akhirnya bisa dimanfaatkan tubuh. Jika saluran cerna tidak bekerja optimal, zat gizi yang sudah diupayakan dengan susah payah pun bisa terbuang percuma.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menjelaskan bahwa salah satu fondasi penting kesehatan saluran cerna adalah keberagaman pangan. "Keragaman diet dan asupan serat yang cukup menjadi kunci untuk mendukung mikrobiota usus, proses pencernaan, dan penyerapan nutrisi secara optimal," jelasnya.

Keberagaman pangan memungkinkan anak mendapatkan serat dalam jumlah cukup. Serat ini bukan hanya membantu proses pencernaan, tetapi juga berperan sebagai makanan bagi bakteri baik di usus. Di dalam saluran cerna terdapat bakteri baik dan bakteri jahat, dan keseimbangan di antara keduanya sangat menentukan kesehatan anak.

Ketika bakteri baik tumbuh optimal, penyerapan zat gizi berjalan lebih baik dan daya tahan tubuh anak ikut terbantu. Sebaliknya, jika asupan serat rendah dan keragaman makanan terbatas, bakteri baik sulit berkembang dan saluran cerna menjadi lebih rentan bermasalah.

Kondisi inilah yang menjelaskan kenapa gangguan pencernaan masih banyak ditemukan pada anak, terutama di perkotaan. Data menunjukkan bahwa 45,5 persen anak di kota besar mengalami gangguan saluran cerna, salah satunya dipicu oleh kurangnya asupan serat dalam pola makan sehari-hari.

Dalam penjelasannya, dr. Ray juga menekankan bahwa peran saluran cerna jauh melampaui urusan buang air. Lebih dari 80 persen sistem imunitas tubuh berada di saluran pencernaan. Menurut beliau, gut microflora berperan besar dalam mengatur daya tahan tubuh, sehingga keseimbangannya perlu dijaga melalui asupan yang tepat.

Untuk mendukung keseimbangan ini, tubuh membutuhkan kombinasi antara prebiotik sebagai makanan bakteri baik dan probiotik sebagai mikroorganisme pendukungnya. Jika saluran cerna tidak bekerja optimal, masalahnya tidak selalu langsung terlihat. Anak bisa tampak makan cukup, berat badan naik pelan-pelan, bahkan terlihat aktif. Namun di balik itu, penyerapan zat gizi yang tidak maksimal membuat tubuh anak kekurangan “bahan baku” penting untuk tumbuh dan berkembang secara utuh.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkontribusi pada masalah gizi kronis. Anak tidak hanya berisiko lebih sering sakit, tetapi juga mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung perlahan, sering kali tanpa disadari sejak awal. Di sinilah kesehatan saluran cerna, kecukupan gizi, dan risiko stunting saling berkaitan.

Stunting Pada Anak, Dampak Jangka Panjang yang Nyata

Stunting merupakan indikator kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam waktu lama. Data Survei Status Gizi Indonesia 2024 menunjukkan bahwa 19,8 persen anak Indonesia masih mengalami stunting, sementara 6,2 persen anak berada dalam kondisi wasting atau kekurangan gizi akut.

Angka ini menggambarkan bahwa masih banyak anak yang kebutuhan gizinya belum terpenuhi secara optimal sejak awal kehidupan, baik karena asupan yang tidak memadai, gangguan penyerapan nutrisi, infeksi berulang, maupun kombinasi dari berbagai faktor tersebut.

Direktur Eksekutif YPCII, dr. Agustini E. Raintung, menjelaskan bahwa stunting tidak bisa dipandang sebagai masalah tinggi badan semata. "Stunting bukan hanya persoalan pertumbuhan fisik, tetapi juga menghambat perkembangan otak anak, yang berdampak pada kemampuan belajar, intelektual, dan produktivitas ekonomi di masa depan," ujarnya.

Penyebab stunting bersifat kompleks, meliputi:

- Asupan gizi yang tidak memadai

- Infeksi berulang akibat pola asuh yang kurang tepat

- Keterbatasan akses pangan, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan

Karena itu, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan konvergensi sejak 1000 HPK, melalui edukasi gizi, pola asuh, perbaikan sanitasi, serta keterlibatan keluarga dan komunitas. Upaya ini tidak bisa hanya berfokus pada anak yang sudah lahir. Pencegahan perlu dimulai lebih awal, bahkan sebelum kehamilan terjadi.

Pencegahan Harus Dimulai Dari Hulu dan Dilakukan Bersama

Pemerintah menempatkan remaja dan calon pengantin sebagai kelompok strategis dalam pencegahan stunting dan anemia. Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga atau BKKBN, Dr. Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE, menyampaikan bahwa 17 persen calon pengantin mengalami anemia. Oleh karena itu, edukasi gizi dan pendekatan teman sebaya, termasuk konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri, menjadi bagian dari strategi nasional.

Bidan juga memegang peran penting sebagai garda terdepan. Dengan jumlah hampir 550 ribu bidan di Indonesia, edukasi gizi, observasi calon pengantin, pendampingan ibu hamil, serta penggunaan alat seperti Kalkulator Zat Besi menjadi bagian dari upaya deteksi dini anemia.

CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia, Joris Bernard, menegaskan bahwa pendekatan berbasis riset dan kolaborasi menjadi kunci dalam menjawab tantangan kesehatan ibu dan anak. "Pendekatan kami didukung oleh riset yang kuat, publikasi ilmiah, serta kolaborasi dengan para ahli dan berbagai pemangku kepentingan, sehingga solusi yang kami hadirkan berbasis bukti ilmiah dan mampu memberikan dampak nyata bagi generasi mendatang," ujarnya.

Sepanjang 2025, Danone Specialized Nutrition Indonesia menghasilkan lebih dari 46 publikasi ilmiah yang membahas isu malnutrisi, anemia, stunting, kesehatan pencernaan, imunitas, hingga laktasi. Riset ini menjadi dasar berbagai inisiatif edukasi, deteksi dini risiko nutrisi, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan.

Dalam praktiknya, upaya pencegahan tentu membutuhkan dukungan dari berbagai sisi, termasuk edukasi, riset, dan pilihan nutrisi yang relevan dengan kebutuhan keluarga. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Danone juga menghadirkan pilihan nutrisi berbasis sains, seperti SGM Eksplor 1+ dengan IronC untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi harian anak, serta Bebelac NutriGreat+ dan Susu Formula Cair Bebelac yang diformulasikan untuk mendukung kesehatan pencernaan dan perkembangan kognitif anak.

Pada akhirnya, pembahasan tentang anemia, stunting, dan kesehatan pencernaan bukan untuk menambah beban ibu, tapi jadi pengingat. Bahwa tumbuh kembang anak tidak berjalan sendiri-sendiri, semuanya saling terhubung sejak awal kehidupan.

Maka yang perlu dijaga bukan hanya apa yang masuk ke piring anak hari ini, tapi juga bagaimana tubuhnya menyerap, bagaimana imunnya bekerja, dan bagaimana fondasi kesehatannya dibangun pelan-pelan sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan. Di sinilah peran ibu menjadi penting, bukan untuk sempurna, tapi untuk lebih sadar, lebih peka, dan lebih aware pada sinyal-sinyal kecil yang sering luput.

Follow Ibupedia Instagram