Apa Itu Mielinasi dan Kenapa Penting untuk Proses Belajar Anak?
Saat anak belajar mengenali kata baru, mengikuti instruksi, menyusun puzzle, atau mencoba suatu keterampilan untuk pertama kalinya, otaknya sedang bekerja menerima dan mengolah banyak informasi.
Proses belajar ini melibatkan komunikasi antara sel-sel saraf di otak. Supaya informasi dapat dihantarkan dengan lebih cepat dan efisien, ada salah satu proses penting dalam perkembangan sistem saraf yang disebut mielinasi pada anak.
Istilah mielinasi mungkin belum populer di kalangan orang tua. Padahal, proses ini sudah dimulai sejak awal kehidupan dan terus berlangsung seiring perkembangan anak.
Apa Itu Mielinasi?
Di dalam otak dan sistem saraf terdapat sel-sel saraf atau neuron yang saling berkomunikasi dengan mengirimkan sinyal. Sebagian serabut saraf tersebut dilapisi oleh mielin, yaitu lapisan yang membantu penghantaran sinyal saraf berlangsung dengan lebih cepat dan efisien. Proses pembentukan dan perkembangan lapisan inilah yang disebut mielinasi.

Dokter spesialis neurologi anak dr. Herbowo A.F. Soetomenggolo, Sp.A, Subsp.Neuro(K) menjelaskan bahwa proses ini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan otak anak. “Pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, otaknya terus membangun dan menyempurnakan koneksi antar sel saraf. Proses penting yang mendukungnya adalah mielinasi, yaitu pembentukan lapisan mielin yang menyelimuti serabut saraf sehingga membantu sinyal atau informasi di otak dihantarkan dengan lebih cepat dan efisien (Faster Connection). Proses ini berperan besar dalam menunjang kemampuan si Kecil untuk belajar, memproses informasi baru, dan mengembangkan berbagai kemampuan kognitifnya,” paparnya.
Karena itu, saat membicarakan perkembangan otak anak, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah sel saraf yang dimiliki, tetapi juga bagaimana jaringan tersebut berkembang dan berkomunikasi satu sama lain.
Proses mielinasi berlangsung pesat pada awal kehidupan, termasuk dalam periode 1.000 hari pertama. Namun, perkembangan dan pematangan sistem saraf tidak serta-merta selesai setelah anak berusia dua tahun. Proses tersebut terus berlangsung seiring pertumbuhan dan pengalaman belajar yang diperoleh anak.
Apa Hubungan Mielinasi dengan Proses Belajar Anak?
Belajar bukan sekadar menerima informasi lalu menyimpannya dalam ingatan. Otak juga perlu memproses informasi tersebut, menghubungkannya dengan pengalaman sebelumnya, kemudian menghasilkan respons yang sesuai.
Saat anak belajar membaca, misalnya, ia perlu mengenali bentuk huruf, menghubungkannya dengan bunyi, mengingat informasi yang sudah dipelajari, kemudian menyatukannya menjadi kata. Begitu pula ketika anak belajar mengendarai sepeda, mengikuti aturan permainan, atau mencoba keterampilan baru.

Berbagai aktivitas tersebut membutuhkan kerja sama banyak jaringan saraf. Mielin membantu penghantaran sinyal di sepanjang serabut saraf menjadi lebih efisien sehingga komunikasi di dalam sistem saraf dapat berjalan dengan baik.
Meski begitu, mielinasi tentu bukan satu-satunya hal yang menentukan kemampuan belajar seorang anak. Tumbuh kembang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi kesehatan, genetik, asupan nutrisi, stimulasi, kualitas tidur, aktivitas fisik, hingga lingkungan tempat anak tumbuh.
Jadi, bukan berarti anak yang lebih cepat menguasai suatu keterampilan pasti memiliki proses mielinasi yang lebih baik dibandingkan anak lain. Setiap anak juga memiliki kecepatan dan tahapan perkembangannya masing-masing.
Nutrisi dan Stimulasi Sama-Sama Mendukung Perkembangan Otak
Perkembangan otak membutuhkan berbagai zat gizi sebagai bagian dari proses pembentukan struktur dan fungsi sistem saraf.
Dalam penjelasannya, dr. Herbowo menyebut beberapa komponen nutrisi yang berperan dalam mendukung perkembangan struktur dan fungsi otak, seperti Sphingomyelin, Fosfolipid, Alfa-Laktalbumin, AA, DHA, serta Omega 3 dan 6. “Karena itu, Mams perlu memberikan dukungan optimal melalui pemberian gizi yang tepat, termasuk berbagai komponen penting yang mampu mendorong perkembangan struktur dan fungsi otak seperti Sphingomyelin, Fosfolipid, Alfa-laktalbumin, AA, DHA, serta Omega 3 dan 6. Dukungan ini juga perlu dilengkapi dengan stimulasi melalui beragam pengalaman belajar atau Multi Learning yang membantu memperkuat koneksi otak si Kecil,” jelas dr. Herbowo. Artinya, mencukupi kebutuhan nutrisi tetap perlu berjalan beriringan dengan stimulasi.

Stimulasi juga tidak harus selalu berupa les atau aktivitas belajar formal. Anak bisa mendapatkan pengalaman belajar ketika membaca buku bersama orang tua, bermain, bergerak aktif, berbicara dan bercerita, mengenal lingkungan sekitar, mencoba aktivitas baru, hingga menyelesaikan masalah sederhana sesuai usianya.
Pengalaman yang beragam memberi anak kesempatan untuk menggunakan berbagai keterampilan sekaligus. Namun, stimulasi tetap perlu disesuaikan dengan usia, minat, dan tahap perkembangan, bukan diberikan sebanyak mungkin dengan tujuan agar anak lebih cepat menguasai berbagai hal.
Perkembangan Teknologi Mengubah Cara Anak Belajar dan Beradaptasi
Kebutuhan untuk mendukung proses belajar anak semakin relevan ketika melihat lingkungan tempat Generasi Alfa dan Beta tumbuh saat ini. Teknologi berkembang cepat dan informasi semakin mudah diakses. Kecerdasan buatan atau AI pun mulai menjadi bagian dari keseharian dan cara manusia memperoleh informasi.
Dalam survei Codeyoung, sebanyak 90 persen Mams disebut setuju bahwa AI menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi masa depan anak. Kondisi tersebut membuat anak bukan hanya perlu menguasai informasi tertentu. Kemampuan untuk terus mempelajari sesuatu yang baru, memahami informasi, serta beradaptasi dengan perubahan juga menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembangnya.
Hal ini pula yang menjadi salah satu latar belakang pembahasan mengenai perkembangan otak dalam rangkaian S-26 Exceptional Day 2026 yang digelar di enam kota.

Vera Niki Gozali, Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, mengatakan orang tua perlu mendukung anak agar dapat terus belajar dan berkembang di tengah perubahan dunia yang semakin cepat. “S-26 memahami keinginan para Mams untuk memastikan si Kecil dapat belajar, menyerap informasi secara optimal, serta berkembang sesuai potensinya seiring dengan pergerakan dunia yang semakin cepat,” terangnya.
Menurut Vera, Wyeth Nutrition telah melakukan riset perkembangan otak selama 50 tahun dan bekerja sama dengan sejumlah institusi akademik. Salah satunya penelitian bersama Brown University yang mempelajari dampak formulasi nutrisi tertentu terhadap perkembangan mielin, kognisi, dan perilaku anak sejak lahir hingga usia dua tahun.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 2023 tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan S-26 Procal Gold Multilearn Connect. Produk ini memiliki formulasi yang mengombinasikan Sphingomyelin, Fosfolipid, dan Alfa-Laktalbumin, serta dilengkapi AA, DHA, Omega 3 dan 6, Kolin, 15 vitamin, dan 9 mineral.
Formulasi tersebut dikembangkan untuk mendukung proses mielinasi sebagai salah satu bagian dari perkembangan otak dan proses belajar anak.
S-26 Exceptional Day Ajak Mams Memahami Perkembangan Otak Anak
Dukungan terhadap perkembangan otak tidak berhenti pada pemenuhan nutrisi. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk menggunakan kemampuan yang sedang berkembang melalui pengalaman sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi bagian dari S-26 Exceptional Day 2026 yang menghadirkan konten edukasi bersama 26 dokter spesialis anak dan psikolog anak serta berkolaborasi dengan 26 komunitas parenting melalui kelas stimulasi di Jakarta, Bogor, Surabaya, Medan, Tangerang, dan Palembang.

Salah satu orang tua yang terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut, Acha Sinaga, juga berbagi pengalamannya dalam mengombinasikan nutrisi dengan kesempatan anak mencoba berbagai hal baru. “Aku juga semakin sadar bahwa gizi perlu berjalan beriringan dengan stimulasi Multi Learning, yaitu dengan memberikan beragam pengalaman dan kesempatan bagi anakku untuk mencoba serta mempelajari hal-hal baru,” ungkapnya.
Rangkaian program ini turut menampilkan inspirasi dari 26 anak dan mengadakan S-26 Day Top Spender secara nasional pada 26 Agustus sampai 31 Oktober 2026.
Namun, terlepas dari banyaknya pilihan aktivitas yang tersedia untuk anak, stimulasi bukan soal membuat jadwal mereka semakin penuh. Kesempatan bermain, berinteraksi, mencoba sesuatu sendiri, serta mendapatkan pengalaman baru di rumah maupun di lingkungan sekitar juga dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Memahami mielinasi pada anak membantu Parents melihat bahwa di balik aktivitas belajar sehari-hari, otak sedang melalui proses perkembangan yang kompleks. Dukungan terbaik bukan dengan menuntut anak bisa banyak hal secepat mungkin, melainkan memberikan asupan gizi sesuai kebutuhannya serta ruang untuk terus belajar dan bereksplorasi sesuai tahap perkembangan.