Balita

Baca Ini Dulu Sebelum Mengunggah Foto Anak di Media Sosial

Terakhir diperbaharui

Baca Ini Dulu Sebelum Mengunggah Foto Anak di Media Sosial

Sebagian orangtua punya alasan untuk mengunggah foto anak. Ini jadi cara untuk memperkuat lingkaran sosial online dan terhubung dengan orang yang Anda tidak kenal sebelumnya. Terlebih lagi, anak perlahan juga akan menggunakan media sosial dan orangtua bisa memberi contoh yang baik dengan berhati-hati dengan foto yang diunggah dan minta izin ketika anak sudah cukup besar.

 

Membagikan foto anak secara online bisa jadi pengalaman seru dan cara untuk terhubung dengan orangtua lain. Tapi Anda perlu bersiap untuk bertanggung jawab atas apa yang Anda posting.

 

Salah satu alasan mengunggah foto di media sosial adalah untuk berinteraksi dengan orang-orang lain di dunia maya. Kadang membesarkan anak sering membuat kita tidak se-mobile dulu lagi, misalnya setelah menikah dan punya anak, Bunda harus tinggal jauh dari keluarga. Suasana seperti ini membuat kita berjuang keras setiap hari dan internet bisa menjadi sumber dukungan. Bagi seorang ibu, satu hal yang membahagiakan adalah mengunggah foto anak di Facebook atau Instagram. Membagikan foto dan berinteraksi dengan komunitas online seolah jadi sebuah kebutuhan.

 

Foto anak yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial

Kita berada di dunia di mana menjepret foto anak dan mengunggahnya ke media sosial semudah memberikan pelukan ke anak. Banyak orangtua membagikan foto anak saat ia ulang tahun, ketika ia mengenakan baju baru, atau manakala ia bereksplorasi di kebun binatang, tapi ada beberapa momen yang seharusnya tidak dibagikan ke publik. Jika Anda tetap membagikannya, Anda akan membuat anak merasa malu atau membuat mereka berpotensi menjadi target predator anak.

 

Ingat Bun, foto-foto ini sebaiknya tidak dibagikan ke media sosial untuk melindungi anak dari rasa malu atau bahaya lainnya:

 

  1. Saat mandi

    Foto anak setengah telanjang atau telanjang bulat, seperti ketika ia mandi, bukan untuk konsumsi publik. Apa yang menurut Anda merupakan momen indah dari si kecil yang usianya 3 tahun bisa jatuh ke tangan yang salah seperti pelaku pornografi anak.

     

  2. Saat anak sakit atau cedera

    Sebagai orangtua, menjadi tugas kita untuk melindungi anak, bukan memanfaatkan mereka. Tanyakan pertanyaan ini pada diri Anda, apakah Anda ingin seseorang mengunggah foto Anda ketika Anda merasa tidak sehat? Pastinya tidak, kan? Gunakan standar ini ketika Anda memilih mana foto anak yang perlu dan tidak perlu diunggah.

     

  3. Foto memalukan

    Foto anak yang membuatnya malu bisa memberi efek negatif untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Foto yang memalukan tidak hanya menghancurkan kepercayaan antara orangtua dan anak, tapi juga menyebabkan gangguan stres traumatik, depresi, dan kecemasan nantinya ketika anak bertambah besar.

     

  4. Saat menggunakan potty

    Foto anak sedang berada di potty sebaiknya tidak untuk konsumsi umum bila Anda mempertimbangkan konsekuensi potensialnya. Ingat, apapun yang Anda bagikan secara online tidak dapat Anda ambil lagi, apakah menurut Anda, si kecil yang beranjak remaja nanti ingin melihat fotonya yang memalukan saat kecil?

     

  5. Informasi yang bersifat pribadi

    Jaga anak tetap aman dengan tidak pernah membagikan nama lengkap, alamat, sekolah, dan info semacamnya secara online. Anda tidak tahu siapa yang mungkin akan menggunakan informasi ini untuk tujuan yang tidak semestinya.

     

  6. Foto bersama anak lain

    Bila Anda ingin membagikan foto anak di dunia maya, tidak akan masalah selama fotonya memang layak diunggah. Tapi jangan membuat keputusan ini untuk orangtua lain. Maksudnya, saat anak kita berfoto dengan anak lain, jangan langsung unggah hasilnya ke media sosial. Bisa saja orangtua anak tersebut tidak merasa nyaman ketika wajah anak mereka muncul di media sosial. Jadi pastikan Anda mendapat izin mengunggah foto anak Anda bersama dengan anak lain.

     

  7. Foto yang menyebabkan anak di-bully

    Pikirkan bagaimana mengunggah foto tertentu secara online bisa berdampak pada anak di sekolah. Misalnya, foto yang menunjukkan kelemahan atau rasa takut yang bisa mempermalukan anak dan mempengaruhi kehidupan sosialnya.

     

  8. Aktivitas yang tidak aman

    Anda membiarkan anak memegang satu gelas minuman beralkohol lalu mengambil gambarnya. Atau Anda memangku anak untuk memindahkan mobil dari garasi ke jalan, lalu berhenti sebentar untuk menjepret foto diri. Foto di momen yang terlihat tidak berbahaya ini diambil untuk keseruan saja tapi membagikannya secara online bisa menuai kritik.

     

Pertanyaan yang perlu Anda ajukan sebelum mengunggah foto anak di media sosial

Satu bagian favorit dari media sosial adalah melihat foto anak-anak yang lucu. Mungkin Anda salah satu orang yang memberikan “like” tiap kali melihat gambar semacam ini. Berbagi foto anak di media sosial telah menjadi bagian dari keseharian kita, tapi sebaiknya waspada yaa pada risiko hacker atau orang asing yang bisa saja memanfaatkan foto Anda.

 

Mungkin Anda termasuk orang yang sering membagikan foto anak di akun media sosial. Tapi tahukah Anda, ada beberapa situs porno yang mencuri foto anak, mengerikan bukan? Ada beberapa pertanyaan yang perlu Anda tanyakan pada diri sendiri sebelum mengunggah foto anak ke Facebook, Instagram, atau Twitter.

 

  1. Apakah saya memberikan contoh yang baik?

    Ketika anak bertambah besar dan mulai memiliki akun media sosial, pikirkan contoh yang kita tunjukkan dalam menjalani kebiasaan menggunakan media sosial. Bila kita berlebihan membagikan tiap aspek kehidupan ke daftar teman dan followers, lantas apa yang membuat anak berhenti membagikan aspek kehidupan pribadi mereka?

     

  2. Siapa yang akan melihat foto ini?

    Apakah Anda tahu pasti tiap orang yang terhubung dengan Anda di Facebook, Twitter, atau Instagram? Apakah Anda tahu seberapa terlindunginya foto Anda di dunia maya? Sebelum mem-posting foto anak, periksa privacy setting untuk tiap akun media sosial Anda.

     

  3. Apakah saya memberitahukan informasi personal?

    Di hari pertama anak sekolah Anda mengambil gambarnya, tapi apakah Anda sedikit berlebihan memberitahukan aktivitas keseharian anak? Penting untuk menghindari menyertakan informasi sekolah atau daycare anak, lokasi dan alamat rumah, atau informasi yang bisa disalah-gunakan oleh orang asing untuk mengakses anak Anda.

     

  4. Bagaimana dengan teman-teman anak Anda?

    Anda mungkin mengira hanya mengunggah beberapa foto anak yang lucu saat pesta ulang tahun bersama beberapa temannya. Tapi penting untuk meminta izin ke orangtua teman-temannya si kecil sebelum mem-postingnya. Anda tidak tahu bagaimana perasaan orangtua lain jika melihat foto anak mereka beredar di internet. Dengan begitu banyak aplikasi, sangat mudah meng-crop dan menyamarkan wajah bila Anda tetap ingin mengunggah foto tersebut.

     

  5. Bagaimana dengan masa depan anak?

    Apa yang kita unggah di internet akan selalu tersimpan di sana meskipun sudah kita hapus. Inilah yang perlu kita ingat. Untuk tiap foto yang Anda unggah, berarti Anda sudah menciptakan jejak digital anak bertahun-tahun sebelum mereka mampu mengutarakan pendapat. Sebuah penelitian menyebutkan sebanyak 92 persen anak usia 2 tahun di Amerika Serikat sudah memiliki jejak digital ini, dan sekitar sepertiganya muncul di situs media sosial dalam 24 jam setelah kelahiran karena orangtua mengunggah foto mereka.

     

    Mungkinkah foto yang Anda unggah hari ini dilihat oleh calon atasan anak Anda di masa depan? Pikirkan tentang masa depan anak sebelum Anda membagikan fotonya.

     

  6. Apakah Anda membuat anak merasa malu?

    Anak kecil kadang bertingkah konyol. Mereka tantrum dan kadang bersikap tidak rasional. Bila Anda mengambil gambar anak di salah satu momen ini dan mengunggahnya, Anda mempermalukannya secara online dan mengundang orang lain untuk melakukan hal serupa. Meski bila anak terlihat sangat lucu ketika menerima time out, pikirkan reaksi foto sebelum Anda mengunggahnya.

     

    Tak lama lagi anak Anda akan memiliki teman yang bisa melihat postingan Anda juga. Anak yang sudah lebih besar tentu ingin ada aturan bagi orangtua tentang apa yang mereka unggah secara online. Apakah postingan Anda hari ini mempermalukan anak bila temannya melihat fotonya beberapa tahun nanti? Bila ya, sebaiknya cari foto lain untuk di-posting.

     

  7. Apakah ada cara lain?

    Apakah Anda membagikan foto anak di media sosial sebagai cara agar teman dan keluarga tahu perkembangan anak? Ada cara lebih baik untuk tujuan ini. Mengirim gambar atau menggunakan password pada blog jadi pilihan lebih baik. Bisa juga dengan mengirimkannya lewat pesan pribadi, sehingga tidak ada banyak orang yang bisa melihatnya.

     

  8. Apa yang saya tunjukkan tentang diri saya sendiri?

    Foto yang Anda unggah secara online punya informasi yang berharga bagi pengiklan dan pengumpul data. Jadi bila Anda mengunggah foto bayi, Anda dianggap orang yang ingin melihat iklan produk bayi. Ini jadi alasan lain untuk mengecek privacy setting Anda.

 

Masalah privasi dan risiko mengunggah foto anak di media sosial

Ketika kita mengunggah informasi secara online, kita tidak bisa menariknya kembali. Meski Anda bisa menghapus postingan aslinya, Anda tidak bisa menghentikan orang lain mem-posting ulang. Orangtua perlu lebih berhati-hati membagikan informasi secara online tentang anak mereka. Berbagi informasi berpotensi bahaya tidak hanya bagi privasi anak tapi juga kondisi mereka secara umum. Informasi yang Anda berikan bisa disalah-gunakan oleh predator anak, baik pedofil atau situs pornografi, menurut Dr. Bahareh Keith, seorang dokter anak di University of Florida Health.

 

Satu cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah masalah potensial adalah bertanya pada anak bila mereka sudah cukup besar dan mengerti, bagaimana perasaan mereka bila Anda membagikan informasi tentang mereka, baik berupa rapor, foto, atau informasi lain secara online.

 

Ada beberapa risiko nyata terkait mengunggah foto anak secara online. Berikut ini 5 alasan kenapa Anda perlu berpikir dua kali sebelum mengunggah foto anak:

 

  • Anonimitas dan persetujuan

    Ketika kita mengunggah foto anak, kita tidak lagi bisa mengontrol identitas digital anak. Apakah aman atau etis mempublikasikan sesuatu tentang orang lain yang belum bisa memberi persetujuan? Ini bisa berdampak pada kehidupan sosial di masa mendatang. Mungkin anak tidak ingin temannya melihat videonya saat bayi sedang tantrum yang Anda upload di YouTube.

     

    Ini bahkan bisa berdampak pada pendidikan dan karir di masa mendatang. Data di tahun 2012 tentang Kaplan Test Prep untuk penerimaan mahasiswa di 500 institusi akademis menunjukkan:

     
    • Sebanyak 27% menggunakan Google+ untuk tahu lebih banyak tentang calon siswa.
    • Sebanyak 26% menggunakan Facebook untuk tahu lebih banyak tentang calon siswa.
    • Sebanyak 35% menemukan informasi di Google+ atau Facebook yang  berdampak negatif pada lamaran calon siswa.

     

    Persentase ini terus meningkat, penerima pegawai mungkin juga akan memeriksa akun media sosial anak, jadi apakah tak masalah mengekspos anak tanpa sepengetahuan mereka?

     

    Perusahaan memberi penekanan lebih besar pada reputasi media sosial. Data terbaru berkaitan dengan hubungan antara newsfeed seseorang dan kemungkinan dipekerjakan menunjukkan:

     
    • 75% perusahaan memiliki kebijakan untuk memeriksa reputasi online pelamar
    • 84 persen perekrut menganggap reputasi online akan berdampak pada prosedur perekrutan.

     

  • Penyalahgunaan data anak tanpa sepengetahuan Anda

    Apakah Anda mau foto anak disalahgunakan? Ketika Anda mengunggah foto anak, Anda tidak tahu dimana dan di tangan siapa foto ini akan berakhir.

     

    Bila Anda mencantumkan data seperti tanggal lahir, tempat lahir, nama lengkap anak, atau Anda tag foto dengan lokasi, anak bisa dengan mudah menjadi korban pencurian identitas.

     

  • Anda membagikan lokasi anak

    Meski Anda tidak aktif melakukannya, telepon dengan GPS dan lacak lokasi yang terintegrasi di foto oleh kamera atau Smartphone membuat sangat mudah mengumpulkan informasi sensitif seperti alamat sekolah, alamat rumah, atau tempat lain yang  Anda tidak ingin diketahui orang yang berniat jahat. Dan dengan mengunggah foto anak, ia bisa lebih mudah dikenali oleh orang asing.

     

  • Anda dan anak jadi target iklan

    Marketing  menggunakan aktivitas Anda di Facebook atau Instagram untuk menjadikan Anda target iklan mereka.

     

  • Anda tidak bisa melenyapkan foto yang sudah diunggah

    Sekali Anda mengunggah foto, Anda tidak bisa melenyapkannya. Foto tetap ada di sebuah server, dan meski bila Anda memperketat privacy setting, gambar, atau video, sekali dibagikan online, dengan beberapa kali klik oleh keluarga atau teman, unggahan Anda menjadi properti publik. Terlebih lagi, meski bila Anda mengunci privacy setting untuk mencegah orang asing meihat foto dan postingan Anda, ini tidak menghentikan orang lain meng-upload gambar Anda atau anak Anda.

     

Bunda, ada beberapa aturan dasar yang bisa Anda ikuti untuk menurunkan bahaya ini:

 
  • Pikirkan dengan seksama tentang apa yang Anda posting. Jangan posting foto, video, atau informasi yang bisa mengganggu anak Anda saat ini atau mengganggu kehidupan sosial, sekolah, serta karirnya di masa mendatang.
  •  
  • Jangan posting foto bayi, batita, dan anak kecil dalam kondisi telanjang atau setengah telanjang.
  •  
  • Jangan gunakan nama lengkap atau nama asli anak. Gunakan nama panggilan. Jadi nantinya ketika dicari berdasarkan nama, ada lebih sedikit risiko foto atau video anak akan ditemukan.
  •  
  • Apakah anak sudah memiliki identitas digital? Google namanya dan lihat apa yang muncul.
  •  
  • Gunakan password. Hindari nama keluarga, lebih baik password berupa kombinasi huruf dan angka.
  •  
  • Ketika anak bertambah besar, libatkan ia dalam prosesnya. Tanyakan apakah mereka nyaman bila Anda membagikan fotonya di komunitas yang terbatas. Biarkan mereka menentukan foto mana yang boleh dibagikan dan mana yang tidak.
  •  
  • Kebanyakan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Flickr memiliki privacy setting custom. Kenali pembaharuan pengaturan secara teratur, dan pastikan jepretan foto Anda tidak di-tag dan dibagikan.
  •  
  • Lihat kontak di Facebook dan media sosial lain. Apakah Anda ingin berteman dengan mereka semua? Pastikan Anda hanya berbagi informasi dengan orang yang juga dekat di kehidupan nyata.
  •  
  • Jangan pernah mempublikasikan atau membagikan foto atau video anak orang lain tanpa persetujuan orangtua mereka.
  •  
  • Matikan layanan lokasi ketika mengambil gambar dari telepon pintar Anda.
  •  
  • Jangan pernah memberitahukan nama anak disertai tanggal lahir, sekolah, alamat atau nomor telepon.
(Ismawati)