Balita Dibaca 2,614 kali

Balita Tidak Mau Mendengar, Kenapa?

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya
Balita Tidak Mau Mendengar, Kenapa?

Pernahkah Anda dibuat kesal dan pusing karena balita Anda sulit diberi tahu? Apakah Anda pernah mengomel karena si kecil tetap asyik bermain padahal Anda sudah berkali-kali memintanya untuk tidak berlari-lari di tangga?
Bunda, sama seperti kita, balita terkadang juga tidak mau mendengar. Mereka lebih memilih dunianya sendiri daripada harus mendengar kata-kata Anda. Karena itu, peran aktif dari Anda sangat dibutuhkan untuk membantunya menjadi lebih baik. Ajari buah hati Anda bagaimana  mendengarkan dan memperhatikan nasihat atau kata-kata Anda.


Memang dibutuhkan kesabaran ekstra dalam mengajari balita Anda, meski pada kenyataannya tidak sedikit dari kita yang kurang sabar sehingga kerap meledak-ledak penuh emosi ketika perkataan Anda tidak digubris sama sekali oleh sang anak, padahal Anda merasa sudah mengatakannya hingga 10 kali.
Tetapi jangan salah Bunda, cueknya balita Anda bukan berarti dia tidak mendengarkan Anda sama sekali. Justru sebaliknya, dengan tidak mendengar, anak merasa mendapat perhatian Anda. Omelan Anda dianggap anak sebagai bentuk keberhasilan dalam mencuri perhatian –meski tentu saja mengomel bukanlah bentuk keberhasilan yang baik.


Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap menghadapi anak yang tidak mau mendengar seperti itu? Cobalah membuat anak menjadi pendengar yang baik. Sebab dengan menjadi pendengar yang baik, anak tidak mendapat “perhatian” berupa omelan dari Anda.  Anak justru terbantu untuk belajar lebih efektif dalam mengetahui mana yang bahaya mana yang tidak,  mana yang baik dan buruk, di samping bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua dan mempercayai Anda sebagai teman terbaik.


Bunda ingin anak cuek Anda pelan tapi pasti mau menjadi pendengar yang baik sehingga Anda tidak perlu mengomel lagi? Berikut beberapa strategi sederhana yang jika dilakukan secara konsisten akan membuat balita Anda mau mendengarkan.

 

  1. Bicara Face to Face

    Hentikan kesibukan si kecil sejenak. Bicaralah berdua dengan lembut. Sebaiknya Anda duduk di samping si kecil dan menatap matanya. Dengan cara ini perhatian anak akan terfokus hanya pada Anda. Percayalah Bunda, kontak mata sangat penting dan efektif dalam menyampaikan pesan Anda. Hal ini bisa juga dilakukan saat sarapan bersama di meja makan.

     

  2. Bicaralah dengan Jelas

    Sampaikan pesan dengan sederhana, jelas, dan berwibawa. Anak akan bingung dan bosan jika pembicaraannya berbelit-belit. Lebih baik mengatakan dengan singkat dan jelas, “Ini waktunya memakai sweater” daripada kalimat panjang seperti, “di luar dingin sekali, padahal  kamu akhir-akhir ini sering sakit. Jadi kalau mau keluar pakai sweater ya, sayang.”  Anak akan kesulitan menentukan apa inti pesan Anda jika Anda menggunakan pilihan kalimat panjang seperti itu.

     

  3. Beri Perintah yang Realistis dan Fun

    Jika Anda ingin anak Anda yang baru berusia 2 tahun menyudahi permainannya, jangan langsung mengambil mainannya. Coba buat perintah yang realistis dan fun, seperti “Ayo, diambil mainan yang warnanya kuning.” Jika yang kuning sudah diletakkan di kotak mainannya, Anda bisa memintanya membereskan mainan yang lain dengan cara yang sama. “Oke, bagus, sekarang coba yang biru diambil.”

     

  4. Bersungguh-sungguh dan Segeralah Bertindak

    Katakan pada anak bahwa Anda bersungguh-sungguh pada perkataan Anda, namun jangan membuat ancaman –atau janji-janji—yang tidak mungkin Anda realisasikan. Misalnya Anda ingin batita Anda minum susu saat makan malam, maka segeralah Anda bertindak: memberinya susu. Jangan memberi jeda baginya untuk menikmati jus terlebih dahulu.


    Jika Anda mengingatkan si kecil akan ada hukuman (time-out) jika dia memukul adiknya, maka tepatilah janji itu. Pastikan pula pasangan Anda mengetahui peraturan ini dan mintalah dia menghormatinya sehingga anak akan paham bahwa Anda bersungguh-sungguh. Jika pasangan tidak sependapat, bicarakan sehingga tercipta titik temu langkah apa yang sebaiknya dilakukan jika masalah-masalah anak seperti contoh di atas tadi terulang.


    Sebaiknya Anda benar-benar bersungguh-sungguh dan cepat dalam bertindak. Anda tentu tidak ingin kan, berteriak “Jangan lari ke jalan” hingga lima kali sebelum akhirnya si kecil mendengarkan Anda?


    Yang tak kalah pentingnya, anak harus tahu bahwa ada hal-hal yang berbahaya untuk dilakukan. Misalnya, ketika si kecil main di jalan, pastikan Anda menggandeng tangannya. Dengan begitu dia akan mengerti bahwa di jalan ada kendaraan yang membahayakan namun bisa diatasi dengan berhati-hati.


    Jangan sekali-kali pula menyuruh anak sebelum mencontohkannya. Misalnya, Anda mengharapkan anak selalu menaruh cangkir di atas meja, lalu tiba-tiba mengatakan “Letakkan cangkirnya di meja.” Bantulah dia menggenggam cangkir kemudian bantu dia mengangkat tangannya dan meletakkan cangkir itu ke meja. Dengan cara lembut seperti ini anak akan lebih mudah menangkap maksud Anda.

     

  5. Tegaskan Kembali Maksud Anda

    Ada kalanya menegaskan kembali maksud Bunda pada si kecil diperlukan, lho.  Namun sebaiknya tidak dengan kalimat yang sama. Anda bisa mengulang pesan Anda dengan kalimat yang lebih variatif sehingga anak bisa menyerap pesan lebih jelas. Bisa juga tidak dengan kalimat melainkan perbuatan.


    Misalnya Anda ingin anak Anda tidur. Anda sudah mengatakan pada si kecil, “Waktunya bobo ya, sayang!”  Supaya lebih jelas, Anda bisa memberikan petunjuk visual pendukung seperti mematikan lampu dan petunjuk fisik seperti merangkulnya sehingga perhatiannya beralih dari boneka yang sedang dimainkannya ke arah Anda. Demonstrasi bisa juga dilakukan untuk memperjelas pesan Anda: membawanya ke tempat tidur, menyelimutinya, dan membetulkan posisi bantal.

     

  6. Beri Motivasi

    Berteriak bisa jadi cara paling mudah untuk menarik perhatian anak Anda. Tapi percaya deh Bunda, tidak satu pun anak senang dengan proses ini. Kebanyakan anak merespon dengan baik ketika Anda mengatakan dengan humor.


    Anda sesekali bisa mencoba menggunakan suara-suara kartun saat ingin menyampaikan pesan. Atau bisa juga Anda menggunakan lagu London Bridge  dengan mengubah syairnya menjadi “Now it’s time to brush your teeth, brush your teeth, brush your teeth...” ketika Anda mengajak si kecil gosok gigi.


    Humor yang baik dan kalimat lembut penuh sayang akan membuat anak mau mendengar karena dia merasa Anda menyayanginya dan berpikir bahwa dia istimewa.

     

  7. Beri Contoh

    Anak-anak prasekolah  akan menjadi pendengar yang baik jika mereka melihat Anda sebagai pendengar yang baik juga. Karena itu biasakan mendengarkan buah hati Anda dan hargailah dia seperti orang dewasa lainnya. Tatap matanya ketika dia berbicara pada Anda, beri respon positif dan biarkan si kecil menyelesaikan kalimatnya tanpa interupsi.

     

  8. Beri Peringatan

    Beri pemberitahuan lebih lanjut kepada si kecil. Misalnya ketika dia masih sibuk dengan mainannya, Anda bisa mengatakan, “Bunda mau keluar sebentar. Nanti kalau Bunda sudah datang, mainnya sudahan ya. Waktunya selesai dan cuci tangan. Oke?”

     

  9. Beri Pujian

    Jangan lupa, pujian dapat meningkatkan kepercayaan diri si kecil. Katakan “Hebat!” atau “Bunda bangga!” setiap kali anak berhasil mendengarkan Anda. So,  jangan lelah beri pujian pada si kecil ya, Bunda!

(Dini)