Berapa Batas Gula Harian untuk Anak? Ini Kata Dokter

Berapa Batas Gula Harian untuk Anak? Ini Kata Dokter
Berapa Batas Gula Harian untuk Anak? Ini Kata Dokter

Anak suka cokelat, biskuit, es krim, atau minuman manis sebenarnya bukan hal yang asing. Yang sering bikin orang tua bingung justru soal batasnya. Kalau berat badan anak masih normal dan makannya tetap jalan, apakah makanan manis setiap hari masih aman?

Ternyata, angka timbangan bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan. Terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman manis juga bisa memengaruhi preferensi rasa anak, kesehatan gigi, pola makan, sampai membuat makanan utama perlahan tergeser.

Menurut dr. Marlisye Marpaung, M.Ked, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, anak tetap boleh mengenal rasa manis. Orang tua hanya perlu lebih memperhatikan seberapa sering dan seberapa banyak anak mengonsumsinya. “Makanan manis, minuman manis itu bukanlah suatu hal yang terlarang. Masih boleh. Tapi perlu diperhatikan frekuensinya dan jumlahnya,” jelas dr. Marlisye.

Edukasi mengenai pola makan anak ini disampaikan dr. Marlisye dalam acara Understanding Your Child's Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development yang diadakan Mirugo pada 2 Oktober 2026.

Makanan Manis untuk Anak Masih Boleh, Asal Jumlahnya Dibatasi

Melarang seluruh makanan manis mungkin terdengar seperti cara paling mudah untuk menghindari gula. Padahal, anak tetap akan bertemu dengan berbagai jenis makanan seiring bertambah usia, baik di rumah, sekolah, acara keluarga, maupun saat bermain bersama teman.

Karena itu, dr. Marlisye lebih menekankan pentingnya mengatur jumlah dan frekuensi. “Makanan atau minuman yang manis itu menjadi tidak baik kalau dikonsumsi setiap hari dengan jumlah yang berlebihan. Bahkan sampai bisa menggantikan makanan utuhnya, makanan utamanya, atau air putihnya jadi tergantikan,” terang dr. Marlisye.

Anak juga boleh mengenal berbagai rasa, termasuk rasa manis. Dari sini Parents justru bisa membantu anak mengenali perbedaan rasa manis alami dari makanan dengan makanan atau minuman yang memang diberi pemanis. “Preferensi rasa itu perlu dikenalkan sama anak. Mana yang manis alami, mana yang manis buatan, mana yang manis rasa cokelat, stroberi. Kita perkenalkan saja, tetapi jumlah dan frekuensinya perlu kita atur,” jelasnya.

Jadi, yang perlu dijaga bukan sekadar apakah anak pernah makan makanan manis atau tidak. Kebiasaan sehari-harinya jauh lebih penting.

Berapa Batas Gula Harian untuk Anak Sesuai Usianya?

Pada dua tahun pertama kehidupan, dr. Marlisye menyarankan agar anak belum diperkenalkan dengan gula tambahan. “Untuk di bawah dua tahun memang dianjurkan tidak diperkenalkan dengan gula tambahan. Yang dibolehkan itu adalah gula yang alami, maksudnya yang sudah ada di dalam bahan makanan,” jelasnya.

Rasa manis alami sebenarnya sudah bisa anak dapatkan dari makanan sehari-hari, misalnya buah. Jadi, Parents tidak perlu buru-buru menambahkan gula hanya supaya makanan terasa lebih enak di lidah anak.

Untuk anak berusia di atas dua tahun, dr. Marlisye menyebut batas maksimal sekitar enam sendok teh gula per hari. “Maksimal sehari enam sendok teh gula. Apakah kita menambahkan sampai enam sendok teh setiap harinya ke anak kita dalam makanannya atau minumannya? Saya rasa enggak. Kalau tidak harus, tidak mesti, ya nggak usah kita tambahkan,” terangnya.

Kata maksimal di sini penting. Angka tersebut bukan jumlah yang perlu dicapai setiap hari. Kalau makanan atau minuman sudah memiliki rasa manis alami, Parents tidak perlu sengaja menambahkan gula lagi. Hal ini juga berlaku untuk minuman yang terlihat sederhana seperti jus buah dan teh.

Jus Buah Tak Perlu Ditambah Gula, Teh Juga Perlu Dibatasi

Kadang gula tambahan tidak hanya datang dari makanan seperti permen atau cokelat. Minuman yang diberikan sehari-hari juga perlu diperhatikan.

Buah, misalnya, sudah mempunyai rasa manis alami. Ketika dibuat menjadi jus, tambahan gula sebenarnya tidak selalu diperlukan. “Jus buah itu sebenarnya sudah manis. Secara alaminya dia sudah manis. Jadi kalau sudah manis, sebenarnya jusnya kita nggak perlu lagi tambahkan gula,” jelas dr. Marlisye.

Lain lagi dengan teh manis. Selain gula yang ditambahkan, teh juga mengandung kafein. Dr. Marlisye mencontohkan pemberian teh manis sejak anak mulai MPASI sebagai kebiasaan yang sebaiknya dihindari. “Kafein itu termasuk juga teh. Pada anak-anak, kafein itu bisa membuat jadi ketagihan juga. Yang kedua, jadinya kesulitan nanti untuk tidur. Jadi mengganggu proses tidurnya ataupun juga mengganggu kualitas tidurnya,” paparnya.

Jadi saat memilih minuman untuk anak, Parents bisa melihat keseluruhan kandungannya, tidak hanya apakah rasanya manis atau tidak. Kalau konsumsi makanan dan minuman manis sudah terlalu sering, dampaknya pun tidak berhenti pada asupan gula hari itu saja.

Apa Bahaya Terlalu Banyak Makanan Manis untuk Anak?

Gula merupakan salah satu sumber kalori yang kemudian digunakan tubuh sebagai energi. Anak tentu membutuhkan energi untuk bergerak, bermain, belajar, dan beraktivitas.

Namun, jumlah kalori yang terus-menerus melebihi kebutuhan bisa menumpuk di dalam tubuh. “Kalau berlebihan, bisa jadi kalorinya berlebihan juga dan ini menjadi menumpuk di dalam tubuhnya. Kalau menumpuk, berat badannya jadi naik. Kalau nggak terkontrol naiknya, nah inilah yang menjadi bahaya,” jelas dr. Marlisye.

Selain berkontribusi terhadap kelebihan kalori, konsumsi makanan manis terlalu sering juga bisa membawa beberapa risiko lain, di antaranya:

- Gigi lebih mudah mengalami karies. Makanan atau minuman manis, terutama yang lengket, dapat tertinggal pada permukaan gigi dan berkontribusi terhadap kerusakan email serta gigi berlubang.

- Berat badan bisa meningkat berlebihan. Kalori yang terus masuk melebihi kebutuhan tubuh dapat ikut meningkatkan risiko berat badan berlebih.

- Anak semakin terbiasa dengan rasa yang sangat manis. Lama-kelamaan, rasa alami dari makanan sehari-hari bisa terasa kurang menarik.

- Anak keburu kenyang sebelum makan utama. Camilan dan minuman manis dapat mengisi perut sehingga anak tidak lagi lapar saat waktunya makan.

Dr. Marlisye juga mengingatkan bahwa kebiasaan mengenalkan rasa yang sangat manis sejak dini dapat memengaruhi preferensi anak terhadap makanan. “Anak itu jadi merasa preferensi manisnya lebih tinggi, naik. Akhirnya dia merasa makanan-makanan lain, yang real food-nya, jadi nggak mau. Karena sudah biasa dengan rasa yang enak, sudah biasa dengan rasa manis,” terangnya.

Di titik ini, efek makanan manis mulai berkaitan langsung dengan pola makan anak. Anak bukan hanya mendapat kalori berlebih, tapi makanan bergizi yang seharusnya menjadi menu utama juga bisa ikut tersingkir.

Terlalu Banyak Makanan Manis Bisa Menggeser Makanan Utama Anak

Ini salah satu hal yang sering luput ketika berat badan anak masih terlihat baik. Anak bisa saja mendapatkan cukup banyak kalori dari makanan atau minuman manis sampai merasa kenyang. Akibatnya, saat jadwal makan siang atau makan malam tiba, nafsu makannya sudah berkurang.

“Makanan manis itu jadi menggeser real food-nya karena anaknya sudah merasa kenyang. Jadinya dia nggak mau makan, makan siangnya jadi terlewati, makan malamnya juga jadi nggak mau,” jelas dr. Marlisye.

Masalahnya, banyak makanan manis memberikan kalori tanpa menyediakan zat gizi yang sama lengkapnya seperti makanan utama yang beragam. “Padahal makanan manis itu belum tentu bergizi. Mungkin dia memberikan kalori, tapi gizi yang lainnya tidak tercukupi. Sementara makanan utamanya yang bergizi jadi tergeserkan oleh si manis-manis tadi. Itulah bahayanya,” paparnya.

Karena itu, berat badan yang masih sesuai kurva belum otomatis memberi gambaran lengkap mengenai kualitas pola makan anak. Parents tetap perlu melihat apa saja yang paling sering dikonsumsi sehari-hari.

Situasi kemudian bisa semakin rumit saat anak benar-benar menolak makanan utama. Karena takut anak tidak makan apa-apa, orang tua terkadang langsung menawarkan pilihan lain yang lebih mudah diterima.

Saat Anak Tidak Mau Makan, Jangan Langsung Diganti Susu

Anak menolak nasi dan lauk, lalu orang tua memberikan susu supaya perutnya tetap terisi. Sesekali mungkin terasa seperti solusi praktis. Kalau terus berulang, anak bisa belajar bahwa menolak makanan akan memberinya pilihan yang lebih ia sukai.

“Nah, akhirnya anaknya jadi belajar atau merasa, kalau aku menolak makan, aku akan mendapatkan apa yang aku mau. Dikasih susu. Ini juga yang perlu kita perbaiki,” jelas dr. Marlisye. Di sinilah feeding rules sangatlah penting. Orang tua tetap menentukan jadwal makan, menu yang tersedia, tempat makan, dan bagaimana proses makan berlangsung. Sementara anak diberi ruang untuk menentukan seberapa banyak ia sanggup makan.

“Jam makannya sudah kita tentukan, menunya kita yang buat, di mana dia makan juga kita tentukan, bagaimana cara makannya kita tentukan. Tetapi berapa volume yang mau dia makan, penentunya adalah anak sendiri,” papar dr. Marlisye. Jadi, saat anak makan lebih sedikit dari yang kita harapkan, responsnya tidak harus langsung mengganti menu dengan makanan atau minuman favorit.

Tekanan yang terlalu besar juga tidak membantu. Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar membuat makanan habis, tetapi membantu anak belajar makan dengan nyaman.

Waktu Makan Anak Jangan Sampai Jadi Momen yang Menegangkan

Sudah menyiapkan makanan dengan susah payah lalu anak cuma makan beberapa suap memang bisa bikin frustrasi. Tanpa sadar, kita mulai membujuk, mengejar anak dengan sendok, atau terus meminta satu suap lagi.

Dr. Marlisye mengingatkan agar waktu makan tidak berubah menjadi pengalaman yang menakutkan untuk anak. “Momen-momen harus disiapkan. Tapi jangan sampai momen yang menakutkan. Jangan dianggap sebagai momen yang, ‘Aduh ini bisa terjadi perang nih di meja makan.’ Ekspektasinya dari awal kita masak tuh, ‘Aduh semoga habis, semoga dia suka,’ dan segala macamnya,” papar dr. Marlisye.

Parents tetap bisa menyediakan makanan dan aturan yang jelas tanpa menjadikan jumlah yang dihabiskan anak sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan waktu makan. Ada kalanya anak makan banyak, di waktu lain porsinya lebih sedikit. Yang lebih penting adalah menjaga pola dan memberi anak kesempatan belajar mengenali rasa lapar serta kenyangnya sendiri.

Cara Membangun Kebiasaan Makan Anak yang Sehat Sejak MPASI

Hubungan yang sehat dengan makanan tidak terbentuk dalam semalam. Anak belajar dari pengalaman makan yang berulang sejak kecil.

Karena itu, menurut dr. Marlisye, prosesnya sudah bisa mulai dibangun sejak anak pertama kali MPASI. “Kita mencoba membangun hubungan yang sehat, hubungan yang baik dengan makanan pada anak kita. Sehingga dia merasa bahwa makanan itu bukan suatu hal yang perlu dihindari, ditakuti, atau mengancam dia. Justru dia merasa itu suatu hal yang dia butuhkan,” terang dr. Marlisye.

Membangunnya memang membutuhkan waktu. Anak mungkin belum langsung suka makanan tertentu, porsinya tidak selalu sama setiap hari, dan ada fase ketika ia lebih tertarik pada rasa tertentu.

Orang tua bisa membantu dengan menjaga jadwal makan, terus mengenalkan berbagai jenis makanan, mengatur konsumsi makanan manis, serta menciptakan suasana makan yang nyaman. “Membangunnya itu memang dari kebiasaan sehari-hari. Jadi membentuknya perlu waktu, perlu proses, sehingga memang harus dimulai dari saat MPASI pertama, dari usia enam bulan. Kebiasaan sehari-hari yang dibentuk dari kecil itu akan menjadi budaya dia sampai dia besar,” tambahnya.

Jadi ketika bicara soal gula, fokusnya tidak berhenti pada menghitung berapa sendok teh yang dikonsumsi anak dalam sehari. Pola yang terbentuk di rumah juga sama pentingnya, mulai dari jenis makanan yang sering tersedia, respons saat anak menolak makan, sampai bagaimana suasana di meja makan.

Parents tetap bisa mengenalkan rasa manis dengan jumlah dan frekuensi yang terkontrol. Di saat yang sama, terus biasakan anak menikmati makanan yang beragam dan beri kesempatan ia belajar mengenali rasa lapar serta kenyangnya sendiri.

Kebiasaan inilah yang perlahan membantu anak membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan sampai ia bertambah besar.

Follow Ibupedia Instagram