Cara Memilih Susu Anak, Jangan Cuma Lihat Klaim di Kemasan
Coba lihat satu kaleng susu anak. Bagian depannya biasanya penuh informasi yang menarik perhatian, mulai dari DHA, vitamin, mineral, sampai berbagai klaim mengenai tumbuh kembang anak.
Tapi kalau kalengnya dibalik, informasinya jauh lebih panjang. Ada daftar komposisi, tabel nutrisi, jumlah sajian, sampai berbagai istilah yang kadang justru bikin tambah bingung. Akhirnya, kita sering kembali memilih berdasarkan klaim yang paling mudah dipahami di bagian depan. Padahal, memilih susu anak sebaiknya dimulai dari kebutuhan anaknya terlebih dahulu, baru kemudian melihat apa yang ada di dalam produknya.
dr. Marlisye Marpaung, M.Ked, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, menjelaskan bahwa susu yang tepat tidak harus sama untuk setiap anak. “Susu yang cocok buat anak kita adalah susu yang membantu dia untuk bisa memenuhi kebutuhan pertumbuhannya dan perkembangannya. Memang kita harus jadi orang tua yang cerdas, pastinya kita harus lihat apa komposisi kandungan daripada nutrisi susu,” jelas dr. Marlisye.
Penjelasan tersebut disampaikan dr. Marlisye saat memberikan edukasi dalam acara Understanding Your Child's Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development yang diadakan Mirugo pada 2 Oktober 2026.
Cara Memilih Susu yang Tepat untuk Anak di Atas 1 Tahun

Setelah anak memasuki usia satu tahun, sumber nutrisinya sudah semakin beragam. Anak mulai makan makanan keluarga dan mendapat berbagai zat gizi dari menu sehari-hari. Karena itu, susu perlu dilihat sebagai salah satu bagian dari pola makan anak, bukan satu-satunya sumber nutrisi. “Kalau sudah di atas satu tahun, itu sudah makanan keluarga sifatnya. Semua anak di atas satu tahun sudah bisa mendapatkan makanan keluarga,” terang dr. Marlisye.
Saat memilih susu, Parents bisa mulai dari kebutuhan anak sendiri. Apakah pertumbuhan dan perkembangannya berjalan baik? Apakah ada alergi? Apakah berat badannya membutuhkan perhatian khusus? Kondisi seperti ini ikut menentukan apakah anak memerlukan susu tertentu.
“Perlu di-highlight untuk anak-anak dengan kondisi tertentu. Misalnya alergi, ada kelainan bawaan, atau memang ada masalah berat badan. Kalau ini biasanya perlu konsultasi ke dokter spesialis anak untuk penentuan susunya yang mana,” jelasnya.
Sementara pada anak yang pertumbuhan dan perkembangannya baik serta tidak memiliki kondisi khusus, orang tua memiliki pilihan yang lebih luas. Artinya, tidak perlu mencari susu yang dianggap paling hebat untuk semua anak. Yang jauh lebih relevan adalah apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan si Kecil dan bagaimana posisinya di dalam pola makan sehari-hari.
Jumlah susu yang diberikan juga perlu diperhatikan supaya tidak mengambil porsi makanan utama anak.
Berapa Banyak Susu yang Boleh Diminum Anak Setiap Hari?
Anak suka susu dan bisa minum berkali-kali dalam sehari? Tetap perlu ada batasnya, terutama setelah anak sudah rutin makan makanan keluarga.

Untuk anak di atas satu tahun dengan status gizi baik, dr. Marlisye menyebut konsumsi susu maksimal sekitar 500 ml dalam 24 jam. “Susu itu maksimal 500 mili sehari. Di atas satu tahun juga kalau status gizinya baik. Kenapa? Supaya makanan utamanya itu masuk,” jelas dr. Marlisye.
Kalau susu diberikan terlalu dekat dengan jam makan atau jumlahnya terlalu banyak, anak bisa keburu kenyang sehingga makanan utama justru tidak termakan.
Parents bisa mengatur waktu minum susu di antara jadwal makan agar nafsu makan anak tetap terjaga.
“Kalau Mama kasih dia tiga kali sehari susunya, tapi jadinya makanannya berkurang, bisa kita siasati minum susunya di antara waktu makan,” paparnya.
Jadi, setelah tahu berapa banyak susu yang diberikan, pertanyaan berikutnya tentu bergeser ke susu apa yang dipilih. Di sinilah kebiasaan membaca kemasan menjadi penting.
Saat Memilih Susu Anak, Jangan Hanya Tergiur Klaim di Depan Kemasan

Klaim di depan kemasan memang paling mudah menarik perhatian. Ada produk yang menonjolkan kecerdasan, tinggi badan, daya tahan tubuh, DHA, hingga kandungan tertentu dengan ukuran besar.
Namun, klaim tersebut tetap perlu dibaca bersama informasi lain di kemasan.
Dr. Marlisye sendiri menekankan agar orang tua memperhatikan komposisi nutrisi susu yang diberikan kepada anak. “Kita harus jadi orang tua yang cerdas, pastinya kita harus lihat apa komposisi kandungan daripada nutrisi susu,” jelasnya.
Hal serupa juga menjadi perhatian Livia Monika, Managing Director Mirugo. Menurutnya, banyaknya klaim pada produk susu justru bisa membuat orang tua bingung membedakan satu produk dengan yang lain.
Livia mengatakan ia ingin komunikasi mengenai nutrisi anak tidak berhenti pada klaim yang terdengar menarik. “Saya mau komunikasi dari brand Mirugo keluar itu komunikasi yang transparan. Edukasi yang jujur dan semuanya harus bisa dibuktikan,” ungkap Livia.
Menurutnya, satu kandungan juga tidak bisa berdiri sendiri untuk menentukan tumbuh kembang anak.
“Kalau misalnya kita bilang susu bikin pintar, apa sih yang sebenarnya bikin pintar, terus apa hubungannya. Nutrisi itu tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Untuk gedein seorang anak perlu banyak faktor, bukan nutrisi doang, tapi juga stimulasi,” lanjutnya.
Karena itulah membalik kemasan dan membaca daftar komposisi bisa membantu Parents memahami apa yang memang terkandung di dalam produk. Di dalam setiap susu pertumbuhan anak, ada informasi tentang kualitas produk yang memang tidak bisa diketahui hanya dari daftar komposisi.
Ada Hal yang Tidak Bisa Dilihat dari Daftar Komposisi Susu Anak
Komposisi memberi tahu kita apa yang sengaja digunakan untuk membuat sebuah produk. Namun, dalam proses perjalanan bahan baku hingga menjadi produk jadi, ada kemungkinan muncul hidden contaminants atau kontaminan yang tidak tercantum sebagai bahan pada label. Kontaminan dapat berasal dari berbagai titik, mulai dari lingkungan tempat bahan baku berasal sampai proses pengolahan dan kemasan.

Livia memberikan contoh bahwa sumbernya bisa sangat luas. “Kontaminasi ini dari mana? Jawabannya ada di mana-mana. Dari tanah, kemudian dari air. Dalam konteks susu, sapi makan makanan tertentu, mungkin di tanah atau makanannya ada pestisida. Dalam produksi juga pakai mesin, kemudian packaging, itu semua ada potensi kontaminasi yang masuk,” jelas Livia.
Keberadaan kemungkinan kontaminan ini tidak otomatis berarti sebuah produk berbahaya. Justru di sinilah pengujian laboratorium diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat kontaminan yang terdapat dalam produk.
Beberapa kontaminan yang menjadi perhatian dapat berupa logam berat, residu pestisida, plasticizers seperti phthalates, hingga bisphenols. Karena hal-hal tersebut tidak cukup dinilai hanya dari membaca kemasan, pengujian oleh pihak independen menjadi salah satu cara untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai kualitas produk.
Kenapa Pengujian Produk oleh Pihak Ketiga Penting?
Kalimat seperti “teruji” atau “berkualitas” memang mudah ditemukan dalam komunikasi sebuah brand. Namun, kepercayaan konsumen akan lebih kuat jika klaim tersebut juga didukung penilaian dari pihak di luar perusahaan.

Menurut Livia, pembuktian kualitas sebaiknya tidak hanya berasal dari brand atau produsennya sendiri. “Buat kita trust itu penting dan harus bisa dibuktikan dan teruji. Kata teruji dan terbukti seharusnya tidak datang dari klaim sendiri, atau dari brand sendiri, atau pabrik sendiri, tapi dari pihak ketiga independen yang netral dan kita bisa percaya,” terangnya.
Salah satu organisasi yang melakukan pengujian tersebut adalah Clean Label Project, organisasi independen asal Amerika Serikat yang menguji dan melakukan benchmarking terhadap berbagai produk konsumen.
Dalam pengujian ini, beberapa jenis kontaminan yang dapat diperiksa antara lain:
- logam berat seperti arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri,
- residu pestisida,
- plasticizers termasuk phthalates,
- serta bisphenols.
Pengujian dilakukan melalui laboratorium analitik independen yang terakreditasi ISO 17025. Namun, prosesnya tidak berhenti pada pengambilan satu sampel dari produsen lalu diuji. Clean Label Project juga menggunakan pendekatan yang mencoba merefleksikan pengalaman konsumen ketika membeli produk di pasaran.
Bagaimana Clean Label Project Menguji Produk?
Clean Label Project menggunakan pendekatan consumer chain of custody, yaitu sampel produk diperoleh secara acak melalui jalur pembelian yang menyerupai cara konsumen mendapatkan produk di pasaran.

Setelah itu, sampel dikirim ke laboratorium untuk diuji. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan produk lain dalam kategori yang sama untuk melihat bagaimana posisinya berdasarkan hasil pengujian tersebut.
Produk yang berada di top 33 persen dalam kategorinya, serta memenuhi persyaratan kepatuhan lainnya, dapat memenuhi kriteria untuk memperoleh Purity Award.
Jadi, penghargaan ini tidak hanya melihat satu hasil uji secara terpisah, tetapi juga membandingkannya dengan produk lain dalam kategori yang sama. Proses seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan Mirugo menggunakan pengujian pihak ketiga untuk mendukung komitmen transparansinya. “Salah satunya makanya kita tersertifikasi oleh Purity Award by Clean Label ini,” jelas Livia.
Mirugo Raih Purity Award dari Clean Label Project
Mirugo merupakan susu pertumbuhan untuk anak usia 1 sampai 3 tahun. Mirugo menjadi brand susu pertumbuhan pertama di Indonesia yang meraih Purity Award dari Clean Label Project.
Dalam standar Purity Award tersebut, sekitar satu dari lima brand susu di seluruh dunia disebut berhasil lolos. Penghargaan ini diberikan berdasarkan proses pengujian dan benchmarking terhadap produk lain dalam kategori yang sama. Jadi yang dinilai tidak hanya kandungan yang tertulis di kemasan, tetapi juga hasil pengujian terhadap sejumlah kontaminan yang menjadi perhatian.

Pencapaian tersebut sejalan dengan pendekatan Mirugo yang menekankan transparansi dalam memilih produk anak. “Saya berharap lewat sertifikasi ini, dari Mirugo bisa membawa standar yang lebih baik lagi untuk industri susu dan brand-brand susu lain juga. Dan siapa yang diuntungkan? Jawabannya ya pasti konsumen. Pilihannya makin banyak, standarnya makin baik,” ungkap Livia.
Mirugo sendiri diformulasikan tanpa gula tambahan, tanpa maltodekstrin, tanpa corn syrup, serta dilengkapi DHA Jepang. Informasi mengenai komposisi tersebut tetap menjadi hal yang bisa Parents baca dan pertimbangkan ketika memilih susu. Sementara Purity Award memberi informasi tambahan mengenai pengujian produk yang memang tidak bisa diketahui hanya dengan membaca daftar bahan.
Dalam momen penyerahan Purity Award, Marie Uchiyama, Japan Registered Dietitian, turut menyampaikan harapannya agar Mirugo terus menghadirkan informasi yang dapat membantu keluarga dalam memilih kebutuhan anak. “Saya berharap Mirugo tetap menjunjung tinggi informasi yang baik agar keluarga lebih baik dalam memilih kebutuhan anak. Saya juga ingin mengucapkan selamat atas diraihnya Purity Award kepada Mirugo,” ujar Marie.
Pada akhirnya, memilih susu anak memang tidak cukup hanya melihat satu kandungan yang dicetak besar di bagian depan kemasan. Parents bisa mulai dari kebutuhan anak, melihat komposisinya, mengatur jumlah konsumsinya agar tidak menggeser makanan utama, lalu mencari informasi mengenai kualitas serta pengujian produk yang diberikan.
Semakin lengkap informasi yang dimiliki, semakin mudah juga bagi Parents untuk menentukan pilihan yang memang sesuai untuk si Kecil dan keluarganya.