Cara Memilih Susu Pertumbuhan Anak yang Tepat Menurut Dokter

Cara Memilih Susu Pertumbuhan Anak yang Tepat Menurut Dokter
Cara Memilih Susu Pertumbuhan Anak yang Tepat Menurut Dokter

Kalau lagi memilih susu pertumbuhan untuk si Kecil, Parents biasanya memperhatikan apa dulu, nih? Kandungan proteinnya, tambahan vitamin dan mineral, atau klaim manfaat yang tertulis di bagian depan kemasan?

Apalagi sekarang pilihan susu anak semakin beragam. Ada yang menonjolkan kandungan DHA, zat besi, hingga berbagai nutrisi lain untuk mendukung tumbuh kembang anak. Nggak heran kalau orang tua jadi bingung menentukan mana yang paling sesuai.

Padahal, kandungan nutrisi yang terlihat lengkap belum tentu menjadikan suatu produk pilihan paling tepat untuk setiap anak. Ada beberapa hal lain yang perlu dipertimbangkan, mulai dari usia, kebutuhan nutrisi, hingga bukti ilmiah yang mendukung manfaat produk tersebut.

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Director Danone Indonesia, turut menyoroti pentingnya pemilihan nutrisi yang tepat dalam kampanye “Bunda Lebih Maju” yang digelar SGM Eksplor pada 14 Oktober 2026.

Lalu, apa saja yang sebenarnya perlu Parents perhatikan sebelum memilih susu pertumbuhan untuk anak?

1. Kenali Kebutuhan Nutrisi Anak Sesuai Usianya

Sebelum membandingkan berbagai produk susu, ada satu hal yang perlu diperhatikan terlebih dahulu, yaitu kebutuhan nutrisi anak itu sendiri. Pasalnya, kebutuhan nutrisi anak terus berubah seiring bertambahnya usia dan tahap perkembangan. Produk yang sesuai untuk anak usia satu tahun belum tentu menjadi pilihan yang tepat saat anak memasuki usia tiga atau lima tahun.

Selain usia, kebiasaan makan anak juga perlu diperhatikan. Misalnya, apakah anak sudah terbiasa mengonsumsi makanan yang beragam, sering menolak makanan tertentu, atau memiliki kebutuhan nutrisi khusus.

Dr. Ray menekankan bahwa pemenuhan nutrisi perlu disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang masing-masing anak. “Yang paling penting adalah sesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang tadi, terus pastikan juga bisa dinilai milestone-nya setiap tumbuh kembang, setiap usianya,” jelasnya.

Milestone sendiri merupakan pencapaian perkembangan yang dapat diamati sesuai usia anak, seperti perkembangan kemampuan bergerak, berkomunikasi, hingga berinteraksi.

Dengan memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala, orang tua dapat lebih memahami kebutuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Setelah mengetahui kebutuhan tersebut, Parents bisa mulai mengevaluasi apakah asupan nutrisi dari makanan sehari-hari sudah mencukupi atau masih ada yang perlu diperhatikan.

2. Pastikan Anak Mendapatkan Asupan Protein Hewani yang Cukup

Salah satu zat gizi yang penting diperhatikan dalam masa pertumbuhan adalah protein. Menurut dr. Ray, protein hewani merupakan salah satu komponen nutrisi yang berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. “Protein hewannya dapat dari mana? Bisa dari daging, bisa dari telur, bisa dari ikan,” ungkap dr. Ray.

Sumber protein hewani sebenarnya cukup mudah ditemukan dalam menu sehari-hari. Orang tua bisa menyajikan telur, ikan, maupun daging sebagai bagian dari makanan anak.

Namun, memenuhi kebutuhan nutrisi anak tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya anak mulai pilih-pilih makanan, menolak lauk tertentu, atau mengalami fase gerakan tutup mulut (GTM).

Situasi seperti ini tentu bisa membuat Parents khawatir apakah kebutuhan nutrisi anak sudah terpenuhi dengan baik.

Dalam penjelasannya, dr. Ray turut menyoroti peran susu pertumbuhan terfortifikasi sebagai salah satu sumber protein hewani yang dapat dipertimbangkan untuk membantu melengkapi asupan nutrisi anak. Susu terfortifikasi merupakan susu yang diperkaya dengan zat gizi tertentu, seperti vitamin dan mineral.

Meski begitu, susu pertumbuhan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak dan tidak menggantikan pentingnya makanan sehari-hari yang beragam.

Nah, kalau Parents memang sedang mempertimbangkan susu pertumbuhan sebagai bagian dari asupan anak, langkah berikutnya adalah memahami kandungan nutrisi yang terdapat di dalamnya.

3. Jangan Cuma Lihat Daftar Nutrisi, Perhatikan Juga Kandungannya

Saat membaca kemasan susu, Parents mungkin menemukan beberapa produk yang sama-sama mencantumkan protein, zat besi, vitamin, hingga serat. Sekilas terlihat mirip, ya? Namun, kandungan nutrisi antarproduk belum tentu sama, baik dari segi jumlah maupun kombinasinya.

Dr. Ray menjelaskan bahwa ada beberapa komponen nutrisi yang perlu diperhatikan ketika memilih susu pertumbuhan, khususnya zat besi, vitamin C, dan serat. Ketiganya memiliki peran yang berbeda dalam tubuh anak, antara lain:

- Zat besi: Berperan dalam pembentukan hemoglobin yang membantu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

- Vitamin C: Membantu penyerapan zat besi, terutama zat besi yang berasal dari sumber nabati.

- Serat: Membantu mendukung fungsi pencernaan anak.

Karena itu, Parents sebaiknya tidak hanya melihat ada atau tidaknya suatu zat gizi dalam produk, tetapi juga membaca informasi nilai gizi yang tercantum pada kemasan. Sebagai contoh, dua produk mungkin sama-sama mengandung zat besi, tetapi jumlah yang diberikan dalam setiap takaran saji bisa berbeda.

Begitu pula dengan kombinasi zat gizi lainnya. Perlu diperhatikan apakah kandungannya sesuai dengan kebutuhan anak, termasuk nutrisi yang sudah diperoleh dari makanan sehari-hari.

Namun, ada satu hal lagi yang tidak kalah penting. Kandungan nutrisi yang tercantum di kemasan belum otomatis membuktikan seluruh klaim manfaat suatu produk.

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah manfaat yang ditawarkan benar-benar memiliki dasar ilmiah?

4. Pastikan Klaim Manfaat Susu Didukung Bukti Ilmiah

Parents mungkin pernah menemukan produk susu yang mencantumkan istilah seperti teruji klinis, didukung penelitian, atau terbukti secara ilmiah. Klaim seperti ini memang terdengar meyakinkan. Namun, orang tua tetap perlu memahami bukti apa yang sebenarnya mendasari klaim tersebut.

Dr. Ray menegaskan bahwa bukti klinis merupakan salah satu hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam memilih produk nutrisi. “Dan yang ketiga adalah ingat, harus ada bukti klinis,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penelitian yang relevan dengan anak Indonesia serta dukungan hasil penelitian jangka panjang. Artinya, Parents sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa suatu produk pasti memberikan manfaat tertentu hanya karena mengandung zat gizi yang dikenal baik untuk tumbuh kembang anak.

Misalnya, ketika suatu susu mengandung nutrisi yang berperan dalam perkembangan otak, hal tersebut tidak otomatis berarti produk itu terbukti membuat anak lebih pintar. Manfaat yang diklaim perlu dilihat berdasarkan hasil penelitian yang memang menguji manfaat tersebut.

Untuk membantu menilai klaim nutrisi, Parents bisa memperhatikan beberapa hal berikut:

- Apakah klaim manfaat produk didukung oleh penelitian?

- Apakah penelitian melibatkan kelompok usia yang sesuai dengan anak?

- Apakah manfaat yang disebutkan benar-benar dinilai dalam penelitian tersebut?

- Apakah hasil penelitian relevan dengan kebutuhan anak?

Selain memperhatikan bukti ilmiah, sumber informasi yang digunakan juga perlu dipastikan kredibel. Menurut dr. Ray, literasi nutrisi menjadi salah satu bekal penting agar orang tua bisa mengambil keputusan yang tepat. Informasi tersebut dapat diperoleh dari tenaga kesehatan, media yang kredibel, maupun program edukasi nutrisi.

Hal ini semakin relevan karena sekarang ada begitu banyak rekomendasi produk yang bisa ditemukan melalui internet dan media sosial.

Sebelum mengikuti rekomendasi tersebut, Parents sebaiknya memeriksa kembali apakah informasinya memiliki dasar yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Jika anak mengalami kesulitan makan berkepanjangan, memiliki alergi, atau menunjukkan masalah pertumbuhan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak sebelum menentukan pilihan asupan tambahan.

Jadi, memilih susu pertumbuhan sebaiknya dimulai dari memahami kebutuhan si Kecil terlebih dahulu. Setelah itu, baru perhatikan kecukupan nutrisi dari makanan sehari-hari, bandingkan kandungan produk, dan cari tahu bukti ilmiah yang mendukung klaim manfaatnya.

Dengan begitu, Parents bisa lebih percaya diri menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan anak, tanpa harus terpaku pada produk dengan daftar kandungan atau klaim manfaat paling banyak.

Follow Ibupedia Instagram