Cara Menemukan Bakat Anak, Ini Kata Psikolog!

Cara Menemukan Bakat Anak, Ini Kata Psikolog!
Cara Menemukan Bakat Anak, Ini Kata Psikolog!

Hari ini anak ingin belajar menyanyi, minggu depan tertarik menggambar, lalu beberapa waktu kemudian justru semangat ikut olahraga. Melihat minatnya terus berganti, orang tua mungkin mulai bertanya-tanya sebenarnya bakat anak ada di mana.

Namun, minat yang berubah bukan berarti anak tidak konsisten atau tidak memiliki bakat. Sampai usia tertentu, mencoba banyak hal justru menjadi bagian penting dalam cara menemukan bakat anak. Dari pengalaman yang beragam, si Kecil perlahan belajar mengenali kegiatan yang membuatnya bersemangat, kemampuan yang ingin terus diasah, dan bidang yang terasa paling nyaman baginya.

Orang tua pun tidak perlu terburu-buru menentukan anak harus menjadi penyanyi, atlet, pelukis, atau musisi. Peran kita bukan memilihkan satu jalan sejak awal, melainkan membuka sebanyak mungkin kesempatan yang aman agar anak dapat mengenali dirinya sendiri.

Sampai Usia 10 Tahun Anak Masih Bereksplorasi

Menurut Ayoe Sutomo, M.Psi., Psikolog Anak dan Keluarga, dalam peluncuran Bebelac Little Star 2026 di Jakarta pada 24 Juli 2026, orang tua sering ingin segera mengetahui bidang yang menjadi keunggulan anak. Padahal, proses tersebut tidak selalu dapat terlihat dalam waktu singkat.

“Karena sampai usia 10 tahun itu memang tahapan eksplorasi. Waktunya bagi anak untuk mengenal lebih banyak, tahu lebih banyak, dan mencoba lebih banyak. Jadi, belum waktunya hanya fokus pada satu hal dan tidak boleh bergeser ke yang lain,” jelas Ayoe.

Pada tahap ini, anak masih mengumpulkan pengalaman. Ia mungkin menyukai satu kegiatan selama beberapa bulan, lalu mulai penasaran dengan bidang lain. Perubahan tersebut tidak perlu langsung dianggap sebagai tanda bahwa anak mudah menyerah.

Anak justru membutuhkan kesempatan untuk mengenal beragam aktivitas sebelum menemukan hal yang benar-benar ingin ia tekuni. Ada anak yang langsung terlihat nyaman saat bernyanyi, tetapi ada pula yang baru menemukan ketertarikannya setelah mencoba olahraga, menggambar, menari, bermain musik, atau berakting.

Artinya, tahap eksplorasi bukan perlombaan untuk menemukan satu bakat secepat mungkin. Fokus utamanya adalah membantu anak mengenal pilihan, merasakan proses belajar, dan memahami respons dirinya terhadap pengalaman yang berbeda.

Cara Menemukan Bakat Anak dengan FOSA

Ayoe memperkenalkan pendekatan FOSA yang dapat digunakan orang tua selama mendampingi proses eksplorasi. FOSA terdiri dari Fasilitasi, Observasi, Support, dan Apresiasi.

Keempatnya tidak berhenti pada mengenalkan anak kepada banyak kegiatan. Orang tua juga perlu memperhatikan respons si Kecil, mendengarkan pendapatnya, lalu memberikan dukungan yang sesuai.

1. Fasilitasi anak mencoba banyak pengalaman

Langkah pertama adalah menyediakan kesempatan bagi anak untuk mengenal berbagai aktivitas. Fasilitasi tidak selalu berarti memasukkan anak ke banyak tempat les sekaligus.

Parents dapat memulainya dari kegiatan sederhana di rumah. Anak bisa diajak memasak, menggambar, berkebun, menyusun mainan, mendengarkan musik, menari, bermain bola, membaca cerita, atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah yang sesuai dengan usianya.

Les dan kegiatan terstruktur juga boleh diberikan selama disesuaikan dengan kesiapan anak. Namun, jangan membuat jadwalnya terlalu padat hingga anak kehilangan waktu beristirahat, bermain bebas, dan menikmati kegiatannya.

Paparan yang beragam membantu anak menemukan hal-hal yang membangkitkan rasa ingin tahu. Semakin banyak pengalaman yang dikenalnya, semakin besar kesempatan orang tua melihat minat serta kemampuan yang mungkin belum muncul sebelumnya.

2. Observasi semangat dan usaha anak

Setelah memberikan kesempatan, orang tua perlu mengamati bagaimana anak menjalani setiap kegiatan.

Bukan hanya hasil akhirnya yang perlu diperhatikan, lihat juga apakah anak tampak bersemangat sebelum kegiatan dimulai, seberapa besar usahanya ketika menghadapi kesulitan, dan apakah ia masih ingin mencoba kembali meskipun belum berhasil.

Orang tua juga dapat memperhatikan apakah kemampuan anak terlihat lebih menonjol dibandingkan ketika ia menjalani kegiatan lain. Misalnya, ia lebih mudah mengingat gerakan tari, memiliki kepekaan terhadap nada, mampu menggambar dengan detail, atau cepat memahami strategi dalam olahraga.

Namun, observasi tidak sebaiknya dilakukan dengan terus membandingkan anak dengan teman-temannya. Perbandingan hanya digunakan sebagai salah satu informasi, bukan ukuran harga diri atau syarat agar anak layak mendapatkan dukungan.

Ajak pula anak mengobrol secara berkala. Parents bisa menanyakan apakah ia masih menyukai kegiatannya, bagian apa yang paling menyenangkan, hal apa yang terasa sulit, dan apakah ia ingin melanjutkan atau mencoba pilihan lain.

3. Support pilihan yang benar-benar disukai anak

Setelah melihat kecenderungan minatnya, berikan dukungan terhadap bidang yang memang ingin dijalani anak.

Dukungan dapat berupa menyediakan alat, meluangkan waktu untuk menemani latihan, mengantarkan ke kegiatan, membantu mencari guru yang sesuai, atau sekadar menunjukkan ketertarikan saat anak bercerita.

Ayoe menjelaskan bahwa dukungan terhadap pilihan anak dapat membantu menumbuhkan motivasi intrinsik. Dorongan untuk berlatih pun muncul karena anak memang menyukai kegiatannya, bukan semata-mata takut mengecewakan orang tua.

Di tahap ini, orang tua perlu memeriksa kembali ekspektasi pribadi. Jangan sampai anak merasa ia harus selalu tampil bagus, menjadi juara, atau mempertahankan satu kegiatan hanya agar Mama dan Papa senang.

“Kadang orang tua tidak merasa membebani, tetapi anak menangkap pesan bahwa untuk membuat orang tuanya senang, ia harus pintar atau harus juara. Karena itu, kita perlu belajar mendengarkan anak dan melihat bagaimana responsnya terhadap setiap kegiatan,” paparnya.

Tanda bahwa anak menikmati proses biasanya cukup terlihat. Ia berinisiatif menyiapkan perlengkapannya, membicarakan kegiatan tersebut tanpa diminta, penasaran mempelajari hal baru, dan tetap ingin kembali meski sesekali menemui kesulitan.

4. Apresiasi setiap langkah kecil

Apresiasi tidak perlu menunggu anak memenangkan lomba atau menghasilkan karya yang sempurna. Keberaniannya mencoba, kesediaannya berlatih, serta usahanya menyelesaikan tantangan juga layak dihargai.

Parents dapat memberikan apresiasi yang spesifik, seperti mengatakan bahwa anak terlihat sabar ketika berlatih atau berani kembali mencoba setelah melakukan kesalahan. Dengan begitu, anak memahami bahwa proses dan usahanya ikut diperhatikan.

Keberhasilan-keberhasilan kecil inilah yang perlahan membangun rasa percaya diri. Anak belajar bahwa kemampuan tidak harus langsung sempurna dan kesalahan merupakan bagian dari perjalanan belajar. “Peran orang tua itu FOSA, yaitu Fasilitasi, Observasi, Support, dan Apresiasi. Apresiasi perlu diberikan pada setiap langkah kecil karena semuanya berawal dari sana,” tambah Ayoe.

Jangan Terburu-buru Menentukan Satu Bakat

Menemukan minat unggulan anak tidak berarti Parents harus langsung menghentikan seluruh kegiatan lain dan memintanya hanya fokus pada satu bidang. Pada tahap eksplorasi, minat anak masih dapat berkembang. Ia boleh tertarik pada beberapa hal sekaligus atau memutuskan bahwa kegiatan yang pernah disukainya ternyata tidak ingin dilanjutkan.

Respons orang tua ketika anak berubah pikiran juga ikut menentukan apakah proses eksplorasi terasa aman. Bila setiap keputusan disambut dengan kemarahan atau dianggap sebagai pemborosan, anak bisa takut menyampaikan apa yang sebenarnya dirasakan.

Orang tua dapat mengevaluasi alasannya terlebih dahulu. Apakah ia berhenti karena tidak menyukai kegiatannya, sedang kesulitan beradaptasi, merasa jadwalnya terlalu berat, mengalami masalah dengan teman, atau hanya membutuhkan bantuan melewati satu tantangan?

Tidak semua keinginan berhenti harus langsung dituruti, tetapi juga tidak semuanya perlu dianggap sebagai sikap mudah menyerah. Percakapan yang tenang akan membantu Parents membedakan apakah anak membutuhkan dorongan, penyesuaian, atau memang ingin mengeksplorasi pilihan lain.

Stimulasi Bakat Bisa Hadir dalam Kegiatan Sehari-hari

Stimulasi sering dikaitkan dengan les atau kelas khusus. Padahal, setiap interaksi bersama orang tua juga dapat menjadi kesempatan belajar.

Saat memasak, misalnya, anak belajar mengikuti langkah, mengenal tekstur, mengukur bahan, dan menyelesaikan masalah ketika hasilnya tidak sesuai rencana. Permainan kelompok membantunya berkomunikasi, bernegosiasi, menunggu giliran, dan bekerja sama.

Aktivitas seni memberi ruang untuk mengekspresikan ide, sedangkan olahraga mengajarkan koordinasi tubuh, disiplin, serta cara menghadapi kemenangan dan kekalahan. Setiap pengalaman mengaktifkan kemampuan yang berbeda dan membantu anak memahami bidang mana yang terasa paling menarik baginya.

Penelitian Boal-Palheiros dan Ilari yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology pada 2023 juga membahas hubungan kegiatan kreatif, seperti musik dan drama, dengan perkembangan sosial anak. Aktivitas semacam ini memberikan ruang bagi anak untuk berkomunikasi, bekerja bersama, dan berinteraksi dengan orang lain.

Namun, banyaknya aktivitas saja belum cukup. Kualitas hubungan antara anak dan orang tua tetap menjadi bagian penting dari stimulasi. Anak lebih berani bereksplorasi ketika merasa aman secara emosional. Ia tahu bahwa kesalahan tidak akan membuatnya dipermalukan, kegagalan tidak mengurangi kasih sayang orang tua, dan pendapatnya tetap didengarkan.

“Kalau anak merasa aman, tidak dihakimi, dan tahu bahwa berbuat salah itu tidak apa-apa karena bagian dari proses, ketika dihadapkan pada pengalaman baru ia akan lebih senang mencoba. Kegiatannya terasa seperti bermain karena ia tidak takut orang tuanya akan marah,” terang Ayoe.

Rasa aman juga menjadi dasar berkembangnya kreativitas. Anak lebih leluasa mengutak-atik ide, mencari cara baru, dan mengambil risiko kecil ketika tidak terus dibayangi ketakutan melakukan kesalahan.

Kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi pun tidak hadir dengan sendirinya. Keduanya tumbuh melalui latihan bertemu orang lain, masuk ke lingkungan baru, menyelesaikan konflik, serta bekerja bersama dalam beragam situasi. Semakin kaya pengalaman anak, semakin banyak pula kesempatan baginya mengembangkan pemecahan masalah, regulasi emosi, ketahanan diri, dan kecerdasan sosial.

Bakat Tidak Hanya Ditentukan oleh Orang Tua

Sebagian Parents mungkin bertanya-tanya apakah anak dapat memiliki bakat yang tidak dimiliki ayah atau ibunya. Misalnya, orang tua tidak bisa bernyanyi, tetapi anak justru menunjukkan ketertarikan besar terhadap musik.

Ayoe menjelaskan bahwa perkembangan potensi dipengaruhi oleh nature dan nurture. Nature berkaitan dengan faktor bawaan, sedangkan nurture merujuk pada lingkungan, pengasuhan, stimulasi, dan pengalaman yang diterima anak.

Faktor bawaan dapat memberikan pengaruh, tetapi lingkungan juga memiliki peran yang besar. Orang tua tidak harus memiliki kemampuan yang sama untuk membantu anak berkembang.

Jika anak menyukai musik, misalnya, Parents tetap dapat mengenalkannya pada berbagai jenis lagu, mengajaknya menyaksikan pertunjukan, menyediakan alat sederhana, atau mencari pendamping belajar yang sesuai. Hal serupa dapat dilakukan pada minat olahraga, seni visual, sains, akting, dan bidang lainnya. Dukungan tersebut membantu rasa penasaran berkembang menjadi keterampilan. Seiring waktu, minat yang terus diasah dapat menjadi kemampuan yang lebih menonjol.

Perjalanan Bakat Sherina Bermula dari Rasa Penasaran

Pengalaman Sherina Munaf menunjukkan bahwa bakat tidak selalu muncul dalam bentuk kemampuan yang sudah terlihat sempurna sejak awal. Saat masih kecil, Sherina memiliki banyak ketertarikan. Orang tuanya mengenalkan berbagai hiburan, tontonan, dan kegiatan seni yang memantik rasa penasaran, mulai dari menggambar, balet, piano, menyanyi, hingga tampil di depan orang lain.

Keinginannya mencoba berbagai bidang datang dari dirinya sendiri. Sherina melihat sosok lain menari atau berkarya, lalu merasa ingin melakukan hal serupa. Meski sang ibu sempat berharap ia fokus pada sekolah, kemauan Sherina tetap disalurkan melalui kegiatan yang sesuai.

Ia kemudian mengikuti les di tempat mendiang Elfa Secioria, musisi, guru, sekaligus salah satu sosok yang sangat menginspirasinya. Saat itu, Elfa sedang mencari penyanyi anak untuk membawakan kumpulan lagu dalam album Andai Aku Besar Nanti.

Pertemuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Sherina. Meski mulai berkarya sejak usia dini, ia tidak merasakan proses rekaman sebagai tuntutan pekerjaan.

“Aku rekaman tidak merasa seperti disuruh-suruh. Menyanyi pun rasanya senang dan itu terdengar dari suara serta ekspresiku saat masih kecil. Buatku, saat itu bukan karier, melainkan waktu-waktu eksplorasi,” kenangnya.

Kedua orang tuanya tidak hanya menyediakan kegiatan, tetapi juga mengamati apa yang ia jalani. Mereka mempertimbangkan manfaat edukatif dari setiap pengalaman, termasuk tontonan, permainan, pelajaran musik, dan kegiatan seni yang diikuti Sherina.

Peran orang tua sebagai contoh juga terasa kuat baginya. Sherina tumbuh melihat ayahnya memiliki ketertarikan pada musik dan pernah bermain dalam sebuah band. Namun, ia menegaskan bahwa anak tidak harus mewarisi kemampuan yang sama dari orang tuanya.

Ibunya, misalnya, tidak menganggap dirinya sebagai orang yang pandai bernyanyi. Meski begitu, Sherina tetap dikenalkan pada berbagai tontonan dan bentuk seni, termasuk film, balet, tarian tradisional, musik, serta pertunjukan lain yang membuatnya penasaran.

“Aku percaya bakat itu awalnya muncul dari minat. Kalau kita mencintai sesuatu, rasa penasaran akan muncul dan mendorong kita mencari tahu lebih banyak. Jadi, bukan masalah genetika atau bakat yang harus dicari-cari, tetapi apa kesukaan anak yang kemudian didorong, difasilitasi, dan didukung,” ungkap Sherina.

Kini, setelah menjalani mimpinya, Sherina juga ingin menjadi salah satu sosok yang dapat menginspirasi generasi berikutnya. Ia menyadari perjalanan kariernya turut dibentuk oleh guru, seniman, dan orang-orang yang berkarya lebih dulu.

Kesempatan bertemu 20 anak terpilih dalam Bebelac Little Star 2026 pun menjadi pengalaman yang ia nantikan. Bagi Sherina, berinteraksi dengan anak-anak yang memiliki ketertarikan besar terhadap bidangnya masing-masing terasa seperti kembali bertemu dengan sisi masa kecilnya.

Eksplorasi Juga Membentuk Karakter Anak

Manfaat mencoba banyak aktivitas tidak berhenti ketika anak menemukan bakat unggulannya. Proses tersebut ikut memberikan pengalaman yang berguna untuk perkembangan jangka panjang. Anak belajar bahwa perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Saat mengikuti latihan, tampil, atau berkompetisi, ia mungkin melakukan kesalahan, kalah, merasa kecewa, bahkan mempertanyakan kemampuannya sendiri.

Dengan pendampingan yang tepat, pengalaman tersebut membantu anak mengenal kekuatan dan bagian dirinya yang masih perlu dikembangkan. Ia belajar mengevaluasi, mengelola emosi, mencari cara lain, lalu mencoba kembali.

Menurut Ayoe, proses ini dapat membantu menumbuhkan resiliensi dan growth mindset. Anak perlahan memahami bahwa kemampuannya dapat berkembang melalui latihan serta kegagalan bukan akhir dari seluruh usahanya.

“Anak belajar mengenali kelebihan dan kekurangannya. Ketika ada sandungan, ia juga berlatih mengatur emosi, mencoba lagi, dan mencari cara lain. Kapasitas untuk jatuh lalu bangkit serta memiliki growth mindset ini akan terpakai ketika mereka dewasa,” paparnya.

Karakter tersebut tidak dapat diajarkan secara mendadak ketika anak sudah remaja atau dewasa. Fondasinya dibangun perlahan melalui pengalaman, interaksi, tantangan, dan dukungan yang diberikan sejak kecil.

Stimulasi Perlu Didukung Relasi Emosional dan Nutrisi

Eksplorasi membutuhkan energi, kesiapan fisik, serta kondisi anak yang mendukungnya untuk belajar dan berinteraksi. Ayoe menggambarkan stimulasi sebagai sesuatu yang membantu kemampuan anak bekerja, sedangkan nutrisi menjadi fondasi atau bahan bakarnya. Keduanya tetap perlu dilengkapi dengan relasi emosional yang positif.

Artinya, memaksimalkan bakat anak tidak cukup dilakukan dengan mengisi jadwalnya dengan berbagai kegiatan. Parents juga perlu memperhatikan kebutuhan makan, istirahat, kesehatan, serta kenyamanan emosinya.

Bebelac membawa pendekatan tersebut melalui kombinasi stimulasi bermakna dan dukungan nutrisi. Marketing Manager Bebelac, Ceasyalya Tahara, menjelaskan bahwa Bebelac NutriGreat+ dilengkapi tiga jenis serat, yaitu FOS, GOS, dan Inulin, dua kali DHA lebih tinggi, serta 0 gram sukrosa.

Menurut Alya, dukungan nutrisi diharapkan membantu anak memiliki kesiapan untuk menjalani berbagai pengalaman selama masa eksplorasi. “Bebelac percaya bahwa pencernaan merupakan salah satu fondasi tumbuh kembang si Kecil. Saat anak merasa nyaman, kesempatan untuk belajar, bergerak, dan bereksplorasi juga dapat dijalani dengan lebih energik,” jelasnya.

Pemberian produk tentu tetap perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan nutrisi anak, petunjuk penggunaan, dan saran tenaga kesehatan bila diperlukan. Produk nutrisi juga tidak menggantikan kebutuhan anak terhadap pola makan bergizi seimbang, istirahat, aktivitas fisik, dan interaksi yang hangat bersama keluarga.

Bebelac Little Star 2026 Membuka Ruang Eksplorasi Anak

Sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap proses tersebut, Bebelac kembali menghadirkan Bebelac Little Star 2026 untuk anak berusia 1 sampai 10 tahun.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk mencari anak yang sudah memiliki kemampuan paling menonjol. Bebelac Little Star juga menjadi ruang bagi anak untuk mencoba menunjukkan hal yang disukai, memperoleh pengalaman baru, bertemu lingkungan yang berbeda, serta membangun keberanian untuk mengekspresikan dirinya.

Ada enam kategori bakat yang dapat diikuti, yaitu menyanyi, menari, bermain musik, menggambar, olahraga, dan akting. Sejak pendaftar dibuka di awal Juli ini, Bebelac Little Star menghimpun lebih dari 900 video partisipasi dari berbagai daerah di Indonesia.

Tahun ini, sebanyak 20 anak akan dipilih sebagai Bebelac Little Stars. Mereka memperoleh kesempatan berkolaborasi bersama Sherina dalam sebuah video musik spesial. Pengalaman tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kesempatan tampil. Anak-anak juga dapat belajar menjalani proses kreatif, berinteraksi dengan orang baru, bekerja sama, serta semakin percaya diri dengan bidang yang mereka sukai.

Program Bebelac Little Star 2026 dapat diikuti melalui audisi online. Orang tua cukup merekam video singkat ketika si Kecil menunjukkan bakatnya dengan menyertakan produk Bebelac di dalam video.

Video dapat diunggah melalui Instagram atau TikTok dengan mencantumkan tagar #BebelacLittleStar dan #CerdasSosial. Informasi terbaru mengenai mekanisme, syarat, ketentuan, serta jadwal program dapat dilihat melalui Instagram @bebeclub dan TikTok @bebeclub.id.

Selain audisi online yang dapat diikuti keluarga dari seluruh Indonesia, rangkaian audisi juga diselenggarakan di lima kota, yaitu Palembang, Medan, Bandung, Bali, dan Makassar.

Kolaborasi bersama Alfamart turut digunakan untuk memperluas penyebaran informasi program. General Manager Marketing Alfamart, Yosia Andika Pakiding, mengatakan jaringan lebih dari 20.000 gerai Alfamart di berbagai daerah dapat membantu semakin banyak keluarga mengenal Bebelac Little Star 2026.

“Kami percaya di Indonesia masih banyak talenta anak yang belum sempat mendapat akses atau ruang untuk terlihat. Melalui informasi yang disampaikan di toko dan kanal komunikasi Alfamart, kami berharap kesempatan ini dapat menjangkau keluarga di lebih banyak daerah,” ungkap Yosia.

Berikan Kesempatan Sebelum Menentukan Hasilnya

Cara menemukan bakat anak bukan dengan menuntutnya segera unggul dalam satu bidang. Prosesnya dimulai ketika Parents memberikan kesempatan, mengamati dengan tenang, mendengarkan pendapat anak, serta menghargai setiap kemajuan kecilnya.

Anak mungkin belum menjadi penyanyi terbaik, belum menggambar dengan rapi, atau belum pernah memenangkan pertandingan. Namun, keberaniannya mencoba dan rasa senang yang terus muncul bisa menjadi petunjuk awal mengenai hal yang ingin ia kembangkan.

Kalau si Kecil sudah sering menyanyi di rumah, gemar menari setiap mendengar musik, suka menggambar, bermain peran, berolahraga, atau menunjukkan minat lain dengan penuh semangat, Parents dapat memberikan ruang baginya untuk tampil melalui Bebelac Little Star 2026.

Siapa tahu, pengalaman sederhana tersebut menjadi salah satu langkah yang membantu anak semakin percaya diri dan berani bersinar dengan caranya sendiri.

Follow Ibupedia Instagram