Balita Dibaca 4,968 kali

Cara Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 02 Januari, 2019 03:01

Cara Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak
Menghadapi kelakuan anak kecil memang tidak mudah ya, Bun. Baru saja ia berlari-lari keliling rumah sambil tertawa riang, eeh semenit kemudian dia sudah menangis menjerit-jerit sambil melemparkan mainan ke dinding. Kalau sudah begitu, baru deh Bunda kalang kabut mendiamkan si kecil yang rewel.

Terkadang, para Ibu yang tidak mengetahui penyebab anaknya menangis malah memarahi atau memberikan reaksi yang justru membuat anak makin histeris. Apalagi jika sang buah hati heboh ketika berada di ruang publik, bisa membayangkan donk malunya Bunda seperti apa?

Oleh karena itu, para orang tua harus mendidik anaknya agar memiliki kecerdasan emosional sedari dini untuk menghindari ketidakstabilan emosi si kecil. Keluarga adalah lingkaran pertama serta lingkungan terbaik bagi anak untuk mempelajari bagaimana mengelola emosi serta menenangkan diri sendiri. Pasalnya, keluarga memberikan rasa aman tinggi yang sangat dibutuhkan anak kecil.

Dalam buku yang berjudul Raising an Emotionally Intelligent Child, psikolog John Gottman mengatakan bahwa jika Anda membantu si kecil memahami dan mengatasi perasaan seperti marah, frustasi, serta rasa kecewa mendalam, maka secara otomatis Bunda telah mengajarkan tentang kecerdasan emosional pada anak.

Lebih lanjut lagi, Gottman juga menyatakan bahwa anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi lebih mudah mengelola perasaan serta menenangkan dirinya dari perilaku temperamental. Tak hanya itu, anak juga akan lebih baik dalam memahami serta berkomunikasi dengan orang lain sehingga ikatan pertemanan pun terjalin lebih erat dibanding mereka yang memiliki kecerdasan emosi rendah.

Lalu, bagaimana kalau anak saya memang tipe pendiam yang tak suka berteman dengan banyak orang? Well, jika hal tersebut memang alasan Bunda membiarkan si kecil tak banyak bergaul, maka sah-sah saja. Namun, memiliki perahabatan yang luas akan membantu si kecil menumbuhkan kecerdasan emosionalnya lho, Bun. Anak pun akan semakin timbul rasa percaya diri, penuh tanggung jawab, serta dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang sukses berbekal hubungan interpersonal. Itu berarti, bagaimana cara Bunda menangani anak saat ia masih kecil akan sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya di masa depan.

Hmm, lalu bagaimana agar kecerdasan emosional sang buah hati dapat berkembang? Gottman ternyata telah mengembangkan suatu strategi yang ia sebut dengan emotion coaching yakni langkah-langkah yang dapat Anda ajarkan pada si kecil agar ia belajar menganalisa perasaannya serta mengatasi konflik. Ini dia cara-cara yang Gottman coba kembangkan:

Mengakui perasaan anak

Ini pelajaran bagus bagi para Ibu yang suka sebal saat anaknya histeris karena persoalan sepele. Apabila Bunda mengatakan, "Duh, masak begitu saja kamu nangis sih?" saat sang buah hati heboh karena ujung krayonnya patah, maka bisa saja ia malah makin marah dan membanting krayon tersebut.

Jauh lebih baik jika Bunda memberi komentar seperti, "Iya, sedih ya nak kalau krayonnya patah? Kamu sedih, kan?" Setelah mengakui perasaan si kecil, maka langkah selanjutnya adalah memberi tahu anak bahwa reaksinya terlalu berlebihan dan tidak pantas.

Mendengarkan dengan penuh empati

Terkesan mudah, namun seringkali orang tua lupa. Hayo jujur, seberapa sering Bunda cuek saat si kecil sedang menjelaskan hasil gambarannya atau saat asik bercerita mengenai hal-hal yang menurut orang dewasa konyol? Seberapa pun sibuknya Bunda, sekali-kali cobalah fokus pada cerita sang anak. Tatap matanya dengan antusias dan tidak hanya berpura-pura mendengarkan.

Biasanya si kecil mulai suka berulah saat Bunda memiliki momongan baru. Orang tua yang dianggap kurang adil dalam memberikan perhatian akan membuat anak merasa kesal bukan main. Jahil, suka berteriak, segala cara ia lakukan untuk menarik perhatian Bunda yang tersita sepenuhnya oleh si bungsu.

Saat anak berulah, coba tanyakan padanya, "Kamu marah soalnya Mama asik main sama adik terus, ya?" Ketika anak mengangguk, maka peluk dia sambil berkata, "Iya kamu benar, mama memang terlalu sibuk sama adik bayi." Dengan cara ini, anak akan akan merasa dihargai. Sebaiknya, Bunda juga menceritakan kisah masa lalu dimana Anda sempat merasakan ketidakadilan dari kakek. Harapannya, si kecil akan memahami bahwa rasa cemburu atau kemarahan btersebut juga dialami oleh orang lain. Perlahan-lahan, anak pun akan belajar untuk merelakan rasa sedih atau marahnya.

Memberi contoh dengan bersikap tenang

Jika anak marah, maka jangan sekali-kali ikut berbalik marah apalagi sampai mengatakan, "Kamu nakal sekali, Mama sudah nggak sanggup!" Aduh, kalau begitu yang ada si kecil malah makin menjadi-jadi lho marahnya. Lebih baik Bunda menimpali kemarahan anak dengan komentar, "Mama sedih lho lihat kamu kasar begitu."

Metode tersebut akan menunjukkan pada anak bahwa yang salah adalah perilakunya, bukan dirinya. Ketika Anda memarahi anak dengan kritikan yang berlebihan, maka bisa jadi si kecil akan kehilangan rasa percaya diri. Tegaskan betapa Bunda sangat mencintainya, hanya saja Anda kecewa dengan perilaku sang buah hati.

Gunakan konflik untuk mengajarkan cara memecahkan masalah

Ketika anak Anda sednag bertengkar dengan kakak atau teman sepermainannya maka berikan ia batasan sejauh mana ia boleh marah dan arahkan anak menuju solusi. Misalnya saja dengan berkata, "Iya Bunda tahu kalau kamu marah karena si kakak pinjam selimutmu, tapi kamu tetap nggak boleh memukul kakak, lho. Apa ada cara lain yang bisa kamu lakukan tiap sedang kesal?" Berikan ia waktu berpikir, namun jika si kecil tidak menemukan solusi, maka Bunda harus turun tangan memberikan opsi.

Lynne Namka, seorang spesialis anger management menyarankan para Ibu untuk menyuruh anak-anak mereka mengecek rahang atau genggaman tangannya apakah sedang dalam posisi rapat (persis ketika orang sedang marah). Lalu, suruh anak untuk 'menghembuskan kemarahannya keluar' dari tubuh dengan cara bernafas dalam-dalam. Harapannya anak akan merasa lebih baik dengan kontrol penyembuhan yang ia lakukan sendiri.

Selanjutnya, Namka menyarankan Bunda agar menyuruh si kecil mengeluarkan suara keras demi melampiaskan emosi. Jika ia marah pada sang kakak, maka ia bisa mulai dengan perkataan seperti, "Aku marah kalau kamu ambil selimutku!" Hal terpenting dari cara ini adalah memberi tahu anak bahwa marah adalah sesuatu yang wajar asalkan ia tidak sampai melukai orang lain karenanya.

Selain itu, Bunda juga dapat membantu menumbuhkan kecerdasan emosi si kecil dengan cara memberi tahu ia tentang berbagai jenis perasaan. Ketika anak terlihat sedih atau mengamuk saat ia tidak diperbolehkan main sepeda di taman, maka katakan, "Adik sedih ya tidak boleh pergi?" Jika Bunda tidak dapat menangkap motif di balik rasa marah anak, maka cobalah untuk mengingat ulang hal-hal yang terjadi kemarin atau lebih teliti lagi dalam mengobservasi kejadian di sekitar si kecil.

Tak hanya itu, Bunda juga sebaiknya sekali-kali menunjukkan emosi sebagai manusia. Saat Anda sedang kesal karena kehilangan kunci mobil misalnya, maka jangan segan menunjukkan gurat sebal di muka Anda. Namun, beri ia contoh bahwa Bunda tidak perlu menangis atau marah-marah saat sedang menghadapi masalah. Dengan begitu, si kecil akan belajar bahwa semua orang memiliki perasaan serta setiap permasalahan memiliki solusinya.
(Yusrina)