Last update on .

Difteri, Penyakit Akibat Bakteri Yang Sebabkan Kematian

Difteri merupakan infeksi bakteri yang menyebar dengan mudah dan terjadi dengan cepat. Utamanya, difteri menyerang hidung dan tenggorokan. Anak di bawah usia 5 tahun serta orang dewasa usia lebih dari 60 tahun lebih berisiko terkena infeksi difteri. Orang yang tinggal di lingkungan terlalu padat dan tidak bersih, mereka yang tidak mendapat nutrisi mencukupi serta anak dan orang dewasa dengan imunisasi yang tidak diperbaharui juga berisiko.

 

Difteri Pada Anak

Bakteri difteri bisa masuk ke tubuh anak melalui hidung dan mulut. Bakteri juga bisa masuk melalui kulit yang terluka. Infeksi menyebar melalui cairan yang mengandung bakteri difteri dari orang yang terinfeksi ketika batuk, bersin, atau tertawa.

 

Gejala difteri pada anak terjadi 2 sampai 4 hari setelah kontak dengan bakteri. Gejala bisa berbeda pada tiap anak tapi paling umum berupa:

  • Sakit tenggorokan
  • Suara serak
  • Sulit bernafas
  • Pembesaran kelenjar pada leher
  • Demam
  • Terdengar suara ketika bernafas
  • Hidung berair
  • Detak jantung meningkat
  • Bangkak pada langit-langit mulut.

 

Gejala difteri bisa mirip seperti kondisi kesehatan lain. Pastikan anak diperiksa dokter untuk didiagnosa. Dokter akan bertanya tentang gejala yang dialami anak dan riwayat kesehatannya. Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap anak. Dokter bisa juga mengambil kultur dari mulut untuk memastikan diagnosa.

 

Tanda Dan Gejala Difteri

Pada tahap awal, difteri bisa mirip dengan sakit tenggorokan yang berat. Demam tingkat rendah serta kelenjar leher yang bengkak jadi gejala awal lainnya. Racun, yang disebabkan oleh bakteri bisa memicu lapisan tebal atau membran di hidung, tenggorokan, serta jalan udara, yang membuat infeksi difteri berbeda dengan infeksi lain yang lebih umum yang menyebabkan sakit tenggorokan. Lapisan membran ini biasanya berwarna abu atau hitam dan bisa menyebabkan masalah pernafasan serta kesulitan menelan.

 

Ketika infeksi difteri meningkat, seseorang bisa:

  • Kesulitan bernafas atau menelan
  • Kulit pucat dan dingin, detak jantung cepat, berkeringat dan mengeluhkan masalah penglihatan
  • Bicara tidak jelas

Pada kasus yang melebihi infeksi tenggorokan, racun difteri menyebar melalui aliran darah dan bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam keselamatan dan mempengaruhi organ lain seperti jantung dan ginjal. Racun bisa menyebabkan kerusakan pada jantung dan mempengaruhi kemampuannya untuk memompa darah atau kemampuan ginjal untuk membersihkan kotoran. Racun juga dapat menyebabkan kerusakan saraf dan perlahan memicu kelumpuhan. Hingga 40 sampai 50 persen penderita difteri yang tidak diobati meninggal dunia.

 

Pencegahan Difteri

Pencegahan difteri bergantung hampir sepenuhnya pada pemberian vaksin diphtheria/tetanus/pertussis pada anak (DPT) dan DPT pada orang dewasa. Setelah pemberian satu tetes DPT, orang dewasa harus menerima suntikan vaksin susulan difteri/tetanus (Td) tiap 10 tahun. Kebanyakan kasus difteri terjadi pada orang yang belum menerima vaksin sama sekali. Vaksin DPT juga direkomendasikan pada semua wanita hamil, termasuk yang sudah atau belum menerima vaksin sebelumnya.

 

Jadwal imunisasi difteri:

  • Vaksin DPT pada usia 2, 4, dan 6 bulan
  • Dosis booster diberikan pada usia 12 hingga 18 bulan
  • Dosis booster kembali diberikan pada usia 4 sampai 6 tahun
  • Vaksin DPT diberikan pada usia 11 sampai 12 tahun
  • Suntikan booster DPT diberikan tiap 10 tahun setelahnya untuk menjaga pelindungan
  • Vaksin DPT selama kehamilan

Kadang vaksin menyebabkan efek samping ringan seperti kemerahan atau bengkak di area suntik, demam rendah, atau rewel. komplikasi yang parah, seperti reaksi alergi, jarang terjadi.

 

Bunda, vaksin yang Anda dapat sebelum dan selama hamil tidak hanya berperan penting dalam melindungi kesehatan Anda tapi juga kesehatan bayi. Kekebalan Anda jadi garis pertahanan pertama bayi terhadap penyakit serius tertentu. Jadi bila Anda hamil atau berencana hamil, sekarang waktunya untuk memastikan vaksin Anda diperbaharui.

 

Tapi tidak semua vaksin aman selama hamil. Vaksin terdiri dari 3 bentuk; virus hidup, virus mati, dan toksoid (protein kimia yang tidak berbahaya dan diambil dari bakteri). Wanita hamil tidak boleh menerima vaksin dari virus hidup seperti vaksin kombinasi measles, mumps, dan rubella (MMR), karena ada kemungkinan bahaya pada janin. Vaksin yang dibuat dari virus mati seperti vaksin flu dan vaksin toksoid seperti DPT dianggap aman.

 

Faktor Risiko Difteri

Anak-anak di Amerika Serikat dan Eropa secara rutin menerima vaksin difteri, sehingga kondisi ini jarang terjadi di negara-negara ini. Tapi sayangnya, difteri masih umum terjadi di negara berkembang dimana tingkat imunisasi masih rendah. Di negara seperti ini, anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa lebih dari usia 60 tahun berisiko terkena difteri.

 

Orang juga berisiko lebih tinggi terkena difteri bila mereka:

  • Mengunjungi negara yang tidak menyediakan imunisasi
  • Tidak memperbaharui vaksin yang diterima
  • Memiliki gangguan sistem kekebalan, seperti AIDS
  • Tinggal di lingkungan padat dan tidak bersih.

 

Penularan Difteri

Difteri sangat menular. Difteri dengan mudah ditularkan dari orang yang terinfeksi ke orang lain melalui bersin, batuk, atau bahkan tertawa. Bakteri juga bisa menyebar ke orang yang mengambil tissu atau gelas minuman yang telah digunakan oleh orang yang terinfeksi.

 

Orang yang terinfeksi bakteri difteri, meski tidak menunjukkan gejala, bisa menginfeksi orang lain selama hingga 4 minggu. Masa inkubasi (waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menjadii terinfeksi setelah terpapar) untuk difteri adalah 2 hingga 4 hari, meski bisa bervariasi dari 1 sampai 6 hari.

 

Penanganan Difteri

Anak dan orang dewasa dengan difteri perlu ditangani di rumah sakit. Setelah dokter mengonfirmasi diagnosa melalui kultur tenggorokan, orang yang terinfeksi menerima anti racun khusus, yang diberikan melalui suntikan atau infus, untuk menetralisir racun difteri yang sudah bersirkulasi di tubuh, serta antibiotik untuk membunuh bakteri difteri yang masih ada.

 

Bila infeksi bersifat serius, orang dengan difteri membutuhkan alat bantu bernafas. Pada kasus dimana racun telah menyebar ke jantung, ginjal, atau sistem saraf pusat, pasien membutuhkan cairan infus, oksigen, atau obat jantung. Orang dengan difteri harus diisolasi. Anggota keluarga yang belum diimunisasi atau berusia sangat kecil atau manula, harus dilindungi dari kontak dengan pasien.

 

Perawatan di rumah sakit dan segera menerima pertolongan medis membuat kebanyakan pasien bisa sembuh dari difteri. Setelah antibiotik dan anti racun bekerja, orang dengan difteri harus bed rest selama 4 sampai 6 minggu atau hingga sembuh. Bed rest khususnya penting bila seseorang mengalami myocarditis (peradangan pada otot jantung) yang merupakan komplikasi dari difteri.

 

Ingat ya Bun, difteri merupakan penyakti serius yang membutuhkan perawatan rumah sakit di ICU bila penderita mengalami gejala pernafasan.

 

  1. Antitoxin

    Langkah paling umum dalam penanganan difteri adalah pemberian anti racun difteri. Anti racun ini dibuat dari serum kuda dan bekerja dengan menetralisir eksotoksin yang beredar di tubuh. Dokter pertama akan memeriksa pasien apakah sensitif terhadap serum hewan.

     

    Dosis antitoxin bervariasi dari 20,000 sampai 100,000 unit, bergantung  keparahan dan panjang waktu gejala terjadi sebelum pengobatan. Anti racun difteri biasanya diberikan melalui infus.

     

  2. Antibiotik

    Antibiotik diberikan untuk menghilangkan bakteri, mencegah penyebaran penyakit, dan melindungi penderita difteri dari pneumonia. Antibiotik tidak menggantikan pengobatan dengan antitoksin. Baik orang dewasa maupun anak kecil bisa diberikan penicillin, ampicillin, atau erythromycin.

     

    Erythromycin lebih efektif dibanding penicillin dalam mengobati pembawa difteri karena penetrasi yang lebih baik ke area yang terinfeksi. Difteri kulit biasanya ditangani dengan membersihkan luka menggunakan sabun dan air dan pemberian antibiotik selama 10 hari.

     

  3. Perawatan pendukung

    Orang dengan difteri membutuhkan bed rest disertai perawatan intensif, termasuk monitoring untuk masalah jantung, sumbatan jalan udara, atau gangguan pada sistem saraf yang mungkin terjadi. Orang dengan difteri laring ditempatkan di lingkungan yang tinggi kelembabannya, dan kadang membutuhkan penghisapan tenggorokan atau bedah darurat bila jalan udara tersumbat.

     

    Orang yang sedang dalam masa penyembuhan dari difteri harus beristirahat di rumah selama setidaknya 2 sampai 3 minggu, terutama bila mengalami komplikasi jantung. Mereka yang telah sembuh dari difteri masih perlu menerima vaksin difteri untuk mencegahnya kembali datang karena tidak ada jaminan kekebalan seumur hidup dari penyakit ini.

     

Segera hubungi dokter bila salah satu anggota keluarga mengalami gejala difteri, ada yang terpapar difteri, atau keluarga Anda berisiko difteri. Penting untuk diingat, kebanyakan infeksi tenggorokan bukan difteri, terutama di negara yang memiliki jadwal rutin imunisasi difteri.

 

Datang ke dokter bila Anda tidak yakin kalau si kecil telah menerima vaksin difteri. Juga pastikan imunisasi booster Anda diperbaharui. Penelitian menunjukkan orang dewasa lebih dari usia 40 tahun tidak terlindungi dari difteri dan tetanus.

 

Pencegahan Komplikasi

Pasien dengan difteri dan mengalami myocarditis bisa ditangani dengan oksigen dan obat untuk mencegah ritme jantung yang tidak beraturan. Pasien dengan kesulitan menelan bisa diberi makan melalui selang yang dimasukkan ke perut melalui hidung. Orang yang tidak bisa bernafas biasanya dipasangi alat bantu nafas mekanis.

 

Beberapa Tipe Difteri

Tanda dan gejala diteri sangat bergantung  pada lokasi infeksi.

 

  1. Difteri nasal (Difteri pada rongga hidung bagian depan)

    Difteri nasal menghasilkan beberapa gejala selain kotoran yang berdarah dan encer. Pada saat pemeriksaan, ada membran kecil yang terlihat pada saluran nasal. Infeksi nasal jarang menyebabkan komplikasi, tapi menjadi masalah kesehatan yang umum karena penyebaran penyakit ini lebih cepat dibanding difteri bentuk lainnya.

     

  2. Difteri faring

    Pharyngeal diphtheria menyerang faring, yakni bagian dari tenggorokan atas yang menghubungkan mulut dan saluran nasal dengan kotak suara. Difteri faring merupakan bentuk difteri paling umum, yang menyebabkan karakteristik membran tenggorokan. Membran sering berdarah bila tergores. Jangan mengeluarkan membran karena trauma bisa meningkatkan penyerapan tubuh terhadap eksotoksin. Tanda dan gejala lain dari difteri faring adalah sakit tenggorokan ringan, demam di suhu 38 derajat, detak jantung cepat, dan tubuh terasa lemah.

     

  3. Difteri laring

    Laryngeal diphtheria, melibatkan kotak suara atau laring, menjadi bentuk yang paling mungkin menyebabkan komplikasi serius. Demam biasanya lebih tinggi pada difteri bentuk ini (39 sampai 40 derajat celsius) dan penderita menjadi sangat lemah. Orang bisa mengalami batuk berat, kesulitan bernafas, dan kehilangan suara. Gangguan jalan udara dapat menyebabkan masalan pernafasan dan kematian.

     

  4. Difteri kulit

    Bentuk difteri ini kadang disebut cutaneous diphtheria, terjadi sekitar 33 persen dari semua kasus difteri. Difteri kulit terutama ditemukan pada orang dengan kebersihan yang buruk. Luka pada kulit bisa menjadi terinfeksi difteri. Jaringan yang terinfeksi berkembang dan membran difteri terbentuk pada luka, meski tidak selalu ada. Luka lambat sembuh dan bisa menjadi kebas atau tidak sensitif ketika disentuh.

     

Obat Rumahan Untuk Mengatasi Difteri

Beberapa obat rumahan untuk difteri antara lain jus bawang, garam meja, dan asap tembakau. Ada banyak lagi obat rumahan yang bisa dicoba. Banyak negara masih berusaha menanggulangi penyakit ini yang merupakan penyakit bakteri akut yang mempengaruhi tenggrokan, hidung, serta kulit.

 

Untungnya, ada beberapa penanganan serta obat rumahan sederhana yang telah berhasil menyembuhkan penyakit ini. Berikut beberapa obat ala rumahan yang bisa Anda coba bila mengalami difteri.

 

  1. Jus bawang putih

    Bawang putih dikenal dapat menyembuhkan banyak penyakit mematikan. Untuk menjadikan bawang putih obat difteri, ambil satu sendok dari 2 sampai 3 siung bawang putih yang telah dihancurkan. Kunyah di mulut sebentar kemudian telan. Terus ulangi cara ini beberapa kali.

     

  2. Asap tembakau

    Gunakan pipa tembakau, hirup asapnya ke mulut, dan tarik ke lubang hidung. Proses ini aman dan mudah dilakukan untuk menurunkan gejala difteri.

     

    Merokok berbahaya bagi kesehatan. Menghisap tembakau sebagai obat difteri hanya digunakan pada jangka waktu pendek saja. Merokok tembakau hanya sebagai pilihan pengobatan, bukan solusi preventif dan permanen.

     

  3. Campuran herbal

    Buat pasta dari campuran daun kastor, bawang puting, dan daun kelor. Setelah pasta siap, biarkan penderita difteri menghirupnya. Anda juga bisa berkumur dengan pasta ini menggunakan air hangat.

     

  4. Kulit kayu mangga

    Kulit kayu mangga efektif mengobati difteri. Cairan yang diekstrak dari kayu mangga bisa digunakan pada tenggorokan dari bagian luar. Cairan ini juga bisa digunakan sebagai obat kumur. Campurkan 10 ml jus kayu mangga di gelas air hangat untuk berkumur.

     

  5. Garam meja

    Garam biasanya jadi pilihan tepat untuk sakit tenggorokan. Cukup minum segelas air dengan campuran garam. Campuran garam dan air ini akan membantu menurunkan efek difteri, juga mengatasi masalah pernafasan yang biasanya terjadi karena kurangnya garam pada tubuh.

     

  6. Jus lemon

    Lemon dikenal memiliki kandungan detoksifikasi, karena kandungan potasium yang tinggi. Bakteri difteri bisa hancur dengan konsumsi jus lemon. Minum satu gelas air dicampur dengan 1 sampai 2 sendok teh perasan lemon segar.

     

  7. Jus jeruk

    Pasien difteri perlu minum jus jeruk karena kandungannya dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan membantu membunuh bakteri.

     

  8. Pepaya mentah

    Buat jus dari pepaya mentah. Tambahkan satu sendok teh jus pepaya pada satu sendok teh madu di satu gelas air untuk berkumur. Ini untuk mengatasi membran dan mencegah infeksi menyebar.

     

  9. Nanas segar

    Nanas segar juga dianggap sebagai pilihan obat efektif untuk meningkatkan dan memperbaiki sistem kekebalan.

     

Pasien difteri mungkin kesulitan makan makanan padat, jadi perlu diberikan makanan yang lunak. Jangan lupa Bun, cuci tangan secara teratur dan jaga pola makan sehat dilengkapi dengan suplemen.

(Ismawati)