Balita

Efek Negatif Jika Suka Membandingkan Anak

Terakhir diperbaharui

Efek Negatif Jika Suka Membandingkan Anak

Ayo siapa yang sering membanding-bandingkan anak? Meski kita mencoba menghindari pertanyaan, “Apakah bayimu sudah bisa melakukan ini atau itu?”, tapi tetap saja, kadang ada momen-momen di mana kita penasaran dan akhirnya menanyakan pertanyaan itu ke teman-teman kita.

 

Menurut Kathy Seal, penulis buku Pressured Parents, Stressed-out Kids: Dealing With Competition While Raising a Successful Child, membandingkan anak merupakan insting survival manusia.

 

Orangtua cenderung mendorong anak untuk berkompetisi. Terlebih lagi di zaman dulu nenek moyang kita harus cukup kuat untuk memperoleh makanan atau bebas dari bahaya binatang buas. Juga wajar bila kita ingin anak memiliki berbagai kemampuan, jadi kita membandingkannya untuk memastikan. Meski normal, membandingkan anak juga bisa menimbulkan stres. Ditambah lagi, membandingkan anak menghalangi apresiasi terhadap apa yang sudah dicapai anak.

 

Membandingkan waktu tidur anak

Pernah nggak Bunda nanya ke teman, pertanyaan ini “Apakah bayimu tidur sepanjang malam?” hanya untuk memastikan apakah pola tidur anak kita normal atau tidak. Moms, beberapa bayi bisa tidur lelap sepanjang malam, tapi ada juga bayi yang selalu terbangun dalam beberapa menit. Ketika bayi Anda tidak bisa tidur sepanjang malam dan bayi teman Anda bisa tidur sepanjang malam, pasti Anda jadi merasa insecure.

 

Seperti tumbuh-kembang anak di area lainnya, pola tidur anak juga bervariasi. Strategi yang mungkin berhasil diterapkan pada satu anak, bisa gagal diterapkan pada anak lain. Jadi nggak jarang banyak ibu yang depresi kenapa anaknya nggak bisa tidur sepanjang malam meskipun sudah mengaplikasikan tips-tips yang didapat dari teman atau kerabat.

 

Membandingkan perilaku anak

Seperti warna mata, sikap kepribadian juga bersifat bawaan lahir. Tapi kadang sulit untuk menahan rasa malu ketika si kecil menangis histeris di perpustakaan atau menolak bertemu orang baru. Begitu juga ketika mengajak anak ke restoran, anak lain duduk dengan tenang di kursinya, tapi anak Anda berperilaku seperti terjebak di penjara. Bagaimana bisa anak lain tenang dengan krayonnya sedang anak Anda malah melempar-lempar krayonnya?

 

Yang perlu Anda ingat, tidak semua bagus seperti yang terlihat. Bisa jadi anak yang sangat manis di depan umum ternyata sulit diatur di rumah. Tentu Anda perlu mendisiplinkan anak ketika ia melakukan sesuatu yang bersifat destruktif atau berbahaya.

 

Tapi untuk masalah kepribadian anak, sikap kita yang bisa menerima anak apa adanya bisa menjadi kuncinya. Bila Anda adalah orang yang senang bergaul dan si anak pemalu, atau bila Anda suka olahraga tapi anak tak suka bermain bola, Anda perlu belajar memahami dan menghargai kepribadiannya.

 

Bunda, tak ada manfaatnya membuang waktu membandingkan anak. Tentu Anda ingin buah hati tumbuh percaya diri dan unik, bukan?

 

Efek negatif membandingkan anak

Membandingkan anak jadi pendekatan yang umum untuk memastikan apakah pencapaian anak normal atau tidak. Kita suka membandingkan perkembangan anak dengan anak lain, lalu menilai sendiri apakah perkembangan anak kita normal, lebih baik, atau sempurna dibanding anak-anak seusianya. Kemudian, tanpa sadar, kita menggunakan kemampuan anak lain sebagai patokan untuk memotivasi anak sendiri. Misalnya, “Lihat, itu teman kamu udah bisa pipis sendiri lho di kamar mandi” atau “Itu teman kamu udah bisa membaca.”

 

Anda tentu tidak bermaksud menyakiti si kecil, tapi tanpa sadar kata-kata ini sangat berbahaya. Membandingkan anak dengan anak lain sebenarnya membuat Anda dan anak merasa stres, tapi dorongan untuk melakukannya tidak bisa ditolak

 

Kadang tujuan dibalik membandingkan anak dengan anak lain adalah untuk memancing kompetisi pada anak dan mendorong anak melakukan sesuatu dengan kemampuannya dan unggul. Kompetisi merupakan dorongan untuk pencapaian anak. Tapi apakah ini berhasil untuk anak?

 

Tidak ada dua anak yang sama, mereka punya bakat dan minat berbeda, mengembangkan tingkat yang berbeda dan punya kekuatan berbeda. Orangtua bisa membangun atau menghancurkan rasa percaya diri anak. Mengungkapkan rasa tidak senang karena pencapaian yang buruk bukan hal yang tepat. Berikut ini yang perlu Anda tahu tentang efek negatif dari membandingkan anak:

 

  1. Stres

    Anak merasa terbebani bila ia terus dibandingkan. Tugas Anda adalah bukan menekannya untuk melakukan sesuatu dan membuatnya cemas. Duduk dan bicaralah pada anak bila ada sesuatu yang mengganggunya yang mempengaruhi prestasinya. Temukan solusi bersama.

     

  2. Rasa percaya diri rendah

    Anak mulai percaya kalau orang lain lebih baik dibanding dirinya dan ia tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik atau memenuhi harapan orangtua. Perasaan ini sangat merusak kepribadian dan pertumbuhan akademik anak.

     

  3. Tidak menghargai diri sendiri

    Bila ia masih mendengar kata-kata Anda yang meminta ia untuk mengikuti anak lain agar berprestasi baik, ini akan menghancurkan rasa percaya dirinya. Ini bisa menghancurkan performanya di masa mendatang.

     

  4. Menghindari situasi sosial

    Bila anak terus dibandingkan, maka ia mulai menghindari interaksi publik bersama Anda.

     

  5. Membangun perilaku tidak bersemangat

    Bila bakat dan prestasi anak terus diabaikan, maka ia tidak lagi bersemangat karena Anda dengan jelas membandingkannya dengan anak lain yang punya prestasi lebih.

     

  6. Menekan bakat anak

    Anak menghabiskan lebih banyak waktu membuat lukisan sedangkan Anda ingin ia berlatih badminton, anak menghadapi dilema. Bila bakat melukisnya tidak diapresiasi dan ia setengah hati berlatih badminton, ia kemungkinan tidak memperoleh prestasi yang baik. Perlahan bakat melukisnya tidak punya ruang untuk berkembang dan akan hilang.

     

  7. Jauh dari Anda

    Jelas, anak diperlakukan secara negatif dengan dibandingkan dengan saudara kandung, sepupu, teman, atau tetangganya. Ini menjadi bukti kalau sesuatu tentang dirinya tidak bisa Anda terima dan Anda tidak senang dengannya. Anda menjadi sumber rasa sakit baginya dan ia akan menjaga jarak dari Anda. Ini bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan hilang kepercayaan pada Anda, yang bisa memicu masalah perkembangan dan perilaku ketika anak menjadi dewasa.

     

  8. Mendorong perselisihan saudara kandung

    Ketika Anda membandingkan anak, bukan dengan memberi pujian ke anak lain tapi pada saudara kandungnya,  mulai muncul kebencian pada saudara kandungnya sendiri. Ini bisa memicu anak berperilaku agresif, mengejek, dan bahkan saling memukul. Anda juga menyampaikan pesan kalau anak dengan prestasi lebih baik lebih disayang dan dicintai. Sebagai akibatnya, anak mulai mengecilkan dirinya sendiri.

     

  9. Menyebabkan keraguan pada diri sendiri

    Bila kita diberitahu kalau kita tidak bagus dalam bidang tertentu dan ada orang lain yang lebih bagus, perlahan tapi pasti, keraguan pada diri sendiri akan tumbuh. Begitu juga dengan anak. Anak menjadi tidak yakin apakah bisa jadi lebih baik. Tugas sebagai orangtua adalah mendorong tiap langkah yang anak ambil, bukan mengingatkan mereka anak lain lebih terdepan.

     

  10. Kecemburuan

    Bila Anda terus membandingkan anak, ia mulai mengalami kecemburuan yang ekstrim. Bisa pada anak tetangga, teman sekelas, sepupu, dan seterusnya. Kecemburuan bukan perasaan yang sehat dan kecemburuan ini bisa menimbulkan kebencian bahkan agresi.

    Ketika orang lain selalu dianggap lebih baik, anak mulai berpikir negatif, “Kenapa saya harus mencoba bila selalu tidak dianggap?” Bukannya mencoba tugas dan tantangan baru dengan semangat positif, asumsi anak tentang dirinya dan hasil dari apa yang ia lakukan bisa negatif.

     

  11. Anak tumbuh menjadi orang dewasa yang cemas dan gelisah

    Orangtua yang membandingkan anak akan perlahan membuat anak merasa cemas dan gelisah. Anak bisa menjadi berlebihan fokus untuk menyenangkan hati orangtua dan akan terus merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Perlahan anak kehilangan rasa percaya diri dan otonomi.

 

Bunda, menjadi orangtua merupakan tugas paling sulit di dunia dan tidak ada yang namanya orangtua ideal. Tapi kita adalah orangtua pertama untuk anak. Kita adalah orang yang mereka cari ketika mereka merasa down. Jadi tugas kita untuk berperan sebaik mungkin untuk membantu anak tumbuh di lingkungan yang positif. Beritahukan setiap hari ke anak kalau ia sangat spesial.

 

Efek membandingkan anak dengan saudara kandungnya di masa depan

Gaya pengasuhan bisa mempengaruhi seperti apa anak tumbuh nantinya, tapi selain tindakan, cara orangtua berpikir tentang anak juga bisa memberi dampak. Peneliti dari Brigham Young University menemukan fakta tentang cara orangtua mengekspresikan persepsi tentang anak. Hasil dari penelitian ini, yang diterbitkan di Journal of Family Psychology, mendorong orangtua untuk berhenti membandingkan anak dengan anak lain sebelum menyebabkan bahaya seumur hidup.

 

Keyakinan orangtua terhadap anak bisa mempengaruhi seperti apa anak nantinya. Profesor Alexander Jensen dari Brigham Young University mengatakan, sulit bagi orangtua untuk tidak melihat atau berpikir tentang perbedaan diantara anak-anak meraka. Ini cukup wajar. Tapi untuk membantu semua anak agar sukses, orangtua perlu fokus pada mengenali kekuatan tiap anak dan berhati-hati secara vokal membandingkan anak di depan mereka.

 

Peneliti melihat 388 remaja dari 17 sekolah berbeda yang merupakan anak pertama dan anak kedua, serta orangtua mereka. Peneliti bertanya pada orangtua “Anak mana yang lebih baik di sekolah?” Kebanyakan orangtua berkata anak pertama lebih baik, padahal saudara kandungnya memiliki prestasi yang sama. Kenapa anak pertama dianggap lebih pintar ketika sebenarnya sama dengan anak kedua?

 

Ayah atau Bunda mungkin mengira anak pertama lebih cerdas karena mereka harus melakukan tugas yang lebih rumit di sekolah. Anak pertama kemungkinan belajar membaca lebih dulu serta menulis lebih dulu, dan ini membuat orangtua berpikir kalau anak pertama lebih mampu, tapi ketika si adik memasuki masa remaja, anggapan ini memicu si adik menjadi lebih berbeda. Pada akhirnya, adik yang dianggap kurang pintar cenderung berprestasi lebih buruk dibandingkan sang kakak.

 

Kakak yang dianggap lebih pintar mulai mencapai peran yang seharusnya. Ketika orangtua merasa yakin pada anak, ini seperti melepas tekanan dari mereka dan menempatkannya di pesaing terdekat, yakni si adik. Orangtua cenderung melihat si kakak lebih mampu, tapi rata-rata anak pertama tidak lebih baik di sekolah dibandingkan si adik. Jadi dalam hal ini penilaian orangtua yang tidak akurat. Orangtua juga cenderung mengira anak perempuan secara akademis lebih pintar dibanding anak laki-laki.

 

Selamatkan diri Anda dan anak Anda dari perilaku berkompetisi dan membandingkan. Jangan paksa anak untuk mengikuti kelas musik yang ia tidak suka, ia mungkin tertarik dengan olahraga. Biarkan ia mengikuti minatnya dan berhasil dengan pilihannya.

 

Rasa percaya diri Anda sebagai orangtua tidak boleh dihubungkan dengan performa Anda di sekolah atau di bidang olahraga. Ingat, Anda bukan anak Anda, dan selalu sadari hal ini, jangan mendorong anak melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan.

 

Ingat, tak ada siapa pun yang bisa jadi ibu sempurna atau anak sempurna dan bagus dalam semua bidang akademik, olahraga, dan lainnya. Tiap orang menghadapi tantangan berbeda dan situasi berbeda dari rumah ke rumah. Bila Anda pikirkan secara mendalam, dua anak Anda berbeda dalam kemampuan dan keterampilannya. Banggalah pada anak Anda, berikan mereka cinta dan bangun rasa percaya diri pada anak.

 

Memang terkadang kita tidak bisa menghindari membandingkan anak, seberapa pun kita sudah mencoba. Tapi yang sangat penting untuk diingat para orangtua, tiap anak memiliki minat dan hobi berbeda. Anak tumbuh dan menunjukkan kemampuannya serta memiliki kepribadian yang unik.

 

Membandingkan anak dengan cara yang positif

Kata-kata berikut langsung saja meluncur keluar dari mulut ibu, “Lihat ia lebih baik dari kamu, kenapa kamu tidak bisa lebih baik dari dia?” Kenapa kita membandingkan anak dengan yang lain? Meski kita berusaha menghindarinya, kita tetap melakukannya.

 

Apakah ini perilaku yang tidak bisa dihindari atau bisakah kita menolak dorongan untuk melakukannya? Perilaku membandingkan bersifat kontra produktif bagi siapa saja. Tapi ini lebih berat untuk anak. Anak adalah makhluk lembut dan mereka tidak terlalu bisa menerima kritik negatif. Dan bila kritik ini berupa memberi tahu mereka bagaimana orang lain lebih baik dibanding mereka, maka akan terasa lebih menyakitkan. Ini tidak berarti kita tidak boleh menjelaskan kesalahan mereka dan membantu memperbaikinya.

 

Tiap anak berbeda. Di saat ini, di mana kompetisi telah menyebar di tiap sendi kehidupan, membandingkan anak bukan hal yang membantu. Mereka perlu diajarkan untuk bisa lebih baik setiap hari, bukan lebih baik dibanding teman-temannya.

 

Wajar bila kita ingin tahu dimana posisi anak diantara anak-anak lain. Tapi menunjukkan seberapa baik anak lain dibandingkan anak Anda akan membuat buah hati Anda merasa inferior.

 

Berikut ini beberapa pendekatan yang lebih positif:

  • Tetapkan benchmark (tolok ukur), bukan membandingkan. Hargai usaha anak, meski bila nilai ulangannya lebih jelek dari sebelumnya. Ini membangun rasa percaya dirinya.
  •  
  • Dorong anak untuk mengatasi kelemahannya, tanyakan apakah anak membutuhkan bantuan. Berikan dukungan.
  •  
  • Berikan pujian untuk keunggulan yang dimiliki anak. Hargai apapun tugas yang ia lakukan dengan baik.
  •  
  • Hindari ekspektasi yang tidak realistis. Bila anak perempuan Anda ingin jadi penulis, jangan paksa ia untuk unggul dalam olahraga. Ia mungkin cerdas, tapi tidak memiliki minat membuatnya gagal untuk berhasil di bidang apapun.
  •  
  • Siapkan dukungan dan cinta tanpa syarat. Bila nilai anak tidak bagus, jangan buat ia merasa telah mengecewakan atau mempermalukan Anda. Selalu berikan dukungan ke anak. Dorong ia untuk berlatih lebih banyak dan selalu hargai usahanya di depan banyak orang.

 

Daripada membandingkan anak, cari cara untuk memperkenalkan keterampilan dan minat baru pada anak. Seperti ibu yang menunjukkan ke balitanya cara memotong pisang. Anda tak perlu memaksa balita untuk memotong pisang karena ia belum harus memotong makanannya sendiri. Yang bisa Anda lakukan adalah memberikan pisau plastik dan tunjukkan bagaimana serunya memotong buah kesukaannya.

 

Anda bisa lakukan pendekatan yang sama, jangan tonjolkan ketidakmampuan anak atau memaksanya untuk menjadi sempurna. Tapi perlahan perkenalkan dan latih bagaimana ia bisa menguasai kemampuan tertentu. Jadi lihat apa yang bisa dilakukan anak lain dan perkenalkan kemampuan ini pada anak, tapi jangan cemas bila ia tidak punya minat terhadap keterampilan yang Anda kenalkan.

(Ismawati)