Balita Dibaca 2,243 kali

Kenali Refluks dan GERD Lebih Jauh

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 17 Desember, 2018 23:12

Kenali  Refluks dan GERD Lebih Jauh
Gumoh sangatlah normal terjadi pada bayi setelah selesai menyusu, bahkan sesekali bayi suka muntah tanpa ada penyebab yang pasti. Namun ada beberapa bayi yang gumoh cukup sering. Kondisi seperti ini dinamakan refluks dan sebagian  besar bayi bisa mengatasinya setelah mereka berusia 1 tahun.

Tapi ketika bayi gumoh dalam jumlah banyak kemudian mempengaruhi pertumbuhannya, atau menyebabkan sakit tenggorokan serta masalah pernafasan, maka ini disebut gastroesophageal reflux disease atau GERD. Gejala lain bisa berupa batuk atau tersedak saat menyusu atau menunjukkan tanda kesakitan di area perut, seperti menekuk tubuh seperti busur, menarik kaki ke atas, dan bangun tidur dengan berteriak.

Jika bayi Anda gumoh dalam jumlah yang sedikit dan ia tidak terlihat merasa tidak nyaman serta tidak ada masalah pada berat badannya, Anda tidak perlu menghubungi dokter. Cukup sampaikan kondisi ini pada jadwal kunjungan Anda selanjutnya. Tapi bila Anda menganggap refluks yang dialami si kecil cukup mengkhawatirkan dan mengganggu bayi Anda serta mempengaruhi berat badannya, buatlah jadwal untuk bertemu dokter secepat mungkin.

Dokter akan memastikan apakah si kecil menderita GERD dan ia pasti akan membantu meringankan keluhan si kecil. Beritahukan pula kepada dokter jika bayi Anda mengalami projectile vomiting atau muntah dengan sekuat tenaga setiap kali selesai menyusu. Projectile vomiting  bisa menjadi salah satu tanda pyloric stenosis, yakni kondisi yang bisa mengarah ke masalah serius seperti kekurangan gizi dan dehidrasi.

Bayi bisa mengalami refluks ketika esophageal sphincter atau katup penghubung esophagus ke perut masih lemah atau tidak bekerja dengan baik. Kondisi ini membuat makanan dan cairan asam mengalir kembali dari perut menuju mulut. Penyebab ini juga yang mengakibatkan heartburn pada orang dewasa.

Ketika membawa si kecil ke dokter, ia akan melakukan pemeriksaan dan meminta Anda menyebutkan apa saja gejala yang si kecil alami. Untuk mengurangi refluks, dokter akan menyarankan beberapa hal yang bisa Anda lakukan di rumah.

Kemungkinan besar dokter akan meminta Anda untuk memposisikan tubuh si kecil tegak setelah proses menyusui; memberi ASI (Air Susu Ibu) dalam jumlah yang sedikit tapi lebih sering; menyendawakan lebih sering; dan menambah kekentalan ASI atau susu formula yang diberikan.

Dokter juga bisa menyarankan Anda untuk tidak mengkonsumsi susu sapi bila Anda menyusui atau menggantinya dengan susu hypoallergenic, karena gejala refluks bisa disebabkan oleh intoleransi pada protein di beberapa jenis susu tertentu.

Jika langkah-langkah tadi tidak membuahkan hasil, dokter akan memberi resep berupa obat. Beberapa bayi memberi respon cepat pada antacid atau acid blocker. Tapi jangan pernah berikan obat jenis ini pada bayi Anda tanpa berkonsultasi lebih dulu dengan dokter ya Bunda. Bayi Anda kemungkinan harus mengonsumsi obat ini selama beberapa bulan.

Bila obat yang diberikan tidak juga membuat kondisi bayi Anda membaik, dokter akan melakukan tes atau merujuk Anda pada seorang gastroenterologist untuk memastikan adanya masalah GERD.

Tes yang akan dijalani si kecil meliputi penyinaran dengan sinar X pada saluran gastrointestinal bagian atas (disebut juga upper GI series). Bayi Anda harus meminum zat kimia bernama barium sebelumnya. Prosedur penyinaran dengan Sinar X akan menunjukkan apakah ada kondisi anatomi yang mempengaruhi masalah menelan.

Dokter juga akan melakukan “scope” pada saluran pencernaan, termasuk menjalani biopsy (pengambilan contoh jaringan tubuh). Ini merupakan prosedur di mana sebuah alat yang disertai kamera kecil dimasukkan melalui esophagus, perut, dan beberapa usus kecil untuk melihat jika ada peradangan atau kerusakan pada jaringan.

Tes lain yang akan dijalani bayi Anda dinamakan 24-hour pH probe study. Pada prosedur ini, anak Anda perlu menginap di rumah sakit dan pipa yang berukuran sangat kecil dimasukkan ke dalam hidung ke bawah esophagus lalu dimonitor selama 24 jam. Tes ini akan mengukur frekuensi dan keparahan episode refluks dan juga nafas serta detak jantung bayi Anda.

Dokter akan memonitor berat badan bayi Anda bila ia terus mengeluarkan banyak gumoh. Beberapa bayi yang mengalami GERD biasanya tidak memiliki berat badan yang sesuai karena mereka tidak mendapat makanan yang cukup. Bayi lain akan kehilangan selera makan karena semua asam di perut mendorong ke esophagus dan bisa membuat tenggorokan menjadi sakit, pada kasus yang parah, dapat membuat bayi sulit untuk menelan.

Selain itu, jika isi perut mengalir menuju hidung dan paru-paru, bayi yang mengalami GERD ada kemungkinan menderita masalah pernafasan seperti pneumonia, batuk di waktu malam, atau sinus serta infeksi telinga. Asam perut juga bisa merusak email gigi.

Ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk meringankan kondisi yang dialami buah hati Anda. Coba tahan tubuhnya pada posisi lebih vertikal saat menyusui, dan juga jaga ia tetap sedikit tegak setelah menyusui. Jangan letakkan bayi Anda untuk tidur siang atau tengkurap bahkan untuk mengganti popok sesaat sehabis ia menyusu.

Berikan ASI atau susu formula dalam jumlah yang lebih sedikit pada setiap waktu menyusui. Anda bisa berikan jumlah ASI yang lebih sedikit dengan waktu menyusui yang lebih sering. Pastikan untuk menyendawakannya setelah tiap kali selesai menyusui.

Tanyakan pada dokter apakah Anda boleh mengentalkan ASI atau susu formula dengan sedikit sereal nasi atau menggunakan susu formula dengan komposisi tambahan beras. Dokter akan menjelaskan bagaimana cara mencampur sereal ke dalam ASI atau susu formula.

Anda juga perlu menggunakan dot susu yang memiliki aliran bervariasi atau dot dengan lubang lebih besar agar cairan yang lebih kental bisa mengalir dengan baik. Menjauhkan anak Anda dari asap rokok juga dapat mengurangi gejala refluks.

Sebagian orangtua ada yang membiasakan bayi mereka tidur di car seat, namun para ahli tidak merekomendasikan hal ini karena akan memberi tekanan lebih besar pada bagian perut bayi dan dapat meningkatkan gejala refluks. Bahkan para ahli tidak menyarankan bayi Anda tidur di car seat, kursi goyang, atau ayunan, karena produk tersebut belum menjalani penelitian untuk penggunaannya.

Menggunakan benda-benda tadi bisa menimbulkan resiko kekurangan nafas, dan gerakan bayi bisa membuat car seat terlipat otomatis saat tidak dipasang di kursi mobil. Juga jangan gunakan bantal untuk menyokong tubuh bayi Anda karena dapat beresiko membuat bayi Anda mati lemas.

Membiarkan bayi tidur pada posisi tengkurap memang bisa mengurangi gejala GERD, tapi para ahli tidak merekomendasikan hal ini karena bisa meningkatkan resiko Sudden infant death syndrome (SIDS). SIDS Merupakan salah satu faktor penyebab kematian bayi di usia 1 bulan hingga 1 tahun. SIDS tidak dikategorikan sebagai penyakit, tapi lebih mengarah kepada sebuah diagnosa kematian tiba-tiba pada bayi di bawah usia satu tahun.

(Ismawati)