Maltodekstrin dalam Susu Anak, Benarkah Berbahaya?
Saat memilih susu untuk anak, Parents mungkin terbiasa memperhatikan kandungan protein, vitamin, mineral, hingga jumlah gulanya. Namun, pernah nggak menemukan nama bahan yang terasa asing ketika membaca daftar komposisi pada kemasan?
Salah satunya adalah maltodekstrin. Bahan ini cukup sering ditemukan dalam berbagai produk pangan, termasuk susu pertumbuhan anak.
Belakangan, maltodekstrin juga menjadi perbincangan di media sosial. Ada yang menganggapnya sebagai gula tersembunyi, bahkan mengaitkannya dengan peningkatan gula darah hingga gangguan kesehatan pencernaan.
Informasi seperti ini tentu bisa membuat orang tua khawatir. Apalagi kalau bahan tersebut ternyata ada dalam susu yang sehari-hari dikonsumsi si Kecil.
Lantas, sebenarnya apa itu maltodekstrin? Mengapa bahan ini digunakan dalam susu anak, dan apakah keberadaannya perlu dikhawatirkan?
Apa Itu Maltodekstrin? Apakah Sama dengan Gula?
Meski namanya terdengar seperti bahan kimia yang rumit, maltodekstrin sebenarnya berasal dari pati, yaitu salah satu jenis karbohidrat yang juga terdapat dalam berbagai bahan makanan sehari-hari.

Maltodekstrin dihasilkan melalui proses yang disebut hidrolisis parsial. Sederhananya, proses ini memecah sebagian rantai pati yang panjang menjadi rantai karbohidrat yang lebih pendek. Meski begitu, hasilnya tidak sama dengan gula yang biasa kita gunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan atau minuman.
"Maltodekstrin bukan gula atau gula tambahan. Struktur maltodekstrin berbeda dengan gula," jelas Julia R. Wijaya, Ph.D., akademisi dan peneliti Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), saat membahas karakteristik bahan pangan dalam kegiatan World Food Day 2026 yang diselenggarakan Danone Indonesia bersama UPH.
Julia menjelaskan bahwa gula sederhana memiliki struktur molekul yang lebih pendek, sedangkan maltodekstrin masih tersusun dari sejumlah unit glukosa yang saling terhubung.
Perbedaan struktur inilah yang membuat sifat keduanya juga tidak sama. Gula memiliki rasa manis yang jelas, sementara maltodekstrin cenderung memiliki tingkat kemanisan yang jauh lebih rendah, bahkan hampir tidak terasa manis.
Nah, kalau maltodekstrin tidak digunakan terutama untuk memberikan rasa manis, mengapa bahan ini justru ditambahkan ke dalam berbagai produk makanan dan susu?
Kenapa Susu Pertumbuhan Anak Mengandung Maltodekstrin?
Ternyata, bahan-bahan dalam produk pangan memiliki fungsi yang berbeda. Ada yang berperan memberikan rasa, membentuk tekstur, menjaga kestabilan, hingga membantu proses produksi, begitu juga dengan maltodekstrin.

Julia menjelaskan bahwa maltodekstrin lebih banyak digunakan karena fungsi teknologisnya dalam suatu produk pangan. Pada susu pertumbuhan, misalnya, maltodekstrin dapat membantu membentuk tekstur, memberikan volume, dan menghasilkan karakteristik produk yang diinginkan. Bahan ini juga bisa digunakan sebagai carrier atau bahan pembawa untuk komponen tertentu, seperti vitamin, mineral, maupun perisa.
Selain itu, maltodekstrin dapat digunakan dalam formulasi produk tertentu sebagai pengganti sebagian sumber karbohidrat dari laktosa, misalnya pada produk yang dirancang untuk konsumen dengan kebutuhan khusus terkait laktosa.
Menariknya, Julia menjelaskan bahwa maltodekstrin juga memiliki peran ketika produsen ingin mengurangi kandungan gula dalam suatu produk. Sebab, gula sebenarnya punya fungsi lebih dari sekadar memberikan rasa manis. Dalam pengolahan pangan, gula juga dapat memengaruhi tekstur, volume, hingga karakteristik fisik makanan.
Ketika gula dikurangi dan digantikan dengan pemanis lain, rasa manisnya mungkin bisa dipertahankan. Namun, pemanis tersebut belum tentu bisa menghasilkan tekstur dan karakteristik yang sama. Di sinilah maltodekstrin dapat digunakan untuk membantu mempertahankan karakteristik fisik produk.
Jadi, keberadaan maltodekstrin dalam susu atau makanan olahan tidak selalu berkaitan dengan tujuan menambah rasa manis. Ada fungsi lain yang perlu dipahami sebelum menilai kegunaan bahan tersebut.
Kalau Bukan Gula, Apakah Maltodekstrin Tetap Bisa Meningkatkan Gula Darah?
Ini juga menjadi salah satu hal yang perlu Parents pahami. Meski maltodekstrin secara struktur berbeda dari gula sederhana, bahan ini tetap termasuk karbohidrat yang dapat dicerna oleh tubuh.

Di dalam acara yang sama, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K), Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan menjelaskan bahwa setelah dikonsumsi, maltodekstrin akan melalui proses pencernaan hingga menghasilkan glukosa yang dapat digunakan tubuh sebagai sumber energi. Artinya, maltodekstrin tetap bisa meningkatkan kadar gula darah.
Julia juga menegaskan bahwa maltodekstrin tetap memiliki kontribusi terhadap energi yang dikonsumsi seseorang. "Sebagai karbohidrat hasil hidrolisa pati, maltodekstrin tetap berkontribusi terhadap asupan energi, dan ini sudah pasti diperhitungkan sebagai bagian dari karbohidrat total," paparnya.
Karena itu, meskipun maltodekstrin tidak digolongkan sebagai gula tambahan, jumlahnya tetap perlu diperhitungkan sebagai bagian dari asupan karbohidrat sehari-hari. Menurut dr. Diana, pengaruh suatu makanan terhadap kesehatan metabolik juga perlu dilihat berdasarkan keseluruhan asupan energi dan aktivitas fisik seseorang.
Jadi, ketika Parents ingin mengetahui apakah suatu produk sesuai dengan kebutuhan anak, kandungan maltodekstrin saja belum cukup untuk dijadikan patokan. Jumlah karbohidrat, gula, protein, lemak, serta total energi dalam produk tersebut juga perlu diperhatikan.
Selain pengaruhnya terhadap gula darah, ada satu kekhawatiran lain yang cukup sering muncul mengenai maltodekstrin, yaitu kaitannya dengan kesehatan pencernaan.
Benarkah Maltodekstrin Bisa Mengganggu Bakteri Baik dalam Usus?
Parents mungkin pernah menemukan informasi yang menyebut bahwa maltodekstrin dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Namun, menurut dr. Diana, hubungan antara maltodekstrin dan kesehatan saluran cerna tidak sesederhana itu.

Ia menjelaskan bahwa memang ada penelitian yang menunjukkan kemungkinan pengaruh maltodekstrin terhadap keseimbangan mikrobiota usus. Meski begitu, hasilnya belum memberikan kesimpulan yang pasti.
Keseimbangan mikrobiota usus sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari pola makan, kebiasaan tidur, hingga kondisi kesehatan seseorang. Jadi, perubahan mikrobiota tidak bisa langsung dikaitkan dengan konsumsi satu bahan pangan tertentu tanpa mempertimbangkan faktor lainnya.
Hal serupa juga berlaku pada kekhawatiran bahwa maltodekstrin dapat menyebabkan inflammatory bowel disease (IBD), yaitu kelompok penyakit peradangan kronis pada saluran pencernaan. Dr. Diana menjelaskan bahwa IBD memiliki faktor penyebab yang kompleks. Karena itu, hubungan maltodekstrin sebagai penyebab langsung penyakit tersebut belum dapat disimpulkan berdasarkan bukti yang dibahas.
Penjelasan ini penting mengingat informasi di media sosial terkadang hanya menyoroti satu bahan tertentu, tanpa menjelaskan konteks penelitian maupun faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan.
Lalu, bagaimana dengan keamanan maltodekstrin jika digunakan dalam produk pangan yang dikonsumsi anak?
Apakah Maltodekstrin Aman untuk Dikonsumsi Anak?
Menurut Julia, maltodekstrin sudah dikenal dan diatur penggunaannya dalam regulasi pangan, baik secara nasional maupun internasional.
Di Indonesia, terdapat ketentuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara secara internasional, maltodekstrin juga tercakup dalam regulasi otoritas pangan seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat serta otoritas pangan Eropa.

Julia menjelaskan bahwa maltodekstrin dikategorikan sebagai karbohidrat hasil olahan atau turunan pati. FDA juga mengenal maltodekstrin dalam kategori Generally Recognized as Safe (GRAS), yaitu bahan yang keamanannya diakui untuk penggunaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dr. Diana turut menjelaskan bahwa secara umum maltodekstrin aman digunakan dalam produk pangan, sehingga orang tua tidak perlu langsung khawatir ketika menemukan bahan tersebut dalam daftar komposisi.
Meski begitu, tetap ada hal yang perlu diperhatikan. Keamanan suatu bahan tidak otomatis menjelaskan apakah keseluruhan produk sudah sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Sebab, dalam satu produk susu terdapat berbagai komponen yang saling melengkapi, mulai dari sumber energi, protein, lemak, hingga vitamin dan mineral.
Jumlah yang dikonsumsi juga punya peran penting. Produk dengan komposisi tertentu mungkin sesuai untuk satu kebutuhan, tetapi belum tentu cocok untuk kebutuhan yang berbeda. Karena itu, Parents sebaiknya melihat kandungan produk secara keseluruhan sebelum menentukan pilihan.
Jangan Hanya Fokus pada Satu Kandungan Saat Memilih Susu Anak
Membaca komposisi memang penting, terutama untuk mengetahui bahan apa saja yang digunakan dalam produk susu anak. Namun, dr. Diana mengingatkan agar orang tua tidak berhenti pada satu kandungan yang dianggap baik atau justru dikhawatirkan. Perhatikan juga informasi nilai gizi yang tertera pada kemasan, seperti total energi, karbohidrat, gula, protein, dan lemak.

Selain itu, jangan lupa melihat takaran saji agar Parents mengetahui berapa banyak nutrisi yang sebenarnya dikonsumsi anak dalam setiap penyajian. "Evaluasi terhadap suatu produk perlu mempertimbangkan keseluruhan komposisi, nilai gizi, porsi konsumsi, serta perannya dalam pola makan sehari-hari," jelas dr. Diana. Dengan begitu, Parents dapat menilai apakah suatu produk memang sesuai dengan usia, kebutuhan nutrisi, serta pola makan si Kecil sehari-hari.
Jadi, kalau menemukan maltodekstrin dalam komposisi susu anak, Parents nggak perlu langsung panik atau buru-buru menghindarinya. Yang lebih penting, pahami fungsi bahan tersebut, perhatikan keseluruhan kandungan nutrisi, dan pastikan produk yang dipilih sesuai dengan kebutuhan anak. Jika si Kecil memiliki kondisi kesehatan atau kebutuhan nutrisi khusus, konsultasikan pemilihan susunya dengan dokter, ya, Parents.