Balita

Memberi Variasi Rasa untuk Makanan Pertama Bayi

Memberi Variasi Rasa untuk Makanan Pertama Bayi
Sering kali makanan bayi hanya berupa menu yang biasa, hambar, dan itu-itu saja. Sepertinya variasi makanan si buah hati hanya berkisar pada pisang yang dihaluskan, kacang polong yang tidak diberi perasa, atau wortel yang dikukus.

Makanan-makanan ini memang sehat, tapi bertolak belakang dengan apa yang diinginkan para orangtua, yaitu bayi dapat menikmati variasi rasa yang beragam. Pemberian variasi rasa pada makanan sehat bisa dilakukan, namun Bunda harus tetap membatasi si kecil untuk tidak mengonsumsi makanan yang terlalu manis secara berlebihan serta jenis makanan lain yang tidak berdampak positif bagi tubuhnya.

Seorang dokter anak bernama Susanna Block mengatakan bahwa seiring meningkatnya obesitas pada anak, memberikan bayi variasi rasa pada makanan sehat dinilai sangatlah penting. Nasihat lama yang menyarankan agar orangtua menunggu hingga  anak berusia 1 tahun atau lebih sebelum diperkenalkan pada makanan pemicu alergi tidak lagi harus diterapkan pada kebanyakan bayi saat ini. Meskipun begitu, Bunda sebaiknya tetap memperkenalkan makanan baru pada bayi secara bertahap.

Beri makan bayi Anda satu jenis makanan baru setiap satu kali kesempatan dan tunggu hingga setidaknya 3 hari sebelum memberikan makanan baru lainnya. Dengan demikian jika terjadi reaksi alergi, Anda dapat mengetahui dengan mudah makanan yang menyebabkannya.

Berikut ini beberapa ide untuk membantu memberi variasi rasa pada makanan si kecil. Meski beberapa pilihan bukan makanan favorit Anda, anak Anda mungkin justru menyukainya. Jadi usahakan untuk tidak melibatkan selera pribadi Anda dalam memilih makanan yang Anda sajikan untuknya ya Bunda. Dan tentu saja, sesuaikan makanan yang Anda berikan dengan kemampuan si kecil untuk mengunyah dan menelan. Semua makanan bayi bisa Anda haluskan, potong kecil, atau dibuat puree.

Daging yang dikukus

Amster-Burton, seorang ahli gizi mengungkapkan bahwa daging kukus merupakan makanan ideal bagi bayi. Pengolahannya mudah, rasanya tetap enak meski sudah seharian, dan Anda dapat memasaknya dalam cara yang berbeda-beda. Misalnya, Anda bisa memasaknya dengan bumbu kecap dan jahe, atau menambahkan rasa pedas.

Bayi makan pedas? Ya, tidak apa-apa ko Bun. Gunakanlah cabe dengan rasa pedas yang lebih ringan, seperti cabe keriting dibandingkan cabe rawit atau cabe rawit merah. Tapi teteap jangan berlebihan lho Bunda, karena rasa yang terlalu pedas juga bisa menyebabkan iritasi pada kulit dan mulut.

Buah dengan rasa asam

Ternyata banyak anak menyukai makanan dengan rasa asam lho Bun, kata Matthew Amster-Burton, penulis buku Hungry Monkey: A Food-Loving Father's Quest to Raise an Adventurous Eater. Bunda bisa coba menyajikan buah seperti jeruk, ceri, atau stroberi. Sesuaikan dengan kemampuan mengunyah si kecil ya Bun. Anda juga bisa memotong buah-buah tersebut kecil-kecil untuk bayi yang sudah pintar mengunyah.

Sayuran dari jenis Cruciferae

Kacang hijau dan ubi ketela dianggap makanan paling sesuai untuk bayi, tapi bagaimana dengan brokoli dan bunga kol? Sepertinya jenis sayuran ini jarang sekali ya menjadi pilihan Anda? Padahal jenis sayuran seperti brokoli dan kol mengandung nutrisi yang baik untuk bayi.

Mungkin Anda merasa ini bukan tipe makanan untuk bayi, tapi bukan berarti ia tidak berselera memakannya. Ada seorang ibu yang kaget karena ternyata putranya amat menyukai brokoli, lho Bun. Beberapa anak bahkan ada yang menjadikan kembang kol dengan bumbu kunyit sebagai makanan favorit mereka.

Padi-padian

Coba variasikan jenis padi-padian yang dikonsumsi anak Anda. Mungkin terkesan monoton bila ia hanya mengkonsumsi bubur dari beras putih. Bunda bisa mencoba gunakan beras merah sebagai selingan.

Olahan padi-padian akan terasa lebih enak dengan penambahan rasa. Tapi bukan berarti Anda harus menambahkan penyedap makanan pada makanan si kecil, Bun. Cukup dengan potongan bawang putih saja, bubur untuk bayi Anda bisa memiliki rasa yang berbeda.

Ikan

Dulunya pemberian ikan untuk bayi dianggap perlu dibatasi karena ada resiko alergi. Tapi pemikiran ini telah berubah. Sebuah laporan yang dibuat oleh Akademi Dokter Anak di Amerika di tahun  2008 menyatakan tidak ada bukti bahwa menunda pemberian ikan dan makanan pemicu alergi lain pada bayi di tahun pertamanya bisa mencegah alergi.

Para ahli mengatakan tidak apa jika Bunda ingin memberi ikan untuk bayi yang berusia 6 bulan atau lebih, selama mereka tidak menunjukkan tanda alergi seperti eczema pada makanan atau lainnya. Meskipun keluarga Anda memiliki riwayat penyakit asma atau alergi, tetap aman ko Bun jika Anda ingin memperkenalkan makanan pemicu alergi untuk si kecil, tapi konsultasikan dulu hal ini pada dokter ya.

Kebanyakan orangtua memilih untuk tidak memberi bayi mereka ikan salmon, padahal ini adalah sumber yang sangat baik untuk DHA dan omega-3 lho Bun. Jika Bunda ingin memperkenalkan salmon ke si kecil, Anda bisa memasak ikan ini lalu menyajikannya dalam bentuk puree atau potongan kecil.

(Ismawati)