Balita

Menerapkan Time Out untuk Anak Usia 12-24 Bulan

Terakhir diperbaharui

Menerapkan Time Out untuk Anak Usia 12-24 Bulan
Apa yang biasanya Bunda lakukan jika si kecil mulai berulah hanya karena hal-hal sepele seperti tidak dibelikan mainan saat berbelanja? Memarahinya? Menyuruhnya untuk diam? Atau segera memenuhi keinginan sang buah hati agar ia tidak rewel lagi? Hmm, ketiga cara tersebut tidaklah seefektif metode time out.

Selain efektif, metode ini juga jauh dari cara-cara kekerasan atau yang sifatnya 'mengancam' anak untuk tidak berulah lagi. Bunda cukup menjauhkan anak sesegera mungkin dari lokasi dimana ia rewel lalu segera bawa ke tempat yang sepi agar ia bisa menenangkan diri. Cara ini akan membentuk kepribadian anak agar lebih mudah tenang.

Masih bingung? Yuk mengenal pengertian time out lebih lanjut!

Sebaiknya Bunda maupun si kecil tidak menganggap time out sebagai suatu bentuk hukuman. Melainkan, sebuah kesempatan untuk mendidik anak agar dapat mengatasi permasalahannya sendiri serta mengubah perilakunya apabila terbukti salah. Tentu bukan hal mudah menerapkan time out, namun kunci utamanya adalah jangan membentak, bersuara dengan nada marah atau mengejek si kecil saat tiba waktunya untuk time out. Tujuan dari strategi ini adalah mengubah situasi yang tidak menyenangkan dimana anak histeris atau heboh sendiri dengan cara menyuruhnya menyendiri di suatu tempat selama beberapa menit.

Misalnya saja, si kecil menangis karena Bunda tidak membelikannya mainan baru. Padahal, Anda sudah menegaskan beberapa kali bahwa ia sudah terlalu banyak mengoleksi mainan hingga lemari penyimpanan tidak cukup lagi. Daripada terus menerus terlibat dalam perseteruan yang membuat Bunda kesal, lebih baik katakan "time out" dan angkat dia menuju zona 'diam'nya. Suruh dia duduk dan memikirkan perbuatannya selama  beberapa saat (biasanya 1-3 menit sebagai permulaan). Setelah waktu time out nya selesai, maka ia boleh beranjak dan melakukan aktivitasnya kembali.

Well, inti dari time out adalah memberikan anak waktu untuk mendinginkan kepala, meredam emosi, dan memikirkan apakah perilakunya benar atau salah. Mengingat usia anak yang masih sangat muda yakni usia 12-24 bulan, maka time out yang Anda berikan hanyalah sebagai pengenalan awal tentang konsep sebab-akibat dari suatu perbuatan. Sang buah hati haruslah memahami bahwa jika ia melakukan sesuatu yang salah atau kehilangan kontrol diri, maka ia seharusnya mampu menenangkan dan memadamkan amarahnya sendiri tanpa Bunda harus turun tangan memarahinya.

Anak saya masih berusia 12-24 bulan, apa mereka sudah siap memahami aturan time out?

The American Academy of Pediatrics (AAP) mengungkapkan bahwa sah-sah saja bagi anak kecil yang berusia lebih muda dari satu tahun untuk menerima time out, namun jadikan metode ini sebagai cara terakhir ya, Bun. Pasalnya, anak Anda masih belum memiliki kontrol diri serta kemampuan berlogika yang cukup untuk menerima perintah time out secara efektif.

Menurut AAP, jika Bunda ingin metode ini berhasil pada anak, maka sangatlah penting untuk Anda agar segera bertindak ketika sang buah hati mulai menunjukkan tanda-tanda rewel. Lalu katakan padanya untuk duduk diam selama beberapa saat. Kalau si kecil bisa diam, maka Bunda akan memberikan ia reaksi  positif seperti pujian atau belaian penuh kasih sayang.

Perlu dicatat bahwa Bunda hanya boleh menggunakan metode ini pada saat-saat yang memang diperlukan. Jangan ketika si kecil sedikit melakukan kesalahan saja maka langsung Bunda hukum. Bisa-bisa nanti yang terjadi adalah reverse time out, yakni ia malah marah dan semakin berulah saat tiba waktunya time out.

Kalau sang buah hati hanya sekedar menangis atau mengeluh maka hal tersebut tidak perlu ditangani dengan metode ini ya, Bun. Bisa jadi si kecil hanya merasa kecewa atau frustasi akan hal-hal sepele yang tidak bisa ia selesaikan. Misalnya anak merasa tidak mampu menyelesaikan makan siangnya atau merasa sedih karena ditinggalkan oleh Bunda dalam jangka waktu cukup lama. Cara terbaik untuk menenangkan anak adalah dengan duduk bersamanya lalu menanyakan apa yang membuat ia menangis.

Melakukan time out bersama-sama

Karena usia anak yang masih sangat muda, maka sebaiknya Bunda menemani si kecil saat tiba waktunya untuk time out. Daripada menyuruhnya duduk sendirian di pojok ruangan untuk menenangkan diri, si kecil jauh akan merasa lebih cepat tenang saat Anda berada di dekatnya.

Lakukan aktivitas-aktivitas yang sifatnya menenangkan, seperti berbaring telentang di lantai, mendengarkan musik, menyelesaikan suatu puzzle bersama-sama, atau membaca buku dongeng. Tapi usahakan agar melakukan semuanya dalam diam ya, Bun. Hal itu penting untuk menunjukkan bahwa ia telah melakukan suatu hal yang telah Bunda larang. Dengan cara ini, anak akan memiliki cukup waktu untuk mendnginkan kepala tanpa merasa sedang dihukum.

Sebaiknya Bunda memfungsikan metode time out layaknya suatu meditasi singkat atau quiet time. Ajarkan si kecil (saat ia benar-benar dalam kondisi emosi tak terkendali) untuk duduk diam sesaat dan menenangkan dirinya. Tidak mudah sih memang, tapi jika Anda sukses mengajarkan teknik mengontrol diri ini sejak kecil, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tenang dan tidak temperamental.

Hal terbaik dari time out adalah fungsinya yang mampu menyalurkan rasa marah dan keluar dari situasi negatif menuju ketenangan tanpa cara-cara yang emosional. Bunda tidak perlu memarahi anak dengan suara keras agar ia diam. Beda lho antara diam karena 'takut' dan diam karena ia sadar bahwa marah itu tidak baik dan tidak akan bisa menyelesaikan masalah.

Anak yang diam karena takut justru akan memendam amarah tersebut dan membiarkannya mengendap dalam hati hingga waktu yang lama. Kemarahan itu suatu saat akan menumpuk dan menjadi bom waktu. Sedangkan kalau ia tenang dan menyadari bahwa marah-marah itu bukan solusi yang tepat, maka secara otomatis rasa marah itu akan lenyap. Nah, kalau Bunda justru marah saat si kecil marah, bukankah itu hal yang sangat ironis? Yuk, beri si kecil contoh perilaku yang tepat dengan cara tidak menunjukkan perilaku emosional!

Jika cara time out ini tidak berhasil mengubah si kecil menjadi lebih penurut, maka jangan buru-buru kecewa ya, Bun. Bisa jadi penyebabnya adalah karena usia 12-24 bulan masih belum terlalu ideal untuk menerima perintah. Jangan menyerah dan coba terus terapkan metode ini saat anak mulai beranjak dewasa, seperti misalnya saat si kecil berusia 2 tahun.

Tujuan utama dari strategi kedisiplinan ini adalah mengajarkan anak apa-apa saja perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak ketika ia kehilangan kontrol emosi. Kunci keberhasilan dalam penegakan disiplin adalah konsistensi dan kesabaran. Jika ia terus saja mengelak dari aturan time out, maka terapkan terus aturan ini dengan penuh kesabaran dan konsistensi sehingga perlahan-lahan anak pun menangkap pesan bahwa Bunda ingin agar si kecil memiliki control diri. Good luck, Bun!

(Yusrina)