Balita Dibaca 1,620 kali

Menerapkan Time Out untuk Anak Usia 2 Tahun

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 12 Januari, 2019 06:01

Menerapkan Time Out untuk Anak Usia 2 Tahun
Ketika si kecil menginjak usia 2 tahun, ia akan bergerak lebih aktif dan mudah penasaran dengan hal-hal di sekitarnya. Segala hal coba anak eksplorasi, termasuk bermain-main dengan tingkat kesabaran Bunda dan menelaah sampai mana batasan ia diperbolehkan melakukan sesuatu. Maksudnya, ia akan lebih sering merepotkan Anda karena cenderung tertarik menguji apakah sesuatu itu boleh atau terlarang untuk dilakukan. Misalnya, ia akan berusaha memegang stop kontak listrik atau mencoba menggunakan gunting. Tak hanya itu saja, si kecil juga menjadi penuh emosi tak terkendal dimana sesekali dia bisa terlihat begitu ceria namun di lain kesempatan menangis histeris karena masalah sepele.

Karena emosi anak yang tak terkendali itulah, seringkali Bunda dibuat kelimpungan untuk mengatur kelakukan si kecil. Biasanya saat melihat anak heboh sendiri, orang tua cenderung memarahi dan mengeluarkan kata-kata tegas yang justru membuat sang buah hati makin meradang. Nah, salah satu cara yang paling efisien untuk meredam emosi dan mengendalikan perilaku anak yang mudah berubah-ubah adalah dengan strategi time out. Apa itu? Yuk, simak penjelasan Ibupedia berikut ini!

Pengertian Time out

Sebaiknya Bunda maupun si kecil tidak menganggap time out sebagai suatu bentuk hukuman. Melainkan, sebuah kesempatan untuk mendidik anak agar dapat mengatasi permasalahannya sendiri serta mengubah perilakunya apabila terbukti salah. Tentu bukan hal mudah menerapkan time out, namun kunci utamanya adalah jangan membentak, bersuara dengan nada marah atau mengejek si kecil saat tiba waktunya untuk time out. Tujuan dari strategi ini adalah mengubah situasi yang tidak menyenangkan dimana anak histeris atau heboh sendiri dengan cara menyuruhnya menyendiri di suatu tempat selama beberapa menit.

Misalnya saja, si kecil menangis karena Bunda tidak membelikannya permen. Padahal, Anda sudah menegaskan beberapa kali bahwa ia terlalu banyak mengonsumsi permen dan itu buruk untuk kesehatan giginya. Daripada terus menerus terlibat dalam perseteruan yang membuat Bunda kesal, lebih baik katakan "time out" dan angkat dia menuju zona 'diam'nya. Suruh dia duduk dan memikirkan perbuatannya selama 15 menit. Setelah waktu time out nya selesai, maka ia boleh beranjak dan melakukan aktivitasnya kembali. Well, intinya time out adalah memberikan anak waktu untuk mendinginkan kepala, meredam emosi, dan memikirkan apakah perilakunya benar atau salah.

Jangan gunakan strategi time out sebelum anak Bunda siap menerima perintah

Tidak semua anak berusia 2 tahun sudah dapat menerima perintah dan patuh pada aturan yang berlaku. Sebagian anak merasa sangat kesulitan untuk duduk diam di zona time out nya, jadi usaha mendisiplinkan yang Anda lakukan malah akan berbalik membuat Bunda makin kerepotan. Saat disuruh duduk, bisa-bisa anak berusaha lari dari zona diamnya dan malah senang saat Anda berusaha menangkapnya. Ia pun malah menganggap hal tersebut sebagai sebuah permainan baru.

Well, hal tersebut terjadi karena pada usia 2 tahun, anak-anak memang memiliki daya konsentrasi pendek dan mudah lupa alasan mengapa dia dijatuhi 'time out'. Aduh, kalau sudah begitu sih bukannya anak makin terkontrol tapi Bunda malah bekerja dua kali lipat untuk mendisipinkan si kecil.

Untuk itulah, sebelum strategi ini dilakukan, anak harus sudah mengerti konsep disiplin dan konsekuensi dari suatu aturan. Salah satu cara untuk mengetahui kesiapan anak adalah dengan menanyakan sebab serta akibat dari suatu aturan. Sesekali tanyakan apakah hukumannya apabila ia mengunyah makanan di atas kasur? Jika ia belum bisa mengingat jawabannya, berarti ia belum siap untuk didisiplinkan.

Selain itu, dalam menerapkan aturan, Bunda juga jangan melakukan sesuatu yang melanggar aturan. Misalnya saja si kecil memergoki Anda sedang mengunyah jajanan di atas kasur, duh pasti ia akan mempertanyakan keadilan aturan yang Anda buat. Jadi, pastikan agar Bunda juga taat aturan ya!

Melakukan time out bersama-sama

Kebanyakan anak yang baru berusia 2 tahun belum siap menghadapi kesendirian saat dihadapkan dengan time out. Baginya, keharusan untuk diam di pojok ruangan selama 15 menit sungguh sangat menyiksa dan membuatnya tertekan, Karena itulah, Bunda dianjurkan untuk menemaninya menjalani masa time out.

Lakukan aktivitas-aktivitas yang sifatnya menenangkan, seperti mendengarkan musik, berbaring telentang di lantai, membaca buku, atau menyelesaikan suatu puzzle bersama-sama. Tapi usahakan agar melakukan semuanya dalam diam ya, Bun. Hal itu penting untuk menunjukkan bahwa ia telah melakukan suatu hal yang telah Bunda larang.Dengan cara ini, anak akan memiliki cukup waktu untuk mendnginkan kepala tanpa merasa sedang dihukum.

Bersikap fleksibel

Mengingat usia anak yang masih sangat muda, maka time out yang Anda berikan hanyalah sebagai pengenalan awal tentang konsep sebab-akibat dari suatu perbuatan. Anak haruslah memahami bahwa jika ia melakukan sesuatu yang salah, maka ia harus bertanggunjawab dan menerima konsekuensinya dengan duduk diam beberapa menit. Meksi begitu, interupsi seperti time out terkadang membuat anak malah semakin marah dan mengelak saat disuruh.

Nah, jika selama ini si kecil tidak suka dengan ide bahwa ia harus duduk di suatu kursi yang terletak di sudut rumah selama beberapa menit sendirian, maka ada baiknya Bunda memodifikasi aturan time out. Misalnya saja, daripada menyuruh ia duduk di sudut ruangan, lebih baik suruh ia duduk di tempatnya berada saat sedang melakukan kesalahan. Anda juga boleh menemaninya duduk kalau diperlukan. Juga jangan terlalu galak dengan menyuruhnya diam selama lebih dari 3 menit. Cukup tetapkan 30 detik atau 1 menit saja untuk meredakan emosi si kecil.

Waktu yang Anda tetapkan sebaiknya tidak terlalu lama karena dapat membuat anak makin frustasi, juga jangan terlalu pendek sebab ia harus mengembalikan fokus perhatiannya terlebih dulu. Contohnya, Bunda suruh ia duduk di tempatnya dan ucapkan alfabet dari A sampai Z selama 1 menit sampai ia tenang kembali dan siap melakukan aktivitas berikutnya dengan emosi yang terkontrol.

Merencanakan strategi time out dari jauh-jauh hari

Cara terbaik agar strategi ini berhasil adalah dengan menunjukkan pengertian serta konsekuensi dari time out. Jangan sesekali mengucapkan kata time out hanya karena Anda marah besar karena kelakuannya. Saat anak dalam kondisi emosi stabil, maka jelaskan dengan rinci apa itu time out dan bagaimana cara kerjanya.

Bunda dapat memakai boneka atau bahkan mencontohkan sendiri bagaimana rasanya  duduk diam di kursi time out selama lebih kurang 1 menit. Lalu, katakan pada si kecil, "Kalau Bunda bilang time out, kamu harus duduk di kursi ini sampai Bunda bilang kamu boleh berdiri, oke?".

Seperti halnya dengan strategi kedisiplinan lainnya, cara time out ini pun tidak seratus persen akan mengubah si kecil menjadi malaikat penurut. Karena itulah, apabila anak gagal mengikuti aturan time out, maka Bunda tidak perlu bersedih. Tujuan utama dari strategi kedisiplinan ini adalah mengajarkan anak apa-apa saja perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak pada usia 2 tahun.

Dengan memiliki ekspektasi yang realistis, Bunda tidak akan mudah kecewa dan menyebut si kecil sebagai anak yang nakal. Kunci keberhasilan dalam penegakan disiplin adalah konsistensi dan kesabaran. Jika ia terus saja lari dari perintah time out, maka terapkan terus aturan ini hingga perlahan-lahan anak pun menangkap pesan bahwa Bunda benar-benar ingin ia menuruti perintah.

(Yusrina)