Balita Dibaca 558 kali

Menjadi Orang Tua Tangguh Agar Si Kecil Juga Tangguh

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya
Menjadi Orang Tua Tangguh Agar Si Kecil Juga Tangguh

Untuk membesarkan anak yang tangguh, kita sebagai orang tuanya harus tangguh terlebih dahulu.

Hari Sabtu, 14 Desember 2019 lalu, Nutrilon Royal mengadakan talkshow di Nutriclub Royal Lounge bersama Psikolog Keluarga Saskhya Aulia Prima dari Tiga Generasi. Para orang tua yang hadir mendapatkan informasi tentang pentingnya menjadi orang tua yang tangguh bagi generasi alpha.

Psikolog Saskhya turut menjelaskan bahwa generasi alpha merupakan anak-anak dari generasi millennials yang lahir pada tahun 2010-2025. Mereka berkembang bersama gadget dan dianggap sebagai generasi paling berpengaruh di abad ke-21.

Tantangan yang akan dihadapi generasi alpha di masa depan bisa dikatakan lebih berat karena mereka berada dalam VUCA (Volatility, Complexity, Ambiguity, Uncertainty) world yang penuh dengan ketidakpastian dan berubah sangat pesat. Lalu apa yang bisa kita persiapkan untuk masa depan si kecil?

Jawabannya adalah karakter yang tangguh atau resilient. Dengan memiliki karakter ini, si kecil punya kemampuan buat bangkit dari stres, kecewa, rasa tidak berdaya, atau dari situasi di luar kendali. Lebih jauh lagi, Psikolog Saskhya juga menambahkan kalau ada 4 sifat yang dapat mendukung seseorang menjadi tangguh, yaitu:

  • Percaya diri. Percaya pada kemampuan diri sendiri.

  • Terkendali. Mampu mengenali dan mengelola perasaan juga dorongan dari dalam diri.

  • Adaptif. Bisa menyesuaikan perilaku, pikiran, dan juga perasaan dalam menghadapi suatu situasi.

  • Banyak akal. Memiliki kemampuan untuk membuat rencana atau strategi realistis dalam menyelesaikan masalah.

Nah, karakter tangguh atau resilient bukanlah karakter bawaan lahir, tapi harus dikembangkan sejak dini. Dan disinilah peran penting kita sebagai orang tua, yaitu mengasah resiliensi pada generasi alpha.

Anak yang Tangguh Diawali dengan Orang Tua yang Tangguh

Namun, sebelum kita mengembangkan resiliensi pada si kecil, kita juga harus tangguh lebih dahulu. Saat orang tua merasa tertekan, lemah, atau kewalahan, orang tua tidak dapat sepenuhnya hadir untuk anak. Oleh karena itu, kita perlu mengendalikan diri terlebih dahulu agar bisa mengajarkan dan menjadi contoh untuk si kecil.

Lebih lanjut lagi, Psikolog Saskhya juga menambahkan bahwa ada 3 sumber dasar menjadi tangguh, yaitu:

  • I Have. Ini merupakan faktor eksternal yang mendukung atau menjadi sumber ketangguhan seseorang, contohnya:

    • Hubungan relasi yang bisa dipercaya dengan pasangan, keluarga, atau teman

    • Rutinitas keseharian yang cukup jelas

    • Dukungan untuk mandiri

    • Akses untuk ke fasilitas kesehatan, keamanan, dll.

  • I Am. Ini adalah faktor internal berupa perasaan, sikap, dan kepercayaan terhadap diri sendiri, misalnya:
    Merasa dicintai

    • Yakin bahwa dirinya menarik atau berharga

    • Percaya bahwa dirinya berdaya

    • Memiliki harapan

  • I can. Sedangkan ini adalah kemampuan yang dimiliki, terutama kemampuan sosial dan interpersonal, seperti:

    • Dapat mengkomunikasikan apa yang dirasakan

    • Dapat mencari pemecahan masalah

    • Dapat mengenal dan mengendalikan emosi

    • Dapat menjalin hubungan dengan orang lain

Tiga sumber dasar tersebut mungkin terlihat sederhana, namun pada situasi terdesak seringkali kita melupakannya. Itulah kenapa resiliensi atau menjadi tangguh merupakan skill yang perlu dilatih.

Melatih Diri Sendiri Agar Menjadi Tangguh

Dalam talkshow tersebut, Psikolog Saskhya juga mengajak para orang tua berlatih untuk menjadi tangguh. Psikolog Saskhya memberi contoh kasus berupa banyaknya komentar negatif yang sering kita terima di Instagram. Misalnya kita ada seseorang mengomentari berat badan anak kita yang kurusan dan menuduh ASI kita tidak cukup, nah, apa yang harus kita lakukan?

Ingat kembali yuk 3 sumber dasar menjadi tangguh yang dijelaskan sebelumnya:

  • I Have (saya memiliki):

    • Pasangan yang selalu mendukung saya

    • Saya punya dokter yang saya percaya

  • I Am (saya merasa):

    • Saat ini saya merasa takut dan ragu, apakah ASI saya cukup? Apa benar yang dikatakan orang tersebut?
  • I Can (saya mampu):

    • Saya bisa bertanya langsung ke dokter untuk memastikan dan menjelaskan kekhawatiran saya.

Menumbuhkan Ketangguhan Pada Diri Si Kecil

Nah, jika kita sudah mampu menjadi tangguh, ini saatnya kita menumbuhkan ketangguhan pada diri si kecil dalam keseharian. Psikolog Saskhya memberikan dua contoh situasi yang mungkin sering dihadapi para orangtua. Simak yuk penjelasan lengkapnya.

  1. Situasi: Si kecil menangis kencang dalam crib-nya sambil menendang-nendang

    Yang perlu dilakukan: Angkat si kecil, gendong, dan tenangkan.

    Dengan melakukan hal tersebut, orang tua melatih 3 sumber dasar tangguh dalam diri anak:

    • I have: Hadir sebagai orang dewasa yang membuatnya aman

    • I am: Membuat si kecil merasa dicintai dan diperhatikan

    • I can: Membuat si kecil merasa mampu menenangkan diri

  2. Situasi: Si kecil tantrum di mall karena meminta ice cream, padahal ia sedang batuk dan tidak boleh memakannya

    Yang perlu dilakukan: Ajak si kecil ke tempat sepi, beri waktu anak untuk menenangkan diri, atau peluk si kecil, dan jelaskan kenapa ia tidak boleh makan ice cream.

    Dengan melakukan hal tersebut, orang tua melatih 3 sumber dasar tangguh dalam diri anak:

    • I have: Memberikan pemahaman atas batasan dan aturan

    • I am: Membantu si kecil mengerti bahwa ia memiliki tanggung jawab pada dirinya

    • I can: Melatih kemampuannya mengkomunikasikan perasaan

Ternyata jika sudah tahu caranya, tidak sulit ya untuk menumbuhkan ketangguhan pada diri sendiri dan juga si kecil? Yuk fokus untuk melatih diri lebih sering dan dapatkan info mengenai resiliensi selengkapnya di sini.

(Atalya / Dok Freepik)