MPASI Instan Termasuk Makanan Ultra-Proses? Ini Kata Ahli

MPASI Instan Termasuk Makanan Ultra-Proses? Ini Kata Ahli
MPASI Instan Termasuk Makanan Ultra-Proses? Ini Kata Ahli

Saat mulai memberikan MPASI, banyak orang tua berusaha menyiapkan makanan dari bahan-bahan segar untuk si Kecil. Mulai dari memilih sayuran, menyiapkan sumber protein, hingga mengolahnya sendiri di rumah. Namun, ada kalanya Parents juga mempertimbangkan MPASI instan atau makanan bayi siap saji karena lebih praktis, terutama ketika sedang bepergian atau tidak sempat memasak.

Di sisi lain, belakangan makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) cukup sering menjadi perbincangan karena dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan. Hal ini membuat sebagian orang tua khawatir, terutama karena MPASI instan merupakan produk yang melalui proses pengolahan di industri.

Lantas, apakah semua MPASI instan otomatis termasuk makanan ultra-proses? Benarkah makanan yang diolah selalu lebih buruk dibandingkan makanan segar? Ternyata, ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menilai kualitas makanan hanya dari cara pengolahannya.

Benarkah Makanan Segar Selalu Lebih Sehat daripada Makanan Olahan?

Makanan segar sering dianggap lebih sehat dibandingkan makanan yang sudah melalui proses pengolahan. Bahkan, sebagian orang mungkin langsung menganggap makanan olahan memiliki kualitas gizi yang lebih rendah. Padahal, proses pengolahan tidak selalu mengurangi manfaat dari suatu bahan pangan.

Menurut Julia R. Wijaya, Ph.D., akademisi dan peneliti Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), proses pengolahan makanan sebenarnya memiliki berbagai tujuan. Salah satunya adalah membantu menjaga ketersediaan bahan pangan agar tetap bisa dikonsumsi, terutama ketika makanan segar sulit diperoleh karena kondisi lingkungan atau perubahan musim.

Penjelasan ini turut ia sampaikan dalam kegiatan literasi pangan yang diadakan Danone Indonesia bersama UPH untuk memperingati World Food Day 2026.

Julia mencontohkan kimchi, makanan fermentasi khas Korea yang awalnya berkembang sebagai cara mengawetkan sayuran agar tetap bisa dikonsumsi selama musim dingin.

Melalui proses fermentasi yang melibatkan mikroorganisme, sayuran dapat disimpan dan dikonsumsi dalam bentuk yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa makanan yang telah melalui proses pengolahan belum tentu kehilangan manfaatnya. Contoh lainnya bahkan lebih dekat dengan makanan sehari-hari masyarakat Indonesia, yaitu tempe.

Proses Fermentasi Tempe Justru Bisa Memberikan Manfaat

Parents tentu sudah tidak asing dengan tempe. Makanan berbahan dasar kedelai ini sering menjadi pilihan sumber protein nabati untuk keluarga. Namun, tahukah Parents bahwa tempe juga termasuk makanan yang melalui proses pengolahan?

Tempe dibuat melalui fermentasi kedelai dengan bantuan mikroorganisme. Menurut Julia, proses ini dapat mengubah karakteristik beberapa komponen yang terdapat dalam kedelai.

Ia menjelaskan bahwa kedelai memiliki senyawa tertentu yang penyerapannya dalam tubuh dapat dipengaruhi oleh proses pengolahan. Misalnya, selama proses fermentasi, sebagian senyawa isoflavon dalam bentuk glikosida dapat berubah menjadi aglikon, yaitu bentuk yang lebih mudah diserap oleh tubuh.

Selain itu, fermentasi juga dapat menurunkan sejumlah komponen antinutrisi, yaitu zat yang dapat menghambat pemanfaatan nutrisi tertentu. Dengan begitu, proses fermentasi justru bisa membantu meningkatkan ketersediaan beberapa komponen bermanfaat dalam bahan pangan.

Dari contoh tersebut, Julia menekankan bahwa makanan tidak bisa langsung dinilai sehat atau tidak sehat hanya karena sudah melalui proses pengolahan. "Mesti dilihat prosesnya," jelas Julia.

Artinya, jenis dan tujuan pengolahan menjadi hal penting yang perlu dipahami. Sebab, setiap proses dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik dan kandungan suatu bahan makanan.

Namun, apakah hal yang sama juga berlaku untuk MPASI instan yang diproduksi oleh industri?

Apakah Semua MPASI Instan Termasuk Makanan Ultra-Proses?

Kekhawatiran mengenai MPASI instan sering muncul karena produk tersebut tidak dibuat langsung dari bahan segar di rumah, melainkan telah melalui proses produksi sebelum dikemas dan dipasarkan.

Sebagian orang tua kemudian menganggap bahwa seluruh makanan bayi dalam kemasan otomatis masuk kategori makanan ultra-proses. Padahal, makanan olahan dan makanan ultra-proses tidak bisa langsung disamakan.

Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K), Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, menjelaskan bahwa tidak semua produk MPASI yang diproduksi oleh industri dapat langsung dikategorikan sebagai UPF. "Kita tidak bisa bilang bahwa semua produk makanan MPASI yang sudah jadi, yang sudah diproduksi oleh industri itu sebagai UPF," jelas dr. Diana.

Menurutnya, untuk mengetahui kategori suatu makanan, kita perlu memperhatikan bagaimana produk tersebut diproses dan bahan apa saja yang digunakan di dalamnya. Dengan kata lain, keberadaan kemasan atau fakta bahwa suatu makanan dibuat di pabrik belum cukup untuk menentukan apakah produk tersebut termasuk ultra-proses.

Dr. Diana juga mengingatkan bahwa apabila suatu produk memang termasuk kategori makanan ultra-proses, produk tersebut sebaiknya tidak dijadikan pilihan utama. Meski demikian, ia memahami bahwa dalam kondisi tertentu, orang tua mungkin perlu menggunakan makanan siap saji atau produk pangan yang telah diproses.

"Jadi jangan juga kemudian kita antipati terhadap makanan-makanan yang sudah jadi," ujarnya. Penjelasan ini menunjukkan bahwa orang tua perlu lebih cermat dalam membedakan jenis makanan olahan, daripada langsung menganggap semua makanan bayi siap saji memiliki karakteristik yang sama.

Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih MPASI Instan?

Setelah mengetahui bahwa tidak semua MPASI instan otomatis termasuk UPF, bukan berarti setiap produk makanan bayi dalam kemasan pasti sesuai untuk dikonsumsi anak.

Dr. Diana menjelaskan bahwa penilaian terhadap makanan tetap perlu mempertimbangkan bahan yang digunakan serta proses pengolahannya. Selain itu, kebutuhan nutrisi anak juga menjadi hal yang tidak kalah penting.

Menurut dr. Diana, salah satu hal yang kerap terlewat dalam pemberian makan anak adalah memastikan kebutuhan energi hariannya benar-benar terpenuhi. Sebab, ada kondisi ketika anak terlihat sudah makan, tetapi jumlah energi yang diperoleh ternyata masih belum mencukupi kebutuhannya. Hal serupa juga berlaku pada asupan protein.

Dr. Diana menjelaskan bahwa pemenuhan protein tidak hanya berkaitan dengan jumlahnya, tetapi juga kualitas sumber protein yang diberikan. Protein hewani dan protein nabati sama-sama memiliki peran dalam pola makan anak. Selain pemilihan bahan, cara penyajian juga perlu disesuaikan dengan kemampuan anak, termasuk kemampuan mengunyahnya.

Asupan zat gizi mikro seperti zat besi pun perlu diperhatikan karena berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, ketika memilih MPASI instan, Parents perlu memastikan produk tersebut sesuai dengan usia dan kebutuhan si Kecil, serta memperhatikan komposisi dan kandungan nutrisinya.

Hal ini juga berlaku ketika menyiapkan MPASI rumahan. Penggunaan bahan segar tidak otomatis menjamin kebutuhan nutrisi anak sudah terpenuhi apabila jumlah dan variasi makanan yang diberikan belum sesuai.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, orang tua dapat memilih makanan berdasarkan kebutuhan anak, bukan hanya karena produk tersebut dibuat sendiri atau diproduksi oleh industri.

Jadi, Lebih Baik MPASI Rumahan atau MPASI Instan?

Dari penjelasan kedua ahli tersebut, hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa kualitas makanan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan apakah makanan tersebut segar atau telah melalui proses pengolahan.

MPASI rumahan memungkinkan orang tua memilih bahan dan mengatur proses memasaknya sendiri. Sementara itu, MPASI instan dapat menjadi pilihan praktis dalam kondisi tertentu, tetapi tetap perlu dinilai berdasarkan jenis produk, proses pengolahan, dan kandungan nutrisinya.

Perlu diingat pula bahwa tidak semua makanan olahan termasuk ultra-proses, tetapi hal ini juga tidak berarti semua makanan olahan otomatis memiliki kualitas gizi yang sama. Karena itu, Parents tetap perlu memperhatikan variasi makanan, kecukupan energi, protein, dan zat gizi lainnya untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil.

Jadi, nggak perlu langsung merasa khawatir setiap kali menemukan makanan yang telah melalui proses pengolahan, ya, Parents. Yang terpenting adalah memahami jenis pengolahannya dan memastikan makanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak.

Follow Ibupedia Instagram