Balita

Penyebab Nafas Bayi Bunyi Grok Grok

Penyebab Nafas Bayi Bunyi Grok Grok

Tarik nafas, lalu hembuskan, cukup sederhana ketika kita melakukannya ya? Dan tidak berisik. Tapi ini bisa jadi hal yang kompleks buat si kecil dan membuat nafas bayi grok grok bunyinya. Ingat Bun, paru-paru dan hidung kecilnya baru saja diperkenalkan pada konsep menghirup udara saat ia dilahirkan ke dunia. Jadi wajar jika Anda bisa mendengar suara nafas bayi bunyi berisik.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Napas bayi bunyi grok grok sangat wajar. Berikut fakta tentang nafas bayi yang perlu Bunda tahu:

  • Kecepatan. Ketika bayi terjaga, ia bisa bernafas sebanyak 60 kali dalam satu menit. Jumlah ini lebih cepat dibanding orang dewasa tapi wajar.

  • Variasi. Bila Anda perhatikan, Anda akan menyadari kalau nafas bayi juga bervariasi. Menjadi lebih lambat ketika ia rileks, dan lebih cepat ketika ia merasa senang.

  • Suara. Dengusan dan dengkuran terjadi karena bayi bernafas lewat hidung. Ini bagus karena membuatnya bisa bernafas dan menyusu dalam waktu bersamaan. Tapi bernafas lewat hidung bisa jadi masalah ketika ada benda asing yang menahan jalan udara. Hal ini tidak terjadi pada bayi baru lahir yang membuka mulutnya sebagai alternatif jalan oksigen. ASI atau lendir kering pada lubang hidung akan mengakibatkan siulan atau dengkuran.

  • Jeda. Ketika dada bayi naik-turun saat ia tidur, Anda bisa melihat nafasnya berhenti beberapa detik. Jangan khawatir, bayi baru lahir sering menahan nafas selama 5 hingga 10 detik, dan lalu mulai bernafas kembali. Tidak mengetahui fakta ini akan membuat Anda panik.

Nafas bayi berbunyi, apakah bahaya?

Biasanya dengkuran dan dengusan sangat normal dan tidak ada yang perlu dicemaskan. Pada saat pemeriksaan pertama di usia bayi antara 6 hingga 8 minggu, dokter akan memeriksa jantung dan suara dadanya. Bila Anda masih khawatir tentang nafas bayi, ini waktu yang tepat untuk mengutarakannya. Dokter akan memeriksa nafas bayi dan menenangkan Anda atau memberi rujukan untuk perawatan bila dibutuhkan.

Anda perlu menghubungi dokter bila bayi bernafas lebih dari 60 kali per menit (dan tidak melambat ketika ia dalam kondisi tenang), Anda mendengar dengkuran bayi yang terus-menerus di akhir nafasnya, ia mengembangkan lubang hidung, atau bila ia sulit bernafas hingga menarik dada pada tiap hirupan udara. Segera menuju rumah sakit bila nafas bayi berhenti lebih dari 10 detik atau wajahnya menjadi biru.

Yang Wajar dan Tidak Wajar Pada Nafas Bayi

Bagi para orangtua baru, istilah “sleep like a baby” bisa memiliki makna yang sangat berbeda. Ini bukan hanya karena bayi sering terjaga, tapi ia memiliki suara nafas yang sangat keras ketika tidur.

Bayi baru lahir bernafas lebih cepat dari orang dewasa. Ini karena mereka tidak memiliki kapasitas paru-paru untuk menahan banyak oksigen sehingga mereka perlu menghirup dan melepas oksigen lebih sering. Orang dewasa bernafas sekitar 18 sampai 20 kali dalam satu menit, dibanding bayi baru lahir yang sekitar 40 sampai 60 kali nafas per menit.

Nafas bayi tidak selalu ritmis. Bayi baru lahir punya nafas yang cepat, dangkal, hampir seperti terengah. Kadang lebih panjang, nafas yang lebih lama lalu diikuti oleh nafas yang lebih pendek. Atau ada jeda selama beberapa detik dan tidak bernafas sama sekali. Ini yang disebut nafas periodik. Seiring waktu dan meningkatnya kematangan paru-paru, kebanyakan bayi melewati fase ini.

Pada banyak kasus, suara nafas bayi bunyi grok grok disebabkan oleh suara udara yang mengalir pada liur yang penuh di tenggorokan belakang bayi. Tidak seperti orang dewasa, bayi tidak bisa membersihkan tenggorokannya atau secara sadar mengontrol nafas.

Kadang ada baiknya menggunakan larutan tetes hidung. Larutan ini akan mencairkan sekresi hidung dan membantu membersihkan lendir yang menyumbat lubang hidung bayi. Tapi sebelum melakukan ini, periksakan bayi dan pastikan tidak ada masalah medis penyebab nafas berisik bayi.

Penyebab suara nafas bayi bunyi grok grok:

  • Bila hidung mampet, suara nafas jadi lebih berisik

  • Jalan udara yang kecil. Ini berarti mereka tidak bisa beranfas dengan banyak udara

  • Liur yang berkumpul di belakang tenggorokan

  • Hidung tersumbat oleh lendir

  • Bayi baru lahir memiliki hidung yang sangat kecil dan lubang hidungnya sangat sempit

  • Bayi menghirup dan melepas udara lewat hidung.

Beberapa bayi mendengkur dan mengerang, bayi juga sering bersin, cegukan, dan batuk ketika tidur. Tapi selama bayi sehat, menyusunya baik dan mencapai tumbuh kembangnya, tak ada yang perlu dicemaskan.

Bawa bayi ke dokter bila ia demam, muncul gejala pilek atau tanda penyakit lain, serta area bagian atas atau bawah tulang iga bayi tertarik ketika bernafas. Ini mengindikasikan bayi menggunakan otot lain untuk mendapat udara dan mengeluarkannya dari paru-paru

Gangguan Pernafasan Pada Bayi

Paru-paru menjadi organ terakhir yang berkembang di tubuh bayi selama tahap kehamilan. Beberapa bagian penting paru-paru tidak berkembang hingga akhir kehamilan. Bila bayi lahir prematur, paru-paru mungkin belum sepenuhnya berkembang. Ini bisa memicu berbagai gangguan pernafasan.

Banyak jenis gangguan pernafasan terkait dengan perkembangan paru-paru. Biasanya ini terjadi ketika bayi lahir sebelum paru-paru punya waktu untuk sepenuhnya berkembang. Berikut jenis gangguan pernafasan yang bisa terjadi:

  1. Apnea

    Apnea terjadi ketika bayi berhenti bernafas selama 20 detik. Ini juga bisa terjadi ketika bayi berhenti bernafas kurang dari 20 detik dan muncul warna kebiruan pada kulit. Apnea bisa terjadi bila bayi lahir prematur dan sistem neurologikalnya belum matang.

  2. Pneumonia

    Bila bayi lahir prematur, dan paru-paru belum sepenuhnya matang, bayi punya resiko mengalami pneumonia. Mekonium sebagai feses pertama yang diproduksi bayi, kadang berada di rahim. Kemungkinan bayi menghirup mekonium sesaat setelah lahir. Ini disebut aspiration, yang bisa menyebabkan infeksi dan peradangan paru-paru. Pneumonia bisa terjadi karena infeksi atau aspirasi mekonium.

  3. Respiratory distress syndrome (sindrom gawat nafas)

    Bila bayi lahir prematur, surfactant kemungkinan belum sepenuhnya berkembang. Ini bisa menyebabkan paru-paru bermasalah, membuat bayi sulit bernafas. Kondisi ini disebut respiratory distress syndrome, yang sangat umum terjadi pada bayi baru lahir, terutama mereka yang lahir prematur.

  4. Bronchopulmonary dysplasia

    Bayi yang lahir lebih dari 10 minggu lebih awal beresiko tinggi mengalami bronchopulmonary dysplasia. Kondisi ini bisa terjadi karena terapi yang bayi terima bila mengalami perkembangan paru-paru yang prematur. Bila bayi lahir dini, ia perlu menerima oksigen dan bantuan pernafasan dari ventilator. Penanganan ini bisa menyelamatkan nyawanya, tapi juga bisa merobek paru-parunya yang rapuh, dan membuatnya lebih sulit bernafas.

  5. Laryngomalacia

    Laryngomalacia adalah kondisi dimana jaringan di atas larynx (kotak suara) tidak cukup kuat. Bayi dengan laryngomalacia mengeluarkan suara berisik ketika menarik nafas. Suara ini terdengar lebih jelas ketika bayi menangis atau menyusu. Biasanya laryngomalacia terlihat  pada beberapa minggu pertama usia bayi. Kondisi ini umumnya hilang saat bayi berumur 12 sampai 18 bulan. Laryngomalacia umumnya tidak membutuhkan pengobatan khusus.

    Biasanya pada usia sekitar 6 bulan, bayi berhenti bernafas dari hidung. Seperti orang dewasa, mereka belajar bernafas lewat hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Ketika bayi mendekati usia 6 bulan, jalan udara juga akan sedikit lebih besar dan kemampuan menelan telah matang, sehingga bayi tidak lagi bernafas berisik.


(Ismawati)