Balita Dibaca 2,989 kali

Peran Orangtua Agar Anak Tidak Di-Bully Atau Mem-Bully

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 05 Oktober, 2017 04:10

Peran Orangtua Agar Anak Tidak Di-Bully Atau Mem-Bully
Bunda, bullying bisa dalam bentuk fisik atau verbal, bila tidak dihentikan akan memicu perilaku antisosial agresif dan mengganggu keberhasilan anak di sekolah dan kemampuannya untuk berteman.

Memahami perilaku bullying

Anak melakukan bullying karena banyak faktor, salah satunya karena anak merasa tidak aman. Mem-bully orang yang terlihat lebih lemah memberi rasa menjadi lebih penting, terkenal, dan berkuasa. Di sisi lain, anak mem-bully semata karena tidak tahu kalau tidak boleh meledek anak yang berbeda penampilan, ras, atau agama.
Pada beberapa kasus, bullying jadi bagian dari perilaku agresif. Anak seperti ini kemungkinan membutuhkan bantuan dalam mengatur rasa marah, frustasi, atau emosi yang kuat lainnya. Mereka mungkin tidak punya kemampuan untuk bekerjasama dengan anak lain. Anak yang sering menyaksikan interaksi agresif di keluarga biasanya memperlakukan orang lain dengan cara serupa. Konseling bisa membantu dan memperbaiki kemampuan sosial anak.

Membantu anak berhenti mem-bully

Beritahukan anak kalau bullying bukan perilaku yang baik dan ada konsekuensi serius di rumah atau sekolah bila dilanjutkan. Coba pahami alasan di balik perilaku anak Anda. Pada beberapa kasus, anak mem-bully karena mereka kesulitan mengatur emosi seperti marah, frustrasi, dan rasa tidak aman. Di kasus lain, anak belum mengetahui cara mengatasi konflik dan memahami perbedaan.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar anak tidak mim-bully temannya:
  • Pastikan anak memahami kalau Anda tidak mentolerir bullying di rumah atau dimanapun. Buat aturan tentang bullying. Bila Anda menghukum anak dengan mengambil haknya, pastikan ia merasakan efeknya. Misalnya, apabila anak mem-bully anak lain melalui SMS atau situs internet, jangan bolehkan ia menggunakan komputer untuk sementara waktu. Bila anak bertingkah agresif di rumah, ajarkan cara bereaksi yang lebih tepat.
  • Pelajari kehidupan sosial anak. Coba cari tahu faktor yang mempengaruhi perilaku anak di lingkungan sekolah atau dimanapun bullying terjadi. Bicaralah pada orangtua dari teman anak Anda dan gurunya. Apakah ini terjadi karena anak lain mem-bully? Bagaimana dengan teman-teman anak Anda? Tekanan seperti apa yang anak hadapi di sekolah? Libatkan anak dalam aktivitas di luar sekolah agar ia bisa menjalin pertemanan dengan anak lain.
  • Ajarkan anak memperlakukan orang lain dengan baik. Beritahu anak untuk tidak mempermasalahkan perbedaan, misalnya ras, agama, penampilan, gender, atau status ekonomi, dan coba tanamkan empati pada orang yang memiliki perbedaan.
  • Berikan contoh yang baik. Hati-hati dengan cara Anda berbicara dan cara Anda menghadapi konflik di sekitar anak. Bila Anda berperilaku agresif di depan anak, kemungkinan anak akan meniru Anda. Sebaiknya tunjukkan perilaku yang positif.
  • Dukung perilaku baik. Dukungan positif bisa lebih kuat dari disiplin negatif. Ketahui momen ketika anak berperilaku baik, dan saat ia mengatasi situasi dengan cara yang positif, lalu berikan pujian.

Memulai dari rumah

Ketika mencari pengaruh pada perilaku anak, pertama lihat apa yang terjadi di rumah. Anak yang terbiasa dengan teriakan atau kemarahan fisik dari saudara kandung atau orang tua akan bertindak serupa. Wajar bila anak berkelahi dengan kakak atau adiknya di rumah. Anda perlu turun tangan bila ada kekerasan fisik. Pastikan bicara pada anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan.
Jangan lupa perhatikan perilaku Anda sendiri. Awasi cara Anda bicara pada anak, Bila Anda tidak suka dengan perilaku anak, tekankan kalau Anda ingin si kecil mengubahnya. Bila keluarga mengalami kondisi yang menimbulkan stres yang Anda rasa jadi penyebab perilaku anak, cari bantuan konselor, pemuka agama, terapis, dan dokter.
Untuk membantu anak berhenti mem-bully, bicaralah pada guru atau kepala sekolah yang bisa mengidentifikasi situasi yang memicu bullying dan memberi bantuan. Dokter juga bisa membantu. Bila anak punya riwayat masalah dalam mengontrol marah, coba konsultasikan ke terapis atau orang yang ahli dalam  kesehatan perilaku. Ingat ya Bun, meski sulit untuk membuat anak berhenti mem-bully, perilaku buruk ini tidak berhenti dengan sendirinya.

Membantu anak ketika di-bully

Bila anak memberitahu Anda kalau ia telah di-bully, dengarkan dengan tenang dan berikan rasa nyaman serta dukungan. Anak sering ragu memberi tahu orang dewasa tentang bullying karena merasa malu, atau takut orangtua akan kecewa, marah, atau reaktif.
Kadang anak merasa ini adalah salah mereka sendiri, kadang mereka takut kalau bullying akan lebih parah bila mereka bercerita ke orang lain. Anak juga cemas kalau orang tua tidak percaya atau tidak mau berbuat apa-apa. Bahkan anak takut orang tua akan memaksa mereka untuk melawan padahal mereka tidak berani melakukannya.
Beri pujian pada anak ketika ia berbicara pada Anda tentang hal ini. Ingatkan anak kalau ia tidak sendirian, banyak orang yang juga di-bully. Tekankan kalau orang yang mem-bully yang berperilaku buruk, bukan anak Anda. Tenangkan anak dengan memberitahu Anda akan mencari jalan keluarnya. Beritahukan kepala sekolah dan guru tentang situasi ini. Mereka ada di posisi untuk memonitor dan mengambil langkah untuk mencegah terjadinya bullying.
Orangtua bisa membantu anak mengatasi bullying. Beberapa orangtua kadang ingin langsung meminta anak untuk melawan. Orang tua marah karena anak menderita atau mungkin mereka dulu saat kecil juga diminta melawan. Tapi sebaiknya Anda menyarankan anak untuk tidak merespon bullying dengan melawan atau balas mem-bully. Bullying bisa dengan cepat meningkat jadi kekerasan fisik dan membuat anak terluka. Anda bisa meminta anak untuk menjauh dari situasi ini, berteman dengan anak lain, dan memberitahu orang dewasa ketika ia dibully.
Berikut ini beberapa saran yang bisa Anda berikan pada anak agar ia bisa mengatasi situasi yang terjadi dan merasa lebih baik:
  • Wajar bila kamu merasa kesal pada anak yang mem-bully, tapi dengan begitu ia jadi merasa kuat. Kamu harus berlatih untuk tidak reaktif seperti menangis atau terlihat marah. Memang perlu banyak latihan tapi ini jadi kemampuan yang berguna agar terhindar dari teman yang mem-bully.
  • Gunakan kamar mandi yang berbeda dengan teman yang mem-bully jika kamu sering dibully di kamar mandi. Pastikan ada orang lain agar tidak hanya berdua dengan anak yang mem-bully. Selalu bersama teman saat naik bus atau saat istirahat.
  • Ceritakan pada orang yang dipercaya seperti wali kelas, guru, atau teman. Mereka mungkin punya jalan keluar dan membuatmu tidak merasa sendirian.
  • Bersikap berani, menghindar, dan mengabaikan teman yang mem-bully. Lakukan latihan untuk mengacuhkan si pem-bully dengan bertingkah tidak tertarik atau pura-pura mengirim SMS menggunakan handphone. Dengan mengabaikannya, kamu menunjukkan kalau kamu tidak peduli. Perlahan si pem-bully jadi bosan mengganggu.
  • Beritahu orang dewasa seperti guru, kepala sekolah, dan orangtua yang bisa membantu menghentikan bullying.
Berurusan dengan bullying bisa mengganggu rasa percaya diri anak. Untuk mengatasinya, minta anak berteman dengan teman yang memiliki pengaruh positif. Ajak ia berpartisipasi di kegiatan olahraga atau aktivitas menyenangkan lain untuk membangun kekuatan dan pertemanan.
(Ismawati)