Pintarnya Nggak Instan! Ini 8 Kebiasaan yang Dilakukan Orangtua Kenkulus

Pintarnya Nggak Instan! Ini 8 Kebiasaan yang Dilakukan Orangtua Kenkulus
Pintarnya Nggak Instan! Ini 8 Kebiasaan yang Dilakukan Orangtua Kenkulus

Beberapa waktu terakhir, nama Kenkulus ramai banget dibicarakan. Banyak yang kagum melihat cara berpikirnya yang kritis, celotehannya yang pintar, sampai kemampuan belajarnya yang terlihat beda dari anak seusianya.

Kenkulus adalah Kenneth Matthew, anak laki-laki asal Indonesia yang dikenal karena kecerdasannya di atas rata-rata. Di usia yang masih sangat kecil, Ken sudah menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dan kemampuan memahami hal-hal yang cukup kompleks untuk anak seusianya.

Kesempatan menarik datang saat Ken dan kedua orangtuanya ikut dalam edutrip Nutrilon Royal Winner Squad Adventure to Hong Kong. Dalam perjalanan ini, Ken menjadi salah satu sosok yang mencuri perhatian, bukan hanya karena kemampuannya, tapi juga karena cara ia berinteraksi dan merespons banyak hal di sekitarnya.

Di momen inilah, tim Ibupedia berkesempatan untuk ngobrol langsung dengan Ibu dari Ken, yaitu Chika. Dari obrolan tersebut, mulai terlihat bahwa di balik kecerdasan Ken, ada proses panjang yang sudah dimulai sejak sangat dini.

Lalu sebenarnya, apa saja yang dilakukan orangtuanya sampai Ken bisa berkembang seperti sekarang?

1. Ken Distimulasi Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan

Kalau banyak yang penasaran kenapa Ken bisa punya fokus dan cara berpikir yang berbeda sejak kecil, ternyata jawabannya bukan dimulai saat dia sudah besar, tapi bahkan sejak masih di dalam kandungan.

Chika cerita kalau ia dan suami sudah mulai memberikan stimulasi sejak masa kehamilan. Mulai dari sering mengajak Ken ngobrol, sampai memberikan stimulasi cahaya, semua ia lakukan secara konsisten. Hal-hal ini mungkin terdengar sepele, tapi justru jadi pondasi awal yang sangat penting. “Aku percaya sama 1000 hari kehidupan anak, jadi dari mulai di perut aku sama suami udah stimulasi Ken dengan cara ajakin ngobrol, terus stimulasi cahaya,” jelasnya.

Menariknya, Chika merasa stimulasi sejak dalam kandungan itu punya dampak nyata setelah Ken lahir. Salah satunya terlihat dari kemampuan fokusnya yang sudah cukup baik sejak dini.

Dari sini kelihatan banget ya Bu, bahwa stimulasi itu bukan soal cepat-cepatan anak pintar, tapi soal bagaimana orangtua mulai hadir dan terlibat bahkan sejak sebelum anak lahir.

2. Stimulasi untuk Ken Selalu Disesuaikan dengan Fase Perkembangannya

Masuk ke fase setelah lahir, pendekatan Chika juga tetap sama konsistennya, tapi dengan cara yang lebih fleksibel. Ia tidak terpaku pada satu jenis stimulasi, melainkan terus menyesuaikan dengan apa yang sedang dibutuhkan Ken di tiap tahap tumbuh kembangnya.

Di awal, Chika banyak mengajak Ken membaca buku bersama. Aktivitas sederhana ini jadi pintu masuk untuk melatih fokus sekaligus memperkaya pemahaman Ken terhadap banyak hal. Tapi seiring waktu, ketika Ken mulai masuk fase sensori, arah stimulasinya pun ikut berubah.

Di fase ini, Chika mulai memperkenalkan berbagai tekstur lewat stimulasi taktil. Dari sini, ia melihat perubahan yang cukup signifikan. Ken jadi lebih fokus, lebih berani mencoba hal baru, dan bahkan lebih mudah menerima berbagai jenis makanan karena sudah terbiasa dengan beragam sensasi. “Kalau misalkan Ken lagi sensori, aku mulai stimulasi taktilnya dia, karena itu banyak pengaruhnya ke fokusnya Ken, terus dia juga jadi nggak takut nyoba banyak hal baru,” paparnya.

Pendekatan seperti ini bikin proses belajar terasa lebih mengalir, karena anak tidak dipaksa mengikuti metode tertentu, tapi justru dibantu berkembang sesuai kebutuhannya di setiap fase.

3. Tidak Fokus ke Akademis Ken, Tapi ke Perkembangan Sosial Emosi

Di usia Ken yang masih sangat kecil, Chika justru tidak menjadikan kemampuan akademis sebagai prioritas utama. Buatnya, ada hal lain yang jauh lebih penting untuk dibangun lebih dulu, yaitu bagaimana Ken memahami dan mengelola emosinya sendiri.

Menurutnya, anak seusia Ken masih berada di fase belajar mengenali perasaan, butuh banyak validasi, dan juga bimbingan untuk bisa meregulasi emosi dengan baik. Karena itu, perannya sebagai ibu lebih banyak hadir di sisi ini, menemani proses emosional Ken sehari-hari.

Sementara itu, peran ayah juga tidak kalah penting, tapi dengan pendekatan yang berbeda. Papinya Ken lebih sering terlibat dalam menjawab rasa ingin tahu Ken yang tinggi. Apalagi Ken termasuk anak yang kritis, tidak puas dengan jawaban seadanya, dan cenderung meminta penjelasan yang logis dan detail. “Kecerdasan akademis itu menurut aku nomor sekian, yang utama untuk Ken itu kecerdasan emosionalnya,” jelasnya.

Dari cara ini, terlihat bahwa keseimbangan peran orangtua jadi kunci. Anak tidak hanya tumbuh pintar secara pengetahuan, tapi juga punya pondasi emosi yang kuat untuk menghadapi berbagai situasi ke depannya.

4. Ken Dibiasakan Mengalami Kalah dan Gagal Sejak Kecil

Hal lain yang cukup menarik dari cara Chika dan suami membesarkan Ken adalah soal bagaimana mereka mengenalkan konsep menang dan kalah sejak dini. Bukan lewat kompetisi besar, tapi justru dari hal-hal sederhana yang terjadi sehari-hari di rumah.

Mereka sering membuat “lomba kecil” dengan Ken. Tapi yang membedakan, Ken tidak selalu dimenangkan. Ada momen di mana ia harus kalah, kecewa, bahkan merasa tidak berhasil. Dan itu memang sengaja dibiarkan terjadi.

Buat Chika, pengalaman seperti ini penting supaya Ken tidak tumbuh dengan ekspektasi bahwa semua hal harus selalu berhasil. Justru dari situ, anak belajar menerima proses, memahami usaha, dan pelan-pelan membangun mental yang lebih kuat. “Yang penting Ken tahu walaupun nggak berhasil, tapi ada prosesnya, dan dia harus ngerasain kalah, ngerasain gagal juga,” ujarnya.

Dengan cara ini, Ken jadi lebih terbiasa menghadapi berbagai kemungkinan dalam hidup. Tidak hanya siap saat berhasil, tapi juga lebih siap saat harus menghadapi kegagalan, tanpa kehilangan semangat untuk mencoba lagi.

5. Nutrisi Ken Dijaga Ketat Sejak Kecil, Termasuk Feeding Rules

Kalau bicara soal perkembangan Ken, Chika juga sangat perhatian dengan apa yang masuk ke tubuh anaknya setiap hari. Bukan sekadar makan kenyang, tapi benar-benar dipikirkan kualitas dan kebiasaannya sejak kecil.

Salah satu yang ia terapkan adalah membatasi makanan manis dan lebih sering menyediakan camilan buatan sendiri di rumah. Selain itu, Ken juga sudah punya feeding rules sejak dini. Jadi bukan makan asal, tapi ada pola yang membuat Ken paham kapan tubuhnya merasa lapar dan butuh makan.

Untuk menu sehari-hari, Chika memastikan komposisinya lengkap. Ada protein hewani, sayur, karbohidrat, dan lemak, sehingga kebutuhan nutrisi Ken bisa terpenuhi dengan seimbang. Dari situ, fondasi makannya sudah terbentuk dengan baik sejak kecil.

Selain dari makanan utama, Chika juga memperhatikan asupan susu Ken. Sejak usia dua tahun ke atas, Ken rutin mengonsumsi Nutrilon Royal yang menurutnya membantu melengkapi kebutuhan nutrisi, seperti kandungan double biotics, FOS GOS, serta DHA dan EPA yang mendukung perkembangan anak.

Tapi yang paling ditekankan oleh Chika sebenarnya bukan hanya soal nutrisi, melainkan daya tahan tubuh. Menurutnya, semua asupan baik tidak akan maksimal kalau anak sering sakit. “Percuma semua yang masuk ke tubuhnya Ken kalau dia sering sakit, gizinya jadi kepakai buat melawan penyakit,” jelasnya.

Karena itu, menjaga imunitas jadi bagian penting dalam rutinitas harian Ken, supaya nutrisi yang sudah diberikan benar-benar bisa digunakan untuk tumbuh kembangnya, bukan hanya untuk pemulihan saat sakit.

6. Energi Ken yang Tinggi Selalu Disalurkan Lewat Aktivitas Fisik

Satu hal yang cukup menonjol dari Ken adalah energinya yang seolah nggak ada habisnya. Tapi alih-alih dianggap sebagai sesuatu yang harus dikurangi, Chika justru melihat ini sebagai sesuatu yang perlu diarahkan dengan tepat.

Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas lain, Ken sudah punya “ritual” sendiri untuk mengeluarkan energinya. Mulai dari main bola di luar rumah, sampai naik push bike, semua dilakukan supaya tubuhnya aktif sejak awal hari.

Rutinitas ini bukan tanpa alasan. Chika menyadari kalau energi yang menumpuk justru bisa bikin Ken sulit fokus, apalagi saat harus duduk tenang di sekolah dan mengikuti instruksi guru. Jadi daripada ditahan, energinya dialihkan lewat aktivitas fisik terlebih dulu. “Kalau Ken energinya berlebih, dia nggak bakal bisa fokus di sekolah, makanya setiap pagi dia harus habisin energinya dulu,” jelasnya.

Menariknya lagi, pola ini sudah terbentuk sejak lama. Ken terbiasa bangun sekitar jam setengah enam pagi, dan dari situ rangkaian aktivitas hariannya berjalan dengan ritme yang konsisten. Di titik ini kelihatan kalau energi anak yang besar sebenarnya bukan masalah, selama orangtua tahu bagaimana cara menyalurkannya dengan tepat.

7. Ken Banyak Les, tapi Semua Sesuai Minat Bakatnya

Kalau melihat aktivitas Ken sehari-hari, mungkin banyak yang langsung berpikir, “Kok anak umur 4 tahun sudah ikut banyak les?” Pertanyaan itu juga sering muncul, apalagi kekhawatiran soal anak jadi capek atau stres.

Tapi yang menarik, Chika menjelaskan bahwa semua kegiatan yang diikuti Ken bukan sesuatu yang dipaksakan. Justru dipilih berdasarkan minatnya sendiri, jadi anaknya tetap menikmati setiap prosesnya.

Saat ini, Ken mengikuti beberapa aktivitas seperti basket untuk fisik, lalu bahasa Inggris dan Mandarin, kemudian drum karena ia memang suka, juga coding, golf, dan art. Variasinya cukup banyak, tapi semuanya masih dalam konteks belajar sambil bermain. “Ken itu sudah tahu jadwalnya, bahkan dia sudah tahu hari apa dia les coding, dan semuanya memang sesuai minatnya dia,” ujarnya.

Karena sudah terbiasa dengan rutinitas ini, Ken justru terlihat nyaman dan tidak merasa terbebani. Ia tahu kapan waktunya belajar, kapan waktunya bermain, dan bisa mengikuti alur harinya dengan cukup konsisten.

8. Ken Minim Gadget, Tapi Maksimal Eksplorasi

Di tengah kebiasaan anak-anak yang sekarang makin dekat dengan gadget, pendekatan yang diterapkan ke Ken justru berbeda. Chika membatasi penggunaan gadget sejak awal, sehingga Ken tidak terbiasa mengisi waktunya hanya dengan layar.

Dampaknya cukup terasa, ketika tidak ada distraksi dari gadget, Ken justru jadi aktif mencari kegiatan lain. Ia lebih sering bergerak, mencoba hal baru, dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

Menurut Chika, ini juga yang membuat energi Ken tersalurkan dengan cara yang lebih positif. Rasa bosan tidak dihabiskan dengan scrolling, tapi diubah jadi dorongan untuk melakukan sesuatu. “Kalau anak nggak main gadget, pasti dia bosen di rumah, jadi harus banyak kegiatan supaya dia nggak bosen,” jelasnya.

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan eksplorasi Ken juga ikut berubah. Kalau dulu cukup distimulasi lewat permainan di rumah, sekarang ia butuh aktivitas yang lebih variatif untuk menjawab rasa ingin tahunya yang semakin besar.

Kalau dilihat dari perjalanan Ken, ternyata nggak ada satu “rahasia instan” yang bikin anak jadi berkembang pesat. Semuanya dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus sejak awal.

Yang juga penting untuk diingat, setiap anak punya ritmenya masing-masing. Apa yang diterapkan ke Ken belum tentu bisa sama persis diterapkan ke anak lain. Tapi setidaknya, ada benang merah yang bisa kita ambil, yaitu proses itu dimulai sejak dini, dijalani dengan konsisten, dan selalu disesuaikan dengan kebutuhan anak. Jadi, bukan soal membuat anak jadi “lebih cepat”, tapi menemani mereka tumbuh dengan cara yang tepat.

Follow Ibupedia Instagram