Balita Dibaca 11,921 kali

Potty Training 3 Hari, Solusi Cepat Bebas Popok Sejak Dini!

Share info ini yuk ke teman-teman
Yusrina
Potty Training 3 Hari, Solusi Cepat Bebas Popok Sejak Dini!

Hari dimana para Bunda sedunia berbahagia adalah hari saat si kecil berhasil buang air sendiri. Yay! Rasanya semua letih selama mengganti popok dan mencuci celana anak  terbayar tuntas saat melihat buah hati kita mulai belajar mandiri. Tapi, tentu mengajarkan anak untuk buang air di potty, atau disebut juga potty training, bukanlah hal mudah dan memerlukan upaya yang konsisten.

Bisa jadi seorang Ibu harus menemui banyak sekali kegagalan karena tak tahan melihat anak rewel saat potty training. Alhasil, seringkali kita temui balita yang masih mengenakan popok di saat teman sebayanya sudah bisa ke kamar kecil sendiri. Selain merepotkan, anak juga akan terbiasa untuk dilayani, lho!

Nah, Ibupedia punya solusi nih untuk para Bunda yang ingin buah hatinya segera lepas dari popok. Bahkan, Anda dapat melakukan potty training hanya dalam jangka waktu tiga hari bahkan kurang dari itu. Tidak percaya?

Hmm­­­, sebuah strategi telah sukses dikembangkan oleh Julie Fellom dengan nama 'Diaper Free Toddlers Program' . Melalui program ini, Julie Fellom mengajarkan para Ibu langkah demi langkah untuk melakukan potty training dalam waktu singkat. Yuk kita simak caranya!

Siapkan diri Bunda!

Yup, program yang dikembangkan oleh Fellom ini memang membutuhkan komitmen tinggi dari para Bunda. Pasalnya, selama tiga bulan setelah potty training, Anda diwajibkan untuk menerapkan metode "telanjang pantat". Itu berarti, selama berada di rumah, biarkan si kecil bebas berlarian telanjang dari daerah pusar ke bawah. Di luar rumah, cukup kenakan celana longgar tanpa perlu memakaikan celana dalam atau popok.

Hmm, terdengar agak ekstrem, ya Bun? Fellom berprinsip bahwa ini adalah cara terbaik agar potty training berjalan lancar. Menurutnya, popok hanya akan membuat anak merasa 'aman' sehingga ia merasa boleh buang air kapan saja ia mau. Namun, untuk waktu istirahat siang dan malam, Bunda boleh kok memakaikan popok atau celana training untuk mengantisipasi anak buang air saat tidur.

Selama dua hingga lima minggu sebelum potty training dilakukan, Anda dan keluarga sudah harus mengajarkan cara memakai kamar mandi. Ajaklah si kecil saat Anda masuk kamar mandi. Perlihatkan dia cara memelorotkan celana, duduk di toilet, menyiram toilet, lalu membasuh tangan dengan sabun. Bunda dapat berpura-pura buang air, kok. Hanya tunjukkan saja urutan bagaimana cara menggunakan kamar mandi pada si kecil.

Lakukan hal ini bersama anggota keluarga yang lain secara rutin sehingga anak Anda mengingat baik-baik bahwa hal tersebut memang harus dilakukan. Namun, jika Bunda merasa malu atau canggung menunjukkan cara memakai kamar mandi, Anda dapat memakai boneka sebagai pengganti. Buatlah seperti sebuah drama kecil, tunjukkan bagaimana boneka tersebut pura-pura buang air dan membasuh tangannya. Make it fun, Bun!

Persiapan untuk Potty training

Pastikan Bunda menyiapkan hal-hal berikut ini untuk menunjang kelancaran program potty training:

  • Potty atau toilet duduk.

  • Siapkan beragam aktivitas menyenangkan yang dapat dilakukan seharian bersama anak Anda. Boleh jadi film, buku gambar, mainan, game, menari, dan lain-lain. Fellom sangat menyarankan  untuk membuat semacam tarian khusus (Potty Dance) sebagai hadiah saat anak sukses buang air sendiri. 

  • Timer  untuk menghitung waktu selama anak di kamar mandi.

  • Sediakan banyak makanan yang mengandung garam.

  • Benda/makanan kesukaan anak sebagai hadiah saat si kecil berhasil buang air sendiri. Misalnya buku dongeng favorit, snack, atau mainan dinnosaurusnya.

  • Buku  catatan.

  • Siapkan beragam minuman, misalnya air mineral atau jus buah.


Program ini diperuntukkan bagi anak-anak yang berusia di bawah 28 bulan. Menurut Fellom, mengajari anak usia 3 tahun malah akan lebih sulit. Maka dari itu, semakin dini Potty training diajarkan, semakin besar pula kemungkinannya untuk sukses!

Langkah Pertama

Syarat utama agar program ini berhasil  yaitu Bunda harus meluangkan waktu seharian penuh bersama si kecil. Pastikan pula agar semua alat-alat penunjang keberhasilan program ini diletakkan dekat kamar mandi. Bunda akan menghabiskan banyak waktu di kamar mandi, so prepare well!

Langkah Kedua

Di hari pertama, biarkan anak Anda telanjang dari pusar ke bawah selama seharian penuh. Lalu, penuhi perut anak Anda dengan beragam cairan serta makanan yang banyak mengandung garam. Setelah itu, ajak dia masuk kamar mandi. Aktifkan timer agar Bunda tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk si kecil berhasil buang air sendiri. Nah, selama berada di dalam kamar mandi, Anda harus menghibur dia dengan beragam hal, mulai dari membacakan cerita atau menyanyikan lagu-lagu yang penuh semangat.

Ketika dia berhasil buang air sendiri, jangan lupa memuji, memeluk, ciumi, dan berikan si kecil hadiah sebagai balasan kesuksesannya. Anggap anak Anda telah melakukan hal luar biasa yang membuat Bunda bangga. Yup, make it a big deal! Jangan lupa untuk menulis berapa lama waktu yang dibutuhkan si kecil untuk duduk di potty serta lamanya proses dia buang air di buku catatan, ya.

Lalu, bagaimana jika anak Anda gagal dalam potty training pertamanya? Menurut Fellom, jangan pernah mengatakan "Tak apa, lain kali pasti kamu bisa" padanya, melainkan beri dia ekspresi kecewa. Bukan berarti Bunda boleh memarahi atau membuat si kecil malu, hanya sampaikan seberapa besar Anda berharap ia dapat buang air sendiri.

Langkah Ketiga

Setelah Bunda memberikan mainan atau benda lain sebagai hadiah, pastikan agar si kecil hanya menikmatinya selama beberapa menit. Jika hadiahnya makanan, beri dia porsi sedikit saja. Setelah itu, ambil kembali hadiahnya dan katakan bahwa Anda hanya akan memberi si kecil hal-hal yang ia sukai saat berhasil buang air di potty.

Lakukan proses memberi air serta makanan yang banyak mengandung garam pada anak. Makanan asin akan membuatnya merasa haus sehingga akan minum lebih banyak. Tunggu beberapa menit hingga Ia menunjukkan tanda-tanda mau buang air lalu lakukan langkah-langkah serupa seperti di atas. Jika si kecil sudah berhasil buang air selama tiga kali berturut-turut, Bunda dapat mengurangi pasokan minuman dan makanan asin.

Bagaimana jika ia gagal dan ngompol lagi? Segera angkat badannya dan bawa ke kamar mandi! Pastikan si kecil mengingat baik-baik bahwa keinginan untuk buang air ada hubungannya dengan kamar mandi. Di penghujung hari, si kecil sudah harus bisa menggunakan kamar mandi selama 35-40 menit. Jangan lupa dicatat perkembangannya ya, Bun!

Sebelum waktu istirahat baik di siang maupun malam hari, sampaikan bahwa sudah waktunya bagi anak Anda untuk buang air. Boleh  dengan ucapan, "It's time to go potty" atau "Ayo pipis dulu!" dan jangan pernah tanyakan dia apakah mau ke kamar mandi atau tidak, karena biasanya anak kecil akan menolaknya.

Langkah keempat

Di hari kedua, Anda mulai menghubungkan buang air dengan kebiasaan meninggalkan rumah. Menurut Fellom, hal ini akan melatih si kecil untuk buang air saat diperintah. Lakukan langkah-langkah yang sama seperti hari pertama, beri ia makanan asin dan cairan yang banyak, lalu tunggui saat ia berada di kamar mandi. Setelah itu, cepat-cepat ajak anak keluar rumah.

Saat berada di luar ruangan, pakaikan anak Anda celana tanpa apapun di baliknya. Ini berarti, tidak pakai popok, celana dalam, atau training pants. Tujuannya agar si kecil terbiasa untuk membutuhkan kamar mandi. Jika ia 'kebelet' buang air, maka perhatikan reaksinya. Latih si kecil untuk menahan diri untuk tidak buang air di celana sebelum mencapai kamar mandi. Bawa baju ganti ya untuk berjaga-jaga bila si kecil mengompol.

Fellom menyarankan untuk mengajak anak Anda berpergian di sekitar rumah saja dan jangan menggunakan kendaraan. Berjalan kaki lah di sekitar kompleks perumahan selama setidaknya satu jam. Bunda dapat melakukan hal ini sekali pada sore hari.

Langkah kelima

Di hari ketiga ini, Anda dapat meningkatkan frekuensi bepergian menjadi dua kali sehari yakni di pagi dan sore hari. Tetap suruh si kecil untuk buang air sebelum meninggalkan rumah, ya Bun. Fellom juga menyarankan Anda membawa portable travel potty, tapi bila Anda tidak memiliki alat ini, ya bawa saja si kecil pulang ke rumah saat dia menunjukkan tanda-tanda ingin buang air. Atau, jika terpaksa harus menggunakan toilet umum, pastikan Bunda membantunya agar merasa aman dan nyaman. Ajari si kecil untuk selalu mencuci tangan setelah buang air juga ya, Bunda.

Setelah Potty training

Nah, ini saatnya membiarkan anak Anda berkeliaran di rumah dengan pantat telanjang selama tiga bulan ke depan. Menurut Fellom, hal ini akan menyingkirkan rasa 'secure' saat menggunakan popok. Setelah selama tiga bulan ia berhasil buang air secara mandiri, Anda sudah boleh memakaikan celana saat berada di rumah.

Bagaimana jika Potty training tidak berhasil?

Jika si kecil masih saja sukar disuruh buang air di kamar mandi, maka Fellom menganjurkan Bunda untuk menunggu 6 hingga 8 minggu kemudian untuk mengulang program ini dari awal.

Keuntungan dan Kelemahan Program Potty training dalam 3 hari

Jika mengikuti cara Fellom, maka metode ini adalah yang tercepat di antara metode-metode potty training lainnya. Sehingga Bunda dapat lebih menghemat waktu, energi, serta biaya pembelian popok sejak dini.

Nah, kelemahan dari program ini sudah tentu banyaknya waktu yang Bunda harus luangkan untuk mendidik sang buah hati. Namun, tak ada salahnya segera memulai hal ini sejak dini. Tiga hari merupakan waktu yang relatif singkat dibandingkan harus bersusah payah membersihkan kotoran si kecil, mencuci pakaian kotornya, dan mengganti celananya. Selain itu, membiarkan anak tanpa celana selama 3 bulan memang cukup membuat berat hati.

Mungkin Anda berpikir, "Lalu gimana donk kalau anak saya masuk angin?" Well, Bunda bisa memakai alternatif metode selain Fellom kok, seperti program bebas popok sebelum usia 3 tahun milik Jill M.Lekovic. Apapun metode yang Bunda pakai, selalu ingat untuk membuat hal tersebut menyenangkan dan tidak bersifat memaksa apalagi memarahi si kecil

Yuk, ajarkan si kecil lepas dari popok sejak dini!

(Yusrina)