Balita Dibaca 451 kali

Tips Memberi Pendidikan Seks pada Anak Berdasarkan Usianya

Share info ini yuk ke teman-teman
Stephanie

Terakhir diperbaharui 03 September, 2019 04:09

Tips Memberi Pendidikan Seks pada Anak Berdasarkan Usianya

Teknologi yang semakin maju, tentunya membawa banyak manfaat bagi kehidupan kita, di antaranya, kemudahan dalam menjalin komunikasi dengan yang jauh, penyebaran informasi yang lebih merata, dan memudahkan aktivitas kita sehari-hari. Di sisi lain, penyebaran informasi yang amat mudah ini, juga bisa membawa sisi negatif, misalnya konten berisi pornografi yang menjadi mudah dijangkau oleh anak-anak. Tanpa pengawasan dan arahan orangtua, perihal ini bisa merusak anak-anak. Berikut adalah tips untuk memberikan pendidikan seks pada anak berdasarkan rentang usianya.

1. Usia dua hingga tiga tahun

Tentunya, berbicara pada anak-anak dalam rentang usia ini, masih amat sulit, karena si Kecil belum mengerti dengan baik apa yang sedang kita dan ia bicarakan. Makanya, nih, Ibu mesti pintar-pintar mengatur strategi, dengan menggunakan pendekatan dan kata-kata yang sederhana.

Misalnya, mulailah mengajar anak untuk mengenal nama-nama organ tubuh, hal ini bisa dilakukan sembari memandikan anak atau memakaikannya baju. Jika Ibu mengalami rasa yang kurang nyaman ketika mengajarkan anak, Ibu bisa menggunakan buku bergambar sebagai medianya. Pada usia balita, anak laki-laki senang mengeksplor kemaluannya, hal ini adalah normal dan juga bisa dimanfaatkan untuk pendidikan seks anak. Contoh, Ibu bisa bertanya tentang apa yang sedang dipegangnya, apa fungsinya dan ajari anak bahwa hal tersebut (memegang kemaluan) semestinya hanya dilakukan di tempat tertutup, dan ketika sedang tidak ada orang lain.

2. Anak Balita

Anak usia TK selayaknya sudah mulai mengerti tentang hal di atas, ya, Bu. Pada usianya yang sekarang ini, Ibu memberi pendidikan seks lebih lanjut, misalnya mengajari anak tentang rasa malu. Seperti, malu jika dilihat orang lain ketika kita tidak berpakaian atau pakaian kita terbuka. Anak juga mesti mulai diajari adalah tentang ‘menyentuh’ dan ‘disentuh’. Artinya, anak seharusnya tahu bahwa bagian tubuhnya tertentu tidak boleh disentuh oleh orang lain, anak juga tidak boleh menyentuh bagian tersebut di tubuh orang lain dan orang lain harus meminta izinnya seandainya mesti menyentuh tubuhnya.

3. Usia Awal Sekolah Dasar Awal

Pada masa ini, anak-anak mulai bersosialisasi lebih banyak dengan teman-teman sebayanya dan anak sudah lebih pandai dalam bertukar informasi. Salah satu hal yang bisa diajarkan saat ini misalnya, adanya adegan film, tv ataupun situs-situs internet yang belum saatnya ia lihat. Singkat kata, ajari anak agar tidak melihat sesuatu yang ditujukan untuk orang dewasa dan selalu awasi keseharian anak dalam melihat tayangan, baik itu di tv maupun ponsel.

Selaras dalam hal ini, Bu, ketika Ibu mengajak anak pergi menonton di bioskop misalnya, pilahlah film yang hanya sesuai untuk usianya. Atau, seandainya Ibu dan ia sedang menonton sesuatu di rumah dan ada adegan yang belum layak untuk anak, maka mesti segera diubah ke tayangan lain.

4. Anak Sekolah Dasar

Ada dua hal yang bisa menjadi topik pendidikan seks pada masa sekolah dasar atau puber. Di antaranya, ajari anak mengenai tubuhnya yang sedang berkembang. Misalnya, mengajari anak perempuan tentang pentingnya mengenakan miniset atau bra, untuk menutup payudaranya yang sedang tumbuh dan cara menggunakan pembalut agar kebersihan organ intimnya terjaga. 

Contoh lainnya adalah menginformasikan pada anak mengenai pelecehan seksual. Tentunya hal ini tergantung pada penilaian masing-masing orangtua, namun, memberi informasi pada anak sejak dini dinilai lebih baik daripada terlambat. Memberi pendidikan seks seperti ini diharapkan bisa menyelamatkan anak dari bahaya pelecehan seks, pun, anak bisa membantu temannya juga dari bahaya ini.

Bagaimana, ya, cara yang mudah untuk menjelaskan tentang pelecehan seksual pada anak? 

Sexual abuse pada anak adalah ketika ia dipaksa atau terbujuk untuk ikut melakukan kegiatan seks. Pelecehan seksual pada anak bisa terjadi karena anak belum memahami apa yang sedang terjadi, belum memahami bahwa hal tersebut adalah salah, atau anak merasa ketakutan karena diancam. Pelecehan seksual pada anak bisa menyebabkan depresi, trauma, perilaku menyimpang seperti penggunaan narkoba, tertular penyakit, menyimpan rasa malu, dst.

Pelecehan seksual pada anak dibagi dua. Melalui kontak, seperti membuka pakaian anak, menyentuh atau memasukkan sesuatu (benda atau bagian tubuh) pada bagian tubuh anak, dan memaksa anak melakukan kegiatan seks. Sedangkan contoh pelecehan seks non kontak adalah membuat anak menonton tayangan porno atau melakukan percakapan terkait seks via ponsel.

5. Remaja hingga Awal Dewasa

Pastinya, pendidikan seks pada anak remaja menjadi semakin penting, mengingat anak sudah amat mudah untuk mengakses dan terpapar konten pornografi yang bisa memicu banyak hal negatif bagi anak. Dunia pergaulan anak-anak pun menjadi lebih luas, maka Ibu juga perlu untuk memantau siapa dan seperti apa lingkungan sekitar anak.

Mulailah untuk membahas serba-serbi seks yang lebih kompleks dengan anak, meskipun hal ini terdengar canggung, namun sebaiknya anak lebih dulu mengetahui risiko seks, sehingga ia memiliki pilihan dan pengetahuan yang baik.   

Tekanan dari teman-teman sebayanya, rasa penasaran atau kesepian bisa memicu anak untuk melakukan seks terlalu dini. Buat anak mampu memahami, bahwa seks adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa, dan ada banyak cara lain untuk menunjukkan kasih sayang selain melalui seks, misalnya dengan memberikan hadiah, berbagi sesuatu (misalnya makanan), dst. Anak juga perlu mengetahui jikalau melakukan seks bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan karena ada tekanan, paksaan atau takut diejek.

Salah satu hal utama yang perlu ditegaskan pada anak adalah soal ketaatan pada agama, bahwa seks sebelum menikah adalah hal amat dilarang, selain itu, melakukan seks ‘tidak pada tempatnya’, juga punya banyak risiko. Maka, penting untuk menegaskan pada anak, hal-hal seperti melakukan oral seks bukanlah alternatif yang baik atau bukan untuk melakukan seks sebelum menikah dengan menggunakan alat pengaman (safe sex), namun untuk tidak melakukan seks lebih dulu.

Selain kehamilan di luar pernikahan, melakukan seks tidak sehat bisa memicu beragam penyakit berbahaya. Misalnya, penyakit seks menular (sexually transmitted infection atau STI) seperti klamidia, sifilis, gonore bahkan yang bisa membahayakan nyawa seperti HIV dan kanker. Penyakit menular seks juga bisa menyebabkan peradangan pada bagian organ reproduksi perempuan maupun laki-laki, dan jika hamil, penyakit menular ini juga bisa membahaya bagi janin. 

Tips Memberikan Pendidikan Seks untuk Anak

Memberikan pendidikan seks pada anak memang nggak mudah, namun ada beberapa trik yang bisa dicoba.

1. Manfaatkan kejadian yang kita temui sehari-hari

Memulai percakapan dengan kejadian sehari-hari sebagai pemicu, misalnya ketika kita ada anggota keluarga atau tetangga yang hamil, ada berita mengenai LGBT, ketika ada iklan tentang kondom atau ada adegan orang berpacaran di tv.

2. Berpikiran Terbuka

Ibu mungkin akan terkejut atau heran dengan pertanyaan yang diajukan anak, namun sebaiknya tetap terbuka mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawablah dengan cara yang mudah ia mengerti, dan pastinya dengan jawaban yang benar. Seandainya Ibu tidak mengetahui jawabannya, Ibu bisa mengajak anak membahas hal tersebut sambil membaca bersama. Selain itu, jika ada pendapat atau anggapan anak yang salah mengenai seks, maka perlu dikoreksi.

3. Memberikan Pertanyaan

Bertukar pikiran dengan anak dengan memberikan ia pertanyaan, bukan serta-merta menjabarkan atau memberi kesimpulan. Misalnya, ‘Kamu tahu nggak bagaimana caranya kamu lahir?’ Atau, ‘Apa yang bakal kamu lakukan kalau ada seseorang yang ingin memegang tubuh kamu?’
Hal ini akan memberi kita gambaran mengenai apa yang ada di pikirannya mengenai seks. 

4. Harus Realistis

Ketika anak bertanya mengenai seks, maka mesti jawab dengan bahasa atau analogi yang mudah ia pahami, jawab pertanyaannya dengan singkat dan jelas, serta memberikan jawaban yang sesungguhnya, bukan yang berupa pendapat atau mitos. Jangan lupa menyampaikan pada anak bahwa kita amat menghargai mereka datang untuk bertanya dan berbicara pada kita mengenai hal ini, juga hargai pengetahuan yang ia miliki.

5. Mengulang Percakapan

Memberi pendidikan seks pada anak mesti diulang, karena seringkali anak mengabaikan apa yang kita sampaikan, atau anak baru memahami apa isi pembicaraan kita sedikit demi sedikit. Penting juga untuk berbicara melalui sudut pandang anak.

6. Suasana yang Nyaman

Bagi anak, membicarakan soal seks pada orangtuanya juga mungkin sesuatu yang tidak gampang. Makanya, encourage anak untuk berani bertanya dan untuk tidak sungkan berdiskusi. Buatlah suasana percakapan yang nyaman bagi Anda dan anak, jadilah pendengar yang baik untuknya dan hindari memberikan judge.

Nah, Bu, itulah tips untuk memberi pendidikan seks bagi berdasarkan rentang usianya dan tips untuk membuat percakapan mengenai seks dengan anak menjadi lebih mudah untuk dilakukan.

(Stephanie / Dok. Freepik)