Balita Dibaca 809 kali

Tips Parenting: Aktivitas untuk Membesarkan Anak yang Tangguh

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya
Tips Parenting: Aktivitas untuk Membesarkan Anak yang Tangguh

Di era yang perkembangannya serba cepat, penuh ketidakpastian dan sangat kompetitif, si kecil akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dari luar, mulai dari isu sosial sampai perubahan iklim, tidak terkecuali tantangan dari dalam diri si kecil sendiri.

Nah, dengan karakter resilient atau tangguh, si kecil akan mampu menghadapi setiap tantangan dan menjadikannya pembelajaran atau peluang untuk menggapai kesuksesan.

Mengingat betapa pentingnya karakter tersebut, Nutrilon Royal memberikan komitmen penuh untuk membantu orang tua menjadikan si Kecil resilient secara fisik dan mental melalui aktivitas Nutriclub Royal Lounge yang diadakan di Pakuwon Mall Surabaya tanggal 12-15 Desember 2019.

Dalam acara ini Nutriclub mengajak ibu-ibu untuk mengenal lebih dalam tentang karakter resilient melalui konsultasi pribadi dengan expert dan psikolog keluarga dari Rumah Dandelion, mengambil tes resiliensi, dan beragam talk show yang menghadirkan Celebrity Mom Nadia Mulya dan influencer Mom Cinfung.

Lewat salah satu talkshow bertajuk ‘Resilience is The New Way to Prepare Your Child Future Ready’ yang dibawakan oleh Agstried Elisabeth di tanggal 13 Desember 2019, beliau mengingatkan kalau anak-anak kita hidup dalam VUCA (Volatility, Uncertain, Complex, Ambiguous) world yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Untuk itulah itu, karakter tangguh atau resilient ini wajib dimiliki si kecil. Namun, ini bukanlah karakter bawaan dari lahir, tapi harus diasah. Bagaimana cara mengasahnya? Simak yuk penjelasannya berikut ini!

Cara untuk Membentuk Karakter Resilient Pada Si Kecil

Menurut penelitian dari Masten & Gewirtz di tahun 2016 ada tiga cara untuk mengembangkan resiliensi pada si kecil, yaitu kesempatan untuk belajar, nutrisi yang lengkap, dan dukungan yang baik dari keluarga.

Nah, di talkshow kali ini, Agstried menjelaskan lebih dalam mengenai kesempatan belajar yang bisa kita berikan untuk si kecil untuk mengasah karakter resilient pada diri si kecil. Kesempatan belajar untuk si kecil bisa datang dalam bentuk tantangan Daily Activities dan Purposeful Exposure.

Tentu ada perbedaan mendasar antara Daily Activities dan Purposeful Exposure. Daily activities merupakan kegiatan rutin sehari-hari yang dilakukan oleh si kecil sepanjang hari, dari pagi hingga malam. Tujuan dari daily activities adalah agar si kecil bisa mengembangkan life skill. Misalnya, setelah bangun pagi, si kecil akan mandi, sarapan, berpakaian, dan bermain. Risikonya pun rendah, bahkan hampir tidak ada karena aktivitas ini merupakan rutinitas yang sering dilakukan oleh si kecil.

Berbeda dengan Purposeful Exposure yang merupakan tantangan untuk si kecil berupa pengalaman baru. Tujuan dari Purposeful Exposure adalah untuk ‘menantang’ si kecil dengan situasi yang beda dan berubah dari biasanya. Risikonya pun tergolong medium karena si kecil diajak melakukan aktivitas yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Ide Purposeful Exposure agar Si Kecil Resilient

Memberikan Purposeful Exposure untuk si kecil sangat penting untuk dilakukan karena melalui tantangan tersebut, si kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang resilient dan tangguh.

Lima tahun pertama kehidupan si Kecil menjadi golden age bagi si kecil. Kemungkinan besar karakter dan perilaku yang dimiliki si Kecil saat dewasa, terbentuk sejak dini. Itu artinya, sangatlah tepat jika kita rutin memberikan Purposeful Exposure di usia tersebut agar ia makin siap menghadapi masa depannya.

Beda usia, beda pula tantangan yang diberikan, berikut ini adalah beberapa ide Purposeful Exposure yang dapat diberikan ke si kecil berdasarkan fase kehidupannya:

  1. Puposeful Exposure untuk Anak Usia 1-3 Tahun

    • Traveling

      Anak usia ini masih sangat terpapar oleh rutinitas harian. Ketika melakukan traveling, kita akan mengajak si kecil untuk keluar dari rutinitas sehari-hari. Itu artinya, si kecil akan belajar beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

    • Outbond

      Ini merupakan tantangan secara fisik yang menuntut si kecil bergerak aktif di luar ruangan. Dengan melakukan outbond, si kecil dapat mencoba beragam aktivitas yang tidak umum ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

    • Simple Family Project

      Kita bisa melakukan proyek bersama keluarga bersama, misalnya membuat rumah-rumahan kardus. Sebelum memulainya, kita bisa membuat kesepakatan bersama untuk menentukan mana yang menjadi tugas anak, mana yang menjadi tugas orangtua. Misalnya orang tua bertugas untuk memotong atau menggunting kardus, lalu si kecil yang akan menempel dan menghiasnya. Kita bisa membantu mereka untuk fokus dan gigih menyelesaikan tugas ini sampai selesai, bahkan saat mereka mulai merasa bosan.

  2. Puposeful Exposure untuk Anak Usia 3-6 Tahun

    • Belajar Keahlian Baru

      Ini bisa berupa mendaftarkan si kecil untuk bergabung dalam les tertentu, misalnya berenang, balet, dan sebagainya. Ketika si kecil ingin belajar satu keahlian tertentu, kita bisa meminta dan membantu si kecil untuk berkomitmen menjalani kegiatan rutin tersebut setidaknya selama 3 bulan. Dalam periode waktu tersebut si kecil bisa mendapatkan cukup kesempatan untuk menemui kesulitan dan menghadapinya.

    • Mencoba Pengalaman Baru

      Kita juga bisa memvariasikan kegiatan di akhir pekan untuk melakukan aktivitas yang tidak rutin dilakukan sehari-hari. Misalnya mengajak si kecil pergi camping atau hiking. Situasi alam yang tidak memiliki banyak fasilitas kenyamanan seperti di kota dapat mengajarkan si kecil untuk menghadapi kesulitan.

    • Mengikutsertakan Anak dalam Kompetisi

      Dengan ikut kompetisi atau pertunjukan, anak dapat belajar mengatasi kecemasannya ketika harus tampil, atau mengatasi tantangan ketika berhadapan dengan orang lain yang punya kemampuan sama atau berbeda dengan dirinya, serta belajar menghadapi kekalahan.

Saat menghadapi tantangan, si kecil mungkin harus jatuh dalam kegagalan. Jangan buru-buru membantunya menyelesaikan masalah yang dia hadapi ya. Kita bisa membantu si kecil dengan memberinya semangat dan words of words of affirmation, seperti “Memang sulit nak, tapi kalau belajar dan dilatih akan bisa dan menjadi lebih mudah kok.” Ini tentu akan membantu si kecil bangkit dan mau terus mencoba.

Bagaimana, sudah makin siap untuk mendukung si kecil menjadi resilient? Ibu bisa klik di sini untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai resiliensi pada anak.

(Atalya)