Tumbuh Kembang Anak Tak Cuma Dilihat dari Berat Badan
Anak belum banyak bicara, kita mulai bertanya-tanya apakah stimulasinya sudah cukup. Berat badan naiknya sedikit, langsung khawatir makannya kurang. Begitu melihat produk dengan kandungan DHA tinggi, rasanya ingin memastikan anak mendapatkannya supaya perkembangan otaknya lebih optimal.
Padahal, tumbuh kembang anak tidak bisa dinilai hanya dari satu angka, satu kemampuan, atau satu jenis nutrisi. Pertumbuhan fisik, perkembangan kemampuan, pola makan, tidur, aktivitas, stimulasi, sampai interaksi anak dengan orang tua saling berkaitan.
Hal ini juga ditekankan oleh dr. Marlisye Marpaung, M.Ked, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, saat memberikan edukasi dalam acara Understanding Your Child's Growth: Milestone, Nutrition & Healthy Development yang diadakan Mirugo pada 2 Oktober 2026. “Yang utama adalah nutrisi secara keseluruhan. Tidak ada satu jenis nutrisi yang bisa mengklaim bahwa dia adalah nutrisi yang paling penting. Semuanya penting,” jelas dr. Marlisye.
Nutrisi Apa yang Paling Penting untuk Tumbuh Kembang Anak?
DHA, protein, zat besi, zinc, yodium, sampai omega 3 sama-sama sering dikaitkan dengan pertumbuhan maupun perkembangan anak. Masing-masing punya fungsi yang saling melengkapi, sehingga kebutuhan nutrisi anak lebih tepat dilihat secara keseluruhan.

“Yang paling utama, protein. Kemudian untuk kecerdasan ada protein, zat besi, zinc, yodium, lemak yang sehat. Lemak yang sehat ini salah satunya bisa DHA dan juga omega 3. Semuanya penting, tidak ada satu pun yang bisa menggantikan posisi yang lainnya,” papar dr. Marlisye.
Artinya, memenuhi DHA sambil mengabaikan protein atau zat besi juga tidak cukup. Begitu pula sebaliknya. Anak membutuhkan beragam zat gizi agar proses pertumbuhan dan perkembangannya dapat berjalan dengan baik.
Dr. Marlisye juga menekankan pentingnya kecukupan nutrisi sejak periode awal kehidupan anak. “Kalau kita ingin anak bertumbuh atau berkembang dengan baik dan menjadi cerdas, kita harus pastikan bahwa nutrisinya tercukupi. Terutama dalam 1000 hari pertama kehidupannya,” terangnya.
Setelah melewati periode tersebut, kebutuhan nutrisi tetap perlu dipenuhi melalui pola makan yang beragam sesuai usia. Fokusnya bukan mengejar satu kandungan tertentu, melainkan membantu anak mendapatkan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuhnya.
Salah satu yang cukup sering mendapat perhatian khusus dari orang tua adalah DHA. Lalu, sebenarnya berapa banyak DHA yang dibutuhkan anak?
Berapa Jumlah DHA yang Dibutuhkan Anak Sesuai Usianya?
DHA merupakan salah satu jenis lemak sehat yang dibutuhkan tubuh. Dr. Marlisye menjelaskan bahwa DHA termasuk asam lemak esensial, yaitu lemak yang perlu diperoleh dari luar tubuh, salah satunya melalui makanan sehari-hari.

DHA berperan dalam perkembangan sistem saraf, tetapi kecerdasan anak tetap dipengaruhi banyak faktor dan zat gizi lain. “DHA itu sendiri nggak bisa disebut sebagai vitamin kecerdasan. Protein juga sangat penting karena membantu pertumbuhan sel-sel saraf, perkembangan sel-sel baru, dan pembentukan penghubung antarsel saraf. Semuanya penting,” jelas dr. Marlisye.
Selain berkaitan dengan perkembangan sistem saraf, DHA juga memiliki peran terhadap retina dan kesehatan mata. Jumlah yang dibutuhkan anak berbeda sesuai usia. Menurut dr. Marlisye, perkiraannya sebagai berikut:
- Anak di bawah 2 tahun sekitar 100 mg DHA per hari.
- Usia 2 sampai 4 tahun sekitar 150 mg DHA per hari.
- Usia 4 sampai 6 tahun sekitar 200 sampai 250 mg DHA per hari.
- Usia di atas 6 tahun sekitar 250 mg DHA per hari.
DHA juga bisa diperoleh dari makanan. Berbagai sumber protein hewani dapat membantu memenuhi kebutuhannya tanpa harus selalu bergantung pada suplemen. “Paling banyak DHA didapatkan dari hewan atau produk-produk hewan. Telur dan ikan terutama mengandung tinggi DHA,” terangnya.
Sebagai gambaran, satu telur omega 3 disebut dapat mengandung sekitar 50 sampai 100 mg DHA. Sementara sekitar 50 gram ikan dapat mengandung kurang lebih 500 mg DHA, meski jumlahnya bisa berbeda berdasarkan jenis ikan.
Ikan kembung, salmon, lele, maupun telur dapat menjadi pilihan sumber protein hewani dalam menu anak. “Kalau kita bisa memastikan anak mengonsumsi ikan ataupun telur setiap hari, atau ikan dua sampai tiga kali seminggu, DHA-nya harusnya sudah terpenuhi. Kalau sudah terpenuhi dari protein hewaninya, suplemen tidak terlalu harus diperlukan lagi,” tambah dr. Marlisye.
Nutrisi memang menjadi salah satu bekal penting untuk tumbuh kembang anak. Tapi perkembangan anak tidak berhenti pada apa yang ia makan. Agar kemampuan motorik, bahasa, sosial, dan emosinya ikut berkembang, anak juga membutuhkan kasih sayang, kesempatan bergerak, tidur yang cukup, serta stimulasi yang konsisten.
Asuh, Asih, dan Asah Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak

Untuk membantu anak mencapai milestone sesuai tahap perkembangannya, dr. Marlisye menggunakan konsep 3A, yaitu Asuh, Asih, dan Asah. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, tetapi saling berkaitan.
- Asuh mencakup pemenuhan kebutuhan fisik dan kesehatan anak. Bukan hanya makanan bergizi, tetapi juga tidur yang cukup, aktivitas fisik, bermain, dan kesempatan bergerak.
- Asih berkaitan dengan kasih sayang dan kedekatan yang anak terima dari ayah maupun ibu.
- Asah merupakan stimulasi yang diberikan sejak dini, dilakukan secara rutin, dan hadir dalam keseharian anak.
“Asuh itu pemenuhan kebutuhan fisik kesehatannya. Kemudian asih, kasih sayang. Lalu asah yaitu stimulasi anak sejak dini, setiap hari, secara berkesinambungan dalam setiap kesempatan kita,” papar dr. Marlisye.
Stimulasi pun tidak harus selalu berupa aktivitas belajar khusus atau jadwal yang panjang. Interaksi sederhana dalam keseharian bisa menjadi kesempatan anak untuk belajar selama orang tua hadir dan meresponsnya. “Yang paling utama dalam stimulasi itu adalah interaksi yang timbal balik, dua arah. Tidak perlu lama, tapi harus berkualitas. Quality time itulah yang paling utama dibutuhkan seorang anak,” jelasnya.
Salah satu perkembangan yang sangat bergantung pada interaksi dua arah adalah kemampuan bahasa. Anak perlu mendengar, memperhatikan, mencoba merespons, lalu mendapat respons kembali dari orang di sekitarnya.
Cara Menstimulasi Anak agar Lebih Lancar Bicara
Kemampuan bicara merupakan salah satu ranah perkembangan anak yang cukup sering membuat orang tua cemas. Apalagi ketika melihat anak seusianya sudah memiliki kosa kata lebih banyak.

Menurut dr. Marlisye, kuncinya bukan berkali-kali meminta anak menirukan atau mengucapkan sebuah kata. Anak justru perlu lebih banyak diajak berkomunikasi. “Diajak bicara berarti kita berada di sampingnya, berada di dekatnya, bersama-sama dengan dia, kita juga ngobrol dengan dia. Jadi dia harus banyak mendengar kata-kata dulu,” jelasnya.
Anak perlu mendapat banyak kesempatan mendengar bahasa dalam interaksi sehari-hari. Setelah Parents berbicara, beri jeda agar anak punya kesempatan merespons. Respons tersebut tidak harus langsung berupa kata yang sempurna. Suara, ekspresi, gerakan tubuh, tatapan, atau usaha anak mengucapkan sesuatu juga bisa menjadi bagian dari komunikasi.
“Dia akan mencoba memberikan respons, kita lihat responsnya apa. Setelah itu kita diam sebentar, dia akan merespons, kita ulangi lagi. Inilah yang perlu supaya anak terstimulasi untuk mencoba mengucapkannya,” terang dr. Marlisye.
Stimulasi bicara bisa dilakukan kapan saja. Parents bisa mengajak anak ngobrol ketika makan, mandi, memakai pakaian, bermain, melihat kendaraan lewat, atau saat anak sedang menunjukkan ketertarikan pada benda tertentu. “Kapan kita ajak anak bicara? Kapan saja, setiap saat. Di saat kita punya waktu untuk dia, lakukanlah,” tambahnya.
Frekuensi interaksi memang penting, tetapi kualitas perhatian juga ikut menentukan. Anak bisa saja berada di samping kita cukup lama, sementara fokus kita berkali-kali teralihkan oleh layar ponsel.
Gadget Orang Tua Bisa Mengganggu Stimulasi Anak
Selama ini pembahasan mengenai gadget sering berfokus pada screen time anak. Padahal, penggunaan ponsel oleh orang tua juga dapat mengurangi kualitas interaksi.

Bayangkan Parents sedang bermain dan mengobrol dengan anak, lalu notifikasi WhatsApp, email, atau chat masuk. Kita melihat layar sebentar, membalas pesan, lalu kembali berinteraksi. Fokus yang tadinya tertuju pada anak sudah terpecah.
“Pada saat kita punya waktu bersama anak, usahakan waktunya itu quality time tanpa ada hal yang bisa mengganggu. Terutama gadget biasanya,” jelas dr. Marlisye.
Notifikasi yang terus diperiksa membuat interaksi timbal balik menjadi kurang utuh. “Ada WhatsApp, ada masuk email, ada masuk chat, terus kita pegang dan kita baca. Itu sudah cukup sangat mengganggu kualitas kita saat berinteraksi dengan anak,” tambahnya.
Parents tidak harus menyediakan waktu berjam-jam tanpa menyentuh ponsel. Saat memang sedang meluangkan waktu bersama anak, usahakan perhatian benar-benar tertuju kepadanya agar komunikasi dua arah dapat berjalan lebih optimal.
Selain perkembangan kemampuan seperti bicara, pertumbuhan fisik anak juga perlu dipantau. Salah satu yang paling sering bikin orang tua khawatir adalah naik-turunnya berat badan.
Berapa Kenaikan Berat Badan Anak yang Ideal per Bulan?
Saat masih bayi, angka di timbangan dapat meningkat cukup cepat. Setelah anak memasuki usia satu tahun, laju kenaikan berat badan mulai melambat. Perubahan ini normal terjadi seiring bertambahnya usia anak. “Di atas satu tahun, pertumbuhan berat badan anak tidak secepat di bawah satu tahun lagi. Dia bertambah sekitar 150 sampai 200 gram per bulan,” jelas dr. Marlisye.

Kenaikannya pun tidak harus selalu sama persis setiap bulan. Ada bulan ketika berat anak naik 100 gram, bulan berikutnya 150 gram, lalu mungkin 125 gram. Angka tersebut perlu dibaca bersama pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu. “Mungkin dia naiknya 100 gram bulan ini, bulan depan 150, bulan depannya lagi 125 atau 100, nggak masalah. Yang penting dia masih mengikuti garis kurvanya,” paparnya.
Karena itu, satu angka di timbangan belum memberikan gambaran lengkap mengenai pertumbuhan anak. Parents perlu melihat arahnya melalui kurva pertumbuhan. “Kita jangan terlalu berpatokan dengan angka berat. Yang paling penting lagi kita melihat anak secara utuh. Kita lihat bagaimana pola pertumbuhannya, masukkan ke dalam kurvanya,” jelas dr. Marlisye.
Pemantauan secara rutin membantu orang tua melihat apakah berat badan anak masih mengikuti jalur pertumbuhannya. Perubahan juga lebih mudah diketahui dibandingkan jika Parents hanya mengandalkan ingatan dari bulan ke bulan.
Kurva tetap perlu dibaca bersama kondisi anak sehari-hari. “Apakah dia aktif? Apakah dia ceria setiap harinya? Apakah dia bertambah pengetahuannya setiap hari? Bertambah keingintahuannya? Jadi tidak hanya berpatokan kepada berat badan, tapi melihat anak secara keseluruhan,” paparnya.
Di usia sekitar satu sampai tiga tahun, Parents juga bisa melihat perkembangan kemampuan yang cukup pesat, salah satunya kemampuan bahasa. Anak kadang tiba-tiba memahami atau mengucapkan kata yang sebelumnya tidak pernah kita sadari sudah ia pelajari.
Untuk membantu memantau pertumbuhan, dr. Marlisye menyebut grafik pertumbuhan pada Buku KIA dapat digunakan sebagai acuan. Aplikasi seperti PrimaKu dari Ikatan Dokter Anak Indonesia juga bisa membantu orang tua mencatat pertumbuhan anak.
Dengan pemantauan seperti ini, Parents punya gambaran yang lebih objektif dibandingkan hanya menilai anak dari bentuk tubuhnya.
Anak Gemoy Belum Tentu Lebih Sehat
Pipi chubby dan badan berisi memang sering terlihat menggemaskan. Tak jarang pula anak yang lebih gemuk langsung dianggap lebih sehat dibandingkan anak yang tubuhnya kecil. Padahal, ukuran tubuh yang terlihat dari luar belum cukup untuk menentukan status gizinya.

“Yang paling utama adalah mencapai berat badan idealnya sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya. Kita tahu berat badan ideal dari mana? Dari kurva,” jelas dr. Marlisye.
Karena itu, membandingkan bentuk tubuh anak dengan saudara, teman sekolah, atau anak seusianya bukan cara yang tepat untuk menilai pertumbuhannya. Yang perlu dilihat adalah posisi serta pola pertumbuhan anak pada kurvanya sendiri. “Terlalu kurus maupun terlalu gemuk itu sama-sama malnutrisi. Biarpun gemuk juga tetap malnutrisi karena gizinya berlebih,” terangnya.
Masalah gizi anak juga tidak hanya berupa berat badan kurang atau stunting. Berat badan berlebih dan obesitas pada usia dini tetap perlu mendapat perhatian. “Masalah gizi anak di Indonesia ini bukan cuma gizi kurang ataupun stunting, tapi justru ada overweight dan obesitas di usia dini. Banyak penyakit tidak menular yang mulai mengintai dan mungkin terjadinya bukan saat anak, tapi di dewasa muda,” papar dr. Marlisye.
Jadi, target pertumbuhan anak bukan membuat angka timbangannya setinggi mungkin atau tubuhnya terlihat semakin berisi. Yang lebih penting adalah memastikan pertumbuhannya sesuai usia dan jenis kelamin, serta tetap mengikuti pola pertumbuhannya.
Tumbuh kembang anak perlu dilihat dari banyak sisi sekaligus. Nutrisi bekerja bersama tidur yang cukup, aktivitas, kasih sayang, stimulasi, dan interaksi yang berkualitas. DHA punya peran dalam perkembangan anak, sementara kecerdasan tetap dipengaruhi banyak nutrisi dan faktor lainnya. Berat badan juga penting dipantau melalui pola pertumbuhan, bukan hanya dari penampilan fisik.
Parents bisa mulai dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana. Sajikan makanan yang beragam, beri kesempatan anak bermain dan bergerak, sering mengajaknya mengobrol, sisihkan waktu dengan perhatian penuh, serta pantau pertumbuhan dan perkembangannya secara berkala.
Jika Parents melihat perubahan pada pertumbuhan atau perkembangan anak yang membuat khawatir, konsultasikan dengan dokter anak agar kondisi si Kecil dapat dinilai secara menyeluruh.