Balita

Yang Membuat Anak Lelaki dan Anak Perempuan Berbeda

Yang Membuat Anak Lelaki dan Anak Perempuan Berbeda
Para ahli sepakat yang menjadi alasan kenapa anak lelaki menjadi sangat kelaki-lakian dan anak perempuan sangat feminine adalah dasar biologi. Terdapat perbedaan fisik antara otak anak lelaki dan anak perempuan, baik saat lahir maupun ketika mereka mulai tumbuh besar, meski masih belum diketahui apakah perbedaan ini yang mempengaruhi perilaku dan kepribadian mereka. Tapi hormon dan anatomi saja tidak bisa menjelaskan pemisah antara dua jenis kelamin ini. Kekuatan sosial mendorong anak lelaki dan anak perempuan ke arah yang berbeda sejak mereka lahir.

Dalam beberapa jam pertama kehidupan mereka, anak lelaki dan perempuan sudah diperlakukan berbeda. Penelitian menunjukkan kalau orang dewasa cenderung menggunakan kata “manis” atau “cantik” untuk menggambarkan bayi perempuan. Tapi ketika bayi yang sama mengenakan pakaian berwarna biru, mereka menggunakan kata “ganteng.” Umumnya, orangtua cenderung berbicara lebih lembut pada bayi perempuan dibanding bayi laki-laki.

Mobil-mobilan untuk anak lelaki, boneka untuk anak perempuan

Di banyak keluarga, anak laki-laki mendapat mainan beroda seperti mobil-mobilan atau kereta mini, sedangkan anak perempuan mendapat mainan berupa boneka dengan berbagai aksesorisnya. Anak menerima pesan ini dalam hati mereka. Satu penelitian mendapati anak perempuan yang berumur 18 bulan mengasosiasikan mobil dengan anak lelaki dan boneka dengan anak perempuan. Efeknya bisa berlangsung lama. Anak yang menghabiskan masa kanak-kanaknya bermain dengan mainan berspesifik gender kemungkinan memiliki pandangan tradisional tentang gender.

Meniru apa yang mereka lihat

Anak-anak memberi perhatian khusus pada laki-laki dan perempuan di kehidupan mereka, mengembangkan harapan berdasarkan observasi mereka di usia dini. Penelitian terbaru menemukan bahwa bayi usia 24 bulan merasa heran dengan aktor dewasa yang melampaui garis standar gender, termasuk seorang lelaki yang menggunakan lipstick dan wanita yang mengenakan dasi.

Anak menyerap kebiasaan orang dewasa dengan hasil yang bisa berhasil, bisa juga tidak. Seorang anak lelaki yang ibunya minum kopi dan ayahnya minum teh, si anak merasa itu adalah aturan yang harus ia jalani hingga ia merasa terkejut saat melihat seorang lelaki dengan secangkir kopi.

Pelajaran yang bisa diambil, ingat bahwa anak Anda merekam apa yang ia lihat. Jika Anda ingin anak mengetahui bahwa lelaki juga bisa masak atau wanita bisa memperbaiki benda, tunjukkan pada mereka. Pengaruh yang paling kuat pada pemikiran anak tentang gender akan berupa apa yang mereka lihat di rumah sendiri selama masa awal kanak-kanak.

Tapi bila Anda dan pasangan memainkan peran tradisional di rumah Anda, dan tidak ingin merubahnya, Anda bisa menemukan cara kreatif untuk memperlihatkan pada anak tentang pilihan lain. Misalnya, cari buku, acara televisi, dan film dengan lelaki dan perempuan dengan peran berbeda. Atau habiskan waktu bersama teman yang di rumahnya lelaki bisa masak dan membersihkan rumah, seorang ibu yang menjadi dokter, atau sejenisnya.

Saat ini, dunia penuh dengan laki-laki yang melakukan hal yang dulunya dianggap sebagai pekerjaan wanita, dan wanita melakukan pekerjaan laki-laki. Satu kunci untuk membantu anak Anda mengembangkan pemikiran terbuka tentang peran gender adalah dengan menunjukkannya, katakan bahwa ada perawat pria, atau polisi wanita, dan bicara positif tentang mereka. Anda bisa jelaskan, “Om itu mungkin sekolah perawat karena ia suka merawat orang,” atau “Ibu polwan menjaga kota kita dari kejahatan.”

Anak lelaki identik dengan seragam sepak bola dan anak perempuan dengan pakaian putri

Di usia anak perempuan 2 tahun dan anak lelaki 3 atau 4 tahun, mereka menyadari bahwa ada pakaian untuk perempuan dan pakaian untuk lelaki, dan mereka canggung untuk melewati garis batas ini. Dimulai pada masa batita, anak perempuan menerima pujian tentang sepatu atau pita rambut, jadi tidak heran bila mereka banyak memaksa untuk memakai pakaian putri meski di waktu berkemah. Mereka hanya ingin mendekati sifat feminin dan juga berusaha menyamakan diri dengan anak perempuan lain di sekitar mereka.

Reaksi emosi: anak perempuan selalu menangis

Ada aturan tak tertulis bahwa anak perempuan mendapat simpati dan ketenangan, tapi tidak untuk anak laki. Banyak orangtua yang saat ini mendorong anak lelaki dan perempuan sama dalam mengekspresikan emosi mereka, tapi bukan hal mudah untuk mengubah perilaku di mana kita dibesarkan.

Ditambah lagi, Anda tidak bisa mengontrol apa yang diterima anak di luar rumah, di tempat bermain, misalnya, dimana aturan lama kemungkinan diterapkan. Beberapa tahun belakangan, wanita dan perempuan didorong untuk bisa lebih tegas, tapi ada begitu banyak dorongan bagi anak lelaki dan pria untuk menjadi lebih bersifat feminin seperti dalam menunjukkan emosi.

Melihat dari televisi

Anak-anak yang mencari petunjuk tentang gender tak perlu menemukannya di tempat yang jauh, cukup dari televisi, beberapa karakter memiliki peran panutan yang positif. Tapi ada beberapa acara lain yang hanya berupa lelucon berdasarkan stereotype gender di masa lalu. Orangtua tidak perlu melarang acara macam ini, tapi cukup baik untuk menontonnya lebh dulu atau menontonya bersama anak-anak, agar Anda bisa menjelaskan, “Kakak perhatikan ga kalo si lelaki dari tadi ga bisa berhenti bercanda padahal si perempuan sedang membutuhkan bantuan? Kayanya itu ga bagus kalo terjadi di kehidupan sebenarnya kan?”

Bebaskan anak untuk menjadi dirinya sendiri

Anda akan menjadi pengaruh yang besar bagi pemikiran anak Anda tentang gender. Tapi, jangan terkejut bila perilaku anak Anda ternyata tidak persis sesuai dengan perilaku Anda sendiri. Meski ketika Anda berusaha menciptakan area netral gender di rumah, anak Anda masih bisa melihat batasan yang membagi garis antara bagaimana anak lelaki dan perempuan seharusnya berperilaku.

Jangan khwatir, Bunda. Ini adalah fase yang normal. Anak memiliki kebutuhan untuk menerima dunia mereka dan mereka secara mental tidak cukup fleksibel untuk berpikiran terbuka. Mereka masih melihat segalanya sebagai hitam dan putih. Atau dalam hal ini, pink dan biru.

Bila anak perempuan kecil Anda memaksa memakai pakaian yang gembung untuk naik kereta luncur, Anda hanya perlu menambahkan legging di bawah roknya. Di waktu yang sama, jangan terlalu khawatir jika anak lelaki Anda ingin bermain dengan boneka, berlatih pengasuhan baik bagi siapa saja. Bila ia mulai memiliki teman saat bermain, ia pasti mendengar bahwa boneka dianggap mainan anak perempuan. Pada akhirnya ia bisa memutuskan sendiri apakah tetap ingin bermain dengan boneka atau beralih ke mainan lain.

Ketika anak-anak Anda mulai tumbuh besar, dorong minat mereka, termasuk hal yang berada di luar tradisi gender, seperti anak perempuan yang ingin bermain sepak bola atau anak lelaki yang ingin mengikuti les menari. Beri anak Anda kesempatan untuk mencari tahu mana yang benar menurut mereka. Lagi pula, ini merupakan hidup mereka, bukan hidup Anda.

(Ismawati)