Balita

Yuk, Mengenal Tahapan Berkomunikasi si Kecil!

Yuk, Mengenal Tahapan Berkomunikasi si Kecil!

Salah satu perkembangan anak yang paling ditunggu-tunggu Bunda adalah ketika si kecil mulai dapat berbicara. Aduh, siapa sih yang tidak gemas saat ia mulai memanggil Anda dengan sebutan 'mama’? Seiring anak bertambah besar, maka ia pun mulai banyak mempelajari kosa kata baru untuk kemudian disusun menjadi kalimat yang sederhana.

Saat anak berusia 2 tahun, ia akan mulai belajar menghubungkan berbagai kata seperti ‘kiss’ dan ‘bye’ setelah menempelkan tangan di bibirnya. Nah, baru ketika si kecil berusia 3 tahun, maka ia dapat menghubungkan tiga hingga empat kata menjadi satu kesatuan kalimat. Anak adalah imitator yang handal, mereka mengucapkan kata-kata pertama mereka setelah melalui proses mendengarkan dan menirukan perkataan orang-orang di sekitarnya.

Namun, bagaimana sih proses perkembangan kemampuan bicara sang buah hati? Yuk simak penjelasan Ibupedia berikut ini!

 

Bagaimana anak belajar berbicara?

Sejak bayi Anda terlahir di dunia ini, sebenarnya ia sudah belajar bagaimana caranya berkomunikasi. Bentuk pertama komunikasi tersebut adalah dengan cara menangis. Tak heran bayi selalu menangis saat merasa lelah, tidak nyaman, maupun lapar. Selama sekitar 3 bulan, sang buah hati akan mulai meracau dan mengeluarkan suara-suara saat Bunda mengajaknya berbicara. Bahkan mungkin si kecil sudah bisa mengenali namanya sendiri dan menyahut saat Bunda memanggil namanya dari jauh.

Setelah anak sudah bisa meracau, maka para orang tua akan mulai menanti-nanti kapan kiranya anak mereka mulai dapat mengucapkan kata 'mama' atau 'baba'. Hihi, tunggu sampai usia si kecil 6 bulan dulu ya, Bun. Pasalnya, baru sekitar umur 6 bulan itulah sang buah hati mulai dapat mengucapkan 'mama' atau 'baba' karena memang kedua kata tersebut paling mudah diucapkan.

 

Kapan anak mulai belajar berbicara?

Usia 12-17 bulanMenginjak usia satu tahun, si kecil akan mulai menggunakan lebih dari satu kata untuk berkomunikasi dengan Anda. Kebanyakan kata-kata pertamanya adalah variasi dari ceracauan semacam "dada" atau "mumumum". Namun kali ini, si kecil mulai mengerti maksud dari perkataannya. Jika ia menyebut 'mama', besar kemungkinan dia memang sedang memanggil Bunda.

Ketika ia berusia 15 bulan, anak akan mulai meninggikan suara mereka di akhir kalimat tanya. Biasanya suara tinggi tersebut dibarengi dengan gerakan untuk mempertegas maksud mereka, seperti melambai atau menunjuk suatu benda. Tak hanya itu saja, si kecil juga perlahan akan mulai memahami serta mengikuti intruksi sederhana yang Bunda berikan. Misalnya saja intruksi semacam "Ayo makan!" atau "Ambil bonekamu!".

 

Usia 18-24 bulanSeiring bertambahnya usia menjadi 18 bulan, sang buah hati mulai dapat menggunakan 6 hingga 20 kosa kata. Baru kemudian saat usianya mulai menginjak 2 tahun, anak sudah dapat menggunakan 50 kosa kata bahkan lebih dan belajar membuat rangkaian kalimat. Kecerdasan berbicara si kecil akan nampak saat ia bisa menghubungkan dua kata sekaligus seperti "Gendong aku!" atau melengkapi tebakan lirik lagu yang Bunda berikan. Oleh karena itu, rajin-rajinlah mengajarkan anak kosa kata baru dengan berbagai cara yang menyenangkan seperti menyanyi bersama.

Misalnya, saat Bunda menyanyi "Bintang kecil di langit yang..." berhentilah sejenak dan biarkan ia mengucapkan kata "Biru". Jika ia belum bisa melengkapi lirik lagu tersebut, maka jangan kuatir. Biarkan saja ia berbicara sekehendak hati dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Meskipun perkataannya kadang terdengar tidak masuk akal, Bunda harus tetap menghargai caranya berkomunikasi. Ingat, anak suka sekali lho jika ia diperhatikan selayaknya orang dewasa.

 

Usia 25-36 bulanPada usia ini, si kecil akan mulai berusaha untuk tidak berteriak saat hendak berkomunikasi dengan Bunda. Namun, ia juga masih belum paham bagaiana cara merubah nada suara serta menentukan mana volume yang tepat saat berbicara. Ia juga kemungkinan besar sudah mulai memahami perbedaan antara 'Aku' dan 'Kamu' dalam kepemilikan sesuatu. Tak heran, banyak anak kecil yang sudah dapat menngucapkan hal seperti "Punyaku!" saat mainannya dipegang oleh orang lain. Seringkali, si kecil juga terbiasa menyebutkan kata "Tidak!" sebagai upaya dalam menunjukkan independensinya di hadapan Bunda.

Nah, ketika anak berusia antara 2 hingga 3 tahun, kosa katanya akan meningkat hingga mencapai 300 kata. Tentunya dengan kosa kata sebanyak itu, ia akan mulai dapat mengenali suatu benda atau memahami aksi tertentu. Misalnya saja, ia berkata "Aku pergi ya, dadah" saat hendak keluar rumah.

Bukan hanya itu saja lho, Bun. Si kecil akan mulai mengganggu Anda dengan jutaan pertanyaan yang biasanya membuat para orang tua kewalahan. Pertanyaan seperti "Apa?", "Kok bisa?", "Gimana?", "Siapa?", dan "Kapan?" akan sering terlontar dari mulut kecilnya. Hihi, kalau sudah begitu lebih baik Bunda bersabar, ya! Bagaimanapun, rasa ingin tahu yang besar akan membuat anak rajin berpikir sehingga perkembangan otaknya pun semakin pesat.

Selain bertanya, usia 3 tahun juga menjadi titik awal munculnya percakapan sederhana. Ia akan mulai gemar menceritakan peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di rumah atau apa yang ia makan tadi siang. Namun, jangan kaget saat sang buah hati salah mengucapkan suatu kosa kata. Misalnya ia menyebut kata nasi dengan nabi. Alih-alih langsung menyalahkan penggunaan kata si kecil, lebih baik Bunda segera memberikan contoh kalimat yang benar. Katakan, "Ini nasi punya Ayah" sambil menata piring di meja.

Kemudian sering-seringlah mengucapkan kata 'nasi' tersebut hingga ia terbiasa dan memperbaiki kekeliruan pemahamannya. Selain mampu membedakan suatu obyek, anak yang berusia 3 tahun juga sudah mulai dapat membedakan jenis kelamin serta mengenali berapa usia atau nama lengkapnya.

 

Bagaimana cara menyemangati anak agar lekas berbicara?

Cara paling utama adalah dengan sering-sering mengaja si kecil berbincang-bincang. Meskipun ia tidak bertanya atau merespon perkataan Bunda, tetap lah bercerita dengan antusias. Topiknya pun boleh apa saja, seperti jadwal rutinitas harian sang buah hati atau isi belanjaan di kantung plastik. Semakin sering Bunda mengajak ia berbicara, maka semakin banyak pula kosa kata baru yang akan ia pelajari.

Bunda dapat mulai bercerita saat menyuapi, memandikan, atau menidurkan sang buah hati. Berikan ia waktu sekedar untuk tersenyum atau melakukan kontak mata dengan Bunda. Gunakan aktivitas juga untuk membantu si kecil dalam menghubungkan antara suatu aksi dan obyek tertentu. Jangan lupa gunakan gerakan tangan seperti menunjuk atau melambai untuk memudahkan anak Anda memahami sesuatu.

Bunda juga bisa lho menggunakan berbagai macam alat bantu untuk memudahkan proses berkomunikasi si kecil. Menjelaskan cerita di balik foto-foto album kenangan adalah salah satu contohnya. Biasanya para orang tua senang sekali mendokumentasikan perkembangan bayi mereka sejak lahir, saat menangis, atau mulai belajar merangkak. Nah, melalui cerita tentang berbagai kejadian di foto tersebut, Bunda dapat menguatkan memori serta menambah wawasan kosa kata si kecil.

Yup, bercerita adalah cara paling mudah dan seru untuk mengajarkan anak bagaimana cara berkomunikasi! Namun bagaimana jika si kecil sangat pendiam? Hmm, mengingat perkembangan masing-masing anak sangat lah berbeda satu sama lain, maka cara paling tepat adalah segera memeriksakan anak ke dokter. Siapa tahu, sang buah hati membutuhkan terapi berbicara khusus. 

(Yusrina)