Kehamilan

Mau Tulang Bayi Anda Sehat? Konsumsi Vitamin D Saat Hamil!

Terakhir diperbaharui

Mau Tulang Bayi Anda Sehat? Konsumsi Vitamin D Saat Hamil!
Tubuh Anda membutuhkan vitamin D untuk menjaga tingkat kalsium dan fosfor di dalam tubuh, yang dapat membantu pembentukan tulang dan gigi Anda. Kekurangan vitamin D selama kehamilan bisa menyebabkan keterlambatan pertumbuhan dan kelainan pada bentuk kerangka tubuh, selain juga bisa berdampak pada berat badan kelahiran.
Jika Anda kekurangan vitamin D selama hamil, bayi Anda juga bisa mengalaminya. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi berisiko terkena rakitis yang bisa memicu patah tulang dan pertumbuhan tulang yang tidak normal, serta perkembangan fisik yang tertunda. Dampaknya bisa berlangsung lama, peneliti meyakini kekurangan vitamin D selama kehamilan bisa mempengaruhi pertumbuhan tulang dan fungsi kekebalan tubuh mulai dari lahir hingga dewasa.
Kekurangan vitamin D juga berhubungan dengan komplikasi kehamilan yang lebih besar, termasuk preeclampsia, dan kemungkinan calon ibu untuk menjalani operasi sesar.  Vitamin D telah menjadi topik yang banyak diteliti belakangan ini. Para peneliti mempelajari peran vitamin D dalam mencegah sejumlah penyakit, seperti sejumlah penyakit autoimun (diabetes tipe 1, sklerosis), kanker, penyakit gusi, dan tekanan darah tinggi.
Para wanita hamil disarankan untuk mendapat 5 mikrogram (200 IU) vitamin D setiap hari jika mereka tidak cukup terekspos sinar matahari (tubuh Anda memproduksi vitamin D ketika terkena sinar matahari). Banyak ahli yang yakin jumlah ini tidak mencukupi. Seorang profesor  bahkan menyarankan wanita hamil untuk mendapat 4000 IU vitamin D, dan ibu menyusui mengonsumsi 6000 IU setiap harinya.
Lemak ikan, susu fortifikasi, telur, dan produk sereal mengandung vitamin D. Pastikan Anda mengecek label pada makanan, karena beberapa telur, keju, yoghurt, dan sereal difortifikasi oleh vitamin D sedang jenis lainnya tidak. Semua susu difortifikasi oleh vitamin D. Berikut ini beberapa sumber makanan terbaik yang mengandung vitamin D:
  • 3 ons ikan lele matang : 570 IU
  • 3,5 ons ikan salmon matang : 360 IU
  • 3,5 ons ikan makarel matang : 345 IU
  • 3 ons ikan tuna kalengan : 200 IU
  • 1,75 ons sarden kalengan : 250 IU
  • 1 gelas susu, diperkaya dengan 25% nilai harian vitamin D : 100 IU
  • 1 gelas jus jeruk, diperkaya dengan 25% nilai harian vitamin D : 100 IU
  • 1 gelas susu skim : 98 IU
  • 1 sendok makan margarin : 60 IU
  • 1 gelas sereal siap makan, diperkaya oleh 10% nilai harian vitamin D : 40 IU
  • 1 kuning telur : 20 IU
Anda juga perlu mengonsumsi suplemen vitamin D. Jumlah vitamin D yang wanita terima dari makanan meski dari yang difortifikasi jumlahnya masih belum mencukupi. Vitamin prenatal sekalipun tidak mengandung jumlah yang memadai. Saran untuk memenuhi kebutuhan vitamin D dengan eksposur terhadap sinar matahari masih menjadi kontroversi. Beberapa ahli memilih untuk membatasi sinar matahari, sedang lainnya berhati-hati terhadap eksposur matahari tanpa perlindungan pakaian atau krim matahari.
Wanita hamil tidak dalam kondisi yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin D melalui sinar matahari. Eksposur terhadap sinar ultraviolet selama hamil meningkatkan perubahan pigmen yang bisa mengakibatkan penggelapan kulit yang tidak teratur. Jadi kebanyakan dokter menyarankan wanita hamil melindungi diri dari sinar matahari.
Ada beberapa faktor lain yang membuat Anda berisiko kekurangan vitamin D selama hamil:
  • Overweight membuat Anda berisiko kekurangan vitamin D karena lemak tubuh menyimpan banyak vitamin D yang dibuat di kulit, sehingga tidak tersedia untuk tubuh. Vitamin D yang Anda dapat dari makanan dan suplemen lebih tersedia untuk tubuh, jadi menjadi sumber yang lebih dipercaya.
  • Pengobatan tertentu (steroid, pengobatan anti seizure, pengobatan penurun kolesterol) mengurangi penyerapan vitamin D dari usus.
  • Orang yang menderita penyakit gangguan penyerapan usus (seperti penyakit seliak) membuat kurangnya penyerapan vitamin D dari makanan dan suplemen.
Berkonsultasilah pada dokter Anda tentang konsumsi suplemen vitamin D selama hamil. Ketika memilih suplemen, cari yang berlabel vitamin D3, atau cholecalciferol, yang merupakan bentuk vitamin D paling efektif. Vitamin D2 atau ergocalciferol, sekitar 25% kurang manjur. Gejala kekurangan vitamin D bisa hampir tidak kentara. Gejalanya meliputi nyeri otot, rasa lemah, sakit tulang, dan tulang yang lunak, yang bisa memicu keretakan.
Anda juga bisa menderita kekurangan vitamin D tanpa gejala apapun. Dan bila ini terjadi ketika Anda sedang hamil, bayi Anda bisa mengalami kekurangan vitamin D juga. Satu-satunya cara untuk mengetahui status vitamin D secara pasti adalah dengan menjalani tes darah dan melihat tingkat serum 25 (OH) D, yakni bentuk vitamin yang mengalir dalam darah Anda.
Sebuah penelitian di University of Pittsburgh Graduate School of Public Health menyatakan wanita yang mengalami kekurangan vitamin D di 26 minggu pertama kehamilan lebih mungkin mengalami preeclampsia yang parah. Preeclampsia merupakan komplikasi kehamilan yang berpotensi mengancam nyawa dan biasanya terjadi setelah 20 minggu pertama kehamilan atau segera setelah kelahiran. Sekitar 5 hingga 8 persen wanita hamil mengalami kondisi ini.
Tanda awal kondisi ini meliputi tekanan darah tinggi dan albuminuria, protein berlebih yang bocor ke urine. Beberapa wanita juga bisa mengalami bengkak pada kaki, mata kaki, wajah, dan tangan, disebabkan oleh retensi cairan, serta sakit kepala parah, masalah dengan penglihatan, dan rasa sakit di bagian bawah tulang rusuk.
Untuk menentukan adanya hubungan antara kekurangan vitamin D selama hamil dengan risiko preeclampsia, para peneliti menganalisa sampel darah dari 700 wanita hamil yang kemudian mengalami preeclampsia, bersama dengan 3000 sampel darah wanita hamil yang tidak mengalami kondisi tersebut. Semua sampel dikumpulkan mulai dari tahun 1959 hingga 1965, dari 12 institusi di Amerika. Peneliti berargumen bahwa sampel darah bisa bertahan lama, dan mereka bisa menguji sampel darah untuk mengetahui tingkat vitamin D meski beberapa puluh tahun setelah dikumpulkan.

Analisa menunjukkan wanita yang memiliki tingkat vitamin D yang tidak mencukupi selama hamil di 26 minggu pertama memiliki kemungkinan 40 persen terkena preeclampsia, dibanding wanita yang memiliki tingkat vitamin D yang mencukupi di 26 minggu awal kehamilan. Tapi peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara vitamin D dengan preeclampsia ringan.
Hasil ini muncul setelah mempertimbangkan beberapa faktor lain yang bisa berdampak pada tingkat vitamin D pada wanita, seperti indeks massa tubuh sebelum hamil, ras, rokok, pola makan, jumlah kehamilan sebelumnya, aktivitas fisik, dan eksposur terhadap sinar matahari.
Belakangan disebutkan bahwa preeclampsia yang parah dan preeclampsia ringan memiliki akar penyebab yang berbeda. Preeclampsia parah memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi pada ibu dan anak, jadi memiliki potensi besar berhubungan dengan faktor yang dengan mudah bisa diatasi, seperti kekurangan vitamin D. So, Bunda, selalu pastikan Anda mengonsumsi cukup vitamin D saat hamil yaa.. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
(Ismawati)