Balita Dibaca 299 kali

Menghadapi Anak yang Mudah Merasa Cemas

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 01 November, 2018 07:11

Menghadapi Anak yang Mudah Merasa Cemas

Apa sih yang menyebabkan si kecil merasa cemas?

Kebanyakan orang tua bingung terhenyak saat sang buah hati yang tadinya begitu ceria dan cerewet mendadak menjadi pribadi yang rewel, tidak mau jauh-jauh dari Anda, dan kerap menangis karena takut diabaikan. Tidak peduli berapa kalipun Bunda mengatakan, "Tidak apa-apa nak, kan Bunda cuma pergi sebentar. Nanti juga kembali", si kecil tetap akan menangis dan memaksa Anda untuk berada di sampingnya terus.

 

Hmm, kok bisa sih anak semuda itu memiliki kadar kecemasan dan insekuritas yang tinggi? Meskipun terlihat seperti suatu kecemasan, sebenarnya sikap rewel anak tersebut merupakan suatu pertanda bahwa perkembangan anak Anda berada di jalur yang semestinya.

 

Kecemasan saat harus berpisah dengan Bunda merupakan hal yang normal terjadi dan seharusnya sudah diantisipasi sejak awal. Begitu pula ketika si kecil mendadak menangis ketika mendengar suara keras kembang api atau bersembunyi di balik punggung Bunda ketika ia disapa orang asing. Semua hal tersebut umum terjadi dan merupakan bagian dari proses perkembangan kemampuan kognitif serta emosi sang buah hati.

 

Coba deh Bunda menempatkan diri sebagai si kecil. Pastinya cara pandang serta persepsi Anda terhadap dunia sangatlah berbeda. Dunia beserta segala isinya ini nampak sangat luas, menakutkan, dan setiap langkah yang dijejakkan di dunia ini mengandung ketakutan akan apa yang akan terjadi berikutnya.

 

Kehati-hatian tersebut seperti misalnya takut jatuh, takut memegang binatang, takut melihat badut dan kuda lumping, atau takut mendengar letusan balon seringkali terlihat seperti rasa cemas yang berlebihan di mata orang dewasa. Padahal, seiring bertambahnya usia serta semakin banyak hal yang ia pelajari dalam hidup, maka si kecil akan memahami bahwa dunia ini tidak semenakutkan yang dia kira.

 

Sang buah hati perlahan akan mengerti bahwa sudah biasa kok orang saling meminjam barang (terutama jika anak Anda tipe yang histeris saat mainannya disentuh anak lain), atau kucing ternyata bisa mencakar, dan keluarga tercintanya terkadang pergi namun nanti pasti kembali.

 

Dengan bertambahnya pengalaman, anak pun semakin memiliki pemikiran yang kompleks. Tak hanya sekedar takut, ia kini juga mulai memainkan skenario di kepalanya yang ditunjukkan melalui imajinasi-imajinasi. Misalnya, sang buah hati meras ada monster di bawah tempat tidur atau ada gurita raksasa di bak mandi. Namun hal tersebut umum terjadi dan sudah tugas Bunda untuk menenangkan dan memberikan pengertian yang benar pada si kecil.

 

Sebagaimana halnya dengan rasa cemas pada orang dewasa yang tidak hanya terpusat pada satu area tertentu, anak pun memiliki banyak alasan untuk merasa khawatir. Misalnya, ada anak yang mudah menangis karena takut melihat orang asing ingin mendekatinya. Hal ini muncul karena kini sang buah hati sudah mampu membedakan mana wajah yang familiar dan mana wajah yang jarang ditemui.

 

Begitu pun dengan kecemasan akan perpisahan yang biasanya terjadi ketika anak berumur 10 bulan. Si kecil takut melihat Anda pergi karena ia belum belajar bahwa nanti pasti Bunda akan kembali dalam waktu dekat.

 

Selain itu, dalam beberapa kasus, ada anak yang memiliki kecemasan khusus terhadap serangga, air, atau anjing tetangga. Penyebabnya bisa jadi karena ada suatu insiden yang menancap di kepalanya namun sukar untuk dijelaskan. Bisa jadi anak Anda tiba-tiba sangat takut dengan anjing karena pernah melihat anjing tersebut mengejar seekor kucing dengan beringas.

 

Selain itu, penyebab rasa cemas lainnya dapat juga muncul karena ia membandingkan dunia nyata dengan dunia rekaan dari dongeng yang biasa Bunda bacakan tiap malam. Sang buah hati membandingkan antara kisah Gadis Bertudung Merah dengan dirinya sendiri dan ia pun mulai ketakutan akan bahaya serigala yang mengintai di sepanjang perjalanan. Hmm, kalau itu alasannya, maka lebih baik Bunda memilih cerita dongeng yang memiliki pesan moral bagus tanpa bumbu-bumbu kekerasan atau sosok jahat monster.

 

Meskipun begitu, karena cemas merupakan proses yang normal, maka Bunda tidak perlu risau sebab seiring bertambahnya usia maka si kecil juga akan lebih memahami dunia.

 

Apa yang harus Bunda lakukan saat anak mulai cemas berlebihan?

Apabila melihat sang buah hati mulai menangis dan rewel, coba ikuti kata hati Bunda dengan memeluknya serta memberikan kata-kata yang menenangkan hati. Namun, jangan berhenti sampai di situ saja, Bun.

 

Pelukan memang biasanya ampuh, namun sifat menenangkannya hanya sementara. Coba deh lakukan hal-hal berikut ini untuk membantu si kecil mengobati rasa takut atau kecemasannya:

 

1. Jangan ragu untuk membicarakan masalah anak. 

Anak-anak memiliki segudang imajinasi namun hanya sedikit sekali kosa kata yang ia kuasai sehingga anak pun susah mengutarakan ketakutannya lewat kata-kata. Bunda lah yang harus aktif membantu si kecil untuk mengekspresikan emosinya.

 

Bertanyalah secara langsung dengan bahasa yang mudah dimengerti. Jangan berceramah panjang lebar karena hanya akan membuat anak Anda bingung. Misalnya ketika ada mainan baru yang membuatnya gelisah, coba tanyakan, "Kamu merasa sedih atau takut sama boneka baru itu?". Atau, ketika ia mulai membayangkan adanya teman imajinasi yang bersembunyi di lemari kamarnya, perlahan coba tanyakan apa hal tersebut membuatnya sedih atau senang. Kalau ia tidak bisa menyampaikan maksudnya dengan jelas, coba suruh anak Anda menggambar di atas kertas deskripsi teman atau monster bayangannya.

 

2. Take it slow

Apabila sang buah hati menangis saat bermain di kolam bola sendirian, maka cobalah untuk melepasnya secara perlahan. Duduklah di samping anak Anda atau pangku dia saat berada di kolam bola.

 

Ketika ia sudah merasa nyaman, beri jeda beberapa menit sebelum Anda merubah posisi dan perlahan -lahan menjauh darinya. Anak akan cepat bereaksi ketika Anda tiba-tiba menghilang atau berdiri terlalu jauh, namun dengan mengambil langkah perlahan, anak pun akan terbiasa bermain tanpa harus diawasi dari jarak dekat.

 

3. Siapkan diri anak saat akan menghadiri acara tertentu/ bertemu orang baru

Sebelum berangkat ke playgroup atau acara ulang tahun temannya, cobalah tenangkan si kecil dengan menyebut nama-nama familiar yang nanti akan turut hadir di acara tersebut. Jika tidak ada, maka sebutkan nama orang yang nantinya akan ia temui berikut deskripsi fisik dan perilaku orang tersebut. Meksipun hal ini terkesan remeh, namun akan sangat membantu sang buah hati menyiapkan mentalnya.

 

4. Jangan memaksa anak Anda untuk lebih tegar

Percayalah, anak Bunda sebenarnya sudah tegar dan kuat lebih dari yang Bunda bayangkan. Jadi, janganlah sekali-kali orang tua memaksa anaknya untuk mandiri sebelum ia siap secara mental.

 

Biasanya strategi pemaksaan ini akan berbalik menjadi hal yang tidak diinginkan. Misalnya Anda memaksa anak untuk turun dari papan luncur dan mengalahkan rasa takutnya. Meksipun keringat dingin mengucur dan tangannya gemetaran, Bunda masih terus memaksa supaya ia bertindak berani dan meluncur turun. Anda pun mulai membanding-bandingkannya dengan anak lain yang jauh lebih pemberani.

 

Well, strategi ini biasanya hanya akan membuat anak makin membenci dirinya yang lemah atau malah takut dengan Anda. Memangnya Bunda mau jadi sosok Ibu yang ditakuti anak-anaknya? Hehe, sebaiknya biarkan saja lah anak mengembangkan kemampuan dirinya secara alamiah meskipun waktu yang ia tempuh terbilang lebih lama dibanding teman sebayanya.

 

5. Tingkatkan kepercayaan diri si kecil!

Walaupun sebatas mandi sendiri atau bermain dengan anak tetangga, pujilah perilakunya tersebut sebagai suatu hal yang membanggakan. Terus semangati ia agar berani untuk lebih mandiri serta berinteraksi dengan orang-orang baru.

(Yusrina)