Balita

Tongue-Tie: Pengaruhnya Pada Menyusui Dan Perkembangan Bicara Anak

Terakhir diperbaharui

Tongue-Tie: Pengaruhnya Pada Menyusui Dan Perkembangan Bicara Anak
Ketika mendengar kata “tongue-tie,” kebanyakan dari kita memiliki gambaran tentang seseorang yang berusaha untuk berbicara di depan banyak orang, tapi terbata-bata karena gugup dan kehilangan kata-kata. Pada kenyataannya, tongue-tie adalah kondisi medis yang terjadi pada banyak orang, dan memiliki dampak khusus pada bayi yang menyusu.
 
Istilah medis untuk kondisi yang dikenal sebagai tongue-tie adalah “ankyloglossia.” Ini terjadi ketika frenulum (lapisan yang menghubungkan dasar lidah dan bawah mulut) terlalu pendek dan tebal, menyebabkan gerakan lidah menjadi terbatas. Tongue-tie merupakan kondisi yang ada saat lahir dan juga karena keturunan, sering ditemukan lebih dari satu anggota keluarga mengalami kondisi ini. Antara 0,2 hingga 2 persen bayi lahir dengan tongue-tie.
 
Untuk mengetahui apakah bayi Anda mengalami tongue-tie, lihat dan julurkan lidah Anda dan biarkan ia menirunya. Jika ia tidak bisa memanjangkan lidahnya, atau bentuk ujung lidahnya seperti hati, maka Anda perlu memeriksakannya ke dokter. Anda juga bisa memasukkan salah-satu jari ke mulut bayi hingga ia mulai menghisap. Lihat apakah lidahnya melebar ke gusi untuk melingkari dasar jari Anda. Jika tidak, Anda perlu membawanya ke dokter.
 
Pada beberapa kasus, tongue-tie hilang dengan sendirinya dalam satu tahun dan tidak menyebabkan masalah pada proses menyusui atau perkembangan bicara. Tongue-tie yang parah bisa menyebabkan masalah bicara. Suara tertentu sulit diproduksi jika lidah tidak bisa bergerak bebas, seperti ‘th,’ ‘s,’ ‘d,’ ‘l,’ dan ‘t.’ Anak dengan tongue-tie juga kesulitan untuk menjilat saat makan es krim, menjulurkan lidah, atau bermain alat musik. Mungkin ini bukan kemampuan yang Anda anggap penting, tapi suatu hari kemampuan ini menjadi sangat penting bagi anak Anda. Perkembangan gigi juga bisa terganggu, tongue-tie yang parah bisa menyebabkan celah pada dua gigi depan bawah.
 
Dampak negatif dari tongue-tie bisa terjadi pada kemampuan bayi untuk menyusu. Untuk mendapatkan ASI dari payudara, bayi perlu menggerakkan lidah untuk menempel pada puting dan areola, menariknya ke belakang mulut dan menekan ke atap mulutnya. Gerakan ini akan memberi tekanan pada kantong di belakang areola, tempat ASI tersimpan, dan ASI kemudian mengalir ke mulut bayi.
 
Lidah memiliki peran penting dalam proses menyusu, jika frenulum bayi terlalu pendek sehingga lidahnya tidak bisa memanjang ke gusi bawah, ia akan menekan payudara dengan gusi ketika menyusu, yang bisa mengakibatkan nyeri pada puting. Tongue-tie dapat berdampak pada penambahan berat badan yang rendah dan bayi menjadi rewel. Ibu menyusui bisa mengalami trauma puting, saluran ASI tersumbat, dan mastitis.
 
Tapi beberapa bayi yang mengalami tongue-tie masih tetap bisa menyusu dengan baik, tergantung cara frenulum melekat, juga variasi individual pada payudara ibu. Jika ibu memiliki puting berukuran kecil atau menengah, bayi bisa menarik ASI dengan cukup baik meski mengalami tongue-tie. Sebaliknya, jika puting ibu berukuran besar, datar, atau tertarik ke dalam, maka tongue-tie ringan sekalipun bisa menyebabkan masalah bagi bayi yang menyusu.
 
Berikut ini beberapa tanda tongue-tie pada bayi bisa menimbulkan masalah:
 
  • Bayi berulang kali terhenti saat menyusu.
  • Persediaan ASI menjadi berkurang.
  • Menimbulkan suara saat menyusu.
  • Ibu mengalami nyeri puting saat bayi menyusu (bayi mengunyah bukan menghisap untuk mendapatkan ASI).
  • Penambahan berat badan sangat lambat.
 
Meski beberapa gejala di atas bisa disebabkan oleh masalah lain, ada baiknya Bunda memeriksakan bayi ke dokter untuk mengetahui sebab lain selain tongue-tie. Tongue-tie bisa bermasalah bila proses menyusui tidak membaik bahkan setelah Anda mencoba berbagai posisi menyusui.
 
Jika tongue-tie menyebabkan masalah menyusui, ada prosedur sederhana yang disebut frenectomy yang bisa dengan mudah mengatasi masalah ini. Frenectomy merupakan prosedur yang tidak menimbulkan rasa sakit. Dokter cukup memotong frenulum agar longgar dan lidah bisa bergerak lebih bebas. Waktu yang dibutuhkan tidak lama, dan karena frenulum hampir tidak mengandung darah, biasanya hanya mengeluarkan beberapa tetes darah. Bayi disusui segera setelah prosedur dilakukan dan pendarahan bisa langsung terhenti. Anestesi dan jahitan tidak dibutuhkan. Bayi menangis lebih karena tubuhnya dipegangi dan ditahan selama beberapa detik, bukan karena rasa sakit. Prosedur ini tak jauh beda dengan tindik telinga, keduanya terasa tidak nyaman tapi sangat kecil muncul resiko infeksi, sangat aman, dan prosedurnya sangat sederhana.
 
Semakin dini tongue-tie terdeteksi, dan frenectomy dilakukan, bayi akan semakin cepat bisa menyusu dengan efektif dan nyaman. Bila tongue-tie tidak terdeteksi dan frenulum tidak dipotong hingga bayi berumur beberapa bulan, maka akan semakin lama bayi belajar menghisap dengan benar. Kadang latihan menghisap dibutuhkan untuk beradaptasi dengan gerakan lidahnya yang semakin meluas.
 
Bila tongue-tie menyebabkan kesulitan menyusu yang berat, maka semakin dini frenulum dipotong, akan lebih baik. Kadang anak menjalani prosedur ini ketika sudah besar, karena tidak teridentifikasi hingga mereka mulai mengalami masalah bicara yang signifikan.
 
Meski memotong frenulum merupakan prosedur yang sederhana, aman, dan tidak rumit, kadang sulit untuk menemukan dokter yang mau melakukannya. Riwayat tongue-tie masih kontroversial. Hingga abad ke-19, frenulum bayi dipotong hampir secara rutin. Karena ada potensi masalah menyusu dan berbicara, dulu para bidan sengaja menajamkan salah-satu kukunya agar bisa bergerak ke bawah mulut dan menggapai frenulum pada semua bayi baru lahir. Prosedur apapun yang melibatkan pemotongan lapisan pada mulut bisa berpotensi infeksi atau kerusakan pada lidah, terutama bila tidak steril atau tanpa antibiotik. Karena prosedur ini dilakukan sangat sering, meski pada banyak kasus yang sebenarnya tidak diperlukan, dokter mulai sungkan memotong frenulum dan prosedur ini jarang dilakukan.
 
Terlepas dari alasan frenectomy tidak dilakukan karena pada kebanyakan kasus, perkembangan bicara tidak dipengaruhi oleh tongue-tie. Dokter lebih memilih menunggu dan melihat apa yang akan terjadi dengan membiarkan alam menjalankan tugasnya. Sering kali, frenulum akan merenggang dengan sendirinya tanpa intervensi.
 
Di waktu yang sama ketika frenectomy kurang umum dilakukan, tingkat menyusui juga menurun drastis. Menyusui melalui botol tidak sulit bagi bayi dengan tongue-tie, karena mekanismenya sangat berbeda dengan menyusu pada payudara dan pelebaran lidah tidak memiliki peran penting saat bayi menyusu dari botol. Karena kebanyakan bayi saat itu disusui melalui botol, dokter beranggapan tidak perlu melakukan prosedur yang tidak dibutuhkan yang tidak mengganggu proses menyusu dan jarang menyebabkan masalah pada perkembangan bicara.
 
Kini jumlah ibu menyusui kian meningkat, bertambah juga jumlah dokter yang menyadari dampak tongue-tie pada bayi yang menyusu, dan mereka semakin tahu bagaimana mendiagnosa dan menanganinya. Bunda, bila Anda merasa si kecil mengalami kesulitan menyusu karena tongue-tie, Anda perlu mencari dokter yang bisa mendiagnosa dan memotong frenulum. Meski kebanyakan dokter secara teori bisa melakukan frenectomy, banyak yang lebih memilih memberi referensi ke ahli bedah atau spesialis.
 

Bila bayi mengalami tongue-tie dan tetap bisa menyusu dengan baik, Anda tetap perlu memberitahukan hal ini pada dokter. Dokter akan memastikan apakah kondisi ini serius dan beresiko pada perkembangan bicara anak atau menyebabkan masalah lain di kemudian hari. Dokter gigi anak bisa menilai apakah kondisi ini mempengaruhi perkembangan mulut dan gigi bayi.

(Ismawati)