Kehamilan

10 Mitos Seputar Seks Saat Hamil Yang Harus Anda Tahu

Terakhir diperbaharui

10 Mitos Seputar Seks Saat Hamil Yang Harus Anda Tahu
Anda mungkin sudah pernah mendengar nasihat dari orang-orang tentang berhubungan seks selama hamil, tapi kebanyakan dari nasihat ini hanya sekedar mitos. Memang ada beberapa alasan yang melarang Anda berhubungan seks selama hamil. Tapi secara umum seks sangat aman untuk dilakukan selama kehamilan berjalan normal tanpa komplikasi. Jadi bila Anda sudah mendapat lampu hijau dari dokter tapi masih menahan diri untuk melakukan seks karena takut akan menyakiti janin, lanjutkan membaca artikel ini ya Bun karena Ibupedia akan memaparkan pandangan yang keliru tentang pemahaman seks selama hamil.

Mitos #1: Berhubungan seks selama hamil akan terasa sakit

Fakta: Berhubungan seks selama hamil tidak terasa sakit bila posisinya tepat. Yang perlu dipahami, melakukan seks selama hamil butuh lebih banyak waktu, dan pasangan perlu melakukannya perlahan. Merasa cemas atau berusaha mencapai klimaks dengan tergesa akan menimbulkan stres dan menyebabkan rasa tidak nyaman bagi wanita hamil. Agar wanita bisa menikmati pengalaman seks yang bebas dari rasa sakit, pasangan sebaiknya tidak memberi tekanan pada perut dan payudara wanita.

Mitos #2: Penetrasi yang dalam bisa menyakiti janin

Fakta: Tahukah Bunda kalau vagina Anda merenggang selama berhubungan seks? Ini secara alami menciptakan rentang beberapa sentimeter antara penis dan serviks (bukaan rahim). Selain itu, serviks tertutup dan terkunci oleh sumbat lendir yang pekat untuk melindungi janin. Janin juga terlindungi oleh kantung ketuban di dalam rahim yang dirancang untuk menjaganya tetap aman.

Mitos #3: Berhubungan seks bisa menginduksi persalinan

Fakta: Ini hanya sekedar mitos. Anda tetap bisa mengalami kontraksi setelah berhubungan seks karena hormon yang ada di sperma. Bila kehamilan Anda mendekati tanggal prediksi persalinan atau bahkan sudah melewatinya, berhubungan seks bisa mendorong terjadinya persalinan, meski tidak selalu demikian. Memang benar kalau hormon yang sama (prostaglandin) digunakan untuk menginduksi persalinan di rumah sakit tapi yang digunakan adalah versi sintetisnya dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding yang ada di sperma. 

Mitos #4: Pendarahan setelah berhubungan seks adalah pertanda buruk

Fakta: Keluar sedikit darah saat berhubungan seks akan membuat Anda sangat panik, tapi jangan cemas bila bercak darah keluar selama atau setelah berhubungan seks. Ini merupakan hal yang wajar. Selama hamil, serviks menjadi sangat lembut dan sensitif pada sentuhan dan mulai berdarah. Tapi tidak ada yang perlu dicemasakan, kecuali apabila terjadi pendarahan berat atau tidak ada penyebabnya, maka segera hubungi dokter.

Mitos #5: Janin tahu saat Anda berhubungan seks

Fakta: Orang tua Anda mungkin berhubungan seks ketika Anda masih berada di rahim, tapi apakah Anda mengingatnya? Tentu janin akan tahu Anda bergerak-gerak, tapi ia tidak tahu persis apa yang Anda lakukan. Para ahli berpendapat tidak ada bukti kalau berhubungan seks bisa menyebabkan bahaya fisik atau psikologis pada janin. Janin bisa mendengar suara dan gerakan dari rahim tapi tidak mungkin bisa memahaminya.

Mitos #6: Libido akan meningkat

Fakta: Normal bagi wanita hamil mengalami penurunan mood dalam kehidupan seksnya, terutama pada trimester pertama yang biasanya memberikan efek samping yang berat. Tapi ini tidak terjadi pada semua wanita hamil. Banyak wanita yang meningkat libidonya ketika hamil. Perubahan hormon selama hamil bisa menyebabkan beberapa wanita memiliki hasrat seks yang meningkat. Dan jangan heran bila bentuk tubuh Anda sekarang membuat Anda merasa sangat seksi. Banyak pasangan menjalani seks aktif selama 9 bulan kehamilan, tapi semua berkaitan dengan aktivitas seksual sebelum kehamilan.

Mitos #7: Seks oral tidak boleh dilakukan 

Fakta: Ini menjadi kekeliruan paling besar tentang seks selama hamil. Seks oral tidak akan membahayakan Anda dan janin. Banyak pasangan menganggapnya sebagai alternatif bila berhubungan seks terlalu beresiko atau terlalu tidak nyaman. Pastikan pasangan menghindari meniupkan udara ke vagina karena tiupan yang keras bisa menyebabkan embolisme udara (gangguan pembuluh darah) yang bisa berpotensi membunuh Anda dan janin.

Mitos #8: Gerakan selama berhubungan seks bisa menyebabkan janin stres

Fakta: Kehamilan adalah waktu di mana sesi bercinta menjadi momen yang ringan. Meski janin tidak menyadari tindakan Anda dan tidak bisa tersakiti, hormon endorphin yang terlepas di tubuh setelah sesi seks membantu meningkatkan mood si janin juga.

Mitos #9: Kontraksi akibat orgasme bisa menyebabkan keguguran

Fakta: Rasa kram ringan yang Anda alami setelah berhubungan seks menjadi hal yang sangat normal. Ini terjadi karena otot rahim yang sedikit mengencang. Selama Anda tidak mengalami kehamilan beresiko tinggi, tidak akan mengakibatkan bahaya apapun. Ada dua jenis kontraksi, yang Anda rasakan selama dan setelah orgasme bukan jenis kontraksi yang akan menyebabkan keguguran. Jangan keliru membedakan kontraksi ini dengan kontraksi persalinan, yang terasa sakit dan terjadi di interval yang teratur tiap 3 hingga 5 menit. Kontraksi selama dan setelah orgasme sifatnya ringan dan akan segera hilang.

Mitos #10: Seks bisa memicu infeksi vagina

Fakta: Bila suami tidak menderita penyakit menular seksual apapun maka tidak perlu cemas tentang infeksi vagina. Tapi menjaga kebersihan dan kesehatan vagina selama hamil juga penting untuk menghindari infeksi. 
Pada kebanyakan kasus, melakukan hubungan seks 100 persen aman untuk ibu dan bayi. Tapi ada beberapa pengecualian yang akan diperingatkan oleh dokter. Bila Anda mengalami pendarahan, misalnya, dokter akan menyarankan Anda untuk tidak berhubungan seks. Selain itu, tidak semua posisi saat berhubungan seks aman. Anda perlu berganti rutinitas posisi seks karena beberapa posisi mungkin tidak terasa nyaman. Pada kehamilan minggu 15 hingga 20, sebaiknya hindari berbaring telentang, berat rahim bisa menekan vena cava, sehingga bisa menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya. Doggy style dan posisi menyamping jadi alternatif yang populer di kalangan ibu hamil.
Penyebab Berhubungan Seks Tidak Aman Selama Hamil
Berhubungan seks bisa tidak aman selama hamil apabila Anda mengalami komplikasi kehamilan tertentu. Bila mengalami kondisi berikut, konsultasikan pada dokter apakah aman untuk berhubungan seks: ‚Äč
  • Anda pernah melahirkan bayi prematur, atau ada tanda persalinan sebelum waktu. Bayi prematur adalah bayi yang lahir terlalu dini, sebelum usia kehamilan 37 minggu. Persalinan sebelum waktu adalah ketika persalinan dimulai lebih awal, sebelum kehamilan minggu 37.
  • Anda hamil janin kembar.
  • Placenta previa. Ini terjadi ketika plasenta berada sangat rendah di rahim dan menutup semua atau sebagian serviks. Placenta previa bisa menyebabkan pendarahan serius dan komplikasi lainnya pada kehamilan.
  • Anda pernah mengalami keguguran atau beresiko mengalami keguguran pada kehamilan yang sekarang. 
  • Ada masalah pada serviks,  yakni serviks terbuka terlalu dini selama hamil. Serviks adalah bukaan rahim yang berada di atas vagina. Serviks yang bermasalah bisa menyebabkan persalinan sebelum waktu.
Ingat nih Bun, kehamilan jadi kesempatan yang baik bagi Anda dan pasangan untuk selalu dekat, termasuk dalam hal pengalaman seksual.  Dengan bersikap kreatif, kehamilan menjadi waktu bagi banyak pasangan menemukan cara baru untuk tetap intim selain dengan berhubungan seks.
(Ismawati)