Kehamilan Dibaca 15,067 kali

11 Hal Mengenai Prosedur Kuret Yang Harus Ibu Tahu

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 11 September, 2019 05:09

11 Hal Mengenai Prosedur Kuret Yang Harus Ibu Tahu

Prosedur kuret merupakan prosedur bedah singkat di mana serviks dibuka dan sebuah alat digunakan untuk mengambil lapisan rahim. Dengan memahami apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah prosedur kuret, Anda dapat meredakan rasa khawatir dan membuat prosesnya tersebut berjalan lancar.

   
  1. Kapan prosedur kuret dibutuhkan?

    Anda akan membutuhkan proses kuret ketika hal berikut ini terjadi:

    • Pengangkatan jaringan di rahim selama atau setelah keguguran. Aborsi atau mengangkat bagian kecil plasenta setelah melahirkan. Hal ini dapat membantu mencegah infeksi atau pendarahan berat.

    • Diagnosa atau menangani pendarahan rahim abnormal. Kuret bisa membantu mendiagnosis atau mengatasi pertumbuhan polip, hormon tidak seimbang, atau kanker rahim, serta tumor jinak. Sampel jaringan rahim biasanya dilihat di bawah mikroskop untuk memeriksa adanya sel abnormal.

     

    Kuret sendiri bisa mendiagnosis atau mengatasi kondisi normal pada rahim. Untuk mendiagnosis kondisi tertentu, dokter biasanya merekomendasikan jenis kuret yang disebut endometrial sampling untuk mendiagnosis kondisi bila:

    • Anda mengalami pendarahan rahim abnormal

    • Anda mengalami pendarahan setelah menopause

    • Dokter menemukan sel endometrial abnormal selama tes kanker serviks rutin.

     

    Prosedur kuret juga jadi cara untuk mengatasi kondisi tertentu. Dokter mengangkat isi dari dalam rahim, bukan hanya sampel kecil jaringan. Hal ini biasa dilakukan oleh para dokter untuk:

    • Membersihkan jaringan yang masih ada di rahim setelah keguguran atau aborsi untuk mencegah infeksi atau pendarahan berat

    • Mengangkat kehamilan molar, di mana tumor terbentuk.

    • Mengatasi pendarahan berlebih setelah melahirkan dengan membersihkan plasenta yang masih ada di rahim

    • Mengangkat polip serviks atau rahim, yang biasanya tidak menyebabkan kanker.

     

    Dokter dapat melakukan kuret bersamaan dengan prosedur yang disebut hysteroscopy. Selama prosedur kuret ini, dokter memasukkan alat kecil dengan kamera dan lampu, melalui serviks sampai rahim.

    Dokter kemudian melihat lapisan rahim pada layar, menentukan area yang terlihat abnormal, memastikan tidak ada polip dan mengambil sampel jaringan yang dibutuhkan. Selama hysteroscopy, dokter juga mengangkat polip rahim dan tumor jinak.

       

  2. Yang terjadi saat jalani prosedur kuret

    Anda bisa jalani kuret di klinik dokter atau rumah sakit. Biasanya butuh waktu hanya sekitar 10 sampai 15 menit, tapi Anda perlu tinggal di klinik atau rumah sakit selama minimal 5 jam.

    Sebelum menjalani prosedur kuret, Anda perlu mengisi formulir tentang riwayat kesehatan. Tanyakan ke dokter tentang apapun yang Anda ingin tahu tentang prosedur kuret. Pastikan memberitahu dokter bila:

    • Anda hamil

    • Anda sensitif atau alergi terhadap obat, yodium atau lateks

    • Anda memiliki riwayat gangguan pendarahan atau minum obat pengencer darah.

     

    Anda akan menerima anestesi, yang sebelumnya telah dijelaskan oleh dokter. Jenisnya bergantung pada prosedur yang Anda butuhkan.

    • Bila Anda menerima anestesi umum, Anda tidak akan terbangun selama prosedur kuret

    • Bila Anda menerima anestesi spinal atau epidural, Anda akan mengalami mati rasa mulai dari pinggang ke bawah

    • Bila menerima anestesi lokal, Anda akan terjaga selama prosedur kuret dan area di sekitar serviks akan mati rasa.

     

    Sebelum melakukan prosedur kuret, Anda perlu melepas pakaian, menggunakan baju khusus dan mengosongkan kandung kemih.

    Selama prosedur kuret berlangsung, Anda diminta berbaring telentang dan menempatkan kaki seperti ketika pemeriksaan panggul. Lalu dokter memasukkan spekulum ke vagina dan menahan serviks dengan penjepit. Meski prosedur kuret tidak membutuhkan jahitan atau sobekan, dokter akan membersihkan serviks dengan larutan antiseptik.

    Prosedur kuret melibatkan dua langkah utama:

    • Dilation. Membuka dan melebarkan bukaan bagian bawah rahim untuk memasukkan alat. Dokter bisa memasukkan batang kecil (laminaria) ke bukaan rahim atau menggunakan obat sebelum prosedur kuret untuk melunakkan serviks dan menyebabkannya meluas.

    • Curettage. Pengambilan lapisan dan mengangkat lapisan rahim dengan alat berbentuk sendok panjang. Dokter juga bisa menggunakan kanula untuk menghisap kandungan yang tersisa dari rahim. Contoh jaringan nantinya akan dibawa ke lab untuk pemeriksaan.

     

    Kadang prosedur lain dilakukan selama kuret. Misalnya, dokter memasukkan alat untuk melihat bagian bawah rahim. 

    Setelah kuret, ada kemungkinan beberapa efek samping akan terjadi. Efek samping yang umum berupa:

    • Kram

    • Bercak atau pendarahan ringan

     

    Komplikasi seperti serviks rusak, rahim, kandung kemih, atau pembuluh darah berlubang dalam prosedur kuret sendiri jarang terjadi. Pastikan untuk menghubungi dokter bila Anda mengalami salah satu dari gejala berikut setelah melakukan prosedur kuret:

    • Pendarahan yang berat dan lama atau pembekuan darah

    • Demam

    • Nyeri sakit

    • Bau tidak sedap dari vagina.

     

    Walau sangat jarang, namun kasus jaringan luka yang terbentuk di dalam rahim, Asherman's syndrome, bisa menyebabkan masalah kesuburan dan perubahan pada aliran menstruasi. Melakukan prosedur pembedahan diketahui bisa memperbaiki masalah ini. Jadi pastikanlah untuk melaporkan perubahan menstruasi yang abnormal setelah menjalani prosedur kuret.

       

  3. Kuret sebagai pengobatan

    Prosedur kuret tidak hanya untuk mendiagnosis kondisi tertentu, tapi juga sebagai langkah pengobatan. Selain keguguran, prosedur kuret memungkinkan dokter mengangkat kehamilan molar atau hamil anggur, yakni ketika tumor tumbuh di tempat kehamilan yang normal. Kuret juga dilakukan pasca melahirkan pada wanita yang plasentanya tidak sepenuhnya keluar setelah melahirkan. Jaringan berlebih diketahui sangat berbahaya bila tidak keluar dari tubuh dalam beberapa menit setelah melahirkan.

    Insiden yang jarang terjadi tapi dianggap sangat mengganggu adalah proses pengangkatan IUD. Bila dokter gagal mengangkat IUD menggunakan metode standar, ada kemungkinan terjadinya benang lepas dan tertinggal di dalam rahim. Sehingga, pilihan satu-satunya adalah mengangkatnya melalui proses pembedahan. Hal ini merupakan kendala yang umum terjadi pada wanita yang mengalami efek samping IUD. Prosedurnya cukup mirip dengan prosedur kuret biasa, karena semua jaringan endometrial di dalam tubuh harus diangkat. 

       

  4. Pemulihan setelah prosedur kuret

    Setelah prosedur kuret dilakukan dan selesai, Anda akan diijinkan untuk pulang ke rumah. Pun begitu, ketika Anda menerima anestesi umum, Anda kemungkinan akan merasa pening untuk sementara dan mual serta muntah sejenak. Namun tak perlu khawatir, Anda bisa kembali ke aktivitas normal dalam satu atau dua hari setelahnya.

    Sementara itu, tanyakan dokter tentang apa saja yang perlu Anda hindari. Anda juga bisa mengalami kram dan bercak ringan selama beberapa hari. Ini merupakan hal yang sangat normal. Namun Anda perlu kenakan pembalut untuk mengatasi bercak dan minum pereda sakit untuk meringankan nyeri.

    Hal ini juga berdampak pada siklus menstruasi Anda yang selanjutnya. Untuk mencegah bakteri masuk ke rahim, tunda terlebih dahulu hubungan seks dan gunakan tampon hingga mendapat izin dari dokter. Temui dokter untuk pemeriksaan lanjutan dan jadwalkan untuk penanganan yang dibutuhkan selanjutnya.

       

  5. Risiko prosedur kuret

    Prosedur kuret merupakan prosedur dengan tingkat keamanan tinggi dengan risiko komplikasi minim. Namun, ada beberapa risiko kecil yang bisa terjadi, meliputi:

    • Rahim berlubang. Perforasi rahim bisa terjadi ketika alat bedah membentuk lubang di dalam rahim. Hal ini terjadi lebih sering pada wanita yang baru saja hamil dan pada wanita yang melewati menopause. Namun jangan khawatir pasalnya kebanyakan kasus perforasi dapat sembuh dengan sendirinya. Tapi bila pembuluh darah atau organ lain rusak, prosedur kedua sangat dianjurkan untuk hasil yang lebih baik.

    • Kerusakan serviks. Bila serviks sobek selama melakukan prosedur kuret, dokter biasanya menggunakan tekanan atau obat untuk menghentikan pendarahan dan menutup luka dengan jahitan.

    • Jaringan luka pada dinding rahim. Meski jarang terjadi, prosedur kuret dapat menyebabkan jaringan luka di dalam Rahim. Kondisi ini dikenal dengan nama Asherman's syndrome, yang terjadi ketika prosedur kuret dilakukan setelah keguguran atau melahirkan. Hal ini diketahui bisa memicu siklus menstruasi abnormal, keguguran,  atau beberapa hal terkait dengan masalah kesuburan.

    • Infeksi. Infeksi setelah prosedur kuret mungkin terjadi, namun jangan khawatir hal ini sangat jarang terjadi.

     

    Hubungi dokter bila Anda mengalami hal berikut setelah kuret:

    • Pendarahan yang cukup berat sehingga Anda membutuhkan pembalut setiap jam

    • Demam

    • Kram yang berlangsung lebih dari 48 jam

    • Rasa sakit yang memburuk, bukan membaik

    • Bau tak sedap dari vagina.

     

    Biasanya pasien akan diberikan antibiotik untuk membasmi mikroorganisme yang menyebabkan masalah. Tapi jangan khawatir, sangat kecil kemungkinan infeksi bisa terjadi.

       

  6. Mempersiapkan diri untuk prosedur kuret

    Beberapa hari sebelum kuret, hentikan konsumsi obat seperti aspirin, yang bisa menyebabkan peningkatan risiko pendarahan dan obat yang dijual bebas lainnya seperti obat flu dan laksatif. Hindari alkohol dan tembakau. Dokter biasanya menyarankan pasien untuk menghentikan konsumsi suplemen herbal setidaknya dua minggu sebelum pembedahan. Bicaralah pada dokter tentang obat yang akan Anda minum. Sebelum prosedur:

    • Ikuti instruksi dokter untuk membatasi makanan dan minuman

    • Minta seseorang untuk mengantar Anda pulang karena Anda bisa mengantuk setelah anestesi hilang.

    • Batasi aktivitas agar ada waktu pemulihan setelah melakukan prosedur ini. Anda kemungkinan butuh beberapa pasca prosedur untuk pemulihan.

     

    Pada beberapa kasus, dokter bisa memulai proses pembukaan serviks beberapa jam bahkan hari sebelum prosedur dimulai. Hal tersebut dapat membantu serviks terbuka perlahan dan biasanya dilakukan ketika serviks perlu dibuka melebihi dari standar kuret, seperti selama terminasi kehamilan atau jenis hysteroscopy tertentu.

    Untuk mendorong bukaan, dokter biasanya menggunakan obat yang disebut misoprostol (cytotec), yang diberikan secara oral atau vaginal, untuk melunakkan serviks atau memasukkan alat yang dibuat dari laminaria ke serviks. Laminaria perlahan meluas dengan menyerap cairan ke serviks, menyebabkan serviks terbuka.

       

  7. Menstruasi setelah kuret

    Setelah mejalani prosedur kuret, rahim wanita akan memiliki lapisan jaringan baru. Lalu siklus menstruasi selanjutnya bisa terjadi lebih awal atau terlambat. Kadang sulit memprediksi kapan wanita akan mendapat menstruasi setelah prosedur kuret.

    Tapi ada juga yang menyatakan menstruasi akan kembali terjadi sekitar 2 hingga 6 minggu setelah prosedur kuret, tapi rentang waktu bisa terjadi secara  bervariasi.

    Untuk melihat kemungkinan yang terjadi, dapat dilakukan dengan melihat tingkat hormon wanita yang kerap berubah. Misalnya, pada kasus keguguran, tingkat hormon kembali normal lebih cepat setelah keguguran awal dibanding setelah keguguran akhir. Jadi berapa lama waktu seorang wanita keguguran bisa mempengaruhi seberapa cepat ia datang bulan setelah prosedur kuret. Namun tentu saja, ada faktor lain yang mempengaruhi kegiatan datang bulan setelah kuret menjadi tidak pasti.

    Pun begitu, bila lebih dari 8 minggu sejak prosedur kuret dan Anda belum menstruasi, sebaiknya langsung beritahu dokter. Walau bukan merupakan masalah serius, tapi sebagian kecil wanita dapat mengalami intraurine adhesion atau luka setelah melakukan prosedur kuret. Hal ini berisiko paling tinggi pada wanita yang menjalani lebih dari satu kali kuret.

       

  8. Hal lain yang terjadi setelah prosedur kuret

    Untuk perawatan setelah kuret, penting untuk tidak meletakkan apapun di vagina, seperti tampon, atau melakukan hubungan seksual hingga mendapat izin dari dokter untuk mencegah infeksi.

    Untungnya, bila prosedur dilakukan oleh dokter yang berpengalaman, prosedur kuret biasanya memiliki risiko kecil pada wanita. Tapi penting untuk mewaspadai segala kemungkinan komplikasi walaupun memang jarang terjadi.

    Bila Anda mengalami rasa sakit, kram, demam, pendarahan berat yang tidak berhenti, atau bau tidak sedap pasca kuret, hubungi dokter segera. Gejala ini bisa mengindikasikan bahwa Anda mengalami komplikasi karena kuret dan Anda membutuhkan penanganan dan perhatian medis.

    Periode menstruasi yang lambat terjadi bisa menimbulkan frustrasi, terutama bila Anda mengalami kuret karena keguguran dan Anda berharap bisa hamil lagi. Pastikan pilihan penanganan keguguran tidak mempengaruhi kesuburan Anda di masa mendatang.

       

  9. Jangan mengemudi setelah prosedur kuret

    Meski prosedur ini singkat, efeknya bisa berlangsung cukup lama. Seperti pada pembedahan invasif, akan ada rasa lelah setelah prosedur dilakukan. Anestesi juga bisa menyebabkan seseorang mengantuk dan tidak fokus meski setelah efek anestesi hilang. Karena alasan inilah, wanita sangat dilarang meninggalkan rumah sakit sendirian dan mengemudikan kendaraan 

    Memang, tidak ada aturan yang melarang wanita mengemudi pasca prosedur kuret. Tapi tetap saja hal tersebut sangat tidak dianjurkan. Ini sebabnya wanita harus meminta orang lain mengantarnya pulang bila tidak ada yang menemani di rumah sakit. Disarankan juga bagi pasangan untuk menemani istri di rumah sakit dan memastikan ia baik-baik saja. Peran pendamping sangat penting bagi wanita agar ia yakin semua akan baik-baik saja.

       

  10. Yang dirasakan wanita pasca kuret

    Apa yang dirasakan wanita pasca prosedur kuret bisa bervariasi, bergantung pada kondisinya. Bila pembedahan dilakukan setelah keguguran, wanita masih mengalami rasa berduka karena kehilangan bayi. Ini terasa berat bagi dirinya dan juga pasangan. Lelah dan trauma karena harus melewati pembedahan ketika wanita kehilangan bayinya tidak bisa disepelekan. Di saat inilah ia sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

    Tidak mudah juga bagi pasien yang menjalani prosedur kuret untuk tujuan diagnostik. Sebenarnya penderitaan wanita bisa berakhir saat ia meninggalkan rumah sakit dengan beberapa pil untuk mengusir rasa sakit, tapi wanita yang menjalani kuret untuk diagnosis tidak bisa menghilangkan kecemasan mereka. Karena kanker jadi salah satu kemungkinannya, wanita cenderung tidak bisa tidur dan hari-harinya diisi dengan penuh kecemasan hingga akhirnya mengetahui apa yang salah dan bagaimana cara mengatasinya.

       

  11. Pemulihan psikologis yang butuh waktu

    Banyak orang fokus pada penanganan fisik setelah kuret, tapi jangan diabaikan bahwa kondisi kejiwaan juga perlu diperhatikan. Orang berduka dengan cara berbeda, dan apa yang tidak disukai oleh satu wanita bisa jadi yang paling dibutuhkan wanita lainnya. Misalnya, banyak wanita mengambil cuti kerja untuk sembuh dan beristirahat. Yang lain tak sabar menunggu kembali bekerja agar bisa mencegah pikiran negatif. Bisa dikatakan bahwa prosedur kuret adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan  tidak bisa dilupakan wanita. Namun bukan  berarti tidak ada cara untuk mengatasi hal tersebut.

    Aspek paling penting dari pemulihan emosional adalah dukungan orang terdekat. Dikelilingi oleh teman dan keluarga serta pasangan yang suportif bisa sangat berarti di tahap pemulihan. Teman yang menyediakan aktivitas yang dibutuhkan dan menghormati mood serta keinginan si wanita akan membuat penyembuhannya lebih mudah. Beberapa wanita membutuhkan perubahan besar, seperti jalan-jalan selama 3 atau 4 hari untuk menjernihkan pikiran. Apapun yang membuatnya merasa lebih baik harus dilakukan untuk membantunya melewati masa yang sulit ini.

(Ismawati & Yusrina / Dok. Unsplash)