Kehamilan

Apa Saja Faktor Penyebab Air Ketuban Keruh?

Apa Saja Faktor Penyebab Air Ketuban Keruh?

Sudah melakukan tes kehamilan dan hasilnya positif? Yuk, segera periksa ke dokter. Pemeriksaan kehamilan merupakan rangkaian perawatan kesehatan sebelum (prenatal) dan sesudah melahirkan (postpartum). Tujuan pemeriksaan ini, adalah untuk memantau kesehatan Ibu dan janin. Selain itu, tentu juga akan dicek mengenai tumbuh kembang janin, kemungkinan adanya gangguan pada tumbuh kembang janin, kemungkinan adanya masalah pada kehamilan, dst.

Selama kehamilan, disarankan agar Ibu setidaknya memeriksakan kandungan sebanyak delapan kali, yaitu:

  • Trimester 1: 1 kali kunjungan sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu.
  • Trimester 2: 2 kali
  • Trimester 3: 5 kali, yaitu pada minggu ke 30, 34, 36, 48 dan 40 minggu.

Catatan, jika Ibu mengandung bayi kembar atau hamil dengan risiko tertentu, maka kemungkinan Ibu akan membutuhkan lebih banyak pemeriksaan. Risiko yang dimaksud misalnya, hamil di usia 35 tahun ke atas, memiliki riwayat sakit pada kehamilan sebelumnya, atau ada kemungkinan melahirkan secara prematur

Selama pemeriksaan, nggak hanya kondisi Ibu dan janin yang dicek oleh dokter, tapi juga air ketuban.

Air ketuban atau amniotic fluid, adalah yang pelindung janin selama berada di dalam kandungan. Air ketuban terdiri dari air, protein, elektrolit, mineral, karbohidrat, lipid, urin serta sel-sel janin. Komposisi air ketuban juga dipengaruhi oleh nutrisi yang didapat oleh Ibu. Seiring membesarnya kehamilan, cairan ketuban didominasi oleh cairan yang berasal dari urin janin. Beberapa studi baru menghasilkan, bahwa air ketuban ternyata nggak hanya berfungsi untuk melindungi janin, tapi juga berperan penting dalam tumbuh kembang janin, dan bisa digunakan sebagai penanda kesehatan dan perkebangan janin.

Air ketuban, sudah mulai diproduksi oleh tubuh sejak duabelas hari pertama kehamilan terjadi. Setengah pertama kehamilan Ibu, air ketuban terdiri dari cairan tubuh Ibu, sedangkan setelahnya, cairan ketuban terdiri dari urin janin. 

Ada beberapa fungsi dari air ketuban, di antaranya:

  1. Air ketuban sebagai sarana atau ruang bagi janin untuk terus tumbuh dan bergerak. Dengan ruang gerak yang memadai, maka pertumbuhan tulang dan janin akan berjalan baik.
  2. Pelindung janin dari tekanan yang berasal dari luar, seperti dorongan atau benturan. 
  3. Dengan bernapas dan menelan air ketuban, janin ‘melatih’ paru dan sistem pencernaannya.
  4. Membantu menjaga suhu di dalam rahim bagi janin agar tetap hangat.
  5. Melindungi janin dari infeksi, karena air ketuban mengandung antibodi.
  6. Cairan ketuban juga berfungsi sebagai pelumas yang membantu mencegah terjadinya webbing fingers atau jari menyatu.
  7. Dengan jumlah cairan ketuban yang cukup, maka mencegah tali pusar tertekan, sehingga tali pusar bisa mendistribusikan nutrisi dan oksigen dengan baik.

Ciri Air Ketuban Sehat

Air ketuban yang sehat, biasanya berwarna jernih hingga kekuningan dan lebih jernih daripada urin. Ciri lainnya adalah tidak keruh, tidak kental seperti keputihan (vaginal discharge), serta tidak berbau. 

Sebaliknya, ada beberapa kondisi air ketuban yang tidak normal, di antaranya:

1. Oligohidramnion


Oligohidramnion terjadi ketika indeks cairan ketuban yang dilihat oleh usg kurang dari 5cm, sedangkan volume air ketuban yang normal adalah 5-25cm. Oligohidramnion bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti persalinan yang melebihi tanggal estimasi, dampak dari air ketuban yang merembes, ibu yang mengalami dehidrasi, terjadi gangguan pada plasenta (misalnya plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya) melahirkan, ketuban pecah dini, kehamilan kembar dan faktor lainnya.

Kondisi ini bisa meningkatkan risiko janin tidak berkembang dengan sebagaimana mestinya, juga memicu gangguan pada tali pusar dikarenakan kurangnya ‘ruang’ untuk janin bergerak dan bisa mengganggu perkembangan sistem pernapasan janin. Jika Ibu mengalami hal ini pada usia kehamilan tigapuluh enam hingga tigapuluh tujuh minggu, maka disarankan untuk segera melakukan persalinan. 

2. Polihidramnion


Adalah kebalikan dari oligohidramnion, yaitu jumlah air ketuban berlebih. Kasus polihidramnion ini lebih jarang terjadi jika dibandingkan dengan oligohidramnion. Ada beberapa hal yang bisa memicu berlebihnya air ketuban, seperti twin-to-twin transfusion syndrome (salah satu janin mendapatkan lebih banyak aliran darah), terjadi infeksi, gangguan detak jantung pada janin, gangguan pada otak atau sistem syaraf janin, dst. Diabetes kehamilan (gestational diabetes) yang tidak dikontrol juga bisa memicu hal ini. 

3. Air ketuban merembes (leaking)


Semakin ibu dekat dengan jadwal persalinan, waspadai tanda-tanda ketuban merembes. Jika Ibu merasakan ketuban merembes, yang keluar sedikit-sedikit (apalagi sekaligus dalam jumlah banyak), maka segera memeriksakan kondisi Ibu ke dokter, ya.

Dokter akan memeriksa jumlah air ketuban Ibu. Selain itu, perlu diperhatikan juga warna air ketuban yang keluar. Jika air ketuban pecah dini, maka meningkatkan risiko komplikasi yang bisa mengenai Ibu dan janin. Ketuban pecah dini di bawah tigapuluh tujuh minggu, juga disebut dengan istilah preterm premature rupture of membranes (PROM). Komplikasi yang mungkin terjadi misalnya infeksi hingga melahirkan sebelum waktunya.

4. Warna air ketuban keruh

Menjelang kelahiran, air ketuban biasanya mulai berubah warna, yaitu dari bening kekuningan menjadi sedikit putih keruh. Warna keruh ini didapat dari vernix (lapisan pelindung pada kulit janin), dan hal ini adalah normal.

Ulasan pada situs medicalnewstoday.com menjabarkan, berwarna kehijauan atau kecokelatan dan berbau adalah salah satu tanda air ketuban keruh yang tidak normal. Hal ini mendandakan bahwa janin sudah melepaskan meconium (kotoran) saat masih di dalam kandungan. Hal ini bisa menyebabkan sindrom aspirasi mekonium atau kondisi janin kesulitan bernapas baik itu saat masih di dalam kandungan atau pun setelah dilahirkan. Meconium membuat janin susah bernapas karena bisa menutup jalur pernapasan.

Selain meconium, infeksi bakteri atau korioamniotis bisa menjadi penyebab air keruh lainnya. Infeksi ini bisa dimulai dari vagina atau anus yang kemudian mengenai rahim. Selain menumpuknya bakteri di sekitar vagina, infeksi ini juga sering terjadi karena kantung ketuban yang sudah pecah dalam waktu lama sebelum janin lahir. Penyebab air ketuban keruh lainnya anemia hemolitik pada janin, yang bikin air ketuban keruh dan menguning akibat bilirubin. Aada pula, air ketuban keruh kemerahan, yang memungkinkan adanya darah pada cairan ketuban. 

Apakah Makanan Bisa Menyebabkan Ketuban Keruh?

Saat hamil, mungkin Ibu akan mendengar saran untuk menghindari makanan tertentu supaya air ketuban Ibu tidak keruh. Namun, jika melihat informasi di atas, tidak ada yang menyebutkan makanan penyebab air ketuban keruh. 

Lalu, gimana, ya, cara mengetahui perbedaan antara urin dan air ketuban? 

Membedakan antara urin dan air ketuban juga susah-susah gampang. Apalagi jika ini adalah kehamilan pertama bagi Ibu. Karena saat hamil biasanya Ibu susah menahan buang air kecil, maka nggak sedikit ibu yang keliru. Berikut adalah beberapa tips untuk membedakan keduanya.

  • Hirup aromanya: Urin biasanya beraroma seperti ammonia, sebaliknya, air ketuban tidak memiliki aroma ini. Namun, air ketuban yang terinfeksi bisa menimbulkan bau.
  • Lakukan dua gerakan sederhana: Air ketuban yang merembes atau pecah akan keluar lebih banyak jika Ibu berbaring. Ketika Ibu dalam posisi tegak (berdiri, berjalan atau pun duduk), kepala janin menghalangi jalur keluarnya dan ‘menahan’ air ketuban tersebut. 
  • Cek warnanya: Pertama kosongkan kandung kemih lebih dulu. Kemudian gunakan pembalut dan tunggu setengah hingga satu jam. Jika cairan yang keluar berwarna kuning, kemungkinan cairan tersebut adalah urin. 
  • Tes dengan gerakan kegels: Ibu bisa coba dengan melakukan gerakan kegels, yaitu gerakan seperti Ibu sedang menahan buang air kecil. Jika masih terasa keluar cairan pada saat Ibu melakukan gerakan ini, maka kemungkinan cairan tersebut adalah ketuban. 

Nah, ternyata penting banget, ya, untuk memerhatikan kondisi air ketuban. Saat melakukan pemeriksaan di dokter, jangan ragu untuk berkonsultasi soal air ketuban ini, ya, Bu.

Editor: Dwi Ratih