Kehamilan Dibaca 1,404 kali

Awas Bahaya Chlamydia Pada Vagina Selama Hamil!

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 01 Desember, 2018 15:12

Awas Bahaya Chlamydia Pada Vagina Selama Hamil!
Chlamydia merupakan infeksi yang ditularkan secara genital, disebabkan oleh bakteri bernama chlamydia trachomatis. Chlamydia bisa diidap oleh pria maupun wanita. Bakteri ini juga bisa menyebabkan infeksi pada anus, bagian belakang tenggorokan, dan mata. Meski chlamydia bisa disembuhkan dengan antibiotik, tetap ada konsekuensi serius pada kesehatan seksual Anda jika tidak terdiagnosa atau tidak diobati.

Infeksi chlamydia juga bisa menyebabkan komplikasi pada kehamilan dan bayi yang baru lahir. Chlamydia dianggap berkaitan dengan keguguran dan persalinan prematur. Chlamydia juga bisa ditularkan dari ibu ke anak saat lahir, menyebabkan infeksi pada mata, atau pada kasus yang jarang ditemukan, membuat bayi mengidap pneumonia. Keduanya bisa diobati dengan antibiotik oral.

Wanita yang mengidap chlamydia selama hamil cenderung memiliki tingkat infeksi kantung dan cairan ketuban yang lebih tinggi, kelahiran sebelum waktunya, dan pecah ketuban sebelum waktu melahirkan, meski pengobatan yang tepat bisa mengurangi resiko masalah ini. Beberapa penelitian mengaitkan chlamydia dengan peningkatan resiko keguguran, meski penelitian lain tidak menemukan adanya keterkaitan antara keduanya.

Infeksi chlamydia yang tidak diobati membuat Anda lebih rentan terkena HIV dan beberapa infeksi yang ditularkan melalui hubungan seks, juga meningkatkan resiko Anda mengalami infeksi peranakan setelah melahirkan. Terlebih lagi, bila Anda mengidap infeksi chlamydia saat Anda menjalani persalinan, ada kemungkinan Anda akan menularkannya pada si bayi. Faktanya, hingga setengah dari jumlah bayi yang lahir secara vaginal oleh ibu yang mengidap chlamydia yang tidak diobati (dan bahkan beberapa bayi lahir melalui sesar) akan terpapar infeksi.

Antara 25 hingga 50 persen bayi-bayi ini akan mengalami infeksi pada mata (conjunctivitis) beberapa minggu setelah lahir. Obat tetes atau salep yang digunakan pada mata bayi setelah lahir untuk mencegah gonorrheal conjunctivitis tidak bisa mencegah infeksi mata yang disebabkan oleh chlamydia. Sebanyak 5 hingga 30 persen bayi yang terpapar chlamydia selama kelahiran mengalami pneumonia beberapa minggu hingga bulan setelah lahir. Meski infeksi ini bisa bersifat sangat serius, bayi yang diobati dengan segera dengan antibiotik umumnya bisa membaik. Tentu, yang paling baik adalah dengan diobati sebelum melahirkan untuk mencegah bayi dari infeksi.

Karena penting untuk mendeteksi dan mengobati chlamydia selama hamil, dan karena infeksi ini cukup umum terjadi, disarankan semua wanita hamil untuk menjalani tes chlamydia pada kunjungan pranatal pertama. Untuk prosedur tes, dokter akan mengirim kain penyeka dari vagina atau serviks atau contoh urin Anda ke lab untuk dianalisa. Jika tes menunjukkan hasil positif dan Anda belum menjalani tes untuk penyakit seksual menular lainnya, dokter Anda akan melakukannya juga.

Bila Anda berusia di bawah 25 tahun atau berada pada resiko tinggi terkena chlamydia (Anda atau pasangan Anda memiliki pasangan seks baru atau lebih dari satu pasangan seks), dokter mungkin akan mengulangi tes selama trimester ketiga, untuk memastikan Anda tidak terinfeksi ketika mempersiapkan kelahiran. Anda juga bisa dites kembali jika terkena penyakit menular seksual lain selama kehamilan atau jika pasangan Anda menunjukkan gejala chlamydia. Disarankan wanita hamil dites kembali 3 hingga 4 minggu setelah menyelesaikan pengobatan untuk memastikan infeksi telah hilang.

Pada umumnya chlamydia tidak menunjukkan gejala apapun. Sekitar 70 persen wanita dan 50 persen pria tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi. Meski jika Anda memiliki gejala, kondisi ini bisa membuat Anda terkecoh dengan penyakit lain, kondisi yang kurang serius seperti murai atau cystitis.  Gejala yang biasanya muncul terjadi antara 1 hingga 3 minggu setelah terkena infeksi. Gejala bisa berlangsung sementara waktu atau Anda hanya merasakannya selama beberapa hari.

Gejala-gejala awal chlamydia pada wanita meliputi:

  • Rasa sakit saat berkemih.

  • Kotoran vagina mengandung nanah.

  • Rasa sakit di perut bagian bawah.

Jika infeksi tidak diobati, gejala yang muncul kemudian bisa berupa:

  • Rasa sakit saat berhubungan seks.

  • Pendarahan setelah berhubungan seks atau antara periode menstruasi.

  • Rasa sakit yang berat di bagian panggul.

Gejala-gejala ini menjadi tanda bahwa infeksi telah menyebar lebih jauh ke organ reproduksi Anda, menyebabkan peradangan pada serviks dan infeksi pada rahim. Kondisi ini bisa memicu pelvic inflammatory disease (PID) dan masalah kesuburan yang disebabkan oleh kerusakan pada tuba falopi Anda.

Sedangkan gejala awal chlamydia pada pria mencakup:

  • Rasa sakit pada skrotum atau pangkal paha disebabkan oleh peradangan pada tuba yang menghubungkan testis pada penis.

  • Kotoran berwarna keruh yang keluar dari ujung penis.

  • Rasa sakit dan terbakar ketika buang air kecil.

Bila infeksi tidak diobati, pria bisa mengalami:

  • Buah kemaluan yang membengkak dan menimbulkan rasa sakit.

  • Masalah kesuburan yang disebabkan oleh epididymitis.

  • Pada kasus yang jarang terjadi (dan lebih umum terjadi pada pria), chlamydia bisa memicu sindrom Reiter.

Chlamydia ditularkan melalui hubungan seksual, jadi siapapun yang melakukan seks tanpa kondom bisa terkena. Chlamydia juga bisa ditularkan melalui seks anal atau oral dari kontak genital dengan orang yang terinfeksi. Tapi jangan khawatir, Anda tidak akan tertular chlamydia melalui toilet duduk, handuk, pakaian renang, atau sauna serta kolam renang.

Yang menjadi berita gembira adalah diagnosa chlamydia bisa dengan mudah dilakukan baik pada wanita maupun pria. Ini karena tes standar yang digunakan untuk mendeteksi penyakit ini bentuknya berupa tes urin atau menyeka bagian vagina. Analisa sampel menggunakan sebuah teknik yang dinamakan the nucleic acid amplification test (NAAT).Anda bisa datang ke dokter atau klinik kesehatan seksual untuk menjalani tes chlamydia. Anda juga bisa mengambil sampel urin atau menyeka vagina di tempat yang nyaman seperti di rumah sendiri sebelum mengirimkannya ke lab untuk dianalisa.

Infeksi chlamydia bisa diobati dengan menggunakan antibiotik. Anda bisa meminum resep doxycycline selama 7 hari atau satu dosis azithromycin. Jika pengobatan Anda cukup dini dilakukan, tak akan ada komplikasi yang muncul. Pada kasus-kasus yang umum (sekitar 95 persen), antibiotik cukup ampuh digunakan untuk membunuh infeksi. Penting juga bagi pasangan seks Anda untuk diobati. Jika tidak, ada resiko Anda akan kembali terinfeksi.

Idealnya, Anda tidak boleh berhubungan seks (termasuk seks oral dan anal) hingga Anda dan pasangan telah menyelesaikan pengobatan. Hal ini untuk mencegah infeksi terulang lagi. Jika Anda terdiagnosa chlamydia selama hamil, atau jika Anda sedang menyusui, infeksi bisa diobati dengan antibiotik erythromycin, azithromycin atau amoxicillin. Antibiotik yang direkomendasikan digunakan saat hamil memang tidak seefektif yang biasa, itulah sebabnya Anda perlu melakukan tes chlamydia kembali sekitar 5 hingga 6 minggu setelah pengobatan, tergantung jenis obat yang Anda gunakan, untuk memastikan infeksi telah benar-benar hilang.

Untuk menghindari terjangkit chlamydia selama hamil, lakukan hubungan seks dengan pasangan jangka panjang Anda yang hanya melakukan seks dengan Anda. Jika tidak, gunakanlah kondom lateks selama bersenggama. Sekali lagi, jika Anda memiliki kemungkinan terkena chlamydia atau penyakit menular seksual lainnya selama hamil, segera beritahukan dokter agar Anda bisa dites dan diobati sebagaimana mestinya.

(Ismawati)