Kehamilan

Ibu Hamil Yang Skoliosis dan Risikonya Pada Bayi

Terakhir diperbaharui

Ibu Hamil Yang Skoliosis dan Risikonya Pada Bayi

Skoliosis merupakan gangguan yang menyebabkan lengkungan pada tulang belakang. Tulang belakang memiliki lengkungan normal ketika dilihat dari samping, tapi harus terlihat lurus ketika dilihat dari depan.

 

Kifosis adalah lengkungan di tulang belakang yang terlihat dari samping di mana tulang belakang terlihat menekuk ke depan. Sedangkan lordosis adalah lengkungan yang terlihat dari samping dimana tulang belakang menekuk ke belakang. Orang dengan skoliosis mengalami tambahan lengkung di samping tubuh, dan tulang belakang terpelintir membentuk huruf C atau S.

 

Skoliosis dua kali lebih umum terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Skoliosis bisa terjadi di usia berapapun, tapi paling umum pada usia lebih dari 10 tahun. Skoliosis bersifat turunan, sehingga orang dengan skoliosis lebih mungkin memiliki anak dengan skoliosis. Tapi tidak ada hubungan antara keparahan lengkung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Apa penyebab skoliosis?

Skoliosis terjadi pada sekitar 2 persen perempuan dan 0,5 persen laki-laki. Pada kebanyakan kasus, penyebab skoliosis tidak diketahui (dikenal dengan istilah idiopathic). Jenis skoliosis ini dikategorikan berdasarkan usia ketika skoliosis berkembang:

 

  • Bila penderita berusia kurang dari 3 tahun, disebut infantile idiopathic scoliosis
  •  
  • Skoliosis yang berkembang antara usia 3 hingga 10 tahun disebut juvenile idiopathic scoliosis
  •  
  • Skoliosis yang berkembang di usia lebih dari 10 tahun (10 sampai 18 tahun) disebut adolescent idiopathic scoliosis.

 

Lebih dari 80 persen orang dengan skoliosis mengalami idiopathic scoliosis, dan kebanyakan dari mereka adalah perempuan.

 

Apa saja faktor risiko skoliosis?

Usia jadi faktor risiko, gejala sering mulai terlihat pada usia 9 sampai 15 tahun. Perempuan meningkatkan risiko skoliosis, dan perempuan berisiko lebih tinggi mengalami lengkungan tulang belakang yang bertambah parah dibanding laki-laki. Meski banyak orang yang mengalami skoliosis tidak punya anggota keluarga dengan skoliosis, riwayat keluarga skoliosis meningkatkan risiko kondisi ini.

 

Apa gejala dan tanda skoliosis?

Gejala paling umum dari skoliosis adalah lengkungan yang abnormal pada tulang belakang. Sering kali ini berupa perubahan yang ringan dan pertama kali terlihat oleh teman, anggota keluarga, atau dokter selama pemeriksaan rutin anak di sekolah. Perubahan lengkung tulang belakang biasanya terjadi sangat lambat dan tidak terdeteksi hingga menjadi semakin parah.

 

Penderita merasa pakaiannya tidak lagi pas seperti dulu, mereka menyadari pinggang yang tidak sama atau celana lebih panjang pada satu sisi dibanding yang lain. Skoliosis bisa menyebabkan kepala terlihat tidak di posisi tengah, condong ke satu sisi atau satu bahu, atau pinggang lebih tinggi di satu sisi.

 

Bila skoliosis jadi lebih parah, jantung dan paru-paru bisa lebih sulit untuk bekerja. Ini bisa menyebabkan napas pendek dan nyeri dada. Pada kebanyakan kasus, skoliosis tidak terasa sakit, tapi jenis skoliosis tertentu bisa menyebabkan nyeri punggung, nyeri leher, dan nyeri perut.

 

Pemeriksaan apa saja untuk mendiagnosa skoliosis?

Bila Anda mengira mengalami skoliosis, temui dokter untuk menjalani pemeriksaan. Dokter akan mengajukan pertanyaan, termasuk apakah ada anggota keluarga yang mengalami skoliosis, atau apakah muncul rasa sakit atau masalah medis lain.

 

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan melihat lengkungan tulang belakang dari samping, depan, dan belakang. Anda diminta melepas pakaian dari pinggang ke atas agar dokter bisa lebih baik melihat lengkung yang abnormal atau pinggang yang tidak sama tingginya. Anda diminta untuk membungkuk dan menyentuh jari kaki. Posisi ini bisa membuat lengkungan terlihat lebih jelas. Dokter juga akan melihat kesejajaran tubuh untuk mengetahui apakah pinggang dan bahu tingginya sama atau condong ke satu sisi. Perubahan kulit juga akan diidentifikasi karena bisa mengindikasikan skoliosis karena cacat lahir. Dokter kemudian akan memeriksa gerakan, kekuatan, dan refleks otot. Dokter bisa mengukur tinggi dan berat badan untuk membandingkannya dengan kunjungan selanjutnya.

 

Bila dokter meyakini pasien mengalami skoliosis, pasien bisa diminta kembali menjalani pemeriksaan tambahan dalam beberapa bulan untuk melihat apakah ada perubahan atau dokter melakukan penyinaran pada punggung. Dokter kemudian bisa menentukan seberapa besar lengkungan. Ini membantu menentukan penanganan. Pengukuran dari kunjungan berikutnya bisa dibandingkan untuk melihat apakah lengkungan bertambah parah.

 

Bagaimana penanganan untuk skoliosis?

Penanganan skoliosis ditentukan oleh tingkat keparahan lengkungan tulang dan kemungkinan lengkungan bertambah parah. Jenis skoliosis tertentu punya kemungkinan lebih besar untuk bertambah parah. Jenis skoliosis membantu menentukan penanganan yang tepat. Ada tiga kategori penanganan, yaitu observasi, penggunaan brace, dan pembedahan. Ada penanganan yang tidak melibatkan pembedahan, tapi pada beberapa individu, pembedahan jadi pilihan terbaik.

 

Penanganan idiopathic scoliosis biasanya berdasarkan pada usia ketika skoliosis berkembang. Pada kebanyakan kasus, infantile idiopathic scoliosis akan membaik tanpa penanganan. Penyinaran dengan sinar X dan pengukuran bisa dilakukan dan dibandingkan untuk menentukan apakah lengkungan bertambah parah. Penggunaan brace biasanya tidak berhasil pada penderita ini.

 

Juvenile idiopathic scoliosis punya risiko lebih besar bertambah parah dibanding jenis idiopathic scoliosis lainnya. Penggunaan brace bisa dicoba di awal penanganan bila lengkungan tidak sangat parah. Tujuannya untuk mencegah lengkungan bertambah parah hingga penderita berhenti tumbuh. Karena lengkungan terjadi di usia dini, dan penderita masih terus tumbuh, ada kemungkinan lebih besar dibutuhkan penanganan yang lebih agresif atau pembedahan.

 

Adolescent idiopathic scoliosis menjadi bentuk skoliosis yang paling umum. Bila saat pertama diagnosa terlihat lengkungan yang kecil,  bisa dilakukan observasi dan diikuti dengan penyinaran dan pengukuran rutin. Jika lengkungan tetap di bawah 20 sampai 25 derajat, tak ada penanganan lain yang dibutuhkan.

 

Pasien bisa kembali ke dokter tiap 3 sampai 4 bulan untuk memeriksa apakah ada perubahan lengkungan. Tambahan penyinaran dengan sinar X bisa diulangi tiap tahun untuk memperoleh pengukuran baru dan memeriksa perubahan lengkungan. Bila lengkungan antara 25 sampai 40 derajat dan pasien masih terus tumbuh, penggunaan brace direkomendasikan. Penggunaan brace tidak direkomendasikan untuk penderita yang telah selesai tumbuh. Bila lengkung lebih besar dari 40 derajat, maka dokter akan menganjurkan pembedahan.

 

Bunda, skoliosis tidak selalu terkait dengan sakit punggung. Tapi pada beberapa pasien dengan sakit punggung, gejala bisa dikurangi dengan terapi fisik, pijat, perenggangan, dan olahraga, termasuk yoga. Aktivitas ini bisa membantu memperkuat otot punggung. Penangan medis utamanya berupa pereda sakit seperti obat anti peradangan non steroid dan suntikan anti peradangan. Penanganan ini bukan obat untuk skoliosis dan tidak bisa memperbaiki lengkungan yang  tidak normal.

 

Adakah pengobatan rumahan untuk skoliosis?

Ada banyak pengobatan rumahan yang disarankan untuk skoliosis, diantaranya pengobatan herbal, terapi pola makan, pijat, terapi fisik, dan suplemen nutrisi. Matras yang terbuat dari lateks atau jel dingin dianjurkan untuk beberapa pasien. Anda perlu membicarakan penanganan ini bersama dokter sebelum mulai melakukannya. Karena penyebab idiopathic scoliosis tidak diketahui, tidak ada cara untuk mencegahnya. Pengobatan rumahan dan penanganan medis bisa menurunkan rasa tidak nyaman tapi tidak menyembuhkan skoliosis.

 

Skoliosis dan kehamilan

Kebanyakan orang mengetahui menderita skoliosis setelah pemeriksaan oleh dokter. Tapi bila Anda calon ibu yang mengalami kondisi ini, skoliosis bisa membuat Anda merasa cemas dengan kehamilan.

 

Anda bisa sedikit merasa lega karena wanita dengan kondisi ini bisa menjalani kehamilan yang normal tanpa komplikasi yang disebabkan oleh lengkungan tulang belakang. Pada sebagian kecil pasien dengan lengkungan lebih besar dan skoliosis lebih parah berisiko lebih besar mengalami nyeri punggung atau sciatica di trimester terakhir.

 

Selama trimester terakhir, skoliosis tingkat menengah hingga parah (lengkung lebih dari 25 sampai 30 derajat) menyebabkan kehamilan hanya terlihat di satu sisi tubuh saja.  Menerima beban yang tidak merata meningkatkan risiko jatuh. Bila cukup parah, kemungkinan ketidaksejajaran ini bisa mempengaruhi aliran darah dari dan menuju plasenta dari sirkulasi ibu dan bayi. Meski kondisi ini terasa sakit, tidak nyaman, dan membuat berjalan dan tidur lebih sulit dan kurang nyaman, tapi jarang mempengaruhi proses kelahiran.

 

Penderita skoliosis apakah bisa hamil?

Skoliosis sering kali membuat wanita ragu untuk hamil. Banyak yang takut mengalami komplikasi, cacat lahir, atau bahkan masalah kesuburan. Tapi penelitian menyatakan semua ini tidak terbukti.

 

Ilmuwan menyatakan wanita hamil dengan skoliosis tidak lebih berisiko komplikasi tertentu pada kehamilan, persalinan, kelahiran, maupun janin, dibanding wanita yang tanpa kondisi ini. Skoliosis juga tidak mempengaruhi kesuburan atau meningkatkan risiko keguguran, lahir mati, atau cacat lahir. Bahkan wanita yang mengalami fusi pembedahan tulang belakang bisa hamil.

 

Wanita dengan skoliosis yang berhasil ditangani hanya punya risiko kecil atau tanpa tambahan risiko komplikasi selama  hamil dan melahirkan. Riwayat skoliosis juga tidak membahayakan anak.

 

Adakah komplikasi kehamilan akibat skoliosis?

Ibu hamil yang skoliosis tidak akan mengalami komplikasi spesifik. Tapi kemungkinan di waktu melahirkan, ibu hamil yang skoliosis lebih sulit menerima epidural. Geometri tulang belakang yang abnormal kadang menyebabkan masalah ketika harus menggunakan epidural.

 

Efek samping kehamilan lain bisa memicu peningkatan komplikasi ibu hamil yang skoliosis. Plasenta mengeluarkan hormon yang disebut relaksin, yang melonggarkan persendian di mana tulang terikat. Tujuannya untuk memudahkan jalan lahir melebar, tapi efek sampingnya persendian jadi terasa sakit. Relaksin yang sama juga berpengaruh pada kehamilan dengan skoliosis, yaitu melembutkan persendian yang memperburuk kondisi tulang belakang.

 

Apakah kehamilan mempengaruhi lengkungan tulang belakang?

Ibu hamil yang skoliosis sering kali ingin tahu apakah kehamilan akan membuat lengkungan tulang belakang mereka menjadi lebih parah. Untungnya, selama lengkungan telah berhenti berkembang, penambahan berat akibat kehamilan tidak akan meningkatkannya.

 

Menurut ahli bedah ortopedik dan peneliti Josh E. Schroeder, menjalani lebih dari satu kehamilan tidak mempengaruhi peningkatan lengkungan skoliosis. Ia menambahkan kalau ada bukti di antara pasien yang sebelumnya mengenakan brace, wanita hamil yang pernah menggunakan brace punya risiko lebih tinggi perbaikan lengkungan dibanding wanita hamil yang tidak pernah menggunakan brace.

 

Apakah gejala skoliosis bertambah parah selama kehamilan?

Untuk ibu hamil yang skoliosis, kehamilan memicu gejala yang sama yang dialami wanita tanpa skoliosis. Misalnya, hampir semua wanita mengalami sakit punggung tingkat ringan hingga menengah selama kehamilan, sedang setengahnya mengalami nyeri punggung bawah, jadi sulit untuk mengetahui apakah rasa sakit disebabkan oleh kehamilan atau skoliosis. Tapi, kondisi punggung sebelumnya (seperti skoliosis) bisa meningkatkan risiko nyeri punggung bawah selama hamil.

 

Sakit punggung bisa mulai muncul di kehamilan 3 bulan dan terus terasa hingga 6 bulan setelah melahirkan. Setelah 9 bulan, kemungkinan penurunan sakit punggung mencapai 50 persen.

 

Terengah-engah jadi gejala umum lain yang dialami wanita hamil, khususnya di bulan awal kehamilan. Ini karena peningkatan progesteron, yang meningkatkan tingkat dan kedalaman pernapasan. Calon ibu yang skoliosis bisa mengalami kapasitas paru-paru yang terbatas, tapi jarang mengalami masalah pernapasan.

 

Apakah skoliosis menyebabkan komplikasi persalinan?

Dahulu dokter secara otomatis menjadwalkan bedah sesar untuk ibu hamil yang skoliosis. Tapi karena semakin banyak wanita memilih melahirkan secara normal, dokter menemukan ini bisa dilakukan dan berhasil, tanpa komplikasi apapun.

 

Di kebanyakan kasus, melahirkan sama untuk wanita dengan atau tanpa skoliosis. Tapi ada beberapa perbedaan seperti:

 

  • Calon ibu dengan pinggang bengkok bisa mengalami persalinan yang terhenti karena posisi bayi yang tidak tepat.
  •  
  • Wanita yang lemah karena skoliosis bisa lebih sulit mendorong selama persalinan.
  •  
  • Skoliosis bisa membuat ibu sulit menerima epidural, terutama untuk mereka yang pernah menjalani pembedahan tulang belakang.

 

Ibu hamil yang skoliosis perlu membahas pilihan melahirkan dengan dokter sebelum menjalani persalinan.

 

Bunda, kondisi fisik Anda bisa memberi perbedaan besar terhadap hasil kelahiran. Perenggangan bisa membantu meringankan sakit punggung, sedang latihan perenggangan membantu mendukung proses kelahiran dan meningkatkan posisi bayi.

 

Bila Anda mengalami skoliosis dan ingin hamil, ada penanganan yang bisa membantu mempersiapkan tubuh. Melalui dukungan nutrisi, Anda bisa menghentikan peningkatan skoliosis dan menurunkan rasa sakit untuk menjalani kehamilan dengan lebih mudah.

 

Bagaimana bila skoliosis menjadi parah?

Pada skoliosis yang parah, hamil bisa lebih berisiko. Misalnya:

 

  • Sakit punggung bisa jadi lebih parah pada wanita dengan lengkungan parah
  •  
  • Masalah pernapasan juga bisa terjadi di akhir kehamilan
  •  
  • Baik janin maupun lengkungan skoliosis perlu dimonitor seksama.

 

Untuk mencegah komplikasi, wanita dengan skoliosis parah perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum hamil. Banyak wanita hamil dengan skoliosis berhasil menjalani kehamilan dan melahirkan bayi yang sehat.

 

Apakah USG bisa menunjukkan skoliosis pada janin?

Jarang, tapi mungkin saja melihat tulang belakang yang abnormal selama USG. Tapi kebanyakan bentuk skoliosis tidak dapat diketahui karena janin berputar dan berganti posisi di dalam rahim.

 

Apakah bayi berisiko mengalami skoliosis?

Meski skoliosis bukan kondisi genetik, penelitian menyatakan faktor keturunan bisa berperan. Ada pola turunan dalam keluarga di mana banyak pasien dengan skoliosis juga punya anggota keluarga lain dengan kondisi yang sama.

 

Ada sejumlah penanda genetik yang mengindikasikan kecenderungan lebih besar anggota keluarga mengalami skoliosis. Bayi yang lahir dari ibu dengan skoliosis harus menjalani pemeriksaan teratur dan dokter harus mewaspadai riwayat skoliosis dalam keluarga. Seperti kondisi lain, ada baiknya hal ini diwaspadai, tapi tidak berarti anak Anda akan mengalami kondisi ini.

 

Tak ada yang tahu penyebab idiopathic scoliosis, tapi kita tahu kalau ini turunan. Sekitar 30 persen orang dengan skoliosis punya anggota keluarga dengan kondisi yang sama. Tapi mengalami skoliosis tidak menjamin kalau anak Anda akan mengalaminya. Hanya sekitar sepertiga anak yang orangtuanya menderita skoliosis akan mengalaminya. Risiko juga bergantung pada jenis kelamin bayi, karena skoliosis jauh lebih lazim pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.

(Ismawati)