Kehamilan Dibaca 15,204 kali

Ini Dia 7 Manfaat Tes Urin Saat Hamil

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 03 Oktober, 2017 05:10

Ini Dia 7 Manfaat Tes Urin Saat Hamil
Bagaimana, kapan, dan kenapa Anda perlu menjalani tes urin saat hamil bisa bervariasi antara tiap dokter atau rumah sakit. Bisa saja tes urin menjadi prosedur rutin yang dilakukan pada tiap kunjungan kehamilan atau sesuatu yang hanya dilakukan pada beberapa wanita untuk mengetahui masalah kesehatan tertentu. Pada umumnya tes urin dilakukan untuk memeriksa kondisi berikut ini:

1. Tes kehamilan

Tes urin pertama yang biasa dilakukan wanita adalah pada tes kehamilan. Tes urin untuk kehamilan menggunakan teknik immunoassay testing untuk mendeteksi keberadaan hormon human gonadotrophin atau HCG, yang bisa mengubah warna garis atau tanda titik pada alat tes.
Hormon ini diproduksi oleh sel dari plasenta yang pertama-tama memasuki aliran darah setelah sel telur yang dibuahi tertanam di lapisan uterus Anda. Jumlah HCG di tubuh akan meningkat dengan cepat dalam beberapa minggu ke depan, bahkan menjadi dua kali lipat setiap dua hari.
Jika alat tes kehamilan digunakan sesuai petunjuk, hasilnya bisa 97 persen akurat, tapi bila dilakukan terlalu dini akurasinya hanya 75 persen. Untuk hasil terbaik, lakukan tes di pagi hari, saat urin Anda berada pada konsentrasi yang paling tinggi. Ada alat tes yang meminta Anda pipis di gelas lalu menggunakan pipet untuk meneteskannya pada area tes. Namun, merek lain membolehkan Anda pipis langsung pada alat tes. Ada juga merek tes yang membebaskan Anda melakukan keduanya.

2. Mengecek Kadar gula

Normal saja kok Bun jika sesekali jumlah gula pada urin Anda sedikit selama hamil, tapi jika terjadi peningkatan berturut-turut pada beberapa kunjungan pranatal atau tingkat kenaikannya sangat tinggi, ini bisa menjadi pertanda Anda menderita diabetes gestasional.

3. Mengecek Kandungan Protein

Protein yang berlebih pada urin bisa menjadi tanda adanya infeksi saluran kemih, kerusakan ginjal, atau penyakit lain. Atau bisa juga menjadi tanda preeclampsia jika disertai dengan tekanan darah tinggi. Jika terdapat protein pada darah tapi tekanan darah masih normal, sampel urin Anda akan dikirim ke laboratorium untuk memastikan apakah ada indikasi infeksi saluran kemih.

4. Memeriksa Kadar Ketone

Ketone diproduksi ketika tubuh mulai mengolah lemak menjadi energi. Ini terjadi saat Anda tidak mendapat karbohidrat yang cukup. Jika Anda mengalami mual muntah yang parah atau berat badan banyak berkurang, dokter akan memeriksa kadar ketone Anda. Bila levelnya tinggi dan Anda mengalami mual muntah berlebihan, Anda perlu diinfus untuk mendapat cairan tambahan serta obat. Kombinasi ketone dan gula menjadi indikasi diabetes.

5. Infeksi urin

Jika Anda mengalami gejala infeksi saluran kemih, urin Anda akan diperiksa untuk mengetahui keberadaan enzim tertentu yang diproduksi oleh sel darah atau bakteri tertentu. Jika muncul enzim atau bakteri, sampel urin akan dites kulturnya. Kultur urin dapat mengindikasikan apakah Anda mengalami infeksi saluran kemih serta menunjukkan antibiotik yang efektif untuk mengatasi infeksi.
Sekitar 5 hingga 10 persen wanita baik dalam kondisi hamil atau tidak mengalami apa yang disebut asymptomatic bacteriuria, yakni sejumlah kecil bakteri yang ada di kandung kemih tanpa disertai tanda fisik apapun. Pada wanita yang tidak hamil, hal ini tidak menyebabkan masalah apapun. Tapi selama hamil, hormon progesteron mengendurkan dinding kandung kemih dan saluran kemih. Kondisi janin yang terus berkembang seringkali menekan organ-organ ini, yang kadang memicu urin kembali mengarah ke ginjal dan berkumpul pada kandung kemih setelah buang air kecil. Ini membuat bakteri berkembang biak dan menyebabkan infeksi. Wanita hamil juga mengalami glukosa berlebih pada urin, glukosa menjadi makanan bagi bakteri yang bisa menyebabkan infeksi kandung kemih.
Sekitar 20 hingga 30 persen wanita hamil dengan asymptomatic bacteriuria bisa mengalami infeksi urin pada masa kehamilan. Kondisi ini bisa memicu persalinan dan kelahiran prematur. Karena alasan ini banyak dokter meminta sampel urin pada kunjungan pranatal pertama untuk dites. Jika terdapat bakteri pada urin, dokter bisa meresepkan antibiotik untuk mengatasinya. Sebagian wanita memilih mengonsumsi antibiotik setelah mereka positif mengalami infeksi. Berdiskusilah dengan dokter untuk menentukan keputusan Anda.
Seiring kehamilan yang semakin membesar, dokter bisa meminta Anda menyediakan sampel urin untuk dites jika ada indikasi Anda mengalami infeksi kandung kemih. Jika infeksi telah mengarah ke ginjal disebut pyelonephritis. Tanda fisik infeksi urin bisa berupa:
  • Rasa sakit yang terus-menerus pada perut bagian bawah.
  • Buang air kecil lebih sering.
  • Sensasi terbakar ketika buang air kecil.
  • Sakit kepala, muntah, tekanan darah rendah dan/atau demam.
Infeksi ginjal juga bisa menyebabkan sakit pada punggung bagian tengah dan sisi punggung Anda, dan darah pada urin mengakibatkan warna merah muda atau coklat. Pada beberapa kasus, wanita tidak menyadari kalau ia mengalami infeksi urin karena tidak ada tanda fisik yang muncul. Infeksi bisa berupa rasa sakit pada perut bagian bawah, demam, dan kontraksi ringan pada rahim selama pertengahan hingga akhir kehamilan, seperti layaknya persalinan prematur. Infeksi urin setelah usia kehamilan 20 minggu bisa memicu persalinan dan kelahiran prematur pada 50 persen wanita jika dibiarkan tanpa pengobatan.
Bakteri yang paling umum menyebabkan infeksi urin adalah E.coli, dalam jumlah yang banyak di perut juga area vagina, dan mudah menjalar ke kandung kemih. Organisme lain yang mungkin ada pada urin adalah Group B streptococci, yang dikenal dengan GBS atau Strep Group B yang bisa menyebabkan infeksi pada bayi setelah kehamilan atau selama persalinan. Keberadaan Group B streptococci pada vagina sering kali dites pada masa kehamilan dengan menggunakan alat penyeka vagina.

6. Prosedur Tes Dipstick

Pada saat berkonsultasi dengan dokter kandungan, Anda mungkin harus melakukan tes dipstick. Jika ini terjadi, Anda akan diberi wadah serta lap antiseptik dan diminta ke kamar kecil untuk buang air kecil. Cucilah tangan Anda, lalu dengan jari yang bersih, pisahkan bagian labia dan bersihkan vulva Anda dari depan ke belakang dengan lap.
Pipislah beberapa detik ke dalam toilet, lalu letakkan wadah di bawah aliran pipis hingga terkumpul cukup urin. Hindari menyentuh bagian dalam wadah dengan jari. Lalu tuntaskan pipis di toilet.
Perawat akan memeriksa sampel urin dengan mencelupkan batang kecil ke dalamnya dan membandingkan hasilnya dalam grafik. Ia akan menuliskan hasilnya untuk bidan atau dokter Anda.

7. Prosedur Kultur Urin

Bila dokter mencurigai Anda mengalami infeksi saluran kemih berdasarkan hasil dari tes urin atau gejala tertentu, ia akan mengirim spesimen untuk dikirim ke lab agar bisa dikultur.
Urin untuk kultur dikumpulkan seperti cara p, hanya saja menggunakan wadah yang steril. Jika terkumpul pada wadah yang steril, sample urin yang sama bisa dikirim ke lab untuk dikultur. Lab kemudian akan menentukan apakah ada bakteri di urin serta jenis bakterinya agar bisa diketahui antibiotik untuk mengobatinya.
Anda biasanya harus menunggu sekitar 48 jam untuk hasil kultur urin. Jika ada tanda infeksi saluran kemih, dokter bisa meminta Anda mengonsumsi antibiotik sebelum tes selesai dilakukan. Anda akan dites lagi setelah pengobatan dengan interval teratur selama kehamilan. Meski jika tanpa gejala, dokter bisa merekomendasikan kultur urin jika Anda beresiko tinggi terkena infeksi saluran kemih, misalnya jika Anda memiliki riwayat infeksi ginjal.
(Ismawati)