Kehamilan

Mengenal Retensio Plasenta Saat Melahirkan

Terakhir diperbaharui

Mengenal Retensio Plasenta Saat Melahirkan

Proses melahirkan belum selesai setelah bayi lahir, masih ada tahap penting persalinan untuk mengeluarkan plasenta. Seperti dua tahap persalinan dan kelahiran bayi, tahap ketiga bisa berlangsung cepat atau lambat.

 

Pada banyak wanita, sedikit intervensi dibutuhkan. Kontak kulit dan pelekatan bayi bisa membantu aliran hormon oksitosin, yang mendorong pelepasan plasenta secara alami.

 

Beberapa wanita menjalani tahap ketiga persalinan yang melibatkan penggunaan suntikan oksitosin sintetis untuk menginduksi kontraksi rahim untuk membantu mengeluarkan plasenta.

 

Di kasus yang jarang, pada sekitar 0,5 sampai 1 persen kelahiran, terjadi retensio plasenta. Berikut ini beberapa fakta tentang retensio plasenta yang perlu Anda ketahui.

 

Apa yang dimaksud retensio plasenta?

Retensio plasenta terjadi ketika plasenta tidak keluar dalam waktu satu jam kelahiran normal bayi. Retensio plasenta bisa juga terjadi ketika hanya sebagian plasenta tidak keluar, atau sebagian tidak terangkat selama operasi caesar.

 

Kondisi ini terlihat ketika dokter memeriksa plasenta dan menemukan plasenta mengalami sobekan atau tidak utuh. Pada kasus yang jarang, retensio plasenta bisa tidak diketahui hingga gejalanya muncul.

 

Tahapan dalam persalinan

Persalinan terdiri dari 3 tahap:

  • Tahap pertama persalinan dimulai dengan kontraksi yang mengindikasikan rahim bersiap untuk melahirkan bayi.
  •  
  • Setelah wanita melahirkan, tahap kedua persalinan selesai.
  •  
  • Tahap terakhir persalinan terjadi ketika plasenta keluar dari rahim wanita. Tahap ini biasanya terjadi dalam 30 menit setelah kelahiran bayi.

 

Tapi bila wanita tidak mengeluarkan plasenta setelah 30 menit kelahiran, ini dianggap retensio plasenta karena tubuh wanita tidak mengeluarkannya. Bila retensio plasenta tidak ditangani, ibu bisa mengalami infeksi dan pendarahan berat yang bisa mengancam keselamatannya.

 

Bila kehamilan telah melewati persalinan dan tahap kelahiran yang normal, Anda bisa pilih bagaimana melewati tahap persalinan terakhir. Proses ini biasanya jadi bagian dalam pembahasan rencana persalinan.

 

Biasanya ada dua pendekatan yang digunakan untuk menangani plasenta, baik secara alami maupun dengan bantuan.

 

Pendekatan secara alami membiarkan tubuh wanita secara alami mengeluarkan plasenta sendiri. Tenaga medis membantu pendekatan dengan bantuan dan biasanya terjadi ketika suntikan diberikan ke paha ketika bayi lahir untuk menyebabkan wanita mengeluarkan plasenta.

 

Syntometrine, ergometrine, dan oxytocin adalah obat yang bisa menyebabkan tubuh wanita berkontraksi dan mendorong plasenta. Bila wanita pernah mengalami komplikasi seperti tekanan darah tinggi atau preeklampsia selama kehamilan, makan Syntocinon akan diberikan. Manfaat memilih tahap akhir persalinan dengan bantuan adalah penurunan pendarahan setelah bayi lahir.

 

Penyebab retensio plasenta

Ada 3 penyebab utama retensio plasenta:

  • Ketika rahim berhenti berkontraksi, atau tidak cukup berkontraksi untuk membuat plasenta terlepas dari dinding rahim. Kondisi ini disebut uterine atony.
  •  
  • Ketika semua atau sebagian plasenta terjebak di dinding rahim. Ini disebut adherent placenta. Pada kasus yang jarang, ini terjadi karena bagian plasenta terlalu dalam menempel ke rahim. Kondisi ini disebut plasenta akreta dan lebih mungkin terjadi bila plasenta menempel pada luka di operasi caesar sebelumnya. Bila plasenta tumbuh melewati dinding rahim disebut placenta percreta.
  •  
  • Ketika plasenta terjebak di belakang serviks yang hampir menutup.

 

Kadang, bidan bisa membantu mengeluarkan plasenta dengan sedikit menarik tali pusar. Tapi tali pusar bisa putus bila plasenta belum sepenuhnya terlepas atau tali pusar tipis. Bila ini terjadi, Anda bisa mengeluarkan plasenta dengan mendorong saat kontraksi.

 

Jenis-jenis retensio plasenta

Retensio plasenta bisa dibagi menjadi 3 klasifikasi:

 

  1. Placenta Adherens

    Placenta Adherens terjadi ketika kontraksi rahim tidak cukup untuk sepenuhnya mengeluarkan plasenta. Ini menyebabkan plasenta tetap menempel pada dinding rahim. Placenta Adherens merupakan jenis retensio plasenta yang paling umum.

     

  2. Trapped Placenta

    Ketika plasenta berhasil terlepas dari dinding rahim tapi gagal keluar dari tubuh wanita, kondisi ini disebut trapped placenta. Ini biasanya terjadi akibat serviks menutup sebelum plasenta keluar, sehingga plasenta tertingal di dalam rahim.

     

  3. Plasenta akreta

    Ketika plasenta menempel pada dinding otot rahim bukan pada lapisan dinding rahim, kelahiran jadi lebih sulit dan sering menyebabkan pendarahan berat. Transfusi darah bahkan hysterectomy bisa dibutuhkan. Komplikasi ini disebut plasenta akreta.

 

Faktor risiko retensio plasenta

Tidak selalu diketahui penyebab tiap kasus retensio plasenta. Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko retensio plasenta. Antara lain:

 

Bila Anda memiliki faktor risiko, yang perlu diingat, ini hanya risiko dan tidak menjamin komplikasi. Dokter akan membahas penanganannya dan mempertimbangkan manfaat serta risikonya.

 

Gejala retensio plasenta

Kasus retensio plasenta penuh mudah didiagnosa. Ketika mendekati satu jam setelah melahirkan dan plasenta tidak terlihat, Anda didiagnosa retensio plasenta. Pada kasus potongan plasenta yang tertinggal, akan butuh waktu untuk terdeteksi. Beberapa tanda retensio plasenta antara lain:

 

  • Pendarahan pasca persalinan setelah plasenta keluar
  • Bau tak sedap dari kotoran vagina
  • Demam
  • Kram dan kontraksi terasa sakit
  • Pemeriksaan plasenta menunjukkan sobekan atau bagian yang hilang
  • Produksi ASI tertunda.

 

Pada kasus retensio plasenta yang tidak terdeteksi, rasa sakit setelah melahirkan bisa menyamarkan gejalanya.

 

Banyak ibu baru merasa cemas tentang produksi ASI yang sedikit atau adanya penundaan produksi ASI. Biasanya, selama Bunda menyusui si kecil sesuai dengan kemauan anak kapanpun dan sela apapun, produksi ASI akan mencukupi kebutuhannya. Pada kasus retensio plasenta, terjadi penundaan produksi ASI, meski potensi penyebabnya telah diatasi.

 

Pelepasan plasenta mestimulasi perubahan hormonal yang menjadi signal untuk tubuh agar memproduksi ASI. Bila plasenta tertinggal di rahim, signal ini terganggu dan ASI ibu tidak keluar seperti yang seharusnya. Setelah Anda menunjukkan tanda plasenta tertinggal, Anda kemungkinan akan dibawa ke ruang USG dan dokter bisa memastikan berapa besar dan di mana lokasi plasenta di rahim.

 

Penangan standar berupa D&C (dilation and curettage). Operasi ini biasanya dilakukan di bawah anestesi umum, tapi Anda bisa pulang di hari yang sama. Setelah Anda tertidur, dokter akan menempatkan kaki Anda di posisi naik dan menggunakan alat khusus untuk perlahan membuka serviks. Setelah itu, alat bedah yang disebut curette dimasukkan dan digunakan untuk mengangkat bagian plasenta. Curette yang digunakan bisa untuk memotong bagian plasenta atau menghisapnya keluar.

 

Setelah prosedur ini Anda akan dimonitor selama satu atau dua jam, dan lalu bisa pulang. Prosedur ini tidak terasa sakit, dan kebanyakan wanita merasa baik-baik saja setelahnya. Anda akan diminta untuk berhati-hati bergerak selama satu atau dua minggu.

 

Ketika plasenta keluar, dokter akan dengan seksama memeriksanya untuk memastikan bagian plasenta utuh. Bila plasenta terlihat tidak lengkap, dokter atau bidan akan melakukan USG untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang tertinggal. Tapi kadang masih ada bagian plasenta yang tertinggal setelah pemeriksaan rinci terhadap plasenta yang sepertinya menunjukkan semua normal dan ibu baru bisa pulang dari rumah sakit, ini dikenal dengan istilah retained products of conception (rpoc).

 

Bila Anda mengeluarkan darah beku setelah melahirkan, hubungi dokter atau bidan dan beri tahu apa yang terjadi. Kemungkinan mereka perlu memeriksa Anda untuk memastikan tidak terjadi lagi rpoc. Tidak semua wanita yang mengalami bagian kecil plasenta tertinggal akan mengeluarkannya secara alami. Bila Anda mengalami gejala rpoc, Anda perlu segera ke dokter.

 

Penanganan retensio plasenta

Bila Anda mengalami tahap ketiga persalinan secara alami, dan melewati waktu satu jam tanpa mengeluarkan plasenta, dokter kemungkinan akan memberi injeksi oksitosin sintetis, untuk mendorong rahim berkontraksi.

 

Kontraksi membantu mengeluarkan plasenta. Dokter bisa mencoba perlahan menarik dan mengangkat plasenta bila terlihat telah terlepas dari dinding rahim tapi belum keluar. Bila oksitosin sintetis tidak berhasil, atau bila ada kecemasan pendarahan pasca persalinan, dokter bisa mencoba obat lain.

 

Tapi sering kali dokter memilih pengangkatan manual atau D&C (Dilation & Curettage). Ini dilakukan dengan anestesi lokal atau umum. Bila ada risiko infeksi, penanganan Anda mencakup prosedur untuk mengangkat bagian plasenta yang tertinggal, serta pemberian obat antibiotik.

 

Beberapa dokter menjalankan prosedur pengangkatan  retensio plasenta dan akan memulangkan Anda dengan antibiotik untuk mencegah atau mengangani tanda infeksi.

 

Mencegah retensio plasenta

Kelahiran tidak bisa diprediksi, jadi bisa sulit menurunkan risiko komplikasi yang jarang terjadi. Bila Anda pernah mengalami retensio plasenta di kelahiran sebelumnya, Anda akan punya risiko lebih tinggi mengalaminya kembali, jadi dokter menangani Anda lebih seksama selama persalinan tahap ketiga.

 

Bila kelahiran berisiko rendah, intervensi dengan pengobatan juga lebih rendah, dan semakin rendah risiko komplikasi. Kontak kulit ibu dan bayi tanpa diganggu, bisa menurunkan risiko retensio plasenta.

 

Menghindari induksi dengan oksitosin sintetis juga bisa menurunkan risiko retensio plasenta, serta mencegah operasi caesar dan luka rahim selanjutnya. Terlalu banyak oksitosin sintetis bisa menyebabkan atonia rahim, dimana rahim berhenti berkontraksi atau tidak berkontraksi secara efektif.

 

Retensio plasenta sering mudah ditangani. Memilih dokter yang Anda percaya bisa sangat penting ketika komplikasi muncul. Ketika Anda percaya pada dokter atau bidan, Anda bisa merasa tenang mendapat bantuan dan bisa mengatasi komplikasi yang tidak terduga.

 

Kadang pencegahannya hanya dengan bersabar. Beberapa dokter bahkan menunggu hingga dua jam agar rahim menjepit secara alami dan menghindari pengangkatan manual kecuali sangat dibutuhkan (bila pendarahan berat terjadi, misalnya). Langkah lain yang diambil untuk mencegah retensio plasenta berupa pijat rahim, pengobatan seperti oksitosin, dan penekanan yang dikenal dengan controlled cord traction pada plasenta. Teknik sederhana ini dilakukan selama satu jam setelah melahirkan.

 

Komplikasi retensio plasenta

Di waktu antara kelahiran bayi dan tahap dimana plasenta keluar dari rahim ibu, pendarahan berlebih bisa terjadi, yang bisa memicu kehilangan banyak darah, bahkan membuat ibu berisiko membutuhkan transfusi darah dan penanganan darurat lainnya untuk menghentikan pendarahan.

 

Dokter akan mencari tahu kenapa ibu mengalami pendarahan berat dan segera menanganinya.

 

Pada kasus lain, bila retensio plasenta sangat kecil dan tidak terjadi pendarahan abnormal, bisa memicu pendarahan yang berlangsung lebih lama. Pendarahan berlebih dimulai sekitar 10 sampai 12 jam setelah kelahiran atau kram dan rasa sakit abnormal 2 sampai 3 minggu setelah melahirkan.

 

Selama 10 sampai 12 hari setelah melahirkan adalah waktu dimana sisa plasenta terlepas, yang tidak terasa karena rahim sudah mengecil. Tapi bila ada infeksi atau bagian kecil plasenta tertinggal, pendarahan baru berupa darah segar bisa terjadi, menjadi berat dan membutuhkan penanganan darurat.

 

Retensio plasenta setelah operasi caesar

Bila terjadi retensio plasenta setelah operasi caesar, kemungkinan ini menjadi plasenta akreta. Plasenta akreta merupakan bentuk paling berbahaya dan bisa sulit diangkat selama pembedahan. Seberapa banyak plasenta tumbuh di lapisan otot rahim akan menentukan apakah penanganannya mudah tanpa perlu hysterectomy.

 

Tapi ingat, semua ini kecil kemungkinan terjadi pada Anda selama persalinan dan kelahiran bayi. Dokter pasti tahu apa yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko dan menbantu Anda menjadi ibu baru tanpa rasa khawatir.

 

Plasenta menempel pada organ lain

Masalah plasenta yang paling parah adalah plasenta percreta. Ini terjadi ketika plasenta tidak hanya menempel di dinding rahim, tapi juga menempel pada organ sekitarnya.

 

Pada sekitar 5 persen kasus plasenta percreta, akar kecil plasenta yang ada di rahim, menyebar pada dinding rahim dan ke struktur lain seperti kandung kemih.

 

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah hal ini, tapi bila terdiagnosa pada masa kehamilan, dokter bisa membahas pilihan pembedahan bersama Anda. Yang paling sering, cara satu-satunya mengatasi ini adalah menjalani hysterectomy setelah kelahiran, tapi bila Anda masih ingin punya anak lagi, ada alternatif yang tersedia.

 

Pada kasus yang jarang, retensio plasenta bisa sangat dalam menempel pada rahim atau organ sekitarnya, sehingga pembedahan perlu dilakukan untuk mengangkat plasenta. Ketika ini terjadi, pilihan satu-satunya untuk menyelamatkan hidup ibu adalah hysterectomy.

 

Ini tidak umum terjadi, dan tak perlu khawatir akan tiba-tiba terjadi pada Anda. Kemungkinan ibu mengalami retensio plasenta cukup kecil. Di kasus ini, hanya bagian kecil plasenta tumbuh di luar dinding rahim, dan sangat sedikit yang membutuhkan hysterectomy.

 

Di kondisi  seperti ini, Anda akan berhadapan dengan keputusan yang sulit antara memilih hysterectomy atau tidak. Ini bukan pilihan yang mudah dan hanya direkomendasikan bila dianggap sangat penting.

 

Bila Anda tidak masalah bila tidak memiliki anak lagi, maka ini bisa jadi keputusan yang mudah. Jika tidak, akan terasa berat mengetahui diri Anda tidak bisa hamil lagi. Bulatkan keputusan Anda. Perubahan hormon setelah melahirkan dan merawat bayi baru lahir bisa membuat Anda lebih berisiko mengalami depresi pasca persalinan.

 

Seberapa mungkin retensio plasenta terjadi?

Tingkat retensio plasenta dipelajari pada sebuah penelitian yang melibatkan 146 wanita yang mengalami retensio plasenta dibanding 300 wanita yang  melahirkan secara normal dan tidak mengalami komplikasi. Peneliti menentukan faktor seperti usia ibu, durasi persalinan, riwayat medis, dan abnormalitas pada antenatal lalu memilih wanita yang melahirkan di bawah kondisi serupa.

 

Penelitian menunjukkan faktor risiko paling signifikan menderita retensio plasenta adalah mengalami retensio plasenta setelah kelahiran sebelumnya. Ini diikuti oleh menjalani pembedahan rahim sebelumnya, termasuk operasi caesar.

 

Setelah riwayat retensio plasenta, kelahiran prematur jadi faktor risiko berikutnya, ini karena plasenta dirancang untuk berada di tempatnya selama 40 minggu dan tidak terlepas sebelum waktu ini.

 

Risiko terakhir adalah usia ibu yang lebih dari 35 tahun, plasenta yang beratnya kurang dari 1,3 pound, penggunaan pethadine saat persalinan, dan induksi. Bila Anda memiliki sejumlah faktor risiko ini, dokter akan mewaspadainya dan mengatasi kemungkinan retensio plasenta.

(Ismawati)