Kehamilan

Tanda Janin Stres di Dalam Rahim

Terakhir diperbaharui

Tanda Janin Stres di Dalam Rahim

Meski kebanyakan janin berkembang tanpa masalah, beberapa di antaranya mengalami stres sebelum dilahirkan. Situasi yang mengganggu asupan darah dan oksigen bisa terjadi selama kehamilan dan kelahiran. Gejala tertentu, seperti penurunan gerakan janin, bisa mengindikasikan janin stres. Beri tahu dokter bila Anda cemas tentang kesehatan dan perkembangan janin, ya Bunda.

 

Stres janin merupakan istilah yang digunakan untuk mengindikasikan janin berada di kondisi yang kurang baik. Pendarahan vagina sering kali jadi tanda yang mengindikasikan adanya masalah. Beri tahukan dokter bila Anda mengalami pendarahan apapun. Gejala masalah potensial lainnya adalah penurunan gerakan janin. Anda juga bisa mengalami nyeri perut dan nyeri punggung.

 

Penyebab janin stres

Masalah pada janin bisa terjadi karena berbagai sebab, termasuk insiden, penyakit, dan masalah plasenta. Posisi yang abnormal seperti sungsang bisa meningkatkan risiko komplikasi, seperti pada janin kembar dua atau tiga. Tali pusar yang pendek atau cedera pada perut bisa meningkatkan risiko abrupsi plasenta, kondisi yang terjadi ketika plasenta terlepas dari rahim sebelum kelahiran bayi. Faktor lain yang memicu janin stres selama hamil dan persalinan di antaranya usia ibu, penggunaan obat, diabetes, dan banyaknya jumlah kelahiran sebelumnya.

 

Cara mendeteksi janin stres

Perubahan pada tingkat aktivitas janin bisa jadi tanda janin stres. Ketika janin tumbuh di dalam rahim, Anda mengetahui kapan ia bergerak aktif.  Fokus pada gerakannya untuk membantu Anda mengetahui perubahan kecil yang terjadi. Anda bisa menghitung gerakan janin. Lakukan ini dengan memilih waktu yang sama setiap hari di mana janin biasanya aktif. Duduklah dengan tenang atau berbaring miring ketika fokus pada gerakan janin. Tulis tiap gerakan yang dilakukan janin, beserta waktunya. Hentikan ketika Anda mencapai 10 gerakan. Mulai lakukan ini setiap hari ketika kehamilan 7 bulan. Gunakan cara ini untuk mengetahui gerakan janin ketika ia tumbuh di rahim Anda. Segera beri tahu dokter bila janin tidak bergerak 10 kali dalam 2 jam atau bila Anda merasakan perubahan signifikan pada gerakannya.

 

Tes medis untuk mengetahui janin stres

Bergantung kondisi Anda, dokter bisa melakukan berbagai tes, seperti USG dan amniocentesis, untuk menentukan kesehatan janin. Tes non-stres seringkali membantu mengetahui stres pada janin. Tes ini dilakukan dengan mengukur kontraksi rahim, gerakan, dan detak jantung janin.

 

Hubungan stress ibu ke janin

Menjalani kehamilan bukan tugas mudah. Pastinya Anda merasa cemas tentang banyak hal. Apakah makanan yang Anda konsumsi cukup sehat? Apakah aman bila Anda berolahraga? Bagaimana nanti membagi waktu untuk mengurus bayi setelah ia lahir?

 

Beberapa stres selama kehamilan normal, seperti di tahap kehidupan lainnya. Tapi bila stres menjadi konstan, efeknya pada Anda dan janin bisa berlangsung lama. Ketika Anda stres, tubuh mengirim kortisol dan hormon stres lainnya. Ini hormon yang sama yang keluar ketika Anda berada dalam bahaya. Hormon ini menyiapkan Anda untuk melarikan diri dengan mengirim bahan bakar ke otot dan membuat jantung berdetak lebih cepat.

 

Bila Anda bisa mengatasi stres, respon stres Anda akan berkurang dan kondisi janin bisa kembali seimbang. Tapi stres yang konstan bisa mengubah sistem manajemen tubuh menyebabkan reaksi berlebihan dan memicu respon peradangan.

 

Peradangan pada gilirannya terkait dengan kesehatan kehamilan yang buruk dan masalah perkembangan pada janin. Ada beberapa data menunjukkan stres tingkat tinggi pada wanita hamil dan kemampuan buruk untuk mengatasi stres bisa terkait dengan berat lahir rendah dan kelahiran lebih dini.

 

Tanda janin mengalami stres

Kehamilan menjadi hal paling mengagumkan yang bisa terjadi. Kehamilan biasanya terjadi tanpa terlalu banyak komplikasi. Ibu hamil bisa mengatasi efek samping selama hamil, dan menghitung hari untuk bertemu buah hati.

 

Calon ibu merasa bahagia dan mengikuti semua tahap kehamilan, membaca artikel dan informasi tentang pertumbuhan janin, juga tetap berusaha di kondisi sehat dan positif agar janin bisa tumbuh di lingkungan terbaik di rahim hingga hari melahirkan tiba.

 

Tapi kadang hal tak terduga terjadi, seperti janin stres di dalam rahim. Janin bisa stres ketika berada di rahim dan meski terdengar aneh, ada cara untuk mengetahui janin setres. Selain melalui pemeriksaan medis, Anda juga bisa merasakan hal yang tidak normal pada janin, bisa berupa rasa sakit, sensasi aneh, atau kadang pemeriksaan saat USG membuat dokter melakukan penanganan.

Berikut ini beberapa tanda janin stres yang perlu Anda tahu:

 

  1. Gerakan janin berkurang

    Penurunan pada gerakan janin (terutama bila sebelumnya janin aktif menendang) perlu diwaspadai. Ketika janin tumbuh di rahim, Anda perlu tahu kapan janin bergerak aktif serta kapan janin beristirahat. Perubahan apapun meski kecil, perlu dicatat.

     

    Menghitung gerakan janin jadi cara terbaik untuk memastikan kondisinya. Sekali dalam sehari, ketika bayi aktif, Anda perlu berbaring miring dan menghitung berapa banyak gerakan janin selama 10 menit. Anda juga perlu hitung berapa lama tiap gerakan. Bila janin tidak bergerak 10 kali dalam 2 jam atau terjadi perubahan signifikan pada gerakan janin, waktunya untuk menghubungi dokter. Perubahan apapun bisa mengindikasikan janin stres, terutama bila disertai kondisi lain, dokter perlu terus mengawasi Anda dan janin.

     

  2. Muncul rasa sakit

    Nyeri perut dan punggung jadi kondisi yang perlu diwaspadai, terlebih ini bisa menandakan janin stres. Janin bisa mengalami kekurangan oksigen, merasa tidak nyaman, dan menekan organ vital ibu yang bisa berbahaya.

     

    Jenis kesakitan apapun perlu diperiksa oleh dokter yang akan mengambil langkah penanganan. Rasa sakit yang dialami ibu bisa mengindikasikan janin stres dan membutuhkan perhatian medis. Kondisi ini dapat menyebabkan persalinan prematur dan dokter perlu dilibatkan agar bisa membantu janin bertahan selama mungkin, atau janin harus segera dilahirkan. Kram perut dan nyeri punggung kadang disertai pendarahan. Semua ini perlu segera dilaporkan ke dokter.

     

  3. Detak jantung janin menurun

    Penurunan pada detak jantung janin bisa menandakan janin stres. Dokter akan mulai memonitor detak jantung janin untuk memastikan kembali ke tingkat yang normal. Dokter juga akan memonitor detak jantung Anda untuk memastikan Anda kuat dan sehat untuk menjalani persalinan dan kelahiran.

     

    Detak jantung janin diukur menggunakan Doppler, normalnya antara 120 sampai 160 setiap menit. Jumlah lebih tinggi atau lebih rendah bisa menimbulkan kecemasan dan akan jadi pertimbangan ketika dokter memutuskan cara paling baik dan paling aman untuk melahirkan bayi. Dokter akan memberi saran paling aman untuk melahirkan bayi, dan di kebanyakan kasus disarankan kelahiran melalui bedah sesar.

     

  4. Kram

    Kram baik disertai atau tanpa pendarahan perlu diwaspadai. Meski beberapa kram normal terjadi selama hamil ketika janin tumbuh dan rahim membesar, kram tetap tidak aman bila terjadi intens. Kram juga perlu diwaspadai bila Anda juga mengalami nyeri punggung. Dokter perlu memastikan hal ini. Bila Anda merasa cemas, karena kram tidak normal terjadi di kehamilan, Anda perlu menghubungi dokter dan menjalani pemeriksaan.

     

    Dokter akan memeriksa Anda, mengajukan pertanyaan, dan janin akan dimonitor untuk memastikan semua berjalan seperti yang seharusnya. Kram terjadi bisa karena sejumlah sebab, seperti kondisi abnormal janin di rahim, infeksi, atau masalah lain yang sebelumnya tidak terdeteksi. Ini sebabnya sangat penting memperhatikan kesehatan diri dan janin.

     

  5. Tekanan darah tinggi

    Tekanan darah tinggi pada ibu kadang sangat berbahaya bagi janin bila tidak terdeteksi. Bila dokter mengetahui hal ini sejak awal kehamilan, ibu bisa dimonitor untuk memastikan tidak terjadi preeklampsia atau diabetes gestasional.

     

    Kadang wanita bisa mengalami tekanan darah normal sebelum hamil tapi kemudian mengalami tekanan darah tinggi. Ini disebut preeklampsia, dan bisa menyebabkan janin kekurangan oksigen sebelum lahir karena masalah plasenta. Ada juga kasus masalah plasenta menyebabkan tekanan darah tinggi pada ibu dan akhirnya menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah yang akan menyebabkan penurunan aliran darah ke janin.

     

    Kondisi ini juga mempengaruhi plasenta yang membawa nutrisi ke janin. Semua ini mempengaruhi oksigen yang janin terima dan bila ada penurunan oksigen ke janin ini jelas menyebabkan janin stres serta masalah lainnya. Dokter akan berusaha mengontrol tekanan darah ibu untuk mengatasinya.

     

  6. Janin berada di posisi abnormal

    Kadang posisi janin di dalam rahim bisa menimbulkan masalah. Posisi janin bisa terlihat saat USG. Janin bisa sungsang atau di posisi aneh yang mengganggu aliran darah. Ini terjadi bila kepala atau bahu janin menumpang di tulang pubik ibu. Bila Anda merasakan perubahan pada aktivitas atau gerakan janin, Anda akan diingatkan untuk tidur miring ke kiri di trimester kedua dan ketiga. Cara ini membantu aliran darah pada ibu dan janin. Berbaring telentang bisa menekan pembuluh besar yang membawa darah kembali ke jantung.

     

    Jangan pernah ragu menghubungi dokter bila Anda mengalami perubahan pada pola gerakan janin. Dokter akan menggunakan monitor janin untuk mengukur detak jantungnya. Anda juga bisa diberikan oksigen dan cairan tambahan untuk membantu meningkatkan sirkulasi dan aliran darah ke janin yang bisa menstabilkan detak jantung. Saat USG, dokter bisa mengetahui risiko apa saja yang mungkin terjadi.

     

  7. Penambahan berat badan yang berlebihan

    Penambahan maupun penurunan berat badan, keduanya mengindikasikan masalah dan tes kehamilan perlu dilakukan. Penambahan berat 20 sampai 40 pound dianggap normal selama kehamilan. Lebih atau kurang dari ini bisa menandakan masalah, dan semakin cepat dokter tahu, semakin cepat tes bisa dilakukan. Penambahan berat berlebihan bisa mengindikasikan bayi sangat besar yang berarti muncul komplikasi kehamilan bagi calon ibu. Dengan komplikasi saat persalinan, bayi bisa mengalami masalah kesehatan fisik dan intelektual untuk jangka panjang.

     

    Semakin cepat dokter tahu kesehatan janin, semakin cepat ia bisa membuat keputusan untuk keamanan dan kondisi ibu dan bayi. Kemungkinan ibu harus melahirkan melalui bedah sesar.  Ini berarti kelahiran dipercepat karena  bayi yang besar mengalami kondisi yang disebut macrosomia.

     

  8. Ibu mengalami tekanan oleh janin

    Kadang bila ibu di posisi berbaring atau duduk terlalu lama sehingga memberi tekanan pada janin di dalam rahim, janin bisa mengalami stres. Bila Anda mengalami bercak atau pendarahan, pusing, atau perubahan gerakan janin, penting untuk menghubungi dokter. Anda bisa berbaring miring untuk mengirim lebih banyak darah dan oksigen ke janin. Ini bisa mempengaruhi tingkat aktivitas janin, misalnya, bila janin melambat atau berhenti menendang, terutama di kehamilan pertama. Tapi saat pemeriksaan teratur dokter bisa mendeteksi masalah yang terjadi.

     

  9. Cairan ketuban merembes

    Cairan ketuban yang merembes sebelum kontraksi dimulai terkadang jadi kondisi yang serius. Ini bisa berarti janin stres dan terjadi karena adanya masalah. Anda perlu pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan tes. Meski kadang cairan ketuban merembes sebelum kontraksi itu adalah hal yang normal, Anda tetap perlu ke rumah sakit.

     

    Bila cairan ketuban berwarna jernih, kemungkinan semua baik-baik saja. Tapi bila Anda mengeluarkan cairan ketuban berwarna hijau atau coklat, ini mungkin mekonium atau feses janin yang masuk ke cairan ketuban. Mekonium bisa muncul ketika janin stres dan ini berarti staf medis perlu memastikan janin segera lahir dengan aman. Sering kali, ini berarti persalinan melalui bedah sesar darurat untuk memastikan janin keluar dari rahim sesegera mungkin dan perawatan dilakukan setelah lahir agar bayi bisa bertahan hidup.

     

  10. Plasenta terlepas

    Kondisi ini terjadi ketika plasenta sebagian atau sepenuhnya terpisah dari rahim ketika janin masih berada di dalam. Ini sangat berbahaya karena menurunkan oksigen dan nutrisi ke janin serta bisa menyebabkan pendarahan berat pada ibu. Ketika terjadi abrupsi plasenta, ada juga risiko bayi akan mengalami masalah pertumbuhan, lahir prematur, atau menyebabkan lahir mati. Kondisi ini terjadi pada 1 dari tiap 150 kehamilan dan bisa terjadi kapan saja setelah kehamilan 20 minggu.

     

    Wanita yang sangat berisiko adalah mereka yang mengalami pereeklampsia, tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, hipertensi atau masalah kesehatan lainnya, wanita yang berusia lebih tua, atau telah melahirkan banyak anak. Ada beberapa pilihan penanganan, bergantung gejala dan seberapa dekat tanggal perkiraan melahirkan. Biasanya ibu diminta  tetap berada di rumah sakit di bawah pengawasan dokter, dilakukan operasi sesar terjadwal, tapi ada kemungkinan persalinan alami.

     

  11. Pendarahan

    Pendarahan vagina jadi efek samping menakutkan yang dikhawatirkan wanita hamil. Sangat wajar bila ibu hamil mengalami pendarahan di awal kehamilan dan kadang bahkan di tengah atau akhir kehamilan. Pendarahan tidak selalu berarti ada masalah. Sering kali bayi dan ibu baik-baik saja. Tapi ada waktu di mana pendarahan mengindikasikan janin stres di dalam rahim. Pendarahan vagina bisa berarti plasenta previa dan vasa previa.

     

    Bila ibu hamil mengalami plasenta previa di awal kehamilan, ini tidak akan mempengaruhi ibu dan janin. Tapi bila terjadi di akhir kehamilan, ini bisa menyebabkan pendarahan dan berarti ibu harus melahirkan lebih awal. Bila plasenta previa terjadi saat kelahiran, ibu perlu melahirkan melalui operasi sesar.

     

  12. Posisi sungsang

    Ketika posisi janin sungsang, ini bisa mengindikasikan masalah seperti janin stres. Posisi sungsang membuat bayi lahir dengan kaki lebih dulu. Tidak diketahui kenapa posisi bayi bisa sungsang. Ada spekulasi yang menyebut ini terjadi karena kondisi rahim yang abnormal. Bila rahim tidak berbentuk seperti buah pir terbalik, bisa menyebabkan bayi sungsang. Bentuk rahim bisa terdeteksi selama pemeriksaan oleh dokter.

 

Bunda, stres kronis juga bisa menyebabkan perubahan pada perkembangan otak yang bisa memicu masalah perilaku ketika bayi tumbuh. Penelitian tentang hal ini masih terbatas, dan dokter masih perlu mencari tahu hubungan pasti antara stres dan hasil kehamilan. Anda tak perlu merasa bersalah karena mengalami stres, tapi Anda perlu berusaha mengontrolnya sebisa mungkin.

(Ismawati)