Kelahiran

Bahayakah Bila BAB Bayi Berbusa? Yuk, Cari Tahu Informasinya

Darin
Bahayakah Bila BAB Bayi Berbusa? Yuk, Cari Tahu Informasinya

Salah satu perubahan pada tekstur atau bentuk feses bayi yang sering membuat orangtua khawatir adalah ketika BAB bayi berbusa. BAB yang mengeluarkan buih ini memang termasuk tekstur pup yang tidak normal pada bayi. Namun, kabar gembiranya, BAB bayi berbusa tidak selalu menjadi pertanda bahwa bayi mengalami gangguan kesehatan. Ada beberapa kondisi yang memang dapat memicu BAB bayi berbusa, yang akan dibahas lebih lanjut di artikel ini.

Sebenarnya, BAB normal pada bayi pun bisa berbeda-beda, tergantung usianya dan apa yang dikonsumsi si kecil. Di satu tahun pertama kehidupannya, pup bayi bahkan bisa terus mengalami perubahan. Untuk bayi yang baru lahir, umumnya memiliki warna feses hijau kehitaman atau malah hitam pekat, dengan tekstur agak lengket. Feses pertama bayi ini biasa disebut juga dengan istilah mekonium. Warna hitam berasal dari lendir, sel kulit, serta cairan ketuban yang ikut tertelan bayi saat ia masih di dalam kandungan. BAB ini sangat normal pada bayi baru lahir, biasanya berlangsung selama beberapa hari, namun tidak lebih dari seminggu.

Setelah melewati fase mekonium, pup bayi akan berubah warnanya menjadi kuning cerah. Ini umum terjadi pada bayi yang mengonsumsi ASI. Tak jarang juga Ibu akan menemukan bintik-bintik menyerupai biji wijen pada feses bayi yang juga normal terjadi. Untuk bayi yang minum susu formula, biasanya tekstur pupnya sedikit lebih padat dari bayi yang minum ASI saja. Warnanya bisa kombinasi antara cokelat kehijauan dan kuning.

Nah, setelah bayi menginjak usia 6 bulan, atau ketika ia mulai makan makanan pendamping ASI (MPASI), tekstur dan warna feses bayi akan berubah lagi. Yang sebelumnya lebih sering berwarna kuning, sekarang mulai berubah warna menjadi cokelat. Seiring meningkatnya tekstur makanan yang dikonsumsi bayi, bentuk dan warna fesesnya pun akan menyerupai kotoran orang dewasa.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, feses bayi akan banyak mengalami perubahan terutama di awal-awal kehidupannya. Ini bisa disebabkan juga oleh sistem pencernaan bayi yang memang belum sempurna. Perubahan ini ada yang tergolong normal, dan ada yang tidak normal. Maka penting bagi orangtua untuk terus mengamati setiap perubahan pada pup bayi, karena kondisi fesesnya juga bisa jadi indikasi suatu gangguan atau penyakit dalam tubuhnya. Lalu, bagaimana jika pup bayi berbusa? Sebenarnya berbahaya atau tidak, ya?

Penyebab BAB Bayi Berbusa

Pada dasarnya, feses normal bayi itu berbeda-beda di setiap usia, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. BAB bayi berbusa memang tidak termasuk di antaranya. Namun, pada beberapa kasus, BAB bayi berbusa tidak membutuhkan penanganan medis khusus, seperti berikut ini:

  1. Saluran cerna bayi bereaksi terhadap makanan tertentu

    Kotoran yang biasanya menyerupai diare dengan gelembung-gelembung kecil di dalamnya ini (terkadang juga tampak berminyak dan mengandung lendir), seringkali disebabkan oleh reaksi saluran cerna bayi terhadap makanan tertentu. Jika ini penyebabnya, Ibu dan Ayah tidak perlu khawatir karena pup bayi akan segera menjadi normal kembali seiring berjalannya waktu, dengan catatan ia tetap terhidrasi

  2. Bayi kelebihan laktosa

    Selain dari makanan, BAB bayi berbusa juga bisa disebabkan karena bayi kelebihan laktosa, suatu kandungan gula yang terdapat pada ASI. ASI sendiri terdiri dari dua bagian; foremilk dan hindmilk. Foremilk adalah ASI yang keluar lebih dulu saat bayi sedang menyusu. Foremilk mengandung kalori lebih rendah, namun tinggi laktosa. Biasanya foremilk mengalir selama beberapa menit, baru setelah itu dilanjutkan hindmilk yang cenderung lebih kental serta lebih tinggi kalori dan lemak dibanding foremilk.

    Sebagian bayi seringkali mendapatkan foremilk lebih banyak dibanding hindmilk, salah satu penyebabnya karena ia sering ketiduran saat baru menyusu sebentar, atau saat hindmilk belum keluar. Jika ini terjadi, bayi akan mendapatkan lebih banyak laktosa, padahal pencernaannya masih kesulitan mencerna laktosa. Inilah yang menyebabkan BAB bayi berbusa.

    Bila BAB bayi berbusa karena kelebihan foremilk, tips yang Ibu bisa lakukan adalah dengan menyusui bayi selama 10-20 menit di satu payudara sebelum beralih ke lainnya. Kalau bayi tertidur di tengah-tengah waktu menyusunya, bangunkan ia dengan cara menekan-nekan pipinya dengan perlahan agar ia mengisap payudara kembali.

  3. Bayi alergi susu sapi

    BAB bayi berbusa juga bisa jadi tanda bahwa ia alergi terhadap susu sapi. Ini biasa terjadi pada bayi yang minum susu formula. Selain feses yang tampak berbusa, alergi susu sapi juga biasanya disertai gejala lain seperti muntah, sesak napas, sering batuk, terdapat ruam di kulit atau area mulut yang menyebabkan gatal sehingga membuatnya sering menggaruk area tersebut, bengkak di bibir, lidah, atau tenggorokan. Jika si kecil memang alergi susu sapi, biasanya dokter tidak memberikan treatment khusus selain mengganti susu formulanya dengan yang plant-based.

    Selain sebab-sebab di atas, ada juga penyebab lain yang membuat BAB bayi berbusa dan perlu mendapat penanganan dokter, seperti yang dilansir dari laman Medical News Today. Apa saja?

  4. Infeksi

    Penyebab BAB bayi berbusa yang tergolong berbahaya adalah akibat infeksi bakteri, parasit, atau virus yang menyerang saluran pencernaannya. Infeksi ini akan menciptakan gelembung gas sehingga membuat feses bayi tampak berbusa. Biasanya infeksi yang menyebabkan BAB bayi berbusa ini berasal dari parasit Giardia. Bayi bisa saja terinfeksi parasit ini dari makanan, minuman, atau air di kolam renang yang juga terkontaminasi.

    Gejala dari infeksi ini selain BAB bayi berbusa adalah bayi akan tampak kelelahan, kembung, mual, kram perut, serta penurunan berat badan. Biasanya butuh waktu antara 2 hingga 6 minggu untuk menyembuhkan infeksi ini.

  5. Iritasi usus besar

    Iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah penyebab lain dari BAB bayi berbusa. Kondisi ini terjadi ketika ada gangguan pada sistem pencernaan bayi, atau lebih tepatnya di bagian usus besar, saat ia tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dikutip dari Stanford Children’s Health, bayi dengan IBS biasanya akan mengalami kram perut, konstipasi, perut kembung, tidak nafsu makan, serta terdapat lendir pada feses. Lendir dalam feses inilah yang membuat tampilannya tampak seperti berbusa.

  6. Gangguan malabsorpsi

    Gangguan malabsorpsi terjadi ketika tubuh tidak dapat menyerap nutrisi dari makanan secara efektif. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh gangguan ini adalah penyakit celiac. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun yang dipicu oleh konsumsi gluten. Sistem kekebalan tubuh akan bereaksi setelah penderitanya mengonsumsi gluten dan menyebabkan rusaknya lapisan usus halus serta gangguan penyerapan nutrisi. Gluten sendiri adalah jenis protein yang banyak ditemukan di pasta, roti, sereal, tepung terigu, dan beberapa jenis makanan instan.

    Nah, salah satu gejala dari gangguan malabsorbsi ini perut akan terasa kembung seperti banyak gas. Ini menyebabkan feses juga terkadang akan tampak berbusa.

  7. Pankreatitis atau radang pankreas

    Pankreatitis bisa juga jadi penyebab pup bayi berbusa. Pankreatitis termasuk kondisi akut yang terjadi ketika seseorang kesulitan mencerna lemak. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri cukup parah terutama di daerah perut bagian atas dan menjalar hingga ke punggung. Penyebabnya pada bayi bisa karena adanya kelainan genetik. Salah satu penyebab dari penyakit ini adalah tinja berbusa. Selain itu, gejalanya juga disertai dengan demam, mual, detak jantung meningkat, perut bengkak, dan muntah. Karena termasuk penyakit kronis, pankreatitis sangat memerlukan perawatan medis.

  8. Pasca operasi perut

    Bayi yang baru menjalani operasi perut dapat memiliki masalah pada pencernaan. Operasi yang dilakukan di area perut memang dapat memengaruhi pencernaan. Ini termasu operasi usus besar atau usus kecil. Pembedahan ini bisa menyebabkan sindrom usus pendek yang dapat menyebabkan diare atau BAB bayi berbusa. Sebenarnya kondisi ini umum dialami pasien yang baru menjalani operasi perut. Karena itu biasanya sifatnya hanya sementara dan akan sembuh setelah tubuh juga pulih. Namun, beberapa orang mungkin akan mengalami sindrom ini dalam jangka panjang. Jika ini yang terjadi, dokter biasanya akan memberikan suplemen khusus untuk memastikan bayi menerima nutrisi yang cukup.

Cara Mengatasi BAB Bayi Berbusa

Perawatan untuk bayi yang fesesnya berbusa akan sangat tergantung pada penyebab yang mendasari. Dokter tentunya akan melakukan observasi terlebih dulu untuk menentukan apa sebenarnya yang faktor menyebabkan BAB bayi berbusa. Jika si kecil memiliki intoleransi laktosa, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk menghapuskan daftar makanan yang dapat menyebabkan intoleransi. 

Jika bayi didiagnosis dengan iritasi usus besar atau IBS, dokter mungkin akan menyarankan Ibu dan Ayah untuk menemui ahli diet anak yang dapat membantu membuat daftar menu makanan atau menu diet yang bisa membantu mengurangi gejala. Si kecil kemungkinan tidak lagi diperbolehkan makan makanan yang banyak mengandung gas, begitupun makanan lain yang memang dapat memicu BAB bayi berbusa.

Jika BAB bayi berbusa disebabkan oleh infeksi parasit Giardia, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik dan menganjurkan si kecil minum banyak air putih. Mungkin ia juga akan menyarankan untuk memberi si kecil cairan elektrolit untuk menghindari dehidrasi akibat diare. 

Lalu, jika BAB bayi berbusa disebabkan karena pankreatitis atau radang pankreas, biasanya ini diobati dengan cairan infus dan obat pereda nyeri. Di beberapa kasus, antibiotik mungkin diperlukan. Bila pankreatitis sudah termasuk kronis, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk dilakukan operasi atau pembedahan, meski ini jarang terjadi.

Untuk bayi yang berusia di bawah 6 bulan, cara mengatasi BAB bayi berbusa ini bisa dengan memberinya ASI lebih banyak dari biasanya. Ia tidak perlu diberikan tambahan susu lain atau makanan dan minuman lainnya termasuk air putih. Hal ini karena di dalam ASI sudah terkandung obat yang dapat meringankan gejala akibat saluran cerna yang bermasalah. ASI juga penting diberikan supaya bayi terhindar dari dehidrasi.

Perlu diingat juga untuk tidak memberikan obat anti diare pada bayi tanpa konsultasi dan rekomendasi dari dokter ya, Bu! Pemberian obat sembarangan pada bayi justru dapat memicu gangguan kesehatan yang lain.

Mencegah Agar BAB Bayi Berbusa Tidak Terjadi

Menjaga kesehatan pencernaan bayi sangat penting dilakukan, sebab pencernaan yang sehat dapat mendukung tumbuh kembang yang sempurna pada bayi. Saking krusialnya, sampai-sampai sistem pencernaan ini diibaratkan sebagai otak kedua pada bayi lo. Sistem pencernaan sangat erat kaitannya dengan feses bayi. Pencernaan yang sehat dapat diukur dari bagaimana bentuk, tekstur, dan warna feses, serta frekuensi BAB bayi. Nah, berikut ini adalah cara-cara untuk meminimalisir terjadinya BAB bayi berbusa:

  1. Memastikan bayi mendapat asupan seimbang dari foremilk dan hindmilk pada ASI

    Di penjelasan sebelumnya, BAB bayi berbusa bisa disebabkan karena ia kelebihan laktosa. Laktosa merupakan jenis gula yang banyak terkandung pada foremilk ASI. Karena sistem pencernaan bayi masih belum berkembang sempurna, maka ia masih belum bisa mencerna laktosa dalam jumlah banyak. Untuk itu, Ibu perlu memastikan bayi mendapat asupan seimbang dari foremilk dan hindmilk dengan cara menyusuinya di satu sisi payudara selama 10-20 menit sebelum beralih ke payudara lain.

  2. Memberi susu formula yang “hypoallergenic” pada bayi yang alergi susu sapi

    Laktosa juga terkandung dalam susu formula atau produk-produk yang berasal dari hewani. Pada bayi yang alergi susu sapi, biasanya fesesnya akan berbusa setelah mengonsumsi susu dengan kandungan laktosa tinggi. Untuk mencegah ini terjadi, Ibu bisa mencari susu formula dengan tulisan “hypoallergenic” untuk meminimalisir risiko BAB bayi berbusa akibat intoleransi laktosa.

  3. Menjaga kebersihan tubuh bayi serta alat-alat makan dan minumnya

    Kedengarannya memang terlalu klise ya, Bu. Namun, kurang menjaga kebersihan lingkungan di sekitar bayi, termasuk tubuhnya sendiri serta alat-alat makan dan minumnya, bisa memicu terjadinya BAB bayi berbusa lo! Maka dari itu, orangtua juga harus menjaga kebersihan tubuh bayi serta alat-alat makan dan minumnya untuk meminimalisir risiko terjadinya infeksi. 

    Lakukan pembersihan berkala pada alat-alat makan dan minum bayi serta mainan-mainan yang biasa ia masukkan ke mulut, dengan cara merebusnya atau mensterilisasi dengan alat khusus. Usahakan untuk langsung mengeringkannya setelah direbus atau disteril supaya tidak terpapar bakteri dan kuman yang muncul karena perlengkapannya dibiarkan dalam kondisi lembab terlalu lama.

Ibu dan Ayah juga harus rajin mencuci tangan sebelum memegang bayi atau menyiapkan makanan dan minumannya, ya!

Penulis: Darin Rania
Editor: Dwi Ratih