Kelahiran

Beratnya Tugas Ibu Melahirkan Setelah Ayah Kembali Bekerja

Terakhir diperbaharui

Beratnya Tugas Ibu Melahirkan Setelah Ayah Kembali Bekerja

Banyak keluarga cukup beruntung karena punya waktu beberapa hari atau minggu dengan formasi lengkap, kedua orangtua ada di rumah, setelah bayi lahir. Menyambut bayi baru lahir merupakan sebuah transisi besar, baik untuk bayi pertama atau kedua, ketiga, dan seterusnya.

 

Dalam transisi yang besar ada transisi kecil, seperti ketika suami harus kembali bekerja, sedangkan cuti Ibu masih panjang atau Ibu tidak bekerja. Saat ada orang yang bisa dimintai bantuan, yang membuat Anda bisa sedikit beristirahat untuk bisa makan tanpa menggendong bayi, membuat tugas sebagai ibu terasa lebih mudah.

 

Ketika tiba waktunya suami kembali bekerja, Anda mungkin khawatir bagaimana bisa bertahan. Begitu pula dengan suami, pasti ada ras khawatir bagaimana ia bisa bekerja sepanjang hari padahal ia sudah pasti akan kurang tidur saat malam.

 

Tips untuk ibu melahirkan ketika suami harus kembali bekerja

Nah, berikut ini ada beberapa tips untuk Ibu yang akan meringankan tugas dan perasaan Ibu ketika suami kembali bekerja:

 

  1. Sesuaikan harapan

    Bersiaplah untuk hal terburuk saat Ayah mulai bekerja. Cangkir kopi yang Anda minta pindahkan ke tempat cuci piring masih berada di tempat yang sama? Karena kurang tidur, suami mungkin lupa melakukannya. Berharap ia pulang tepat jam 5 sore? Lalu lintas tak selalu lancar. Dan bagaimana dengan urusan cucian kotor yang menumpuk? Si bayi menuntut 100 persen perhatian Anda sepanjang hari.

     

    Buat ekspektasi Anda realistis. Bersiaplah kalau nanti Ibu lupa melakukan banyak hal dan ada banyak tugas yang tidak bisa dikerjakan sesuai rencana. Bila Anda berharap suami pulang dari bekerja berarti waktunya hidup kembali normal, seperti sebelum bayi lahir, maka Ibu mungkin akan kesulitan selama transisi awal ini.

     

    Anda harus bersiap menghadapi kesulitan, akan tetap ada masalah, tapi dengan menurunkan ekspektasi, saat banyak hal yang  tidak sesuai rencana, Anda bisa mengatasinya jauh lebih baik.

     

  2. Cari bantuan

    Anda tak harus melakukan semuanya sendirian. Anda bisa gunakan jasa doula pasca melahirkan untuk membantu selama beberapa hari pertama pasangan kembali bekerja. Bila ada teman atau kerabat yang datang untuk menemani bayi, minta mereka untuk membawakan kopi, bantu mencuci piring atau melipat pakaian. Bila ada anak yang lebih besar, Anda bisa menitipkannya di rumah orang tua atau mertua. Kalau ada pendapatan lebih, Ibu bisa menggunakan jasa asisten rumah tangga.

     

  3. Buat rencana tidur

    Meski suami butuh istirahat setelah bekerja, bukan berarti Anda tidak perlu tidur sama sekali ketika bersama bayi di rumah. Merawat bayi baru lahir cukup menguras fisik, apalagi saat Anda masih di masa pemulihan  setelah melahirkan.

     

    Sendirian melakukan tugas mengurus bayi di malam dan siang hari bisa dengan cepat memicu kelelahan emosi dan fisik Ibu. Jadi, buatlah rencana yang tepat untuk Anda berdua. Misalnya, Ibu harus rela mengalah mengurus bayi selama tengah malam, agar Ayah bisa istirahat dan bekerja dengan baik. Sebelum Ayah tidur, ia bisa membantu Anda menjaga si kecil agar Anda bisa memperoleh istirahat yang cukup juga.

     

    Mungkin suami tipe orang yang tidur larut malam, jadi Anda bisa tidur lebih awal untuk beristirahat, sedangkan suami bisa bersama bayi. Atau mungkin suami terbiasa bangun dini hari, itu artinya ia bisa menjaga bayi ketika Anda harus beristirahat saat suami bangun.

     

    Tiap situasi berbeda, tiap pekerjaan punya tuntutan berbeda, dan pola tidur bayi bervariasi, tapi penting untuk punya rencana tidur untuk memastikan tiap orang mendapat istirahat yang cukup.

     

  4. Manfaatkan cuti suami dengan baik

    Durasi cuti ayah bervariasi. Bila suami punya cuti bekerja yang fleksibel, coba manfaatkan dengan baik. Misalnya, bila suami hanya punya 8 hari cuti, coba gunakan 4 hari pertama berturut-turut dan lalu simpan hari cuti lain untuk berjaga ketika Anda sangat kelelahan di minggu-minggu berikutnya. Bila jam kerja suami fleksibel, ia bisa beberapa kali bekerja setengah hari atau bekerja satu atau dua jam lebih sedikit di beberapa hari pertama.

     

  5. Perencanaan sebelum bayi lahir

    Bila si kecil belum lahir, buatlah perencanaan sekarang agar transisi bisa jadi lebih mudah nantinya. Bagi sebagian orang, keuangan jadi masalah terbesar yang menyebabkan Ibu harus kembali bekerja. Bila memungkinkan, mulailah menabung sebelum bayi lahir. Bila suami tidak dapat cuti, berapapun anggaran Anda, mulailah menabung untuk membayar doula  atau asisten rumah tangga buat bersih-bersih rumah dan memasak.

     

    Mengobrollah dengan keluarga. Pikirkan siapa yang bisa membantu menemani Anda selama beberapa hari pertama ketika suami harus kembali bekerja. Siapa yang bisa menamani Anda saat pemeriksaan rutin bayi ke dokter, atau yang bisa membantu menyiapkan makan untuk Anda.

     

    Saat ada suami di rumah, orang yang tahu rutinitas Anda dari hari ke hari, bisa sangat membantu Anda dan membuat Anda nyaman selama periode setelah melahirkan. Memikirkan ia kembali bekerja bisa terasa menakutkan. Memiliki ekspektasi yang realistis dan dukungan untuk bisa beristirahat yang cukup bisa memberi perbedaan besar.

     

  6. Keluar rumah bila cuaca memungkinkan

    Anda bisa berjalan-jalan setiap hari setelah suami mulai kembali bekerja. Gunakan stroller bila perlu, jadikan ini sebagai rutinitas. Anda mungkin bisa juga mampir ke warung terdekat untuk membeli beberapa keperluan. Akan terasa menyenangkan bisa keluar rumah, menikmati sedikit udara segar, dan bercengkerama dengan siapa saja yang Anda temui. Anda akan merasa tidak terlalu terisolasi, dan setelah beberapa hari, Anda menyadari kalau Anda bisa melakukan ini.

     

  7. Nyalakan TV

    Mungkin Anda bukan tipe orang yang suka menonton TV, meski ketika sedang tidak beraktivitas. Tapi setelah suami kembali bekerja, cobalah nyalakan TV. Kadang Anda bisa merasa lebih baik bila ada suara background, dan Anda juga punya bayangan tentang apa yang terjadi di luar sana.

     

  8. Bicara pada seseorang

    Bicaralah pada orang lain yang pernah mengalami hal serupa, melakukan ini akan sangat membantu. Tapi Anda harus jujur. Tak perlu bersikap seolah Anda bisa mengontrol semuanya. Anda tak perlu buktikan ini ke siapapun. Keluarkan semua unek-unek dan akui kalau Anda merasa sendirian dan cemas.

     

  9. Ciptakan rutinitas menyusui

    Bila Anda menyusui, maka waktu menyusui tidak akan terlalu merepotkan. Tapi bila Anda memberikan susu formula, Anda perlu buat perencanaan.

     

    Ya, kata perencanaan terulang lagi. Memberikan susu dari botol jadi rutinitas sepanjang waktu. Coba kuasai rutinitas minum susu bayi. Ini akan mengurangi stres. Ingat, bayi baru lahir perlu menyusu tiap 2 sampai 3 jam sepanjang hari.

     

    Pastikan semua botol susu bayi bersih dan steril untuk esok hari sebelum Anda tidur. Percayalah, berurusan dengan botol susu kotor di jam 7 pagi setelah hanya  3 jam tidur di malam hari akan membuat Anda stres.

     

    Cara terbaik untuk menyiapkan susu formula untuk bayi adalah dengan membuat setidaknya 2 sampai 3 botol lebih dulu. Anda lalu bisa menyimpannya di kulkas dan dihangatkan ketika dibutuhkan. Ini akan sangat membantu karena susu formula bisa bertahan selama 24 jam di kulkas.

     

  10. Biasakan tidur siang

    Istirahatlah ketika bayi tidur. Anda pasti sudah sering mendengar nasihat ini. Tubuh Anda butuh istirahat seperti yang bayi lakukan.

     

    Jangan lupa Anda masih berada di masa pemulihan setelah melahirkan dan Anda perlu merawat tubuh juga. Bunda, bayi selalu tidur siang. Bayi baru lahir tidur setidaknya 17 jam dalam sehari. Manfaatkan waktu tidur bayi dengan bijak.

     

    Bila perlu, selalu prioritaskan tugas penting selesai di pagi hari. Ingat, membersihkan semua bagian rumah bukan agenda penting untuk saat ini. Bukan juga mengurus cucian. Yang Anda harus lakukan hanyalah memastikan ada cukup baju bersih untuk bayi.

     

    Pastikan Anda makan dengan baik atau tidurlah bersama bayi. Mulai dari pagi hingga siang, Anda perlu tidur ketika bayi tidur. Ini penting karena Anda perlu melunasi hutang tidur di malam hari.

 

Yang ada di pikiran ibu melahirkan di hari pertama ayah kembali bekerja

Meski bila pasangan punya cuti beberapa minggu, Anda punya bayangan tidak sanggup menjalani semuanya sendirian. Beberapa minggu pertama setelah kelahiran penuh dengan menyusui, mengganti popok, kurang tidur, mencuci tanpa henti, dan tangisan si kecil.

 

Bila beruntung, Anda punya waktu setidaknya beberapa minggu untuk menyesuaikan diri dengan kehadiran anggota keluarga baru sebelum suami kembali ke dunia kerja.

 

Beberapa ayah tidak bisa cuti bekerja karena ibu melahirkan. Banyak yang harus kembali bekerja beberapa hari setelah ibu melahirkan.

 

Ini terasa berat, tapi setidaknya Anda punya seseorang untuk membantu. Jadi apa yang terjadi ketika suami kembali bekerja? Berikut ini beberapa hal yang ada di pikiran ibu melahirkan pada hari pertama berdua bersama bayi:

 

  • “Saya tak sanggup melakukannya”

    Anda dan suami adalah team. Bagaimana Anda bisa mengatasi semua sendirian? Saat Anda lelah, ia membantu agar Anda bisa istirahat. Bila Anda lapar dan terjebak di bawah bayi yang tidur, ia bisa membuatkan roti isi. Ia juga memberi pelukan dan mengingatkan kalau Anda cantik.

     

    Suami punya tugas penting di rumah, ia seharusnya tidak segera kembali bekerja ketika bantuannya sangat dibutuhkan. Anda tidak sanggup lakukan ini sendirian. Ia harus berhenti dari pekerjaannya dan cukup menjadi ayah.

     

  • “Saya berhasil melakukannya!”

    Tak ada kebanggaan yang lebih besar selain rasa bangga ibu melahirkan yang menyadari ia sanggup melakukan perannya. Tugas multitasking seperti membukakan pintu ketika menyusui seolah bisa Anda lakukan dengan mahir. Tak apa sedikit sombong dalam hal ini. Mulai dari menenangkan tangisan bayi, membersihkan popoknya, dan Anda melakukan semua tugas lainnya seperti seorang profesional.

     

  • “Duh, saya akan sendirian mengganti popok kotor bayi”

    Anda mungkin tidak menghargai bantuan pasangan saat ia ada di rumah, tapi Anda baru benar-benar menyadarinya ketika ia tidak ada, ketika Anda harus berurusan dengan pup bayi.

     

    Seharian berulang kali mengganti popok bayi terasa berlebihan untuk satu orang. Anda menyusui bayi, dan ia berurusan dengan popok kotornya. Ini cukup adil. Tidak adil bila melakukan semua tugas ini sendirian.

     

  • “Ternyata baru waktu makan siang...”

    Anda mengerjakan semua dengan baik tapi kemudian melakukan kesalahan karena melihat jam. Jangan pernah melihat jam. Selalu anggap baru jam 7 pagi dan Anda tidak perlu merasa kecewa ketika waktu tidak berlalu dengan cepat seperti yang Anda harapkan.

     

    Anda sudah berkali-kali mengganti popok, sehingga beranggapan suami akan segera pulang. Tapi salah, ini baru juga jam makan siang.

     

  • “Berapa banyak foto yang dianggap terlalu banyak?”

    Anda tidak mau suami kehilangan satu momen sekalipun hanya karena ia harus kembali bekerja. Jadi Anda berbaik hati dengan terus mengirim kabar tentang si bayi. Berikut ini daftar waktu Anda menghubunginya setiap hari:

    • Anda mengirim foto bayi yang tidur dengan caption “kangen ayah”
    • Anda mengirim foto bayi dengan baju pertamanya di hari itu
    •  
    • Lalu foto bayi dengan baju kedua karena ia muntah di baju pertama
    •  
    • Lalu foto bayi dengan baju ketiga karena ia pup di baju kedua
    •  
    • Lalu Anda mengirimkan foto pup karena terlihat berbeda dari biasanya dan Anda merasa cemas
    •  
    • Lalu Anda mengirim foto selfie Anda dan bayi
    •  
    • Anda juga menelepon untuk memberitahu Anda kangen padanya.

     

    Tak masalah, Bun. Suami butuh update terbaru. Tak ada jumlah yang dianggap terlalu banyak untuk foto bayi yang menggemaskan.

     

  • “Gapapa kan kalau saya masih pakai baju tidur?”

    Ya, waktu tidak berlaku ketika Anda punya bayi baru lahir. Jadi tak ada orang yang bisa menilai Anda. Lagi pula baju tidur terasa nyaman. Tak masalah bila Anda mengenakan baju tidur sepanjang hari, setiap hari.

     

    Anda baru menjadi ibu, semua bisa memakluminya. Ketika berada di minimarket, cukup melihat ke bawah dan katakan, “Ya ampun, saya lupa ganti baju sebelum keluar rumah.” Semua yang mendengar akan tersenyum dan memaklumi betapa lelahnya menjadi orangtua baru. Suami mungkin sudah berpakaian rapi di jam 8 pagi, tapi jangan menilai diri Anda dengan standarnya.

     

    Ia belum menghabiskan sepanjang waktu bersama gumoh dan pup bayi. Sekali lagi, tak masalah bila Anda berpiyama.

     

  • “Mungkin saya harus kembali bekerja”

    Setelah selama 6 jam lebih bergelut dengan pup, tangisan, serta menyusui, Anda mulai hilang kewarasan. Anda mulai berfantasi tentang hari yang dilewati suami. Anda membayangkan ia duduk nyaman di kursi kerjanya, menikmati secangkir kopi hangat tanpa ada kotoran bayi berceceran di mejanya.

     

    Ia tertawa mendengar lelucon temannya, lalu ia mengetik email penting dan eksis di dunia nyata. Mungkin ia yang harus tinggal di rumah dan Anda yang kembali bekerja, itu yang ada di pikiran Anda ketika membayangkan bisa menikmati minuman hangat tanpa ada bayi kecil yang menempel di payudara Anda.

     

  • “Satu jam lagi..”

    Menghitung mundur dimulai segera setelah suami keluar rumah untuk bekerja. Anda selalu melihat jam yang seolah bergerak sangat perlahan. Anda merasa jam kerja berlangsung sangat lama. Sementara belum banyak yang Anda kerjakan. Rumah seperti kapal pecah. Ada baju bayi dan alas payudara di lantai dan popok kotor berjatuhan di tangga.

     

    Abaikan semua itu. Anda hanya perlu fokus menenangkan bayi yang ada di gendongan Anda.

(Ismawati)