Kelahiran Dibaca 467 kali

Depresi Pasca Melahirkan

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 12 Januari, 2019 06:01

Depresi Pasca Melahirkan
Anda baru saja melahirkan bayi yang sangat cantik, dan semua orang merasa bahagia. Tapi tidak dengan Anda. Kelahiran si kecil seharusnya jadi momen yang membahagiakan tapi kenapa Anda merasa sedih? Anda tidak sendirian, Bunda. Kondisi emosi yang mudah terluka adalah hal yang natural dan dirasakan para ibu setelah proses persalinan.

Hingga 80 persen ibu baru mengalami baby blues, kondisi reaksi emosi yang dimulai beberapa hari hingga seminggu setelah melahirkan dan umumnya berlangsung tidak lebih dari dua minggu. Saat Anda mengalami baby blues, Anda akan merasa cemas, cengeng, tidak bisa tidur, dan mudah tersinggung.

Para ibu yang mengalami baby blues sering kali merasa lebih baik setelah mendapat istirahat yang cukup dan bantuan untuk mengurus bayinya. Tapi bila Anda atau orang yang Anda kenal mengalami baby blues lebih dari dua minggu, Anda perlu mencurigai adanya kondisi yang disebut depresi pasca persalinan. Jika Anda khawatir kondisi ini terjadi pada diri Anda, bicarakanlah pada dokter. Ia akan mendiagnosa gejala yang Anda miliki dan merujuk Anda pada konselor bila diperlukan.

Sekitar 10 hingga 15 persen ibu baru mengalami depresi, kecemasan, atau obsessive-compulsive disorder. Jika Anda merasa akan menyakiti diri sendiri atau bayi Anda, atau bila Anda menganggap tidak mampu menjaga bayi baru lahir Anda, carilah bantuan profesional dengan segera.

Depresi pasca persalinan dapat terjadi kapan saja selama dua bulan pertama setelah Anda melahirkan. Gejala yang muncul meliputi:
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Merasa cemas dan khawatir
  • Mudah tersinggung
  • Marah
  • Kehilangan minat pada aktifitas yang biasanya Anda nikmati
  • Menangis tersedu-sedu
  • Memiliki emosi negatif seperti sedih, putus asa, dan merasa bersalah
  • Perubahan selera makan atau kebiasaan makan
  • Sulit tidur, terutama untuk tidur kembali setelah terjaga
  • Sakit kepala, sakit perut, sakit punggung dan otot
  • Merasa lelah

Jika Anda mengalami kekahwatiran atau rasa panik yang berulang dan terus-menerus, bisa jadi Anda mengalami gangguan kecemasan pasca melahirkan. Penelitian baru-baru ini menunjukkan sekitar 10 persen ibu yang baru melahirkan  mengalami kecemasan klinis ini.

Gejala kecemasan biasanya muncul di dua hingga tiga minggu pertama setelah kelahiran bayi, tapi belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan hingga beberapa minggu kemudian. Beberapa wanita yang mengalami kecemasan merasa takut ada bahaya yang akan menimpa anak, orang yang dicintai, atau diri sendiri. Ada kesamaan antara depresi dan kecemasan, beberapa wanita bahkan memiliki gejala untuk keduanya.

Gejala kecemasan atau panik meliputi:
  • Gelisah
  • Kecemasan luar bisa dan lekas marah
  • Rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian dada
  • Nafas pendek
  • Sensasi tercekik
  • Rasa geli pada tangan atau kaki
  • Pusing
  • Pingsan
  • Gemetar
  • Takut pada kematian, merasa akan menjadi gila, dan hilang kontrol
  • Berkeringat

Apabila Anda mengalami ganguan pikiran tentang kekerasan, bisa jadi Anda terkena obsessive-compulsive disorder. Pikiran negatif ini muncul secara spontan di beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Penderita obsessive-compulsive disorder melihat adanya bahaya dimana-mana, membuat mereka mencuci tangan berkali-kali hingga lecet karena takut akan bahaya bakteri atau memeriksa pintu yang terkunci berkali-kali karena khawatir ada orang tidak dikenal akan menerobos masuk.

Beberapa bahkan melakukan ritual aneh untuk menjaga diri dari pikiran-pikiran jahat. Mereka menyembunyikan pisau di bawah bantal atau menghidari dapur agar terhidar dari hal yang dapat membahayakan bayi. Beberapa ibu menolak untuk memandikan bayi mereka karena khawatir si bayi akan tenggelam saat dimandikan.

Jika Anda pernah mengalami pikiran semacam ini segeralah cari bantuan profesional karena kemungkinan Anda mengalami postpartum psychosis, penyakit yang sangat parah yang dikaitkan dengan halusinasi, pemikiran aneh, paranoid, khayalan, dan dorongan untuk bunuh diri. Kondisi ini perlu segera ditangani karena terjadi peningkatan resiko bunuh diri pada ibu dan membahayakan bagi bayi.

Para ahli sepakat tidak ada penyebab tunggal untuk kondisi ini melainkan gabungan antara hormon, lingkungan, psikologis, dan faktor genetik. Penelitian terbaru mengindikasikan salah satu faktor penyebab depresi adalah tekanan dan kecemasan saat kehamilan. Beberapa wanita beresiko lebih tinggi menderita depresi pasca persalinan dibanding wanita lain.

Penyebab terkuat terjadi depresi adalah:
  • Riwayat depresi atau kecemasan sebelumnya.
  • Kecemasan atau depresi yang terus-menerus saat hamil, terutama pada trimester ketiga.
  • Riwayat keluarga berkaitan dengan depresi atau kecemasan.
  • Kondisi seperti masalah ekonomi atau kehilangan pekerjaan.
  • Tekanan dalam perawatan anak.
  • Kesulitan dalam pernikahan.
  • Kekurangan dukungan social.
  • Penghargaan diri yang rendah.
  • Keharusan merawat anak dengan perangai yang sulit.

Hal lain yang beresiko menyebabkan depresi antara lain:
  • Menjadi orang tua tunggal
  • Kehamilan yang tidak direncanakan atau tidak diinginkan
  • Status ekonomi dan sosial yang rendah

Selain meminta bantuan para ahli, Anda dapat melakukan hal berikut ini untuk menolong diri Anda sendiri:

  • Jangan berharap terlalu banyak. Jika memang Anda terbukti mengalami depresi atau kecemasan, tetap lakukan aktifitas harian Anda. Fokuskan diri pada perawatan diri sendiri. Jika Anda dapat melakukannya setiap hari, kondisi akan segera membaik.
  •  
  • Meminta dukungan. Ibu yang baik tahu kapan harus meminta bantuan. Jadi jangan takut untuk melakukannya saat masa sulit seperti ini. Bantuan bisa datang dalam berbagai bentuk misalnya teman yang memasakkan makanan atau melipatkan pakaian Anda. Anda membutuhkan bantuan orang lain untuk sembuh.
  •  
  • Bersikap baik pada diri sendiri. Pastikan semua kebutuhan Anda terpenuhi. Atur jadwal tidur dan makan dengan baik. Jangan merasa bersalah dengan apa yang Anda rasakan saat ini. Kondisi ini tidak membuat Anda menjadi ibu yang buruk dan tidak menyayangi anak. Ketika Anda merasa lebih baik, perasaan negatif akan hilang.
  •  
  • Berbagi perasaan. Ceritakan apa yang Anda rasakan kepada orang yang Anda percaya. Hubungi teman Anda yang bersimpati, bergabunglah dengan grup virtual, atau berdiskusi dengan para ibu tentang depresi pasca persalinan. Akan ada banyak sekali wanita di luar sana yang juga mengalami hal serupa. Pastikan pasangan Anda memahami apa yang terjadi dan bisa membantu Anda.
  •  
  • Beristirahat cukup. Merawat bayi baru lahir sepanjang waktu membuat Anda kelelahan. Sayangnya para ibu yang memiliki kondisi depresi tidak dapat tidur saat mereka memerlukannya. Tapi Anda tetap harus mendapatkan istirahat, meski dengan hanya membaca majalah atau menonton TV. Minta kerabat atau teman menjaga bayi Anda selama 1 atau 2 jam setiap harinya.
  •  
  • Keluar rumah. Letakkan bayi Anda di kereta bayi dan ajak ia berjalan-jalan di sekitar perumahan Anda, atau temui seorang teman yang tak jauh dari tempat tinggal Anda. Udara yang segar, sinar hangat matahari, dan percakapan yang akrab akan membawa kebaikan bagi Anda dan si bayi. Jika tidak mungkin melakukannya, cukup dengan duduk di depan rumah, menutup mata, menarik nafas dalam, dan duduk di bawah sinar matahari selama beberapa menit.
(Isma)