Hasil Pumping Makin Sedikit, Apa Berarti ASI Ibu Nggak Cukup?

Hasil Pumping Makin Sedikit, Apa Berarti ASI Ibu Nggak Cukup?
Hasil Pumping Makin Sedikit, Apa Berarti ASI Ibu Nggak Cukup?

Pernah nggak, Bu, sudah pumping seperti biasa, tapi ASI yang terkumpul justru lebih sedikit dari biasanya? Kalau sebelumnya bisa mendapatkan 100 ml dalam satu sesi, sekarang mungkin hanya sekitar 50 ml atau bahkan kurang.

Kondisi seperti ini tentu bisa bikin ibu khawatir, apalagi kalau sedang menyiapkan stok ASI perah (ASIP) untuk kebutuhan bayi saat ditinggal bekerja. Nggak jarang, ibu pun mulai bertanya-tanya apakah produksi ASI-nya memang sedang menurun atau ada sesuatu yang salah dengan proses menyusui.

Padahal, hasil pumping yang sedikit belum tentu menandakan bahwa ASI ibu nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, lho! Perubahan hasil pumping ini ternyata berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari frekuensi menyusui, kerja hormon, hingga kebutuhan ASI yang berubah seiring bertambahnya usia bayi.

Hal tersebut juga menjadi salah satu pembahasan dalam Pumping & Me Time: Mama Tak Harus Memilih, sebuah talkshow yang digelar Anker eufy di Mall Kelapa Gading, Jakarta, pada 30 Oktober 2026. Jamilatus Sadiyah, bidan sekaligus konselor menyusui yang akrab disapa Mbak Mila, turut membagikan penjelasan mengenai cara kerja produksi ASI dan berbagai hal yang dapat memengaruhi hasil pumping.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan hasil pumping bisa berkurang? Bagaimana cara mengetahui apakah bayi tetap mendapatkan ASI yang cukup?

Kenapa Hasil Pumping ASI Bisa Berkurang?

Untuk memahami penyebab hasil pumping berkurang, ibu perlu mengenal cara tubuh memproduksi dan mengeluarkan ASI. Menurut Mbak Mila, ada dua hormon yang berperan penting dalam proses menyusui, yaitu prolaktin dan oksitosin. Keduanya memiliki fungsi berbeda, tetapi saling berkaitan.

Hormon prolaktin bertugas merangsang produksi ASI, sedangkan oksitosin membantu proses pengeluaran ASI dari payudara. Mbak Mila mengibaratkan prolaktin sebagai manajer produksi ASI, sementara oksitosin menjadi manajer yang bertugas mengeluarkan ASI yang sudah diproduksi.

Nah, salah satu faktor yang memengaruhi produksi ASI adalah prinsip supply and demand, yaitu produksi ASI menyesuaikan dengan seberapa sering ASI dikeluarkan dari payudara. "Makin sering disusui semau bayi, artinya nggak dijadwal, dan juga pelekatannya benar," jelas Mbak Mila ketika menerangkan cara kerja prinsip tersebut.

Artinya, ketika bayi menyusu sesuai kebutuhannya dan ASI dikeluarkan secara teratur, tubuh akan mendapatkan sinyal untuk terus memproduksi ASI. Sebaliknya, jika sesi menyusui atau pumping terlalu sering dilewatkan, payudara bisa menjadi terlalu penuh dan tubuh menerima sinyal untuk mengurangi produksi ASI.

Mbak Mila mencontohkan bayi yang sudah meminta menyusu lagi sebelum tiga jam. Dalam kondisi tersebut, ibu nggak harus menunggu sampai jadwal berikutnya jika bayi memang menunjukkan tanda ingin menyusu.

Selain frekuensi menyusui, pelekatan yang kurang tepat juga bisa membuat pengeluaran ASI tidak optimal. Mbak Mila sendiri pernah mengalami masalah pelekatan yang membuat payudaranya mudah bengkak dan produksi ASI-nya menurun.

Hal serupa perlu diperhatikan pada ibu yang menerapkan mixed feeding, yaitu pemberian ASI dan susu formula secara bergantian. Menurut Mbak Mila, jika pemberian susu formula menggantikan sesi menyusui sehingga frekuensi pengeluaran ASI berkurang, produksi ASI juga bisa ikut menurun secara bertahap. Karena itu, ketika hasil pumping mulai berkurang, salah satu hal pertama yang perlu diperhatikan adalah apakah frekuensi menyusui dan pumping masih berjalan seperti biasanya.

Namun, perubahan hasil pumping juga bisa terjadi ketika bayi mulai memasuki tahap perkembangan berikutnya, terutama saat sudah mendapatkan makanan pendamping ASI.

Apakah Hasil Pumping Bisa Berkurang Setelah Bayi Mulai MPASI?

Memasuki usia enam bulan, bayi mulai mendapatkan makanan pendamping ASI atau MPASI. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan asupan bayi pun perlahan berubah karena sebagian nutrisinya mulai diperoleh dari makanan.

Menurut Mbak Mila, perubahan tersebut juga dapat memengaruhi kebutuhan menyusu dan produksi ASI ibu. Ia menjelaskan gambaran perubahan komposisi asupan ASI dan MPASI berdasarkan usia bayi sebagai berikut:

- Usia 6–8 bulan: Sekitar 70% asupan berasal dari ASI dan 30% dari MPASI.

- Usia 8–12 bulan: Komposisi ASI dan MPASI mulai menjadi sekitar 50:50.

- Usia di atas 1 tahun: Asupan dari makanan semakin dominan, dengan gambaran sekitar 70% dari makanan dan 30% dari ASI.

Pembagian tersebut merupakan gambaran perubahan kebutuhan asupan yang dijelaskan Mbak Mila, bukan patokan jumlah ASI yang harus diperoleh ibu dalam setiap sesi pumping. Ketika pola menyusu bayi berubah, hasil pumping juga mungkin tidak sebanyak saat bayi masih berusia di bawah enam bulan.

Mbak Mila juga menjelaskan bahwa payudara yang tidak lagi sering terasa penuh atau bengkak setelah bayi mulai MPASI tidak otomatis menandakan adanya masalah produksi ASI. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kebutuhan bayi tetap terpenuhi dan pertumbuhannya berjalan dengan baik.

Lantas, bagaimana kalau hasil pumping memang hanya sedikit, tetapi bayi masih rutin menyusu langsung?

Hasil Pumping Sedikit Belum Tentu Berarti ASI Ibu Kurang

Bagi ibu yang rutin pumping, jumlah ASI dalam botol sering kali menjadi perhatian utama. Apalagi ketika melihat ibu lain mampu menyimpan banyak kantong ASIP di freezer, sementara hasil pumping sendiri terasa jauh lebih sedikit. Padahal, jumlah ASI yang terkumpul melalui pompa tidak selalu menggambarkan keseluruhan ASI yang diterima bayi, terutama jika ibu juga masih menyusui secara langsung atau direct breastfeeding (DBF).

Mbak Mila menjelaskan bahwa pada bayi yang sudah berusia 10 bulan dan mulai terbiasa dengan MPASI, kebutuhan menyusunya bisa berbeda dibandingkan saat masih berusia di bawah enam bulan.

Dalam kondisi ini, hasil pumping yang menurun perlu dilihat bersama pola menyusu dan pertumbuhan bayi.

Ia mencontohkan, ibu yang hanya memperoleh sekitar 30 ml ASI saat pumping masih bisa melanjutkan pemberian ASI melalui DBF ketika kembali bertemu dengan bayinya. Mbak Mila juga berbagi pengalaman bahwa dirinya tidak pernah memiliki stok ASIP hingga memenuhi seluruh kulkas. Meski demikian, ia tetap bisa melanjutkan menyusui anaknya sampai usia tiga tahun. "Karena kita nyusuin bukan nyusuin kulkas, tapi nyusuin anak," ungkapnya.

Menurut Mbak Mila, yang perlu menjadi perhatian utama adalah kondisi bayi, termasuk apakah berat badannya bertambah sesuai kurva pertumbuhan. Jadi, ibu nggak perlu langsung membandingkan hasil pumping dengan banyaknya stok ASIP milik orang lain. Untuk mengetahui kecukupan ASI, ada beberapa indikator yang lebih objektif dan bisa diamati.

Bagaimana Cara Mengetahui Bayi Mendapatkan ASI yang Cukup?

Menurut Mbak Mila, ada tiga indikator utama yang bisa membantu ibu menilai apakah bayi mendapatkan ASI yang cukup, yaitu pertambahan berat badan, frekuensi buang air kecil, dan kondisi buang air besar.

1. Berat badan bayi bertambah sesuai kurva pertumbuhan

Berat badan merupakan salah satu indikator penting untuk memantau kecukupan ASI. Mbak Mila menjelaskan bahwa bayi baru lahir dapat mengalami penurunan berat badan pada hari-hari pertama kehidupannya. Namun, penurunan tersebut perlu diperhatikan agar tidak melebihi 10% dari berat badan lahir.

Misalnya, bayi lahir dengan berat 4 kg, kemudian turun menjadi 3,8 kg. Penurunan tersebut masih berada dalam batas yang dijelaskan Mbak Mila. Selanjutnya, berat badan bayi diharapkan kembali mencapai berat lahir dalam waktu sekitar dua minggu.

Jika penurunannya melebihi 10%, ibu dianjurkan berkonsultasi untuk mencari tahu kemungkinan adanya masalah, termasuk dari sisi produksi ASI maupun pelekatan saat menyusui. Setelah itu, pertumbuhan bayi perlu dipantau secara berkala menggunakan kurva pertumbuhan WHO.

2. Frekuensi buang air kecil sesuai usia bayi

Selain berat badan, frekuensi buang air kecil (BAK) juga bisa menjadi indikator untuk melihat kecukupan asupan ASI pada bayi. Mbak Mila menjelaskan bahwa pada hari-hari pertama setelah lahir, jumlah BAK bayi umumnya bertambah mengikuti usianya dalam hitungan hari.

Sebagai contoh, bayi berusia satu hari diharapkan BAK setidaknya satu kali, usia dua hari minimal dua kali, dan seterusnya. Setelah melewati usia enam hari, Mbak Mila menyebut frekuensi BAK yang perlu diperhatikan adalah minimal enam kali sehari.

Dengan memantau frekuensi BAK, ibu memiliki indikator tambahan untuk menilai apakah asupan ASI bayi sudah mencukupi.

3. Perhatikan frekuensi dan warna BAB bayi

Kondisi buang air besar (BAB) juga dapat memberikan gambaran mengenai kecukupan ASI, terutama pada bayi baru lahir. Menurut Mbak Mila, pada hari keempat setelah lahir, bayi bisa BAB lebih dari empat kali sehari.

Selain frekuensinya, perubahan warna BAB juga perlu diamati. Kotoran pertama bayi atau mekonium biasanya berwarna hijau gelap, kemudian berangsur berubah menjadi kuning.

Jika pada hari keempat warna BAB bayi masih hijau gelap, Mbak Mila menyarankan ibu berkonsultasi untuk mengevaluasi proses menyusui, termasuk kemungkinan masalah pelekatan atau pengeluaran ASI.

Ketiga indikator tersebut membantu ibu menilai kecukupan ASI berdasarkan kondisi bayi, bukan sekadar memperkirakan dari jumlah ASI yang berhasil dipompa. Setelah mengetahui tanda-tanda bayi cukup ASI, ibu juga bisa mulai memperhatikan kebiasaan sehari-hari yang membantu menjaga produksi ASI tetap sesuai kebutuhan.

Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Hasil Pumping Mulai Berkurang?

Salah satu langkah yang disarankan Mbak Mila adalah menjaga frekuensi pengeluaran ASI, baik melalui menyusui langsung maupun pumping ketika ibu sedang berpisah dengan bayi.

Bagi ibu bekerja, mempertahankan rutinitas pumping menjadi penting agar proses supply and demand tetap berjalan. Jika selama ini ada sesi pumping yang sering terlewat, ibu bisa mulai mengevaluasi kembali jadwalnya. Begitu pula ketika bayi menyusu langsung, perhatikan apakah pelekatannya sudah tepat agar pengeluaran ASI berlangsung optimal.

Selain frekuensi, Mbak Mila juga membahas waktu pumping yang dapat memengaruhi hasil ASI pada sebagian ibu. Menurut penjelasannya, kondisi hormonal pada malam hari, termasuk hormon oksitosin dan melatonin, dapat mendukung proses pengeluaran ASI. Karena itu, pumping setelah tengah malam menjadi salah satu cara yang pernah ia sarankan kepada ibu yang sedang berusaha menambah stok ASIP.

Mbak Mila sendiri pernah mencoba pumping pada malam hari ketika menghadapi masalah pelekatan dan membutuhkan tambahan ASIP. Dalam pengalamannya, cara tersebut cukup membantu meningkatkan hasil pumping.

Meski begitu, ibu tetap perlu menyesuaikan waktu pumping dengan kondisi tubuh dan rutinitas masing-masing. Hal yang lebih penting adalah menjaga pengeluaran ASI secara teratur dan memastikan kebutuhan bayi terpenuhi.

Selain mengatur rutinitas, pemilihan pompa ASI yang tepat juga bisa membantu ibu merasa lebih nyaman. Misalnya, pompa ASI handsfree dengan fitur pijat dan hangat seperti Anker eufy S2 Pro, yang dirancang untuk membantu ibu lebih rileks selama pumping, sekaligus memudahkan ibu memerah ASI di tengah aktivitas sehari-hari.

Jika hasil pumping terus menurun, muncul keluhan saat menyusui, atau pertumbuhan bayi tidak sesuai harapan, ibu bisa berkonsultasi dengan konselor menyusui maupun tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Jadi, Bu, nggak perlu buru-buru menyimpulkan ASI kurang hanya karena hasil pumping hari ini lebih sedikit dari biasanya. Perhatikan juga pola menyusu, frekuensi BAK dan BAB, serta pertumbuhan bayi agar ibu punya gambaran yang lebih jelas mengenai kecukupan ASI si Kecil.

Follow Ibupedia Instagram