Kelahiran

Inisiasi Menyusu Dini, Penting Untuk Bayi dan Ibu

Terakhir diperbaharui

Inisiasi Menyusu Dini, Penting Untuk Bayi dan Ibu

Bunda, apakah Anda pernah mendengar istilah IMD? IMD (inisiasi menyusu dini) merupakan proses bayi menyusu pada ibu setelah dilahirkan, bayi mencari sendiri puting susu ibunya. Sedangkan untuk tahapan IMD sebagai berikut:

 

  • Selama proses kelahiran, ibu dianjurkan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat kimia. Bila penggunaan obat terlalu banyak, dikhawatirkan akan mempengaruhi proses menyusui dalam IMD.
  •    
  • Bidan atau dokter yang membantu proses persalinan melakukan penanganan seperti yang seharusnya, termasuk bila ibu harus menjalani persalinan melalui operasi caesar.
  •    
  • Setelah bayi lahir, tubuhnya dikeringkan seperlunya saja tanpa menghilangkan vernix.
  •  
  • Bayi kemudian ditengkurapkan pada dada atau perut ibu, kulitnya menempel dengan kulit ibu. Agar bayi tidak merasa dingin, kepala bayi bisa ditutup topi. Bila perlu, ibu dan bayi diselimuti.
  •  
  • Bayi di posisi tengkurap pada dada ibu, dibiarkan mencari puting susu ibu. Bayi memiliki insting kuat untuk mencari puting susu ibu.
  •  
  • Ketika bayi mencari puting susu, ibu dibantu mengenali perilaku bayi sebelum menyusu karena posisi ibu yang berbaring kemungkinan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan bayi.
  •  
  • Bayi tetap kontak kulit dengan ibu hingga proses menyusu pertama selesai.
  •  
  • Setelah sesi menyusu pertama selesai, bayi ditimbang, dicukur, diberi vitamin K, dan tetes mata.
  •  
  • Ibu dan bayi tetap berada di ruangan yang sama. Ini memungkinkan ibu menyusui bayi kapan saja, karena kegiatan menyusui tidak dianjurkan dijadwal. Berada di ruangan yang sama juga dapat meningkatkan kedekatan batin antara ibu dengan bayi. Bayi jadi jarang menangis dan ibu mudah beristirahat dan menyusui.

 

Cara melakukan IMD

Meski terkesan simpel, praktik inisiasi menyusu dini terbukti bermanfaat dan dianjurkan oleh badan kesehatan dunia.  Ada 3 langkah dasar ketika inisiasi menyusu dini dilakukan segera setelah bayi lahir:

 

  • Menempatkan bayi yang telanjang pada dada telanjang ibu agar dada bayi bertemu dada ibu.
  •  
  • Memutar wajah bayi ke posisi yang membuka jalan udara.
  •  
  • Membiarkan bayi berada di atas tubuh ibu selama waktu yang direkomendasikan. Prosedur rutin seperti menimbang dan mengukur tubuh bayi bisa ditunda.
  •  

 

Bagaimana dengan waktunya? Sayangnya, tiap organisasi punya panduan berbeda tentang hal ini. WHO menyatakan bayi baru lahir tanpa komplikasi bisa menjalani inisisasi menyusui dini selama satu jam pertama setelah lahir untuk mencegah hypothermia dan menunjang keberhasilan menyusu. Ada juga yang menganjurkan IMD hingga sesi menyusu pertama selesai atau minimal selama dua jam.

 

Bunda, bayi bisa mendapat manfaat dari kontak skin to skin di beberapa hari, minggu, bahkan bulan setelah lahir. Bahkan kangaroo care dianjurkan dilakukan hingga usia 3 bulan untuk bayi cukup umur dan 6 bulan untuk bayi prematur. Berikuti ini caranya:

 

  • Lepaskan pakaian bayi sehingga ia hanya mengenakan popok
  •  
  • Posisikan wajah bayi miring sehingga jalan udaranya tidak terhambat
  •  
  • Jaga posisi bayi selama sekitar 1 jam. Sebaiknya bayi melewati siklus tidur dan terjaga yang biasanya berlangsung sekitar 60 menit untuk mendapat manfaat penuh, dan membuat sistem biologisnya stabil. Pada bayi prematur, sistem tubuh bayi tidak akan cukup matang untuk bisa stabil, jadi dada ibu membantunya stabil di siklus tidur dan menyusui.

 

Fungsi IMD

Ada banyak manfaat dari inisiasi menyusu dini, berikut beberapa diantaranya:

 

  1. Membantu bayi menyusu pada ibu

    Sebuah video oleh UNICEF menunjukkan bayi baru lahir berhasil menjangkau payudara ibu dan melakukan pelekatan tepat setelah lahir. Tiap bayi yang diletakkan di perut ibu, segera setelah lahir, memiliki kemampuan untuk menemukan payudara ibu dan memutuskan kapan menyusui untuk pertama kali.

     

  2. Bayi lebih jarang menangis

    Penelitian menunjukkan kalau bayi yang melakukan skin to skin, khususnya bersama ibu, cenderung menangis lebih sedikit dibanding bayi yang terpisah dari ibu.

     

  3. Meningkatkan fungsi jantung dan paru-paru bayi

    Bayi yang menjalani IMD cenderung memiliki tingkat jantung dan napas yang lebih normal dan lebih stabil. Manfaat ini juga terbukti pada bayi prematur maupun yang cukup umur.

     

  4. Meredakan rasa sakit

    Penelitian pada bayi yang menjalani prosedur medis menunjukkan kalau bayi mengalami lebih sedikit rasa sakit ketika dilakukan skin to skin selama atau bahkan segera setelah prosedur medis, dan durasi sakit menjadi lebih pendek karena skin to skin.

     

  5. Suhu tubuh bayi lebih stabil

    Setelah lahir, bayi belum bisa melakukan kemampuan untuk menjaga suhu tubuhnya. Untuk menjaga bayi agar tetap hangat, tubuh ibu lebih baik dibanding penghangat buatan.

     

  6. Memperkuat komunikasi ibu dan bayi

    Waktu setelah bayi lahir, selama IMD, menjadi kesempatan untuk orangtua belajar tentang perilaku bayi, tanda lapar, tanda kenyang, tanda tidak nyaman, dan seterusnya.

     

  7. Meningkatkan ikatan ibu dan anak

    Ketika ibu dan bayi tidak dipisahkan, ada kesempatan untuk saling mengenal. Sentuhan jadi hal penting agar mamalia bisa bertahan hidup, dan skin to skin memungkinkan ibu dan bayi menggunakan semua panca indera dalam memelihara hubungan baru yang penting ini.

     

IMD setelah operasi caesar

Inisiasi menyusu dini adalah proses alami dengan menempatkan bayi baru lahir yang telanjang pada dada ibu dan menutupi bayi dengan selimut untuk membuatnya kering dan hangat. Idealnya, inisiasi menyusu dini dimulai segera setelah lahir, dengan bayi tetap pada dada ibu hingga setidaknya akhir sesi menyusu pertama.

 

Kontak kulit bisa dimulai pada waktu berbeda.  Pada sebuah penelitian, ada 3 jenis utama kontak kulit untuk bayi yang sehat:

 

  • Kontak kulit selama menit pertama setelah lahir
  •  
  • Kontak kulit yang sangat awal dimulai 30 sampai 40 menit setelah lahir
  •  
  • Kontak kulit yang terjadi kapan saja selama 24 jam pertama.
  •  

 Inisiasi menyusu dini setelah operasi caesar punya banyak manfaat bagi ibu dan juga bayi. Tapi ibu yang sedang dalam masa pemulihan dari caesar tidak bisa melakukan IMD bila terpisah dari bayi.

 

Memisahkan ibu dan bayi mulai terjadi di abad 20. Sebelumnya, setelah lahir bayi bertahan hidup dengan terus kontak skin to skin dengan ibu. Praktik rutin pemisahan ibu dan bayi dimulai di tahun 1900-an, ketika kelahiran berpindah dari rumah ke rumah sakit. Pada waktu itu, kebanyakan wanita yang melahirkan menerima anestesi sebagai pereda sakit selama persalinan, dan ini membuat ibu dan bayi tidak bisa berinteraksi setelah kelahiran. Karena ibu tidak bisa merawat bayi, rumah sakit membuat ruang khusus untuk bayi dan bayi biasanya dipisah dari ibu dari 24 sampai 48 jam.

 

Di tahun 1961, Dr. Brazelton menerbitkan penelitian yang menunjukkan anestesi umum berbahaya bagi bayi baru lahir. Sebagai hasil penelitian, semakin banyak orang berpindah dari menggunakan anestesi umum selama persalinan, yang menyebabkan ibu dan bayi bisa berinteraksi segera setelah kelahiran.

 

Bagaimana bila ibu tidak bisa melakukan IMD?

Sebuah studi kasus mendapati wanita yang tidak melakukan inisiasi menyusu dini dalam 30 menit pertama setelah lahir dua kali lebih berisiko mengalami salah satu jenis komplikasi kelahiran yang serius.

 

Wanita yang tidak melakukan inisiasi menyusu dini memiliki dua kali risiko mengalami pendarahan pasca persalinan dibanding wanita yang melakukan inisiasi menyusu dini.

Pendarahan pasca persalinan merupakan komplikasi kelahiran yang serius, di mana wanita kehilangan 500 ml darah atau lebih setelah melahirkan. Ini bisa jadi akibat intervensi kelahiran, komplikasi plasenta, atau anemia, dan kadang penyebabnya tidak diketahui. Tapi,  penelitian ini menyatakan beberapa kasus terjadi karena kurangnya oksitosin yang terlepas secara alami.

 

IMD dan risiko pendarahan pasca persalinan

Proses kelahiran melibatkan beberapa hormon, termasuk oksitosin. Okstosin terlepas ketika kita merasa senang dan ketika kita melakukan kontak skin to skin, termasuk selama inisiasi menyusu dini. Pelekatan membawa pelepasan oksitosin, yang memicu let down reflex, ini kenapa menyusui pertama dan skin to skin, membantu menurunkan risiko pendarahan pasca persalinan dengan meningkatkan aliran oksitosin. Hormon ini sangat berperan dalam kelahiran dengan:

 

  • Menyebabkan kontraksi rahim, yang membuka serviks
  •  
  • Memberi sensasi perasaan senang tentang bayi
  •  
  • Menyebabkan kontraksi rahim yang menyebabkan plasenta terlepas dan keluar
  •  
  • Menyebabkan kontraksi rahim untuk membantu rahim mengecil
  •  
  • Mendorong ikatan batin
  •  
  • Memicu ASI keluar.

 

Ada waktu di mana ibu dan bayi perlu dipisahkan, untuk alasan kesehatan, tapi ini biasanya jadi pengecualian. Ketika terjadi perubahan prosedur antara melahirkan di rumah dan rumah sakit, juga terjadi peningkatan pemisahan ibu dan bayi. Kadang bayi langsung diperiksa berat badannya, atau bayi dipisahkan agar ibu bisa beristirahat. Yang kita anggap bisa membantu, dengan membiarkan ibu berisitrahat, berubah menjadi gangguan terhadap transisi alami untuk ibu dan bayi. Yang kita tahu sekarang, pemisahan ini mengganggu proses kelahiran, termasuk tahap ketiga (pengeluaran plasenta). Tubuh bayi dan ibu dirancang bekerja sama selama proses kelahiran, saling menyediakan hormon yang dibutuhkan  untuk membuat transisi yang aman.

 

Ketika ibu dan bayi tidak bisa melakukan inisiasi menyusu dini, pelepasan alami oksitosin yang belum menyelesaikan tugasnya jadi terganggu. Meski kelahiran telah selesai, oksitosin masih harus mengalir untuk memastikan rahim mengecil.

 

Adakah bahaya IMD untuk ibu dan bayi?

Risiko satu-satunya inisiasi menyusu dini adalah yang disebut sudden unexpected postnatal collapse (SUPC). Ini terjadi ketika bayi yang awalnya terlihat sehat dengan cepat menjadi tidak stabil dalam dua jam pertama setelah lahir, biasanya selama sesi menyusu pertama.

 

Ini terjadi pada 3 hingga 5 bayi dari 100.000 bayi. Nol hingga 1,1 kematian diperkirakan terjadi pada tiap 100.000 kelahiran. SUPC (sudden unexpected postnatal collapse) lebih mungkin terjadi ketika bayi memiliki faktor risiko internal, seperti infeksi atau cacat jantung, digabungkan dengan faktor risiko eksternal, seperti paparan pada obat nyeri atau obat magnesium sulfat selama persalinan atau ada risiko posisi setelah kelahiran. Penelitian menemukan sekitar 74 persen kasus SUPC terjadi ketika bayi berbaring tengkurap selama inisiasi menyusu dini dengan ibu, dan di 77 persen kasus, ibu atau orangtua sendirian bersama bayi.

 

Peneliti mengungkapkan beberapa langkah keamanan untuk menurunkan risiko SUPC selama inisiasi menyusu dini:

 

  • Meningkatkan waktu observasi oleh perawat terhadap ibu dan bayi selama dua jam pertama setelah kelahiran.
  •  
  • Mendidik orangtua dan doula untuk mengenali kondisi dan penampilan abnormal bayi, seperti pucat atau kulit memar, sulit bernapas, dan menunda menggunakan smartphone hingga dua jam pertama setelah lahir.
  •  
  • Menaikkan kepala tempat tidur ibu antara 35 sampai 80 derajat agar bayi tidak berbaring datar pada dada ibu.
  •  
  • Mendidik ibu tentang keamanan menyusui dan sering memeriksa untuk memastikan leher bayi tegak dan hidung serta mulut tidak tersumbat.

 

Bunda, tidak melakukan IMD bisa meningkatkan risiko kematian pada bayi. Tidak hanya itu, ibu yang tidak melakukan IMD juga meningkatkan risko terjadinya pendarahan pasca persalinan bahkan bisa menyebabkan kematian. Ini karena pengeluaran oksitosin terhambat serta memperlambat kontraksi rahim sehingga tidak menutup pembuluh darah pada area implantasi plasenta.

 

IMD setelah persalinan tanpa obat

Selama persalinan alami, tubuh wanita memproduksi jumlah hormon yang tepat, dan dianjurkan melakukan kontak pertama dengan bayi ketika lahir. Hormon cinta, oksitosin, ada dalam jumlah banyak pada ibu dan bayi saat lahir.

 

Bayi yang melakukan IMD dengan ibu di jam pertama setelah kelahiran lebih baik dalam mengatur suhu dan pernapasan, sehingga kurang perlu dirawat di NICU atau membutuhkan bantuan napas. IMD menstimulasi perilaku khusus yang memastikan ibu dan bayi bisa saling mengenal di hari setelah kelahiran.

 

IMD juga penting dalam membantu mentransfer bakteri ibu ke bayi, yang membantu sistem kekebalan bayi. Ini penting ketika bayi lahir melalui operasi caesar, karena IMD dan menyusui jadi cara tepat untuk membantu meningkatkan paparan terhadap bakteri baik.

 

Bayi yang tetap dekat dengan kulit ibu jadi tenang dan kurang berisiko mengalami peningkatan hormon stres. IMD juga mendorong keberhasilan menyusui untuk jangka panjang.

 

IMD setelah persalinan dengan obat

Diperkirakan sebanyak 97 persen wanita yang melahirkan di rumah sakit menerima intervensi selama persalinan dan kelahiran. Baik berupa pemeriksaan vaginal rutin atau caesar, prosedur ini memiliki potensi mengganggu proses persalinan alami, jadi wanita lebih mungkin membutuhkan obat pereda sakit atau lelah karena efek intervensi.

 

Wanita di situasi ini kurang mungkin bisa menjalani IMD  untuk waktu cukup lama, atau ia tidak menyadari kemampuannya untuk melakukan IMD tanpa bantuan. Epidural umum digunakan di banyak negara. Wanita yang menerima epidural tidak bisa bergerak sendiri berjam-jam setelah melahirkan, dan biasanya mengalami efek samping seperti tekanan darah rendah, sakit kepala, atau pusing. Wanita yang menjalani operasi caesar juga terbatas gerakannya dan mungkin merasakan sakit. Obat tertentu bisa membuat ibu merasa mengantuk. Bila Anda membutuhkan obat selama persalinan atau setelah kelahiran, pastikan Anda membicarakan dengan dokter  untuk menghindari obat yang membuat Anda hilang kesadaran.

 

Kebanyakan wanita harus berurusan dengan obat saat persalinan dan di kebanyakan kasus, mereka harus menerimanya sebagai bagian dari paket persalinan dan kelahiran. Di waktu yang sama, wanita ingin menjalani praktik alami seperti IMD serta kontak skin to skin. Praktik ini kadang tidak menjadi prioritas di rumah sakit.

 

Bidan cenderung mendorong kelahiran normal dan alami karena mereka menyadari manfaatnya untuk ibu dan bayi. Bila Anda melahirkan di rumah sakit, pastikan dokter tahu keinginan Anda untuk IMD dan kontak skin to skin. Pastikan ada staf perawat yang membantu Anda, dan jangan ragu untuk meminta bantuan bila Anda merasa lelah atau harus menggunakan obat. Banyak rumah sakit menyediakan ruang bayi dan mungkin menyarankan Anda untuk beristirahat ketika perawat mengurus bayi. Bila Anda ingin bayi bersama Anda, minta perawat sering mengecek Anda jika Anda khawatir tertidur ketika mendekap bayi.

(Ismawati)