Kesehatan

Inkontinensia Urine: Tidak Bisa Menahan Buang Air Kecil Setelah Melahirkan

Inkontinensia Urine: Tidak Bisa Menahan Buang Air Kecil Setelah Melahirkan

Inkontinensia urine adalah kondisi di mana Bunda tidak bisa menahan buang air kecil setelah melahirkan. Banyak orang mengalami kondisi ini. Ada beberapa jenis inkontinensia urine, antara lain:

  • Stress inkontinensia. Terjadi ketika urine bocor saat kandung kemih mengalami tekanan, seperti ketika batuk atau tertawa.

  • Urge inkontinensia. Terjadi ketika Anda tidak mampu menahan buang air kecil saat muncul keinginan untuk berkemih.

  • Overflow inkontinensia (chronic urinary retention). Ketika Anda tidak bisa sepenuhnya mengosongkan kandung kemih, yang menyebabkan urin sering bocor.

  • Total inkontinensia. Ketika kandung kemih tidak bisa menyimpan urin sama sekali, yang menyebabkan Anda sering melepas urin atau urin sering bocor.


Penyebab Bunda Tidak Bisa Menahan Buang Kencing Setelah Melahirkan


  1. Stress inkontinensia biasanya terjadi akibat lemah atau rusaknya otot yang digunakan untuk mencegah buang air kecil, seperti otot dasar panggul dan urethral sphincter. Urge inkontinensia bisa disebabkan aktivitas berlebih pada otot detrusor, yang mengontrol kandung kemih.

  2. Overflow inkontinensia disebabkan oleh sumbatan pada kandung kemih, sehingga tidak terjadi pengosongan urin. Sedangkan total inkontinensia disebabkan oleh masalah dengan kandung kemih akibat melahirkan, cedera pada tulang belakang, atau bladder fistula.

Stress inkontinensia, terutama pada wanita, sering disebabkan oleh perubahan fisik pada tubuh. Perubahan ini termasuk:

  • Kehamilan dan melahirkan

  • Menstruasi

  • Menopause

  • Pembedahan panggul

  • Masalah dengan otot kandung kemih

  • Otot lemah di sekitar kandung kemih.


Faktor Yang Membuat Ibu Lebih Berisiko Tidak Bisa Menahan Buang Air Kecil Setelah Melahirkan

Sejumlah faktor bisa meningkatkan resiko inkontinensia urine, termasuk:

  • Usia. Meski inkontinensia urine bukan menjadi akibat dari penuaan usia, perubahan fisik karena penambahan usia, seperti melemahnya otot, bisa membuat Anda lebih rentan mengalami inkontinensia urine. Tapi inkontinensia urine bisa terjadi pada usia berapa saja.

  • Jenis cara melahirkan. Wanita yang lahiran normal lebih mungkin mengalami inkontinensia urine dibanding wanita yang melahirkan melalui operasi caesar. Wanita yang melahirkan dengan bantuan forcep untuk melahirkan bayi yang sehat lebih cepat juga beresiko lebih besar mengalami inkontinensia urine. Tapi wanita yang melahirkan melalui bantuan vakum tidak beresiko lebih tinggi mengalami inkontinensia.

  • Berat badan. Orang yang kelebihan berat badan atau obes lebih beresiko mengalami inkontinensia urine. Berat berlebih meningkatkan tekanan pada organ perut dan panggul.

  • Bedah panggul sebelumnya. Hysterectomy (prosedur bedah) pada wanita dan bedah untuk kanker prostat pada pria bisa mengubah fungsi kandung kemih, sehingga resiko inkontinensia menjadi lebih tinggi.


Komplikasi Yang Mungkin Terjadi Saat Mengalami Inkontinensia Urine

Komplikasi inkontinensia urine bisa berupa:

  • Stres personal. Bila mengalami inkontinensia, Anda akan merasa malu dan stres dengan kondisi ini. Ini bisa mengganggu pekerjaan, aktivias sosial, relasi, dan bahkan kehidupan seks Anda.

  • Mixed urinary incontinence. Ini berarti Anda mengalami stres inkontinensia dan urge inkontinensia, yakni urin keluar akibat kontraksi kandung kemih.

  • Ruam kulit atau iritasi. Kulit yang sering kontak dengan urin kemungkinan mengalami iritasi atau luka. Ini terjadi pada inkontinensia parah bila Anda tidak melakukan pencegahan,  misalnya dengan menggunakan pembalut.


Penanganan Yang Bisa Dilakukan Saat Tidak Bisa Menahan Buang Air Kecil Setelah Melahirkan

Sebagian orang mengalami gabungan antara stress dan urge inkontinensia. Penting untuk memahami perbedaan antara stress inkontinensia dan urge inkontinensia karena penanganan keduanya berbeda. Urge inkontinensia terjadi ketika urin keluar tiba-tiba dan tidak bisa dihentikan, sedangkan stress inkontinensia tidak disertai oleh sensasi dorongan untuk buang air kecil.

Penyebab stress inkontinensia berbeda dengan urge inkontinensia. Stress inkontinensia disebabkan oleh otot sphincter atau dasar panggul yang lemah. Beberapa orang mengalami stress inkontinensia dan urge inkontinensia yang dikenal dengan mixed incontinence. Ini berarti urin keluar ketika batuk, bersin, atau terjadi tekanan pada otot perut serta dorongan untuk buang air kecil.

Wanita yang mengalami stress inkontinensia merasa cemas ketika batuk, bersin, bahkan tertawa di tempat umum karena khawatir terjadi insiden kebocoran urin. Beberapa orang sangat takut merasa malu sehingga menjadi menarik diri dan menghindari kontak sosial. Karena kecemasan ini, sebanyak 62 persen wanita yang mengalami inkontinensia menunggu satu tahun atau lebih sebelum membahas masalah ini dengan dokter.

Biasanya setelah terjadi hal yang sangat memalukan di depan publik baru mereka mencari bantuan. Kebanyakan wanita mengantisipasinya dengan penggunaan pembalut, karena mereka tidak tahu kalau kondisi ini bisa mudah diatasi dengan prosedur bedah sederhana.

Tapi sebelum menuju pengobatan, pendekatan sederhana yang bisa dilakukan adalah mengubah pola makan, menghindari kafein (dari teh, kopi, coklat, dan minuman soda berkafein), alkohol, dan makanan panas serta pedas.

Awalnya dokter akan memberikan saran sederhana untuk melihat apakah bisa mengatasi gejalanya, antara lain:

  • Perubahan gaya hidup. Seperti menurunkan berat badan dan menghindari kafein dan alkohol

  • Latihan dasar panggul, yakni melatih otot dasar panggul dengan menekannya

  • Latihan kandung kemih. Anda bisa mempelajari cara untuk menahan buang air kecil lebih lama.

Pengobatan bisa diberikan bila Anda masih tidak bisa mengatasi gejalanya. Pembedahan juga bisa menjadi pertimbangan. Prosedur spesifik yang sesuai untuk Anda akan bergantung pada jenis inkontinensia yang Anda alami.

Penanganan bedah untuk stress inkontinensia, digunakan untuk menurunkan tekanan kandung kemih atau memperkuat otot yang mengontrol urin. Bedah untuk mengatasi urge inkontinensia berupa pelebaran kandung kemih atau penanaman alat untuk menstimulasi saraf yang mengontrol otot detrusor (otot polos pada kandung kemih).


Pencegahan Inkontinensia Urine

Kadang tidak ada cara untuk mencegah inkontinensia urin, tapi ada beberapa langkah yang membantu menurunkan kemungkinan berkembangnya, antara lain:

  • Mengontrol berat badan
    Mengalami obesitas bisa meningkatkan resiko inkontinensia urine. Anda bisa menurunkan resikonya dengan menjaga berat badan yang sehat melalui olahraga teratur dan makan makanan yang sehat.

  • Kebiasaan minum
    Bergantung masalah pada kandung kemih Anda, dokter bisa menyarankan jumlah cairan yang Anda perlu minum. Bila Anda mengalami inkontinensia urine, kurangi alkohol dan minuman yang mengandung kafein seperti teh, kopi, dan cola. Minuman ini bisa menyebabkan ginjal memproduksi lebih banyak urin dan mengiritasi kandung kemih. Bila Anda sering buang air kecil di malam hari, coba minum lebih sedikit di jam-jam sebelum tidur. Tapi pastikan Anda masih minum cukup cairan di siang hari.

  • Latihan otot dasar panggul
    Hamil dan melahirkan bisa melemahkan otot yang mengontrol aliran urin dari kandung kemih. Pada kasus ini, menguatkan otot dasar panggul bisa membantu mencegah inkontinensia urin.


Bunda, temui dokter bila Anda mengalami inkontinensia urine. Ini keluhan yang umum terjadi dan Anda tidak perlu merasa malu membicarakan gejalanya. Berkonsultasi dengan dokter juga bisa jadi langkah pertama untuk menemukan cara efektif mengatasi keluhan Anda. Inkontinensia urine biasanya bisa terdiagnosa setelah konsultasi dengan dokter, yang akan bertanya tentang gejalanya dan melakukan pemeriksaan panggul pada wanita atau pemeriksaan rektal pada pria.

(Ismawati)